
Bella sedang membantu Jasmin memotong sayuran. Kakak perempuan Brayu itu memang pandai sekali jika berurusan dengan hal memasak, tak jauh berbeda dengan sang adik, di usianya yang terpaut sudah berumur 23 tahun. Entah mengapa gadis itu belum juga menikah atau mungkin karena belum.
"Bel, kakak boleh minta tolong sebentar nggak?" suara Jasmin menghentikan Bella aktifitas memotongnya.
"Minta tolong apa, Kak?" tanya Bella, dengan manik mata yang mengarah ke arah Jasmin.
"Ini si Brayu kok dari tadi nggak turun-turun, ya? Kakak takut dia ketiduran. Kamu bisa tolong bangunin dia nggak?" pinta Jasmin.
Bella ternganga. Ia tak menyangka jika kak Jasmin akan menyuruhnya seperti itu. "Tapi aku sungkan kak, kalau masuk kamar cowok," jawab Bella.
Selama ini Bella belum pernah masuk ke kamar laki-laki, meskipun kelakuannya terbilang brutal tapi gadis itu masih memiliki pemikiran yang luas untuk tidak sembarangan masuk ke kamar seseorang, kecuali kalau di rumahnya.
"Nggak papa, lagian cuma bangunin aja. Kakak percaya kok sama kamu. Kamu nggak bakalan aneh-aneh sama adik kakak yang ngeselin itu. Dan juga, kalau Brayu nggak bangun, seret aja dianya," kata Jasmin ngawur.
Bella menelan saliva-nya. 'Kak Jasmin nggak beneran ngerjain gue kan?' pikiran Bella bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Eh.... Bel? Jangan suka melamun. Kamu bisa kan, tolongin kakak, please."
Dengan terpaksa Bella mengangguk, wajah Jasmin saat memohon sungguh membuatnya tak tega. Sepetinya Brayu memang terlahir untuk menjadi cowok yang menyebalkan, buktinya saja, kakaknya sendirinya pun merasa jenuh.
"Kamar nomor dua, sebelah tangga ya, Bel," teriak Jasmin. Jasmin merasa lucu dengan sikap Bella yang langsung pergi tanpa bertanya terlebih dahulu di mana letak kamar Brayu. Sedangkan Bella sedang bingung, sehingga ia lupa bertanya akan hal itu.
"I-iya, kak.Terimakasih." jawabnya, sedikit gagu seraya menaiki anak tangga dengan tangan memukul pelan kepalanya sendiri.
'Duh, apa yang bakalan di pikirin Brayu kalau tiba-tiba gue masuk kamarnya?' batin Bella.
Ia melangkah pelan, karena merasa gugup. Bella bingung bagaimana cara membangunkan Brayu, padahal waktu di rumahnya pun Bella sudah pernah membangunkan Brayu dengan sangat ekstrim. Tetapi, entah mengapa kali ini sedikit berbeda, apa mungkin karena ini bukan di rumahnya dan merasa tak enak kepada Jasmin jika watak aslinya keluar.
Tiba di depan kamar Brayu, Bella mengetuk kamar itu pelan.
Tuk, tuk, tuk!
"Bray, lo lagi ngapain?" tanya Bella.
Sebenarnya ia malas berhadapan dengan Brayu. Sebab terakhir tadi mereka sedang berdebat, ya meskipun mereka kalau bertemu memang sering berdebat-nya di banding rukunnya.
Brayu yang sedang bermain game itu melirik ke arah pintu. "Eh, Bella ngapain ke sini?" gumam Brayu pelan.
"Bray, lo tidur ya?" tanya Bella sekali lagi.
__ADS_1
Brayu menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. Ia mendadak mendapatkan ide untuk mengusili Bella. Brayu pun langsung melompat ke atas tempat tidurnya dan berpura-pura terlelap.
"Nggak ada jawaban, berati dia beneran tidur," gumam Bella.
"Bray, gue masuk, ya," ucapnya, meminta izin masuk ke kamar lelaki tersebut. Karena Bella memang terdidik sejak kecil untuk sopan ketika memasuki kamar seseorang.
Ceklek!
Bella membuka pintu kamar Brayu pelan. Ia pun dapat melihat Brayu yang terlelap. Bella tidak langsung masuk. Gadis itu masih berdiri di ambang pintu dan berusaha membangunkan Brayu dari sana.
"Bray, bangun! Lo di tungguin kak Jasmin di bawah," ucap Bella.
"Hiih! Kebo banget sih," keluhnya.
Setelah beberapa kali membangunkan Brayu dan tak mendapat respon, akhirnya Bella pun mengalah untuk mendekat ke arah tempat tidur Brayu.
Gadis itu berdiri di samping Brayu. Kemudian mengguncang tubuh lelaki itu pelan agar terbangun.
"Bray. Bangun! Kak Jasmin udah nungguin lo tuh di bawah," ucapnya sambil menyentuh bahu Brayu dan mengguncangnya.
"Bray, lo tidur apa mati sih? Dari tadi di bangunin juga! Nggak bangun-bangun," keluh Bella. Ia kesal karena Brayu belum juga terbangun.
"Bray, bangun dong!" ucap Bella sekali lagi.
Namun, saat Bella akan melangkah, tiba-tiba tangannya di tarik oleh Brayu, hingga Bella terjatuh di atas tempat tidur lelaki itu.
Bella terperanjat saat mendapati dirinya sudah terjatuh di atas kasur. Bahkan tubuhnya menimpa Brayu.
"Brayu! Apaan sih, lo! Lepas, nggak!" bentak Bella. Gadis itu memberontak saat tangan Brayu mulai memeluknya.
Brayu yang masih memejamkan matanya itu tak menjawab sepatah kata pun.
"Bray, jangan gitu, dong! Nanti kalau kak Jasmin liat. Di kiranya kita ngapa-ngapain!" seru Bella kesal.
Brayu pun membuka matanya. " Bagus kalau kak Jasmin liat. Siapa tau kita langsung di nikahin," jawab Brayu dengan santainya.
Mata Bella pun terbelalak. "Gila, lo ya! Lepas, nggak!" pinta Bella dengan sedikit membentak. Saat ini posisi mereka berhadapan.
"Gak, sebelum lo percaya sama ucapan gue," ucap Brayu.
__ADS_1
"Apa?" tanya Bella dengan mengerutkan keningnya.
"Kenapa lo nggak pernah percaya? Kalau gue beneran cinta sama lo! Apa mungkin karena status gue yang dulu pernah jadi play boy, makanya lo ragu?" tanya Brayu.
Bella menelan saliva-nya. Wajah Brayu terlihat begitu serius, sehingga ia dapat merasakan kalau Brayu memang tak sedang main-main dengan ucapannya kali ini. Brayu menyentuh pipi Bella dan menarik wajahnya agar menatapnya.
"Lo apaan, sih? Udah ah, nggak lucu! Kalau kak Jasmin kesini terus ngeliat posisi kita kaya gini, yang ada kak Jasmin bakalan mikir kalau gue cewek nggak bener!" seru Bella masih berusaha memberontak.
"Biarin aja kak Jasmin tau! Lagian gue, nggak lagi ngelawak kok. Gue selalu serius sama ucapan yang selalu gue ucapin ke elo!"
Bella berdecak. Ucapan Brayu barusan membuat nafasnya terasa sesak. Apalagi ia dapat merasakan debaran jantung Brayu yang begitu hebat dalam posisi seperti sekarang ini.
"Gue emang bukan cowok yang baik. Gue juga bukan tipe cowok yang romantis. Tapi, ketika gue mutusin untuk menikahi seorang wanita, itu tandanya gue cinta sama dia," ucap Brayu dengan menatap mata Bella.
Seketika wajah Bella merona dan merasa panas. Hatinya pun berdesir saat mendengar ucapan Brayu yang begitu serius terhadapnya, entah mengapa perkataannya kali ini membuat Bella sedikit berpikir lebih keras.
"Bray, lo tau kan masalalu gue kaya gimana?" tanya Bella dengan mata berkaca-kaca, hampir menangis.
"Gue tau semuanya. Tapi apa lo, nggak pengen buka hati lo buat gue, meskipun hanya seujung kuku aja Bel? Gue ngerasa tersiksa kalau kaya gini terus."
Sesaat Bella pun terdiam, ia pun memilih membuang pandangannya dari lelaki itu.
"Lepasin gue Bray!" pintanya, dengan tangan masih berusaha memberontak.
"Pokoknya, gue nggak mau lepasin lo! Sebelum lo mau nikah sama gue!" ancam Brayu. Lelaki itu tau jika sebenarnya Bella sudah memiliki rasa terhadap dirinya, meskipun hanya sedikit. Sehingga Brayu berani memaksanya seperti sekarang ini.
"Lo, kok jadi maksa kaya gini sih?" tanya Bella, kesal.
"Biarin, gue udah capek debat terus sama lo! Jadi kita tunggu aja, kak Jasmin dateng meregokin kita lagi kaya gini. Gue yakin kalau kita pasti akan langsung di nikahin," ucap Brayu dengan tersenyum.
Bella mengerutkan keningnya. "Sakit jiwa, lo ya!" seru Bella. Kemudian gadis itu membenturkan keningnya ke kening milik Brayu, hingga Brayu terkejut dan melepaskan pelukannya.
Bug!
"Aww!" pekik Brayu sambil mengusap keningnya.
Bella pun langsung berdiri. "Jangan lo pikir! Dengan cara lo yang kaya gini bisa maksa gue buat nurutin kemauan lo!" seru Bella.
Meskipun masih terasa pusing Brayu berusaha untuk berdiri. Kelakuannya kali ini memang sedikit keterlaluan, tapi Brayu melakukan itu bukan tanpa alasan, ia hanya ingin sebuah kepastian dari Bella. "Bel, gue tau gue salah, gue minta maaf. Tapi gue beneran serius sayang sama lo!" jelasnya.
__ADS_1
"Terserah!"
Gadis itu memilih pergi begitu saja dari kamar Brayu, ia tak mau terlalu lama di sana karena takut Jasmin akan berpikir yang tidak-tidak terhadapnya.