
Fella membuka pintu rumahnya dengan perlahan, mukanya yang masam sangat terlihat jelas di sana. Langkah kaki yang tertatih tak menyurutkan langkahnya untuk terus menopang tubuhnya yang lebih berat.
Cuaca yang tak mendukung membuatnya harus menyalakan lampu, karena di dalam ruangan memang lumayan gelap.
"Bun.... Bunda.... anak mu pulang bun...." teriaknya dengan tubuh menyandar di atas sofa ruang keluarga. Tak ada tanggapan dari teriaknya. "Bunda..... bi Rahmi....." ucapnya sekali lagi.
"Bunda sama bi Rahmi kemana sih? ya Allah... hari ini kenapa pada ngeselin semuanya. Kayaknya emang cuma Andy yang ingat dan peduli sama aku!" celotehnya sambil memegangi gantungan kunci yang di inginkan nya sejak dulu.
Fella menghela nafasnya pelan, rasa kering di tenggorokannya mulai terasa. "Nyari minum sendiri, semuanya sendiri bener-bener nggak ada yang sayang sama aku kalau kaya gini caranya!!" seru Fella seraya melangkahkan kakinya menuju dapur.
Mengambil air mineral yang ada di dalam kulkas, berharap setelah meminumnya kepala dan hatinya juga ikut mendingin karena sejak tadi ia sibuk berceloteh tak jelas. Fella melihat ke semua sudut ruangan tak ada satu pun orang di rumah, hanya dia seorang. Lagi-lagi ia menghela nafas, dadanya yang sesak mulai terasa jika mengingat kejadian tadi pagi, ia benar-benar kesal dengan kekasihnya.
Tiba-tiba terdengar ketukan dari jendela arah tempatnya berdiri, lampu yang tiba-tiba meredup dan kembali menyala. "Sejak kapan? rumah jadi ada hantunya?" ucapnya lirih seketika bulu kudu Fella berdiri.
Fella berlari kembali ke ruang keluarga berharap tak mendengar atau pun melihat kejadian seperti tadi, hingga sebuah lemparan benda atum yang terdengar nyaring di telinganya membuatnya kaget, suasana sudah seperti cerita di dalam film horor. "Ya Allah ampuni dosa-dosa hamba, hamba janji nggak akan nakal lagi," ucapnya sambil meringkuk kan badannya di atas sofa, memejamkan mata seraya menutup telinganya, Fella benar-benar dalam ketakutan saat ini.
"Punya salah apa? sampai semuanya marah sama aku! bahkan hantu pun juga ikut marah," gerutunya tak henti-hentinya, ia membaca semua doa yang ia hafal, perlahan Fella mulai membuka matanya dan melepaskan kedua tangan dari telinganya. "Huft.... beneran udah pergi?" tanyanya pada diri sendiri. Hingga lampu pun mulai meredup. "Bunda......" teriaknya dengan lantang sambil terus memejamkan matanya, ruangan yang gelap dan suara petir yang menyambar sungguh membuatnya semakin menggila. "Kenapa? semuanya nggak ada yang sayang sama aku!" teriaknya makin kencang.
Dari arah berlawanan muncul sebuah suara yang tidak asing baginya, berharap suara itu adalah Merry. Fella segera membuka matanya dengan perlahan, betapa terkejutnya Fella saat ia melihat apa yang ada di hadapannya serta lampu yang menyala dengan terang. "Bunda...." ucapnya berharap Merry segera memeluknya.
"Selamat Ulang Tahun ya sayang," ucap Merry yang langsung memeluk tubuh anaknya dengan erat.
Di susul dengan Bella dan Faya yang juga memeluk keduanya. Tak lama Arska keluar membawakan sebuah kue yang cukup besar agar kekasihnya segera meniup lilin yang sudah di nyalakan. "Selamat Ulang Tahun ya sayang," katanya seraya menyodorkan kuenya tepat di hadapan Fella. Pelukan mereka pun terlepas karena kehadiran Arska.
"Berdoa dulu sebelum di tiup fel," ucap Bella .
Fella menatap tajam ke arah kekasihnya dengan kening yang berkeriput hingga alisnya terpaut mengingat kejadian tadi pagi. "Tadi aku liat Arska sama cewek lain bun, di taman mereka mesra banget. Terus sekarang dia ngapain di sini?" tanyanya sedikit sewot.
Sontak mereka semua tertawa terbahak-bahak mendengar pengaduan Fella yang sudah mereka ketahui sejak tadi, termasuk sang tersangka yang merencanakan ide mengusili tunangannya itu.
"Hay... kak," sapa gadis yang tadi bersama Arska.
Fella belum juga merespon gadis yang baru datang dan menyapanya itu, ia masih sibuk menatap ke arah Merry dan yang lainnya. "Kenapa kalian tertawa, Bunda juga ngapain ketawa, bukannya marahin Arska malah sibuk ikutan ketawa. Terus juga... cewek ini kan yang tadi di taman bareng Arska, ngapain juga ikutan kesini?" tunjuk-nya dengan wajah datarnya, Fella masih kesal dengan kejutan yang diterima, membuat jantungnya seakan rontok.
"Maaf kak, aku cuma di suruh sama kak Arska buat manas-manasin kakak, katanya kak Fella sekarang ulang tahun, jadi aku ikutin kemauan kak Arska. Ow iya kak selamat tambah tau ya," ucap gadis itu seraya menyodorkan kado yang sudah ia siapkan.
"Kak Arska?" ucap Fella pelan ia masih kebingungan dengan keadaan sekitarnya.
__ADS_1
"Dia adik sepupu aku yang baru dateng dari bandung, namanya Salsa," jelas Arska. "Buruan tiup lilinnya sayang keburu jadi satu sama kuenya," Arska kembali mengingatkan kekasihnya.
"Buruan fel, gue juga pengen makan kue buatannya Arska," sahut Faya tak sabaran.
Fella mulai memejamkan matanya menaruh kedua tangannya di depan dadanya, Fella mulai berdoa. "Semoga kelak aku tak menjadi orang yang selalu berprasangka buruk, dan semoga hubungan aku dan Arska selalu baik-baik saja," batin Fella yang segera membuka matanya dan meniup lilinnya.
Kini manik matanya mengarah ke Arska dan juga Merry secara bergantian.
"Kamu kok ngeliatin Bunda sampai segitunya sih ay, salah Bunda apa?" tanya Merry sedikit terpekik.
"Iya... kamu kenapa sih yang?" sahut Arska.
"Kenapa? kenapa? yang kenapa-kenapa itu kalian, Bunda juga!" jelasnya dengan sorot mata yang masih kesal. "Kalau aku jantungan terus mati gimana?"
"Ngapain ngomongin mati dosa aja masih banyak," celoteh Bella seraya bersedekap dada.
"Hust....nggak boleh ngomong sembarang gitu," ucap Merry.
"Iya ay.... nggak baik tau ngomong sembarangan," kata Arska yang kini meletakan kuenya dia atas meja kemudian duduk di sebelah Fella.
"Bunda aku tuh ketakutan banget... lagian siapa juga yang iseng ngasih saran buat ngerjain aku! udah gitu di luar ada suara petir lagi makin jantungan kan aku bun."
"Maafin aku sayang, abis tante Merry bilang kalau kamu nggak pernah mau ngerayain ultah kamu, ya udah aku punya ide buat ngasih kejutan ke kamu biar kamu selalu ingat."
Fella masih saja melayangkan jari-jarinya untuk menganiaya Arska, ia ingin melepas kekesalan yang di terimanya tadi pagi karena perlakuan Arska yang sukses membuatnya menangis.
"Ow... iya ay, Bunda mau nanya dong, emang iya... orang takut hantu yang di baca surat Al-Kafirun sama surat Al-Kausar? udah gitu doa makan sama tidur di baca pula, emang mau ngajakin mereka makan abis itu tidur bareng," ledek Merry sambil menahan tawanya.
Fella menggigit bibir bawahnya, melihat sekilas ke arah Merry, wajahnya yang memerah terlihat jelas di sana, malu sudah pasti baginya. "Namanya juga orang takut bun, khilaf dikit kan nggak pa-pa," katanya yang langsung menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
Tawa menghujat siap menerkam Fella tak terkecuali Faya yang mengingatkan akan satu hal. "Yang ingat hari spesialnya cuma Andy yang lainnya jahat...." celotehnya dengan raut wajah yang siap di timpuk baskom.
Fella melirik kesamping nya berharap kekasihnya tak mendengarkan celotehannya tadi.
"Nggak usah... ngeliatin aku kaya gitu, aku udah denger semuanya, bahkan dari awal sampai akhir," jelas Arska seraya membuang muka, ia tak mau menatap wajah kekasihnya yang sengaja di buat memelas.
"Yah.... sayang jangan ngambek dong, abisnya kamu nggak ngasih tau aku kalau itu adik sepupu kamu, aku pikir kamu beneran selingkuh," kata Fella yang kini menggoyang-goyangkan lengan Arska, berharap kekasihnya kembali menatapnya.
__ADS_1
"Kalau ngasih tau namannya buka surprise fel, pinter-pinter tapi kadang kok oon nya kebangetan," cibir Bella.
"Biasa bel...abis ketemu mantan jadinya gitu. Kado dari mantan aja di pegangin terus giliran kado yang gue kasih di buka aja belom, di lirik sedikit aja enggak," cetus Arska mengingatkan, Arska sejak tadi melihat kalau Fella terus menerus menggenggam gantungan kunci yang di berikan oleh Aldy.
Fella melirik ke arah tangannya yang masih menggenggam gantungan kunci tersebut, segera ia melemparkannya ke atas meja.
"Eh... yang tadi manas-manasin malah panas sendiri waktu ngeliat kak Fella di kasih kado," celoteh Salsa yang ikut nimbrung.
Faya menikmati kue tanpa ikut berkomentar, sedangkan si pemilik kue tak terlalu fokus karena sibuk berbicara. "Sal.... sini ikut gue makan kue aja, yang punya baru ceramah," suara Faya sengaja di perkecil. Salsa menurut saja dengan ucapan Faya, ia ikut memakan kue yang ada di hadapannya saat ini.
"Dasar Salsa si mulut kompor bleduk," ucap Arska.
Mimik wajah Fella di buat semelas mungkin. "Maaf ya sayang khilaf dikit kok."
"Hem...."
"Fel, enak loh... kue buatan Arska," ucap Bella yang ikut nyomot.
"Kamu entar tinggal kebagian tempatnya aja ay," Merry menepuk pundak Fella pelan, mengingatkan sang anak akan kue yang di buatkan spesial untuk dirinya.
Fella melotot mendapati kuenya tinggal separuh. "Itu kan buat aku... jangan di habisin," protesnya sambil mengambil sepotong kue yang sudah di potong oleh Faya tadi.
"Kado buat lo," kata Bella yang mulai mengotori wajah Fella dengan cream kue yang ada di hadapannya.
"Sayang cream-nya bel, jangan buat mainan," protesnya.
"Biar makin cantik," Arska ikut mengotori wajah Fella dengan kue yang di pegangannya.
"SAYANG....." teriak Fella dengan mata menatap lekat ke arah Arska.
"Iya..." sahutnya dengan nada pelan.
"Nggak jadi."
"Hahaha.... Fella cemen," ledek Faya.
Tatapan tajam Fella kini terfokus dengan Faya. "Jangan makan kue gue!" mukanya di buat seserius mungkin.
__ADS_1
Faya mendengus kesal, segera ia menyerobot semua kue yang ada di atas meja. Semua kompak tertawa saat mendapati si pemilik kue hanya mematung melihat kuenya di bawa kabur oleh Faya.