Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Hari Pertama Ospek


__ADS_3

Fella dan kedua sahabatnya masuk ke satu Universitas yang sama, bahkan jurusan yang mereka ambil pun juga sama sungguh persahabatan mereka tak pernah terpisahkan.


"Gue paling kesel kalau di suruh ikut ospek kaya gini," gerutu Bella saat Fella masih sibuk menguncir rambut Bella yang cukup panjang itu.


"Sabar bel, nikmatin aja setiap prosesnya, entar lo juga nyaman," sahut Faya.


"Nyaman pala lu, kalau gue harus ketemu sama cowok rese itu," tunjuk Bella dengan dagunya saat mengetahui Leon juga sekampus dengannya.


"Jangan kesel-kesel sama orang itu bel, nanti takutnya lo jatuh hati sama tuh cowok," Fella mencoba mengingatkan.


Faya melotot, serasa tak terima dengan ucapan Fella yang menyimpang. "Yah... jangan sama tuh cowok, Brayu kasihan dia udah rela ngelakuin apa aja buat Bella," protesnya.


Bella merenggut banyak tekuk-kan di keningnya saat mendengar ucapan dari kedua sahabatnya itu. "Kalian apa-apa sih... siapa juga yang bakalan jatuh cinta sama dua cowok rese plus aneh itu!" seru Bella tak terima.


"Ya... masa lo mau jomblo seumur hidup sih bel, kan nggak lucu," kata Fella yang menaruh tangannya di kedua bahu milik Bella, saat sudah selesai menguncir rambut Bella.


"Bener bel, jangan jaim-jaim pamali tau, entar lo di kata-in orang perawan tua lagi, di kira lo nggak laku saking galaknya elo," mulut racun Faya mulai membumbui.


"Rese lo... umur gue baru genap 18thn... mana ada acaranya gue jadi perawan tua, dasar mulut setan... pedes terus ngomongnya," ketus Bella.


"Dasar mulut tomboi, kalau ngomong juga sering nyakitin-nya."


Fella sebagai penengah, di buat pusing juga jika kedua sahabatnya itu tak henti-hentinya saling menyalahkan.


Tak berselang lama, Brayu menghampiri tempat mereka duduk karena acara memang baru akan di mulai setengah jam lagi.


"Buat lo, biar kuat ngadepin ospeknya," ucap Brayu seraya menyodorkan sebatang colat dan susu kotak rasa coklat yang baru saja di belinya.


"Udah... terima aja, lumayan kan buat ngademin pikiran lo," senggol Fella, saat Bella tak juga merespon susu kotak dan coklat yang Brayu sodorkan.


"Atau... mau gue panggil-lin senior yang juga naksir lo itu," sahut Faya.


Manik mata Bella seketika mengarah tepat di depan Faya, ia tak suka jika sahabatnya itu terus saja meledeknya. Sedangkan Brayu tak menggubris celotehan Faya, karena yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana cara Brayu meluluhkan hati Bella.


"Udah buruan minum, mumpung masih dingin, siapa tau hati sama pikiran lo, jadi fresh," ucap Brayu yang sudah menusukan sedotan ke susu kemasan, kemudian mengulurkannya mendekati Bella.


"Fay, gue-----" suara Bella selanjutnya tertelan kembali setelah bibirnya menyentuh ujung sedotan yang diulurkan Brayu.

__ADS_1


Bella menoleh menatap ke arah Brayu, ia sedikit terkejut dengan tindakan cowok yang entah berapa kali ia tolak itu.


"Minum dulu," kata Brayu lembut.


Bella buru-buru mengambil minuman tersebut dari tangan Brayu, ia tidak ada pilihan lain selain menghabiskannya. Hanya itu cara yang cepat untuk mengakhiri bullyan Faya saat ini.


Brayu menunggu Bella menghabiskan susunya dengan seulas senyum. "Pelan-pelan minumnya."


Bella menjadi salah tingkah dan sedikit gugup setengah mati di tatap seperti itu oleh Brayu, padahal itu bukan kali pertamanya Brayu melakukan hal tersebut, tapi kali ini entah mengapa sedikit berbeda. Sedangkan kedua sahabatnya itu saling pandang, melihat kedekatan mereka berdua membuat Fella dan Faya bahagia juga.


Satu menit kemudian, Bella berhasil menghabiskan susu tersebut. Dengan napas sedikit berantakan, Bella meletakkan kemasan kosong susu cokelat di meja taman tempatnya duduk saat ini.


"Semangat buat ospeknya," Brayu tersenyum semakin lebar. "Jangan ngomel-ngomel karena hal yang nggak penting lagi," perintahnya seraya mengusap pucuk kepala Bella, sambil mengambil kemasan kosong dari atas meja taman, lalu berbalik pergi.


Setelah sosok Brayu mulai menjauh, Bella baru bernapas lega. Ia lama-lama bisa terkena serangan jantung bila selalu mendapat kejutan kehadiran Brayu yang serba tiba-tiba. Terlihat menyadari perubahan sikap Bella yang sebelumnya sering keras kepala dan sering berkata pedas terhadap Brayu, Fella dan Faya mulai membuka suaranya. "Sejak kapan? Lo jadi luluh sama Brayu bel?" tanya Fella sedikit menepuk bahu Bella karena Bella masih sibuk mematung.


"Gue curiga Brayu pakai pelet baru, makanya lo jadi luluh," ucap Faya ngawur.


Bella menoleh ke arah Faya dengan tatapan sinis-nya, membuang napas dengan kasar seakan memakan Faya hidup-hidup kali ini.


"Dari tadi perasaan lo tuh... ngejatuhin orang muluk, padahal tadi lo kekeh ngedukung Bella sama Brayu," Fella mulai berkomentar, membenarkan ucapan Faya yang nyeleneh dan sering berubah-ubah itu.


"Hem...."


Tak berselang lama, para senior memanggil seluruh Mahasiswa dan Mahasiswi yang akan menjalani ospek.


Fella, Bella dan Faya sudah turut berbaris di jurusan yang mereka ambil, entah bagaimana mereka harus menjalani ospek yang sepertinya akan cukup melelahkan karena Leon turut menjadi senior untuk jurusan yang Bella ambil.


"Ck... ngeselin, kenapa harus dia sih!" ucapnya pelan.


Mata ekor Leon masih melirik ke arah Bella, ia cukup senang karena gadis itu akan di bawah tekanannya untuk melakukan tugas ospek selama seminggu ini.


Terik matahari tak menyurutkan mereka untuk melakukan kegiatan ospek sehari ini, ya meskipun sangat melelahkan tapi mereka tetap harus bersemangat jika tak ingin mendapatkan hukuman. Hingga salah satu senior yang dapat di bilang sebagai ketua penyelenggara ospek pun, mengumumkan bagi seluruh peserta ospek untuk meminta tanda tangan para senior tanpa terkecuali.


"Hah.... minta tanda tangan, nggak jelas banget kaya nyuruh anak TK," keluh mereka bertiga kompak.


"Jangan banyakan ngeluh, itu udah tradisi dari tahun ke tahun kampus kita! Kalau nggak sanggup mending cari kampus lain," ucap senior cewek yang cukup judes sebut saja Cherry.

__ADS_1


"Ck..." Bella berdecak kesal, ia seperti tak terima dengan ucapan senior cewek tersebut.


"Tenang aja, gue bakal bantuin lo," sahut Leon saat mengetahui Bella yang cukup kesal dengan ucapan Cherry.


"Ck... nggak usah sok akrab, karena kita nggak pernah akrab sebelumnya!" seru Bella dengan kesalnya.


Leon hanya menyunggingkan bibirnya, merasa gadis yang ada di sampingnya itu memiliki daya tarik yang cukup besar untuk ia dekati.


"Waktu yang kalian butuhkan hanya satu jam, lebih dari itu kalian akan mendapatkan hukuman!" lanjut Senior tersebut dengan wajah tegasnya.


Kata-kata Senior tersebut sungguh ampuh, baru sekali berucap tapi seluruh Mahasiswa dan Mahasiswi lainnya sudah kalang kabut, meminta tanda tangan para Senior. Bella masih di posisi berdirinya, ia sudah tak mendapati Fella dan Faya berada di sampingnya. "Ck.... nggak setia kawan banget," keluh Bella dengan kepala celingukan sambil matanya melihat sekelilingnya, ia hanya mendapati Leon yang masih setia berdiri di sampingnya.


"Waktunya udah di mulai, lo nggak mau kan kalau dapetin hukuman," ucap Leon yang kini membuka suaranya, sambil merebut bukan dan pena yang sejak tadi di pegang oleh Bella.


Bella melongo dengan tindakan cowok yang tak punya sopan santun itu bisa-bisanya dia merebut buku dan penanya tanpa seizin darinya, di tambah kenapa dirinya bisa bersama dengan cowok rese tersebut.


"Niat gue baik, biar lo nggak dapet hukuman," lanjutnya seraya memberikan buku dan pena Bella.


"Gue bisa kok nyari senior lain. Dan nggak harus elo!" serunya seraya meninggalkan Leon.


Tak terima dengan sikap cuek dan ketus Bella, Leon segera menarik tangan gadis itu dan mengajaknya berlari.


"Gila lo ya.... ngapain tarik-tarik tangan gue!" teriak Bella dengan suara tersengal.


"Biar lo cepat dapetin tanda tangan dari senior lain, mending lo ikut gue aja," balasnya tanpa menoleh, cowok itu terus menggenggam tangan Bella.


"Lo bisa nggak lepasin tangan lo! Gue capek kalau harus ngikutin langkah kaki lo yang lebar itu," keluh Bella.


Leon hanya menaikan sudut bibirnya, ia tersenyum penuh makna, tapi ia tak melepaskan tangan Bella begitu saja. Yang ada di otaknya saat ini hanyalah bisa menghabiskan waktu dengan gadis yang mampu mencuri hatinya. Bella benar-benar tak habis pikir dengan tindakan Leon, cowok itu sama sekali tak menggubris ucapannya.


Di sisi lain, Brayu hanya bisa menatap tanpa berani mendekat, sedangkan kedua sahabatnya yang siap menjadi kompor beleduk terus menerus menghasutnya.


"Anjay... cowok itu lagi, saingan lo berat bray," celoteh Aldy.


"Lo beneran nggak mau samperin mereka?" tanya Dilan.


"Jangan bilang lo takut sama Leon," ledek Aldy.

__ADS_1


"Awas.... salah langkah lo bisa kehilangan Bella."


Kuping Brayu seakan panas mendengar celotehan kedua sahabatnya yang terus membumbui dan menghasut otaknya. Hatinya benar-benar terbakar api cemburu saat mengetahui Bella sedang di gandeng cowok lain, meskipun ekspresi Bella tak suka tapi ia tetap tak rela. Brayu mengepalkan tangannya dan mulai berlalu lalang meninggalkan kedua racun yang masih sibuk berceloteh itu.


__ADS_2