
Sampai di rumah, Arska segera mengobati luka yang ada di sudut bibir Fella dengan sangat hati-hati. Arska tau kalau Cewek yang ada di hadapannya itu sedang menahan sakit. Mata Arska tak lepas dari wajah Fella, ia melihat dengan sangat intens, terlihat jelas dari matanya kalau ia sangat menghawatirkan ke adaan Fella.
"Jangan liatin aku terus, muka aku jelek" ucap Fella pelan.
Arska tersenyum, ia menggelengkan kepalanya, sambil menyingkirkan poni yang menutupi wajah Fella. "Kamu tetep cantik, aku nggak akan pernah berpaling, meski wajah kamu lecet, atau apa, aku tetep tulus sayang kamu" ucap Arska memandangi wajah Fella, seraya mengelus-elus pucuk rambut Fella.
Bella dan Faya yang melihat adegan romantis di hadapannya, langsung saja berkomentar. "Mesra-mesraan aja terus, lupain kalau di sini masih ada jomblo, udah gitu yang satunya baperan lagi" ketus Bella.
Arska menolah ke arah Bella, "Nggak mesra-mesraan ini bel, namanya, gue khawatir sama calon istri gue, kalau kenapa-napa gimana".
"Lah emang udah kenapa-kenapa, calon istri lo. Tuh.. bonyok nyatanya" tunjuk Faya mengunakan dagunya.
"Syukurin, di sekak kan sama orang baperan, kalau gue sih biasa aja, lah... Faya, abis ini pasti deh kumat pengen nyari Cowok" ucap Bella sambil menaruh tangan kanannya di pinggang.
"Lah gue kena lagi" protes Faya.
Arska nyengir kuda, mendengar perdebatan dua orang sahabat di hadapannya itu, "Udah, sana kalian pulang, gue mau fokus sama cewek gue" ucapnya sambil merangkul lengan Fella.
"Ya... ya.. lanjutin mesra-mesraannya, gue pamit pulang sama Faya" ucap Bella seraya menarik paksa tangan Faya.
Sebelum Bella dan Faya melangkahkan kakinya lebih jauh, Arska berteriak terlebih dahulu, "Thanks bel, fay kalian udah jagain Fella buat gue".
"Itu udah tugas kita, lo tenang aja" ucap Bella balik teriak, sambil melambaikan tangannya.
Arska tersenyum, ia memandang ke arah Fella lagi,
"Masih sakit?" ucap Arska sambil memegangi sudut bibir Fella.
Fella mengangguk pelan, Arska yang masih memegangi bibir Fella, tiba- tiba mengerutkan keningnya, ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga tunggangannya dengan baik. "Sorry ay, aku terpaksa ngelakuin ini" ucapnya sambil mengangkat dagu Fella dengan pelan, dan sebuah ciuman mendarat di bibir mungil milik Fella.
Fella memukul pelan pundak Arska, Arska memundurkan badannya. "Nyari kesempatan banget sih kamu yang" ucapnya malu seraya menutupi bibirnya, wajahnya sudah merah padam seperti akan meledak.
Arska menarik sudut bibirnya, "Biar sakitnya cepat sembuh sayang" ucap Arska seraya mengacak rambut Fella dengan gemas.
"Sakit sayang!!" keluh Fella.
"Bagian mana yang sakit sayang??" ucap Arska panik.
"Lutut aku" ucap Fella seraya memegangi lututnya.
"Yang di cium bibirnya, yang ngeluh lututnya" canda Arska.
"Sayang, beneran sakit ini, malah di becandain" keluh Fella manyun.
__ADS_1
"Iya sayang, nggak bercanda lagi ini, maaf ya ay".
Segera Arska mengambil posisi jongkok. Di bukanya robekan celana milik Fella dengan sangat hati-hati, Arska mengernyitkan dahinya. "Ganti celana yang lebih pendek gimana ay, nanti kalau buat ganti susah, kalau masih pakai yang ini, kalau udah aku obatin" ucap Arska sambil mengangkat kepalanya, agar bisa melihat ke arah Fella. Fella mengangguk, segera ia berinisiatif untuk bangkit dari kursinya, tapi Arska lebih dulu memapahnya,
"Aku bisa jalan sendiri sayang" ucap Fella.
"Tapi aku pengen bantuin kamu sayang"
"Keliatan manja banget ya akunya"
"Enggak sama sekali kok, justru aku malah seneng" ucap tersenyum.
"Ya udah, kalau menurut kamu, aku nggak manja"
Arska tersenyum penuh arti, segera ia membantu memapahnya, sesekali mata Arska melirik kesamping, ia melihat kalau kekasihnya itu sedang menahan sakit, terlihat jelas dari raut wajahnya, dengan hati-hati Arska langsung membopongnya Fella yang terkejut spontan berteriak, "Arska...."
"Iya sayang apa?" ucap Arska santai.
"Turunin aku, malu kan kalau di liat bi Rahmi"
"Biarin, lagian kamu sakit gitu, bi Rahmi pasti ngertiin lah" ucapnya seraya menaiki anak tangga. Sampai di depan kamar, Arska segera menurunkan Fella, "Buruan gih ganti" tunjuknya menggunakan dagu.
"Iya, iya.... bawel !!" ucap Fella segera membuka pintu, dengan kaki yang pincang, segera ia menutup pintunya seperti semula. Arska yang senyam-senyum di depan kamar, langsung saja mengeluarkan ponselnya, segera ia mengarahkan ponselnya ke pintu kamar milik Fella ia memotret tulisan yang terpasang di depan kamar Fella. "Dia beneran sayang sama gue" ucapnya pelan seraya memandangi layar ponsel miliknya, senyum sinis khas Arska terlukis jelas di wajah tampannya. Sesekali ia mengetuk pintu kamar Fella. Tok..tok...tok, "Udah belom sayang gantinya lama banget, apa perlu aku gantiin" candanya.
"Bercanda sayang, udah belom"
"Udah... masuk aja" ucapnya pelan.
Arska segera memasukkan ponselnya ke saku celananya, dengan pelan ia membuka pintu.
"Beneran udah" ucapnya memastikan.
"Udah sayang" jelasnya.
Arska mendekati tepi ranjang, ia segera mengambil kotak obat di atas nakas dan mengobati luka di lutut Fella. "Tahan dikit ya sayang, mungkin agak sakit".
"Aku kuat kok" ucapnya sok kuat.
Arska geleng-geleng kepala, melihat tunangannya itu sok kuat. Padahal ia memperhatikan ekspresi wajahnya yang menahan perih di lututnya, matanya terpejam, bibirnya menggigit bibir bawah. Sesekali Arska meniupi luka Fella, saat alkohol pertama menyentuh lukanya, Fella berteriak, "Aw.... perih sayang, pelan-pelan" ucapnya membuka mata dan menarik lututnya.
"Jangan teriak-teriak sayang, nanti bi Rahmi mikirnya yang macem-macem" goda Arska.
"Tapi beneran sakit"
__ADS_1
"Hehehe.... katanya kuat" ledeknya.
"Aku kuat kok, kata siapa aku nggak kuat" ucap Fella sambil menaruh lututnya ke tempat semula.
"Kalau nggak kuat nggak usah di paksain ay" ucapnya seraya memasang perban di lututnya. "Udah selesai ay, buka mata kamu" ucapnya seraya duduk di samping Fella.
"Makasih ya sayang, udah mau bantuin aku ngobatin lukanya, meskipun agak menyiksa"
Arska mengerenyitkan dahinya, "Menyiksa??, maksudnya apa ay!!!" ucapnya seraya mendekatkan wajahnya ke arah Fella.
"Ya... nyiksa, soalnya ngobitinnya sakit" ucap Fella yang langsung buang muka.
Arska tersenyum sinis, Arska berusaha memalingkan wajah Fella agar menghadapnya. "Masih sakit ini sayang" ucapnya sambil menunjuk bibir Fella. Fella mengangguk pelan, sesekali ia memanyunkan bibirnya.
"Mau aku cium lagi, biar rasa sakitnya berkurang" tawar Arska.
Fella mengerenyitkan dahinya, segera ia menjitak kepala Arska cukup keras, "Dasar mesum, modus terus".
"Aw..... sakit sayang, bukan modus namanya, ini bentuk kasih sayang aku ke kamu". ucap Arska sambil mengusap-usap kepalannya.
"Ih.....ngeselin" ucap Fella makin cemberut.
"Jangan manyun sayang ku" ucap Arska seraya memeluk dan mengecup kening Fella. "Cepat sembuh ya sayang ku".
"Iya sayang, pasti cepat sembuhnya kalau yang ngobatin kamu". "Ow... iya yang, bukannya kamu tadi les ya, kok pulang cepetan katanya pulang jam 5 lesnya" selidik Fella.
"Ponsel aku bunyi terus, ternyata Faya telfon, ya udah aku izin pulang awal". ucapnya seraya melepas pelukannya.
"Kenapa harus izin, lagian aku juga nggak papa kok"
"Ya... karena aku khawatir sama kamu lah sayang. Nggak papa gimana bonyok gini".
"Cuma bonyok dikit" ucap Fella seraya memegangi bibirnya.
"Aku heran siapa sih yang tega ngelakuin itu ke kamu ay".
Fella mengangkat kedua bahunya, " Aku nggak tau sayang".
"Maafin aku ya ay, belom bisa jadi tunangan yang bisa selalu ada buat kamu" ucap Arska merasa bersalah.
"Jangan ngomong gitu sayang, ini semua di luar nalar, yang udah terjadi ya udah, jangan kamu nyalahin diri kamu sendiri, kamu nggak salah" ucap Fella menggenggam tangan Arska.
Arska tersenyum melihat kekasihnya yang begitu tegar, beruntung sekali ia memilikinya.
__ADS_1