Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Between Confused and Love


__ADS_3

Di balkon Arska sibuk melamun, ia bingung harus berbuat apa saat ini. Di sisi lain ia tak ingin menjauh dari kekasihnya itu, tapi ia tak punya pilihan lain, ia benar-benar frustasi karena harus memilih pilihan yang bertolak belakang dengan hatinya. Clara mengendap-ngendap masuk ke dalam kamar Arska, di lihatnya sang Kakak sibuk melamun di balkon tanpa menyadari kehadirannya. "Kak Arska ngapain sih, Clara kesepian tau... kalau Kakak diem kaya gini terus nanti yang jailin Clara siapa? " ucap Clara seraya duduk di samping Arska.


Arska belom juga menyadari kedatangan adiknya, ia juga tak mendengarkan ucapan Clara barusan. Merasa jengkel dengan sikap aneh sang Kakak, Clara berteriak cukup keras sampai Arska langsung menutup telinganya dengan segera. "Kamu ngapain sih dek, teriak-teriak nggak jelas, kuping Kakak sakit dengerin teriakan kamu" ucap Arska dengan wajah tertekuk.


"Habisnya Kakak dari tadi melamun terus, Clara ngomong nggak ada jawaban" ucap Clara memanyunkan bibirnya.


Arska tersenyum tipis, ia mengacak-acak rambut Clara dengan gemasnya. "Maaf ya dek, Kakak lagi banyak masalah, jadi nggak konsen sama omongan kamu barusan".


Clara makin memanyunkan bibirnya, ia memegangi pipi Kakaknya dengan kedua tangan mungil miliknya. "Kakak lagi berantem sama kak Cantika?" selidiknya.


Arska menggeleng, ia membuang nafasnya dengan sembarang. "Kakak baik-baik aja kok sama kak Cantika. Cuma..... Kakak".


"Cuma...Kakak kenapa?" ucap Clara makin penasaran.


"Kak Arska harus..... harus..." Arska menghela nafas cukup panjang, ia berfikir sejenak untuk tidak memberitahu adiknya tentang masalah sebenarnya. "Kakak nggak kenapa-napa kok, ow... iya Clara ngapain ngumpet-ngumpet masuk ke kamar kakak?" ucapnya sambil mencubit pipi Clara pelan, ia sedikit terhibur karena kedatangan adiknya.


"Tadinya Clara pengen ngagetin Kakak, tapi Kakak malah nggak kaget. Kakak sibuk melamun" ucapnya dengan bibir yang masih manyun.


Arska tersenyum sesaat, ia benar-benar beruntung memiliki adik yang begitu perhatian terhadap dirinya.


"Kak, Clara kangen sama kak Cantika, kapan kak Cantika main kesini lagi kak?" ucapnya murung.


Arska menghela nafas sesaat, berat rasanya bila ia harus menjawab pertanyaan dari adiknya itu. "Sabar ya dek, kak Cantika baru banyak tugas dari sekolah, jadi nggak bisa sering-sering main ke sini" ucapnya seraya mengusap kepala adiknya. "Sekarang Clara keluar dulu ya, kakak mau istirahat, badan kakak sakit semua" ucapnya dengan memegangi pundaknya yang pegal.


Clara mengerucutkan bibirnya, sebenarnya ia masih ingin bersama kakaknya, namun Arska sudah memerintahkan dirinya untuk meninggalkan balkon. "Ya udah.. Clara keluar dulu, Kakak met istirahat ya" ucapnya tak lupa mencium pipi Arska sebelum meninggalkan balkon.


"Iya... Clara juga istirahat ya" ucapnya mengacak-acak rambut adiknya dengan cemasnya sambil mendaratkan ciuman di kening sang adik.


Dengan pelan Clara melangkahkan kakinya, sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat Arska, ia tau kalau ada hal yang di sembunyikan oleh kakaknya dari dirinya, terlihat jelas dari raut wajahnya yang tak bersemangat dan lesu, Clara membuka pelan handel pintu, ia kembali menoleh ke arah Arska sebelum akhirnya berbalik badan dan menutup pintunya kembali.


...•°©inta Untuk Fella°•...


Malam minggu Arska sengaja berkunjung ke rumah Fella untuk memastikan keadaan kekasihnya, sekaligus untuk melepas rindunya. Beberapa hari ini Arska di sibukkan oleh pesan-pesan dari Mona yang terus mengancamnya.


Di teras rumah mereka berdua asyik mengontrol, Arska juga tak ketinggalan untuk menanyakan kondisi Fella saat ini. "Masih ada yang sakit nggak sayang?" ucapnya memastikan.

__ADS_1


"Udah mendingan kok sayang, dari pada yang kemarin" jawab Fella.


"Katanya udah mendingan, tapi kok muka kamu masih pucat gini sih yang?" ucap Arsak yang langsung mengelus pipi Fella dengan lembut.


Fella tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Arska. "Kamu tuh... lucu tau yang. Yang mendingan itu kan badan aku".


"Tapi kan biasanya juga ngaruh" ucapnya memanyunkan bibirnya.


"Yah... gimana mau ngaruh kalau anemia aku kambuh lagi" ucap Fella sambil menundukkan wajahnya.


Arska mengernyitkan keningnya. "Kamu punya penyakit anemia?, kenapa nggak pernah cerita ke aku sih ay?" ucap Arska seraya mengangkat dagu Fella agar menghadap ke arahnya.


"Udah lama nggak kambuh, makanya aku nggak pernah cerita ke kamu yang" ucapnya pelan. Fella mencebirkan bibirnya ketika ia mengingat sesuatu. "Ow iya hampir lupa, kenapa dua hari yang lalu kamu nggak ikutan jemput aku sih yang, waktu aku udah di bolehin pulang dari rumah sakit?, padahal biasanya kamu paling duluan kalau denger kabar tentang aku" ucap Fella melotot ke arah Arska. "Terus nomor kamu kenapa nggak aktif?. aku makin curiga deh... sama kamu" cecer Fella menyelidik.


Yah... Arska sudah menebaknya, pasti kekasihnya itu akan mengomeli nya, karena tempo hari tak ikut menjemputnya. Tapi ia tak bisa berbicara jujur, Arska memikirkan jalan pintas untuk terpaksa berbohong. "Maaf ya sayang, tugas dari sekolah banyak banget, jadi aku nggak bisa jemput kamu, waktu mau ngabarin kamu juga baterai aku lowbat. Maaf banget ya sayang, mungkin kedepannya juga aku bakalan susah di hubungi soalnya aku mau fokus ke ulangan, biar nilai aku bagus" ucapnya meyakinkan.


"Oke.... alasan yang masuk akal, jadi aku bisa nerima dan maafin kamu. Tapi kalau lain kali nggak ada kabar aku bakalan samperin ke rumah kamu!!" tegasnya.


"Iya sayang.... makasih ya udah maafin aku" ucap Arska sambil menarik kepala Fella agar menempel di dadanya yang bidang. "Bisa rasain kan?, detak jantung aku makin kenceng kalau deket kamu".


Arska membuka matanya, ia menundukkan kepalanya, senyum manis ia tunjukan di hadapan kekasihnya. "Gombal gimana sih sayang... orang kenyataannya gitu kok" ucap Arska yang semakin kencang mempererat pelukannya, sambil sesekali mencubit hidung Fella yang mancung. "Gemes tau yang, ngeliat ekspresi wajah kamu yang kaya gini um... pengen cium jadinya" ucap Arska dengan memaju-majukan bibirnya.


"Kalau aku nggak gemes, malah aku kesel ngeliat sikap kamu yang kaya anak kecil gini, bibirnya pakai di manyun-manyun segala lagi, pengen aku tarik rasanya" celetuk Fella yang menirukan bibir Arska.


"Aku cium ni kalau ngeledekin lagi" ucap Arska melebarkan matanya seraya menundukkan wajahnya makin dalam agar berdekatan dengan wajah Fella.


"Ayah...." teriak Fella .


Refleks Arska segera melepaskan pelukannya. "Ancamannya gitu banget" ucap Arska memalingkan wajahnya, ia bete dengan tindakan kekasihnya saat ini, Arska tak tau harus mencari alasan apa lagi jika Om Angga keluar nanti.


"Hahaha.... yah.. .. ngambek...." ucapnya mencolek pipi Arska yang menyerong. "Orang Ayah keluar kota tadi pagi baru berangkat kok yang" lanjutnya sambil memegangi perutnya, ia sukses membuat kekasihnya itu tertipu.


Arska melirik ke samping, ekspresi wajahnya berubah menjadi merah padam karena malu.


"Muka kamu kenapa yang?, merah gitu" ucap Fella yang masih memegangi perutnya.

__ADS_1


"Ngapain pegang-pegang perut, udah puas ketawanya" ucap Arska sok cuek. "Kaya muka kamu nggak merah aja" ucap Arska mencebirkan bibirnya.


"Idih... jelek banget sih muka kamu tuh yang, nggak usah manyun-manyun gitu, nggak cute tau" ucap Fella yang tak mau kalah memanyunkan bibirnya.


"Manisnya tunangan aku kalau kaya gini" goda Arska yang langsung memegangi dagu Fella.


"Emang manis, kalau nggak manis mana bisa kamu lengket kaya gini sama aku" ucap Fella menjulurkan lidahnya.


Arska tersenyum lebar mendapati wajah cantik cewek yang ada di hadapannya saat ini sangat ceria. Hingga suara notifikasi pesan dari ponselnya menghancurkan kebahagiaan Arska saat ini. Ia sudah bisa menebak pesan dari siapa, Arska ingin mengacuhkannya tapi notifikasi pesan pada ponselnya kian bertambah. Melihat Arska yang makin tak nyaman dengan notifikasi tersebut, Fella semakin penasaran.


"Pesan dari siapa sih yang, sini coba aku liat, kayaknya kamu nggak suka gitu" ucap Fella yang mulai meraih ponsel milik Arska, tapi Arska segera meraihnya terlebih dahulu, ia takut jika Fella mengetahui semua hal yang ia sembunyikan selama ini terbongkar.


"Pasti pesan dari Mama" ucapnya yang langsung membuka pesan tersebut.


Fella memandangi wajah serius Arska ketika membaca pesan tersebut. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya.


Arska masih fokus dengan ponselnya. Ia membaca semua pesan yang di kirim Mona, yang paling menjengkelkan adalah pesan Mona yang berisikan. "JANGAN BIKIN GUE MUAK!!. LO UDAH DUDUK DI SITU SELAMA SATU JAM, LO LUPA SAMA UCAPAN GUE KEMARIN!!".


Arska mematikan layar ponselnya, ternyata Mona selalu memata-matainya, setiap gerakannya selalu Mona mengetahuinya. Fella yang sedikit curiga segera membuka suaranya. "Ada apa sayang?, kok muka kamu keliatan panik gitu" ucap Fella yang langsung meraih tangan kanan Arska.


Arska tersenyum kaku, ia tak mungkin jujur tentang keadaannya saat ini. "Aku nggak papa kok sayang, cuma Mama nyuruh pulang cepat, katanya aku udah kelamaan di sini. Kasihan kamu" ucapnya meyakinkan.


"Kok kasihan aku sih sayang?" ucapnya memanyunkan bibirnya.


"Kenapa sayang?, kok manyun gitu?".


"Kamu ngeselin aku tuh masih kangen sama kamu!!" ucap Fella memalingkan wajahnya.


Arska menatap lurus ke arah Fella, sejujurnya ia juga tak mau jika harus meninggalkan Fella saat ini. Segera Arska mengambil posisi jongkok, ia meraih tangan Fella. "Aku pulang dulu ya sayang, besok atau lain hari pasti aku temuin kamu lagi, sebenernya aku juga masih kangen sama kamu, tapi ini juga menyangkut kesehatan kamu sayang" ucap Arska sambil mencium tangan Fella dengan lembutnya.


"Ya udah.... aku bolehin pulang tapi, janji ya besok kesini lagi" celoteh Fella.


"Insyallah ya sayang, aku usahain" ucap Arsak pamit seraya mencium kening Fella.


Mona yang menyaksikan adegan romantis tersebut, merasa makin kesal dengan tindakan Arska. Arska sama sekali tak menggubris ucapannya, bahkan sengaja membuatnya semakin cemburu.

__ADS_1


__ADS_2