
Pukul 22:00 Arska dan Fella akhirnya sampai di rumah dengan selamat, meskipun seragam sekolah yang ia kenakan telah basah kuyup namun tak berarti jika ia tak menikmati kencan seharian-nya bersama Arska.
Arska sudah berharap-harap cemas, karena dirinya sudah melanggar waktu bermain bersama Fella, ia siap menerima hukuman yang akan di berikan Merry dan Angga.
"Kamu kenapa yang?" tanya Fella memecah keheningan di antara mereka berdua saat sudah berada di depan pintu, bibir Fella sudah menggigil cukup parah akibat seragamnya yang basah dan udara dingin saat hujan.
"Deg-degan aku ay, udah takut kena marah sama Om,Tante," katanya tak kalah kedinginan.
"Ayah nggak di rumah kok yang, paling cuma kena omel Bunda dikit kamu."
Kreakk.....
Suara pintu terbuka membuat Arska dan Fella menoleh secara bersamaan, ternyata Merry sudah berdiri di sana, Ia mendapati anak dan anak menantunya dalam ke adaan basah kuyup.
"Kenapa nggak langsung masuk aja? Kalian bisa masuk angin kalau terus di luar seperti ini?" tanya Merry panik setelah melihat keadaan kedua remaja yang sekarang tengah berada di hadapannya dengan mulut bibir yang menahan dinginnya angin malam.
"Ini juga mau masuk bun," jawab Fella dengan tangan memegangi kedua lengannya, karena merasa dingin yang mulai merasuk ke dalam tulang.
"Berhubung Aya udah sampai rumah, Arska pamit pulang dulu ya tan," ucap Arska berniat pamit pulang.
"Loh... kok pulang? Kalau ke adaan kamu kaya gini, terus entar kamu nanti sakit, Tante makin nggak enak sama Violla, lebih baik kamu nginep di sini, nanti biar Tante bilang sama Violla, biar dia nggak khawatir," jelas Merry.
"Tapi tan, Aska kan..."
"Nggak ada tapi-tapian ini udah terlalu malam dan cuaca masih hujan, Tante nggak mau anak menantu Tante sakit, dan untuk kamu Aya, buruan bersihin diri! Jangan bengong terus di situ, nanti ada yang pengen Bunda omongin sama kamu."
Hanya anggukan kecil yang Fella berikan untuk menjawab ucapan Merry yang begitu panjang lebar bahkan dirinya pun tak bisa mencerna ucapan Merry. Fella segera melangkahkan kakinya untuk membersihkan diri agar tak terkena flu.
"Kamu juga buruan mandi ka, nanti Tante siapin bajunya Om yang udah nggak kepakai, kelihatannya ukuran baju kamu sama kaya ukuran baju Om semasa masih muda," tambah Merry yang kini mengizinkan Arska masuk dan menyuruhnya untuk segera membersihkan diri. "Nanti habis mandi Tante pengen ngomong sama kamu juga, Tante tunggu di ruang keluarga."
"Iya ten."
Arska mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, ia nampak bernafas lega, tetapi Arska juga mulai memikirkan apa yang nanti akan di bicarakan Merry kepadanya.
Arska membasuh wajahnya di wastafel untuk menyegarkan kembali diri dan pikiran buruknya. Dengan kedua tangan bertumpu di masing-masing sisi wastafel, Arska memandang pantulan dirinya di dalam cermin besar yang ada di hadapannya saat ini.
Arska nampak gelisah karena mengingat kembali ucapan Merry yang akan mengajaknya berbicara, entah itu apa tapi Arska tetap merasa gelisah, antara takut kena marah atau dirinya di larang untuk menemui Fella untuk sementara waktu. Arska menghembuskan nafasnya hingga beberapa kali, mencoba menetralkan hati dan pikirannya agar bisa sejalan.
"Semangat ka, elo bisa ngadepin ini semua," ucapnya masih menghadap pantulan cermin, seakan ia sudah mulai gila karena berbicara sendiri.
Arska mulai keluar dari kamar mandi masih mengunakan handuk yang melilit di pinggangnya, seraya menyambar baju dan celana yang di siapkan oleh Merry untuknya.
__ADS_1
"Selera Om Angga bagus juga, nyatanya gue masih kelihatan ganteng meski bajunya udah jadul," kata Arska memuji dirinya sendiri.
Lima belas menit kemudian....
Terlihat Fella dan Merry sudah menunggu dirinya di ruang keluarga, Arska nampak ragu-ragu namun kakinya tetap melangkah kearah dua wanita tersebut, di sana sudah di siapkan dua cangkir susu jahe mungkin itu untuk dirinya dan Fella.
"Duduk ka," perintah Merry. "Minum... biar badan kamu ngerasa enakan," lanjutnya.
"Iya tan, makasih udah mau di repotin sama Arska," ucap Arska dengan sungkan.
"Kamu nggak boleh ngomong kaya gitu, karena suatu saat nanti rumah ini juga bakalan jadi rumah kamu sama Fella."
Arska tersedak, seakan tak mempercayai ucapan Merry yang begitu tiba-tiba.
"Kamu pelan-pelan minumnya yang, nggak ada yang mau minta juga," kata Fella seraya mengusap-usap punggung Arska pelan.
"Maaf ay, rada kaget denger omongan Tante," balas Arska yang kini mengusap sudut bibirnya.
Merry tertawa kecil mendengar pengakuan Arska yang begitu terang-terangan.
"Tante nyuruh Arska kesini bukan buat marahin atau ngejauhin Aya kan tan?" tanya Arska to the poin.
Arska menarik nafas lega, senyum lepas ia tunjukan di depan Merry dan Fella. "Arska kan udah bawa anak tante pulang sampai larut malam dan Arska juga udah buat anak Tante pulang dalam ke adaan basah kuyup."
Merry tertawa sampai tak bisa berhenti. "Lagian Tante udah bilang sama Aya, kalau masih hujan nunggu reda dulu baru pulang."
"Tadi Aya juga sempat mau bilang gitu bun, tapi Arska-nya main tarik tangan Aya, ya udah deh.... kehujanan."
"Tadi kamu nggak bilang gitu ay?"
"Aku mau bilang, tapi tangan kamu udah duluan narik tangan aku, ya udah... aku milih buat diam."
"Dasar kamu tuh nggak pernah mau ngalah."
"Kamu juga, cowok tapi nggak pernah mau ngalah," ucap Fella yang tak mau kalah dari Arska.
Merry tersenyum mendapati dua remaja yang berada di depannya, melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil, apa mungkin suatu saat nanti mereka bisa menjalani rumah tangga dengan baik jika kelakuan mereka masih seperti ini.
"Ehem...ehem.." suara deheman Merry membuat mereka berdua berhenti berdebat. "Sampai kapan? Kalian mau berdebat seperti ini? Tanpa melihat di depan kalian masih ada orang tua yang terus melihat tingkah ke kanak-kanakan kalian."
"Maaf tante, Arska terlalu terbawa suasana," ucap Arska dengan wajah yang kini memerah mendapati calon mertuanya tengah melihat sikapnya yang seperti anak TK.
__ADS_1
"Iya bun, maafin Aya juga ya bun," lanjut Fella.
"Bunda langsung ke inti pembicaraan aja ya, biar kalian nggak ribut terus," jelas Merry sambil meletakan beberapa kertas tepat di depan Fella dan Arska.
"Ini apa bun?" tanya Fella, karena dirinya merasa bingung.
"Iya ini buat apa tan?"
"Kalian lupa tentang perjanjian dulu? Tiga minggu lagi Aya lulus SMA, dan itu artinya kalian harus sudah resmi bertunangan."
"Hehehe.... Tante suka ngelawak ya? Mana ada Arska lupa sama hari yang udah Arska tunggu-tunggu tan."
"Aya lupa bun," Fella nyengir kuda karena ia benar-benar lupa tentang peresmian pertunangannya.
"Kalian pilih cincin sama dekorasi yang kalian mau, terus kalian mau undang penyanyi siapa terserah kalian, kalian yang tentuin sendiri ya. Bunda cuma bisa kasih contohnya yang itu," Merry menunjuk kertas yang sudah berada di hadapan mereka.
"Makasih ya bun, ternyata Bunda udah rencana-in ini semua, sampai Aya nggak tau," Fella merasa terharu. "Aya sayang Bunda," kata Fella yang kini beralih memeluk Merry dengan erat.
"Arska juga pengen dong di peluk kaya Tante," ucap Arska yang kini menampakkan wajah melasnya.
"Nggak boleh, masih belom waktunya," jawab Merry memberi kode keras.
Sesaat Fella menatap ke arah Arska, 'Andai Bunda tau kelakuan apa aja yang udah di lakuin Arska ke aku, pasti udah abis-abisan kena marah,' batin Fella sambil menggigit bibir bawahnya.
Di sisi lain, Arska yang seakan sudah mengetahui pikiran Fella sontan menahan tawanya.
Merry mengernyitkan keningnya, menatap ke arah Arska dan Fella secara bergantian, ekspresi yang di tunjukan kedua remaja itu sungguh berbeda, Arska dengan ekspresi menahan tawa dan Fella dengan ekspresi nampak kebingungan.
'Sebenarnya apa yang mereka pikirkan sampai ekspresi wajah mereka pun tak serempak seperti ini,' batin Merry.
"Ya udah.... Bunda mau istirahat dulu, kalian jangan malam-malam tidurnya, nggak baik buat kesehatan," ucap Merry menasehati.
Fella dan Arska mengangguk kecil saling pandang tapi pandangan Fella begitu sinis menatap lekat ke arah cowok yang berada di sebelahnya itu.
"Kok kamu ngeliatin aku kaya gitu sih ay?" tanya Arska masih berpura-pura tak mengetahui kesalahannya.
"Sengaja ya, pura-pura nggak denger ucapan Bunda tadi?"
"Hehehe... dikit yang."
Fella pun melengos mendengar jawaban dari kekasihnya itu, untung saja suasana hatinya sedang membaik jadi ia tak terlalu mempersalahkannya.
__ADS_1