
Bella nampak wira-wiri di depan pintu kamar hotelnya, perempuan itu merasa tidak enak hati. Sebab, sudah satu jam yang lalu Brayu keluar, karena ingin membeli makanan untuk dirinya. Namun, sampai di detik ini juga, lelaki itu belum juga kembali. Bahkan, sudah beberapa kali saja Bella mencoba menelpon suaminya itu. Lelaki itu tak juga merespon satu pun panggilannya.
"Duh, Brayu kemana, sih? Kenapa dari tadi gue telpon nggak ada yang angkat," keluh Bella. Perempuan itu menggigit ibu jarinya, merasakan ada yang janggal dari kelakuan suaminya itu.
"Huft, semoga nggak ada hal buruk yang menimpa elo Bray," ucapnya pada diri sendiri.
Bella memutuskan untuk menyusul suaminya itu, takut akan hal yang buruk terjadi kepada lelaki tersebut, 'Jangan bikin gue khawatir dong, Bray. Masak iya, di saat kita bulan madu, elo ngilang. Kan nggak lucu,' gumam Bella dalam hati.
"Tadi katanya, mau ke mini market deket sini kan? Berati gue nggak perlu naik taksi buat susul dia, cukup jalan kaki," ucap Bella pada dirinya sendiri.
Perempuan itu terus menelusuri jalan-jalan dan mencari mini market terdekat menggunakan google map. 'Astaga, kenapa capek gini, sih.' pikirnya. Perempuan itu mengelap keringatnya yang mulai menetes di sekitar keningnya. Sesekali ia menaruh kedua tangannya di pinggang. Napasnya mulai naik turun.
Bella tak ingin menyerah begitu cepat, perempuan itu terus celingukan, hingga langkah kakinya harus terhenti, saat melihat kerumunan ibu-ibu yang menghalangi jalannya.
"Ck, mereka ini pada ngapain? Sih!" seru Bella dengan mata yang masih melirik kearah kerumunan tersebut. "Buk, numpang nanya dong, mereka pada ngapain sih, buk?" tanya Bella kepada salah seorang ibu yang tadi juga ikut berkerumun.
"Ow, mereka. Mereka itu pada minta foto sama cowok ganteng, katanya mau di jadiin mantunya. Soalnya, cowok itu kaya orang korea gantengnya." jelas ibu tersebut, sambil menunjuk ke arah belakang.
"Masih ada gitu buk, zaman moderen kaya gini jodoh-jodohan? Terus, apa nggak kasihan sama cowoknya, kalau kaya gitu." tunjuk Bella menggunakan dagunya.
"Kenapa enggak, kalau cowoknya seganteng Mas itu, Mbak mending juga ikutan ngantri, siapa tau hari ini keberuntungan Mbaknya." saran ibu tersebut.
Bella mengernyitkan keningnya. "Keberuntungan apanya, buk?"
"Siapa tau, Masnya suka sama Mbak, Mbak kan cantik." jelasnya.
Bella menghela napasnya, wajahnya terlihat masam, "Maaf, buk. Saya nggak tertarik, karena saya sudah menikah, dan suami saya itu juga ganteng banget," balas Bella memuji Brayu tanpa sadar. "Ya udah, makasih ya buk. Atas informasinya."
Ibu itu tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan Bella. Hingga terdengar suara beberapa ibu-ibu yang cukup menggelikan, ketika ucapannya sampai di telinga Bella, cara berbicaranya pun membuat Bella menggeleng karena tak mengerti.
"Lah mbok dadi mantu ku wae, mesti anak ku seneng, (Jadi menentu ku saja, pasti anak ku bahagia)," ucap salah seorang ibu-ibu.
__ADS_1
"Lah ngantenge we koyo ngene, layak anak ku seneng ndelok wong korea. (Gantengnya aja kaya gini, pantesan anak ku suka ngeliat orang korea)." sahut salah seorang ibu-ibu lagi.
"Wis, gek ayo mantuk wae. Tak kenalke wong tua ku Mas! ( Sudah, ayo kita pulang saja. Aku kenalkan sama orang tua ku Mas)!"
"Mase mesti wong korea keblasuk. (Masnya mesti orang korea kesasar)."
Kata-kata mereka membuat Bella pusing. 'Astaga, ini pada ngerbutin cowok kaya apaan sih?' pikir Bella semakin penasaran.
Perempuan itu hanya meliriknya tanpa ingin masuk kedalam kerumunan tersebut. Hingga, suara yang mungkin terdengar sangat akrab membuatnya harus menerobos masuk.
"Maaf, Ibu-ibu dan Mbak-mbaknya, saya nggak ngerti sama bahasa kalian. Dan, saya juga sudah punya istri. Dan saya sangat mencintainya!"
Suara lelaki itu terdengar tegas, Bella mulai menyusup di antara mereka, mungkin sebentar lagi akan terjadi aksi saling dorong.
"Halah, mesti ngapusi. Mesti gur koyo sing uwis-uwis, tekne arep kabur! Jaluki poto we pelit! (Halah, pasti bohong. Pasti cuma kaya yang udah-udah, karena mau kabur! Di mintain foto aja pelit)!"
Di tengah-tengah himpitan Ibu-ibu dan gadis-gadis, Bella menghembuskan napasnya berkali-kali. 'Astaga, kenapa gue juga masuk ke sini sih, mikir apa coba! Mau nyari laki kok, nyasar kesini,' batinnya. Perempuan itu masih berdesakan.
"Ck.." kata-kata itu yang keluar dari mulut bibir Bella, matanya terlihat enggan berdebat dengan gadis tersebut.
Saat sudah sampai di barisan paling depan, Bella membelalakkan matanya, 'Astaga, yang dari tadi direbutin itu suami gue!' pikirnya sejenak. Mulutnya sedikit terbuka.
Bella tak terlalu mempedulikan tatapan ibu-ibu yang begitu sinis menatapnya, perempuan itu langsung menarik tangan suaminya dengan kuat, karena lelaki itu hanya tertunduk lemas dan sudah tak bertenaga, akibat himpitan ibu-ibu rempong dan gadis-gadis genit yang ikut mengepung.
"Woalah, wong wedok sak iki ra nduwe isin. Teko-teko langsung ndemok-ndemok! (Astaga, permepuan sekarang nggak punya malu. Dateng-dateng langsung pegang-pegang)!" celoteh seorang ibu-ibu yang tampangnya sangat menyebalkan.
"Mbak, antri dong, masak main nyelonong aja! Kita dari tadi panas-panasan cuma pengen kenalan sama Mas ini!" kata salah seorang gadis yang menatap Bella penuh dengan ke-sinisan.
Bella tak menggubris ucapan mereka, ia hanya melihat ke arah mereka sesaat dan kembali fokus ke arah Brayu.
"Sayang, rasanya gue pengen pingsan. Sesek banget buat napas," tutur Brayu dengan suara lemah.
__ADS_1
"Ck, dari tadi gue nyariin elo kemana-mana. Istri lo ini hampir mati karena kelaparan!" jelas Bella yang langsung membantu Brayu berdiri.
Mereka saling berbisik, tak ada lagi suara kasar dan olokan yang keluar dari mulut bibir mereka.
"Kenapa pada diem buk?" tanya Bella dengan sebelah mata meyincing.
"Kalau terjadi sama suami saya, apa kalian mau bertanggung jawab!"
"Ya, maaf Mbak, kita pikir Mas ini belum nikah," sahut salah seorang gadis yang menundukkan wajahnya kembali.
"Bukannya, tadi suami saya sudah bilang kalau dia sudah menikah! Dan kenapa kalian masih berebut!" sentak Bella dengan kesalnya.
"Habis, Masnya masih muda gini. Ya, mana kita percaya Mbak," ucap seorang ibu-ibu yang tadi masih sempat ngotot karena Bella sudah menerobos.
Bella berdecak sambil membuang napasnya secara kasar. "Kita, baru menikah seminggu yang lalu buk-mbak. Kita kesini buat bulan madu!" jelasnya. "Makanya, lain kali kalau ada orang ngomong itu di dengerin. Jangan asal menghakimi dan menyela orang!"
Mereka saling sikut, tak berani membalas perkataan Bella.
"Sayang, kita balik ke hotel aja. Gue pengen istirahat." kata Brayu dengan suara pelan, lelaki itu terlihat sangat lemas.
Bella hanya mengangguk, seraya memapah suaminya. "Saya, tidak akan memaafkan kalian! Jika sesuatu terjadi sama suami saya!" seru bella dengan tatapan tajam dan dingin. Muka perempuan itu begitu datar, aura membunuhnya sangat terasa di sana, membuat siapa pun yang menatap Bella merinding. Mereka hanya tertunduk dan membuka jalan untuk pasangan suami istri tersebut.
Di seperempat jalan, Bella menghentikan langkahnya. "Lo, itu berat banget sih! Kebanyakan dosa ya?" tanya Bella ngasal.
"Astaga, suami elo yang gantengnya nggak ketulungan ini, hampir nggak ada tenaga. Masih aja lo katain banyak dosa."
"Lagian lo juga, betah banget di sana. Bukanya kabur apa gimana? Apa jangan-jangan, elo. Kalau di belakang gue suka tebar pesona?" Bella mengernyitkan keningnya, perempuan itu mulai menyelidik.
"Ya ampun, sayang. Elo tuh kenapa suka mikir yang jelek terus tentang gue," balasnya dengan nada lemas.
Perempuan itu membuang napasnya dengan kasar, dan tak mau menanggapi ucapan suaminya. Ia kembali melangkahkan kakinya, menopang tubuh Brayu yang cukup berat itu. 'Berdebat sekarang rasanya percuma juga. Dia hampir kehilangan semua tenaganya, yang penting sampai ke hotel dulu, biar dia bisa istirahat," batin Bella.
__ADS_1