
Bella sudah terlihat fresh karena ia baru saja selesai mandi dan bersiap untuk mengikuti kegiatan selajutnya. Ia melirik ke arah Brayu sesaat, mencuri pandangannya untuk memastikan bahwa dirinya tak merasa canggung mengingat kejadian yang baru saja ia alami. "Pasang muka tembok saja, pasti Brayu tak mempermasalahkannya," pikirnya sejenak.
Hingga ia memutuskan untuk membuka keheningan karena semua mata terus menatapnya. "Hari ini kegiatannya apa sih ka? Apa masih ada outbond ?" tanya Bella seraya duduk di sebelah Fella.
"Kalau kegiatan outbond setau gue udah selesai, hari ini kalian bebas seneng-seneng, entar malam juga hari terakhir kita nginep di sini," jelas Arska.
Senyum puas mengembang di pipi Fella ia sangat menantikan malam nanti. Bersenang-senang dengan pujaan hatinya adalah impiannya saat sedang mengikuti camping.
"Bukannya entar malam api unggun ya?" tanya Faya dengan semangatnya.
"Iya... Faya.... kita udah tau..." teriak Fella dan Bella kompak.
"Ye....nggak usah keroyokan juga kali!" seru Faya dengan sewotnya.
"Dan nggak usah sewot juga Faya," balas Fella bersedekap dada nampak suaranya terdengar santai.
Saat ketiga gadis itu sibuk berceloteh, tiba-tiba Arska menyela pembicaraan, ia mulai menginformasikan tentang kegiatan yang akan di lakukan nanti.
"Nanti kalian jam 10.00 siap-siap, tadi Papa udah ngasih tau gue, kalau entar ada pengambilan foto di setiap kelas, jadi nggak boleh ada yang absen," ucap Arska.
Kata-kata Arska membuat ketiga gadis itu terdiam sesaat, mengamati dengan cermat setiap kata yang keluar dari mulut bibir Arska.
Tak berselang lama suara mikrofon berbunyi, menandakan agar semua siswa-siswi dan para pembimbing camping berkumpul.
"Di harapkan bagi seluruh siswa-siswi dan para pembimbing camping agar berkumpul di tempat saya berdiri saat ini, apel pagi akan segera di mulai," jelas kepala sekolah dengan tatapan kesana-kemari melihat keadaan sekitarnya.
"Waktu yang di butuhkan untuk berkumpul hanya lima detik, bagi yang terlambat wajib mendapat hukuman," lanjut Hendry dengan ekspresi tegasnya, karena sejak tadi ia terus mengamati semua siswa-siswinya yang nampak masih bersantai.
Ucapan Hendry seketika membuat semua siswa-siswi kalang kabut, dan itu juga yang di alami Fella dan kedua sahabatnya, mereka langsung berlari tanpa mempedulikan ketiga cowok yang sejak tadi berada di samping mereka.
Arska dan kedua sahabatnya hanya memandang kepergian ketiga gadis itu, Brayu yang telah bersemangat sejak tadi, langsung berdiri tanpa menunggu aba-aba dari Arska.
"Ngebet banget, pengen nyusul," canda Aldy saat tau Brayu sudah berdiri dan akan melangkahkan kakinya.
"Bahagia yang hakiki dy, bisa ngeliat Bella senyum lepas di depan gue. Ya meskipun tanpa kesadaran dia sendiri," ucapnya masih dengan ekspresi yang sama, seraya menaruh kedua tangannya di saku celana jins pendeknya.
"Syukur deh... kalau elo seneng, gue juga ikutan seneng," kata Arska berdiri, seraya menepuk pundak Brayu pelan dan mulai melangkahkan kakinya.
Nampak dari sudut lain Andy sengaja menubruk-kan tubuhnya ke arah bahu Arska.
Tatapan Arska tak bisa di pungkiri kalau dirinya sedang menahan amarah.
"Bahu gue nggak punya mata, jadi nggak liat kalau ada elo yang berdiri ngehalangin jalan gue! Gue pikir tadi patung ternyata makhluk hidup," ejek Andy dengan bibir menyungging.
"Sejak kapan? Bahu punya mata! Kalau bukan akal-alan elo sendiri buat ngajak ribut, lagian mata elo udah rabun apa? Ngatain orang kaya patung," Brayu menghampiri Arska yang sejak tadi tak membuka suaranya.
"Wahaha.... beraninya keroyokan, ngandelin temennya buat ngajakin gue ribut," katanya dengan tawa mengejek.
Tak berselang lama Alan dan Alex menghampiri ketua gang mereka. Mulut mereka siap membuat ulah dengan memancing Arska dan kedua sahabatnya.
"Untung kita datangnya tepat waktu, coba kalau enggak, elo udah di keroyok dy," celoteh Alan mulai membuat ulah. Mereka tak memikirkan tentang hukuman yang di ucapkan oleh kepala sekolah tadi, seakan otot-otot mereka mengendur karena sudah lama tak berkelahi, mereka terus memancing emosi.
"Anjir... anak bau curut gini, mulutnya pedes juga kalau ngomong," ucap Andy yang mulai kesal.
"Ketua gang kalian mulutnya bisu ya, sampai nggak bisa ngomong, apa mungkin saat ini dia ketakutan ngeliat tampang garang kita," Andy mulai memancing emosi lagi.
"Bacot lo bisa diem nggak," bentak Brayu yang kini mulai terpancing.
__ADS_1
"Bahahaha....emang bisu dy, nggak bisa ngomong," lanjut Alex seraya menepuk-nepuk lututnya, baginya membuat orang lain terpancing emosi itu ada hal yang menyenangkan.
Andy mendekat, menepuk bahu Arska pelan, seraya membisikan sebuah kalimat. "Gue bakalan rebut Fella dari samping elo! gue yakin di dasar hati Fella masih ada nama gue yang selalu dia rindu!" seru Aldy dengan senyum sinis-nya.
Kali ini ucapan Andy sukses membuat pikiran Arska pergi melayang, seperti tangannya yang sudah melayang ke arah wajah Andy, pukulannya begitu keras sehingga Andy tersungkur ketanah.
"Gue nggak perlu banyak bacot kaya elo! dan yang perlu elo ingat! Aya nggak mungkin pernah balik lagi sama elo! Selama masih ada gue!" seru Arska seraya melangkahkan kakinya pergi, ia tak mau berlama-lama di sana yang ada pikirannya semakin kacau dan hanya akan berujung perkelahian, setan hanya bisa menghasut tanpa ada niat baik untuk menyelesaikan masalah bahkan hanya akan membuatnya semakin menambah dosa.
"Punya bacot makannya di jaga!" seru Brayu dengan wajah datarnya, matanya menyincing. "Ternyata cuma besar di mulut, nyalinya ciut." lanjut Brayu yang kini ikut berlalu lalang.
"Dia ngadepin masalah nggak perlu pake mulut, tapi pakai otak, sekalinya elo ngomong ngawur, hidup lo abis!" lanjut Aldy dengan jari telunjuk yang mengarah ke kepalanya, ia mengetuk-ngetukan jarinya di sana agar Andy dapat mengunakan otaknya dengan jernih. Mulut Aldy bergeming, sebenarnya ia ingin memukul cowok yang ada di depannya, tapi waktu yang semakin singkat membuatnya harus ikut hengkang bersama kedua sahabatnya yang tegah jauh dari jaraknya saat ini.
Andy memukul-mukul tanah dengan perasaan kesal di dalam hati, sikap kalahnya semakin membuat emosinya memuncak, sesekali ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Gue bakalan bales semua penghinaan ini!" teriak Andy dengan rahang yang mulai mengeras.
Kedua sahabatnya hanya saling menatap tanpa ada yang berani membantunya berdiri. Mereka takut jika emosi Andy saat ini, hanya akan membuat mereka bonyok.
Arska menghampiri di mana tempat Fella berdiri saat ini, ia meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat seakan tak ingin melepasnya.
"Kok lama? kemana aja sih yang," ucap Fella saat Arska baru muncul di hadapannya.
"Mantan elo bikin masalah fel," timbrung Aldy.
"Mantan? Masalah?" tanya Fella dengan mata yang menatap ke arah Arska dan Aldy secara bergantian.
"Nggak usah di bahas lagi!" seru Arska tak mau membahas masalah yang baru saja terjadi.
Fella hanya manggut-manggut seakan mengerti dengan ucapan Arska barusan, ya... Arska memang tak pernah mau membahas masalah yang telah lalu, apalagi menyangkut mantannya.
"Btw ada pengumuman apa? gue sampai nggak denger kepsek bilang apa?" tanya Aldy saat suasana mulai tak karuan karena di hadapannya sekarang seperti lautan manusia yang tak bisa di belah sama sekali, sibuk bergeming tanpa ada yang berbaris.
"Kayaknya kita cuma di prank dah sama kepala sekolah, biar muridnya pada buru-buru ke sini," lanjut Fella.
"Papa nggak mungkin ngprank, aku tau betul sifat Papa kaya gimana," jelas Arska membenarkan ucapan Fella.
"Terus Pak Hendry kemana? kenyataannya Pak Hendry nggak ada di sini!" seru Bella.
"Papa emang nggak ada di sini, cuma pengelihatannya tajam, beliau tau siapa saja yang terlambat dan pantes dapetin hukuman. Itu cara Papa buat ngetes gimana caranya menghargai waktu."
"Masak Pak Hendry sebegitu teliti-nya," ucap Bella tetap tak percaya dengan ucapan Arska barusan.
"Liat aja entar."
Tak berselang lama, ucapan Arska terbukti di kala sang kepala sekolah memanggil nama-nama siswa-siswi yang terlambat tanpa terkecuali dan itu membuat Bella melongo. Yang benar saja, kepala sekolahnya benar-benar mengerikan. "Untung gue udah mau lulus, bisa apes kalau sifat kepala sekolah tau kalau watak gue buruk dan sering dapet skors," pikirnya sesaat.
"Ngapain elo melamun? masih nggak percaya?" tanya Arska menyenggol lengan Bella pelan.
"G-gue... percaya kok sama omongan elo barusan," jawabnya dengan suara gagu.
"Pak Handry kemana sih? ada suaranya tapi nggak ada wujudnya," kata Faya mulai celingukan.
"Papa gue bukan hantu fay! Beliau punya cara sendiri buat ngatur murid-muridnya tanpa harus kelihatan tapi dia tetap mantau."
"Elo jangan ngomong kaya gitu lagi dong ka, bulu kudu gue jadi merinding dengarnya," Faya memegangi lehernya merasa ada hawa aneh yang terus menatap ke arahnya.
"Sejak kapan? Apel pagi nggak berbaris malah sibuk ngomongin saya!" seru Hendry sudah berada di belakang mereka.
__ADS_1
Mata mereka melebar mendengar suara Hendry yang sudah berada di belakang mereka.
"Kenapa kalian melihat saya seperti melihat hantu? Apa kalian juga ingin di hukum seperti mereka," jari telunjuk Hendry mengarah ke beberapa siswa-siswi yang mendapat hukuman darinya.
Tak merespon ucapan Hendry Fella berserta yang lainnya langsung berbaris mengikuti barisan yang lain.
"Dan untuk kalian, bukan berarti jika kalian pembimbing bisa seenaknya sendiri tanpa mendapat hukuman," suara Hendry terdengar lantang, ia menatap Arska dengan tatapan datar.
"Sama anak sendiri, kolot banget," kata Arska yang langsung pergi tanpa pamit, suasana hatinya saat ini sedang tidak baik.
Hendry tak menyangka jawaban anaknya begitu menjengkelkan, hingga dirinya harus mengelus dadanya agar bisa bersabar.
"Sabar ya om, hati Arska baru nggak baik," ucap Brayu mengelus pelan lengan Hendry.
"Iya Om... yang sabar ya," lanjut Aldy.
Hendry masih terdiam melihat kepergian anaknya yang tak begitu sopan. Tak ada yang berani membuka suaranya lagi Brayu dan Aldy ikut berdiam diri.
Kegiatan berlangsung dengan lancar, Fella bersenang riang karena ini hari terakhirnya mengikuti kegiatan.
...•°•©inta Untuk Fella°•°...
Disisi lain, Jessy dengan hati-hati mengobati luka Andy menggunakan salep. Jessy nampak bergeming setelah mengetahui tentang hal yang terjadi.
"Nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan, yang ada bonyok kaya gini kan jadinya!" seru Jessy dengan tangan yang masih sibuk mengobati.
"Bisa nggak! berhenti ngomelnya!" seru Andy sedikit membentak.
"Aku cuma ngasih tau, kenapa harus bentak-bentak!"
"Dan aku paling nggak suka kamu ngomel-ngomel terus. Kamu di bentak pun yang ada kamu bentak balik."
Jessy berdecak kesal mendengar hal tersebut, ia berbuat seperti ini juga semua demi dia. "Jangan bikin aku terlihat jahat terus di mata Fella!"
"Kamu emang selalu jahat sama Fella kenapa sekarang baru sadar."
Mata Andy mengarah menatap wajah Jessy. Seketika Jessy menghentikan aktifitasnya mengoles salepnya, wajah kesal dan kecewanya sangat terlihat jelas di sana.
"Kamu tau nggak? aku selalu bertindak bodoh dan terus-terusan jahatin Fella itu semua gara-gara kamu! aku pikir setelah aku ngelakuin itu sama Fella, kamu bakalan jauhin dia, kamu nggak akan kejar-kejar dia lagi! tapi ternyata aku salah, aku selalu belain kamu! tanpa ngebuka mata sebelah kanan aku buat ngeliat mana yang baik dan buruk!" seru Jessy menundukkan wajahnya tangannya napak mengepal celana jins yang sekarang di pakainya.
"Aku terlalu bodoh."
Masih dengan wajah tertunduk, mata Jessy seakan memanas, karena tak ada respon dari Andy. "Setidaknya beri aku penjelasan untuk hubungan kita. Apa kamu ingin aku pergi seperti apa yang kamu lakuin ke Fella, biar kamu tau bagaimana rasanya di tinggal sama seseorang yang pernah mengisi hati kamu. Mungkin aku jauh dari kata baik dibanding Fella, cantik pun juga sangat jauh. Tapi tolong jangan gantung perasaan aku seperti ini, karena aku cuma manusia biasa yang memiliki hati yang rapuh," Jessy tak mampu menahan air matanya yang sudah terbendung di sana, ia menyekanya dengan perlahan hatinya sungguh sangat sakit.
Andy mengelus pucuk kepala rambut Jessy, mencoba menenangkan gadis yang ada di hadapannya saat ini. "Jangan nangis lagi, maafin aku yang nggak pernah bisa jaga perasaan kamu. Aku tau aku salah, aku bingung dengan perasaan ku saat ini," Andy mencoba menjelaskan tentang perasaannya yang sedang kalut, entah perasaan bersalahnya apa merasa kehilangan.
Jessy mengangkat wajahnya, ia melihat ke arah Andy dengan seksama, cowok itu tiba-tiba mengerakkan tangannya untuk menghapus air mata yang jatuh di pipi mulus Jessy.
"Aku pengen kita putus! Semoga kamu bisa dapetin apa yang kamu mau dan hidup layaknya sebagai remaja normal pada umumnya," suara Jessy terdengar serak dan pilu, kekecewaannya yang ia rasakan sudah melampaui batas normal Jessy sudah tak mampu melanjutkan hubungannya.
"Tapi jes..."
"Aku pengen kita putus, putus lebih baik dari pada saling menyakiti seperti sekarang ini," ucap Jessy memotong ucapan Andy dengan cepat.
"Jes..."
Jessy kembali menyeka air matanya, ia memberikan salep yang sejak tadi ia pegang. Keluar tenda dengan perasaan kesal bercampur rasa sakit.
__ADS_1
Andy mencoba menghalangi kepergian Jessy, namun tubuhnya kaku dan tak bisa bergerak. "Apa mungkin... gue udah keterlaluan sama Jessy!" pikirnya.