
Hari kian berganti, tapi hidup Bella tak ada yang berubah, seperti biasa ia hanya menghabiskan akhir pekannya bersama kedua sahabatnya. "Elo buruan cari cowok kenapa sih bel?" tanya Faya seraya memakan kentang gorengnya.
Bella mendengus kesal ia tidak suka dengan ucapan Faya yang terus menyindirnya. "Bilang aja lo... udah males temenan sama gue makanya elo maksa-maksa gue buat nyari cowok!"
"Bukannya gitu bel, gue kan juga pengen ngabisin waktu sama kak Aldy," jelasnya.
Bella menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kalau elo emang udah nggak mau temenin gue lagi.... pergi aja... gue nggak pa-pa kok," suara Bella terdengar ketus.
"Yah... bel jangan ngambek dong, gue tutup mulut ini," kata Faya yang kini merapatkan mulutnya rapat-rapat ia tak mau jika Bella mengamuk dengan ucapannya yang semakin menjadi.
"Elo juga fel...nggak sekalian juga ngatain gue?" tanya Bella dengan mata menyorot ke arahnya.
"Apa untungnya buat gue ngatain elo bel?" Fella masih asyik dengan novel yang di bawanya tadi.
"Kirain elo mau ngebully gue sekalian!"
"Gue lagi nyari kata-kata buat gombalin Arska, mana sempat gue ngebully elo!" katanya seraya membolak-balik kertas yang sudah selesai di bacanya.
Bella meniup-niup poninya hingga berterbangan. "Gue bosen gini terus... kapan gue bisa tenangnya?"
Fella menaruh bukunya cukup keras hingga Faya mencibir karena kaget.
"Elo kenapa sih bel?" tanya Fella memastikan.
"Semenjak kalian punya pacar, gue jadi nggak asyik main sama kalian! apa lagi si Faya sering banget...dia ngebully gue."
Mata Fella kini melihat ke arah Faya dengan malasnya. "Jangan ngebully terus fay."
"Gue nggak ngebully fel, gue cuma ngasih semangat aja buat Bella biar dia cepat-cepat nyari pacar."
"Mau nyari pacar apa nyari kaleng rombeng sih fay, nggak mungkin kan mau nyari pacar cuma asal tunjuk terus jadi."
"Yah...kali aja... sekali ketemu langsung suka gitu," Faya memajukan bibirnya.
"Emangnya elo !!!" serempak Fella dan Bella merutuki Faya.
"Dasar.... tukang bully. Mainnya keroyokan."
"Sana... sana.... ngadu sama Aldy," ejek Bella.
Faya menirukan ucapan Bella dengan luwesnya. Ia tidak takut jika Bella mengamuk yang pastinya dia akan memasang muka memelas nya jika Bella mengamuk.
Suara gemuruh kenalpot membuat mereka bertiga tak nyaman. Bella yang duduk paling ujung dekat jalan di taman kuliner semakin kesal. "Kenapa berisik banget sih, bikin telinga gue sakit!" keluh Bella seraya menutupi telinganya.
"Kayaknya genk motor deh bel," seru Faya.
"Bodo amat fay, masalahnya ini suaranya nyakitin telinga gue!"
__ADS_1
"Ya udah bel, gue juga bodo amat," balas Faya.
"Sialan lo fay, sahabat macam apa yang tega ngeliat sahabatnya sendiri kesakitan !"
"Ya... sahabat semacam Faya ini bel," celoteh Fella.
"Coba kalian diem dulu deh, mereka tuh pada kesini !" seru Faya.
"Apa urusannya sama gue fay?"
"Kayanya ini emang masalah elo deh bel, coba elo tengok," kata Fella memalingkan wajah Bella ke arah mereka. "Bukannya itu cowok yang tempo hari gangguin elo makan waktu kita di traktir sama Adly dan Dilan."
Bella mengernyitkan keningnya sebelum akhirnya kembali duduk seperti semula. "Kalian salah liat kali," katanya dengan jari yang kini mengetuk-ngetuk meja.
Tak butuh waktu lama untuk mereka menghampiri meja Fella dan kedua sahabatnya. "Hay.... kita ketemu lagi, emang kalau jodoh nggak kemana," ucap Leon yang kini membalikan kursinya dan duduk di sebelah Bella. Sedangkan teman-temannya yang lain duduk di meja sebelah yang dekat dengan meja mereka duduk.
Bella memutar bola matanya. "Siapa juga yang mau berjodoh sama elo!" seru Bella dengan wajah datarnya.
Leon tersenyum tipis. "Jangan galak-galak gitu...gue dateng dengan niatan baik."
Bella masih saja berekspresi datar, malas meladeni cowok yang ada di sampingnya saat ini.
"Wih.... Le elo dapat yang bening-bening kaya gini dari mana? kenalin kita satu." celoteh salah satu cowok bertubuh sedang itu kepada Leon.
Fella dan Faya masih terdiam belum ada yang membuka suaranya, hingga notifikasi pada ponsel Fella berbunyi.
"Makannya udah belom sayang? aku udah kangen ini! Bella suruh cepetan, aku bentar lagi sampai situ."
Seulas senyuman muncul di sudut bibir Fella siapa pun yang melihatnya pasti akan terkesima.
^^^Aya_Sayang^^^
^^^"Aku tungguin sampai kamu muncul yang, jangan lama-lama, karena aku mulai nggak nyaman!"^^^
Arska segera melajukan mobilnya di atas rata-rata setelah membaca pesan singkat dari kekasihnya itu ia tak mau kalau kejadian yang ter dahulu menimpanya kembali.
"Temen elo oke juga ya kalau di liat-liat," ucap Leon yang kini melirik ke arah Fella.
Masih dengan muka datarnya Bella mengebrak meja. "Elo tuh... jadi cowok matanya jelalatan banget sih!"
Teman-teman Leon segera berdiri mereka takut jika ketua genk-nya kenapa-napa, tapi Leon memperingatkan mereka untuk tidak ikut campur dengan masalahnya. "Jangan ngambek ya...gue nggak godain temen elo lagi jadi jangan cemburu ya," ucap Leon dengan kepedean nya.
Fella dan Faya saling lirik, mereka tiba-tiba merasa ilang filing saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut cowok yang berada di hadapannya saat ini.
Bella tersenyum sinis. "Cemburu !! buat apa cemburu gue kenal elo aja enggak!!"
"Nama gue Leon, cowok yang elo tabrak tempo hari, sekaligus ketua genk motor Alves, nama elo siapa? gue belom sempat tau nama elo kemarin," jelas Leon memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Mungkin saat ini otak Faya sedang dalam keadaan terbalik hingga menangapi ucapan Leon dengan santainya. "Namanya Bella, udah bel kenalan aja lumayan kan," celoteh Faya.
Leon tersenyum penuh arti. "Bella... nama yang indah."
"Elo udah tau nama gue kan? jadi sekarang mending elo balik, gue nggak nyaman ada elo dan genk motor lo disini !" jelas Bella dengan tatapan tak lepas memandang Faya, tatapan yang begitu dingin membuat Faya merinding ngeri dibuatnya.
"Aduh... mati gue kenapa ini mulut nggak bisa di rem sih," batin Faya mengutuki dirinya sendiri seraya menghela nafas panjang.
Fella menepuk keningnya pelan, kenapa ia bisa memiliki sahabat dengan kepintaran di luar nalar seperti Faya. "Fay elo.. bikin masalah baru lagi," cicit Fella dengan nada suara di perkecil.
"Maaf fel, mulut gue susah ngerem," balas Faya merendahkan nada bicaranya.
"Woy.... santai kaya di pantai dong.. jangan pada tegang gini," celoteh salah satu teman Leon.
Dan itu membuat seisi meja melihat ke arahnya.
"Gue mau dong kenalan sama temen lo yang itu," sahut teman Leon yang lainnya sambil menunjuk ke arah Fella, ia mendekati tempat duduk Fella. Ketika tangan cowok itu mulai meraih kursi dan akan duduk di samping Fella. Arska terlebih dahulu merangkul pundak kekasihnya itu. "Udah lama nunggunya ay?" ucap Arska sedikit membuat Fella sedikit terkejut.
"Lumayan yang, kamu sih lama datangnya," ucap Fella yang kini menggenggam erat tangan Arska yang ada di pundaknya.
"Kak Aldy mana ka?" tanya Faya celingukan.
"Pacar elo sakit perut fay," jelas Arska.
"Kak Aldy sakit perut, ya ampun gue harus cepetan kerumahnya," cicit Faya yang kini berdiri dari duduknya.
"Cih... cowoknya dateng tepat waktu," keluh cowok yang akan mendekati Fella.
"Bukan sekedar cowoknya!! gue ini tunangannya jangan sekali-kali lo coba deketin tunangan gue!! kalau elo nggak pengen punya masalah!!" jelas Arska dengan tatapan tak bersahabat nya.
Cowok itu berdecak kesal mendengar ucapan Arska.
"Mending elo juga pulang bel, Brayu kangen sama elo tuh.... katanya pacar kesayangannya nggak ada di rumah jadinya dia galau," ucap Arska sedikit ngawur.
Alis Bella kini terpaut. "Alasan macam apa ini? awas aja kalau semuanya udah pada pergi.. gue acak-acak elo ka," celoteh Bella dalam hati.
"Elo bisa minggir nggak!! gue mau pulang!!" ucap Bella yang kini sudah berdiri dari duduknya.
"Kalau gue nggak mau," kata Leon tak mau mengalah.
"Kalau elo nggak mau, ya terpaksa..." Bella menginjak kaki Leon cukup keras, hingga Leon meringis kesakitan karena ulahnya. Setelah menginjak kaki Leon Bella tanpa dosa berlalu lalang begitu saja.
"Mau elo udah punya pacar gue tetap bakal kejar elo bel," teriaknya.
"Dasar cowok Gila," gumang Bella pelan, saat kedua sahabatnya dan Arska sudah meninggalkan genk motor aneh itu.
Sepertinya Tuhan telah mengutuk Bella hingga kini kehidupannya semakin semrawut.
__ADS_1