Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Kamu Injak Kaki Aku!!


__ADS_3

Fella terseok-seok mengikuti langkah Arska yang berjalan cukup cepat, betisnya terasa perih karena ulah Faya tadi. Tapi saat ini, itu menjadi hal yang tak penting lagi untuk di bahas, di kala ia melihat kekasihnya dengan muka datar menggandengnya, telapak tangannya begitu dingin. Seperti sikap Arska yang saat ini begitu dingin terhadapnya. Arska tak membuka suaranya sejak tadi, tak tau langkah kakinya akan di bawa kemana oleh cowok yang terus menggenggam erat tangannya itu.


"Sayang.... kita mau kemana?" tanya Fella dengan tangan yang sedikit menarik tangan Arska, karena Arska membawanya sudah cukup jauh dari tempat camping Fella menjadi sedikit panik. Meskipun pemandangan di sana cukup menakjubkan, tapi Fella masih saja terlihat sangat ketakutan karena kekasihnya itu tak juga membuka pembicaraan.



Mata Fella mulai memanas di kala ucapannya tak juga membuat Arska menghentikan langkahnya, pertanyaannya pun tak di gubris sama sekali. Arska benar-benar marah terlihat dari ekspresinya yang sejak tadi tak berubah. Suara isak tangis mulai terdengar, butiran air mata yang menetes di pipi Fella berhasil membuat langkah kaki Arska terhenti. Arska menoleh mendapati Fella yang sedangan menundukkan kepalanya. "Dia masih setia mengekor di belakang ku," batin Arska.


Arska melepaskan genggamannya, ia mencoba mengangkat dagu gadis yang ada di hadapannya dengan perlahan. Wajah Fella yang terlihat kuyu karena outbond tak menghilangkan kecantikannya.


"Kenapa nangis?" tanya Arska pelan.


Tak ada respon, Fella justru semakin terisak di kala Arska membuka pertanyaan untuk dirinya. Fella sudah merasa sangat kesal.


"Kenapa makin kenceng nangisnya? aku kan nggak gigit kamu?" ucapnya dengan kedua tangan yang kini beralih ke area pundak Fella.


Fella tak juga menjawab pertanyaan Arska justru ia membuang muka, suara cegukan karena tangisnya tadi membuatnya harus mengigit bibir bawahnya, bahu yang kini naik turun akibat cegukan tersebut membuatnya sedikit malu karena ia terlihat seperti anak kecil yang sedang merengek meminta permen.


"Kenapa cengeng banget sih?"


Fella masih tak menjawab pertanyaan kekasihnya itu, ia menuduhkan wajahnya kembali. Arska mencoba kembali mengangkat dagu Fella dengan perlahan semakin dekat wajah Arska memandang bola mata milik Fella. Jarak yang terlalu dekat itu membuat Fella tergugu matanya mulai memanas kembali. Kakinya bergetar hebat merasakan sakit bercampur kelu karena wajah Arska yang masih datar kini menatap lurus ke arahnya. Fella berjongkok dangan tangan yang menutupi wajahnya, ia kembali menangis di sana.


Arska sedikit bingung dengan sikap Fella yang mendadak menjadi gadis yang cengeng, mengelus dadanya sesaat mencoba menenangkan pikiran dan hatinya yang sejak tadi terbakar oleh rasa cemburu.


"Sayang," Arska memegang kedua bahu Fella untuk mengajak gadis itu berdiri. Tanpa mengucapkan kata apapun, Arska memeluk Fella dengan erat. Mengelus punggung Fella dengan lembut berharap


gadis itu bisa tenang setelah ia peluk.


Bukanya tenang dengan pelukan yang di berikan Arska, justru Fella semakin mengeraskan tangisnya hingga suaranya terdengar pilu.


"Aku nggak tau kalimat penghibur apa? yang bisa buat kamu berhenti nangis, yang aku tau. Aku sayang kamu! jadi stop! jangan nangis lagi! hati aku sakit kalau denger kamu nangis kaya gini."


"Kamu jahat banget Arska..." suara Fella terdengar serak.


"Iya aku jahat... maafin aku ya sayang... udahan ya nangisnya, jangan kaya di drama Queen," ucap Arska sedikit meledek.


"Kaya drama Queen gimana?" kata Fella dengan mata yang masih menangis.


"Ya kamu nangis udah kaya drama Queen nggak bisa diem, cuma karena masalah sepele ini," jelas Arska.


"Masalah sepele? drama Queen? kamu beneran jahat Arska," Fella kembali menitihkan air matanya.


Arska semakin bingung karena Fella tak kunjung berhenti menangis, ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar, harus dengan cara apa lagi agar Fella bisa berhenti menangis ini sedikit membuatnya frustasi.

__ADS_1


"Betis aku sakit! plus kamu injak kaki aku kaya gini? gimana aku nggak nangis? kamu malah ngatain aku kaya drama Queen yang bisanya cuma nangis doang!"


Arska melihat ke bawah kakinya, yang benar saja kaki Fella memang terinjak olehnya, Arska segera menggeser kakinya. Merasa bersalah dengan tindakannya yang konyol ini.


"Kenapa nggak bilang dari tadi? mana aku tau kalau kaki aku nyangkut di atas kaki kamu sayang," Arska mengelus pucuk kepala Fella pelan.


Fella mendogok keatas matanya yang berkaca terlihat jelas di sana. "Gimana mau bilang? kalau kamu makin keras nginjeknya. Yang ada nggak bisa buka mulut gara-gara kamu terus ngoceh tanpa liat kebawah dan aku nahan sakit sejak tadi. Pilihan pertama ya cuma nangis biar kamu peka," jelas Fella.


"Maaf ya sayang," kata-kata itu lagi yang keluar dari mulut bibir Arska, kini ia mengusap air mata yang menetes di pipi Fella.


Fella tak mempedulikan perkataan dan usapan jari di pipinya, menepis pelan tangan milik Arska, dan kini Fella berjalan meninggalkan Arska dengan kaki yang tertatih. Menoleh sebentar setelah itu mengolok tunangannya dengan suara lantangnya. "Tunangan durhaka!!"


Setelah mengolok Arska, ia kembali melangkahkan kakinya. Senyum Arska mengembang di iringi gelengan kepala yang ikut menggerutuki dirinya sendiri. "Kenapa kamu nggak peka sih ka, dia jadi ngambek kaya gitu kan? padahal posisi ini aku yang harusnya ngambek bukan dia," celotehnya untuk dirinya sendiri.


"Tunangan durhaka.....jahat... nggak peka," teriak Fella sekali lagi.


Arska tersenyum sinis, ia melebarkan langkah kakinya, berlari kecil karena gemas dengan sikap dan celotehan Fella yang terus mencacinya sejak tadi. Ketika tepat berada di belakang Fella Arsks segera membopong Fella, tak peduli cacian apa lagi yang akan di lontarkan untuk dirinya.


"Arska...." teriaknya sedikit terpekik karena tindakan Arska yang tiba-tiba membopongnya membuatnya terkejut.


"Aku nggak mau dikatain tunangan durhaka lagi sama kamu," jelasnya dengan mata yang kini menatap lekat ke arah Fella.


Tak tau akan di bawa kemana Fella sekarang, yang Fella tau saat ini hanyalah dirinya berada di titik nyaman yang tak bisa di ganggu oleh orang lain.



"Ah.... apa?" tanya Fella dengan ekspresi wajah kakunya, karena sejak tadi ia tak terlalu fokus kemana Arska akan membawanya pergi.


"Kamu nggak mau turun?" Arska meningkatkan Fella, karena sejak tadi Kekasihnya itu semakin mempererat pelukannya seakan tak ingin turun dari gendongannya saat ini.


Merasa malu karena dengan pertanyaan yang di tunjukan untuk dirinya Fella meminta untuk turun, mukanya bersemu merah dengan tindakan konyolnya itu. Fella belum juga menyadari jika dirinya sekarang berada di pinggir danau.


"Cuci muka gih...." perintah Arska.


"Cuci muka? dimana?" tanya Fella dengan mata yang masih menatap ke arah Arska.


"Di sini!" seru Arska, dengan tangan yang kini membantu Fella menolehkan kepalanya agar melihat ke arah danau.


"Wah.... cantik banget," Fella nampak takjub melihat pemandangan yang ada di sana, yah... meskipun masih terlihat cantik pemandangan yang ada di dalam hutan tadi, tapi moments-nya tak seromantis saat ini.


"Perlu aku bantu?"


Fella menoleh ke arah Arska. "Aku bisa sendiri," ucapnya seraya membasuh wajahnya dengan perlahan, terasa segar saat Fella selesai membasuh wajahnya. Ternyata Arska melakukan hal yang sama, kekasihnya itu membasuh wajah tampannya butiran air dan tetesan air danau pada rambut dan wajah cowok itu semakin membuat Fella terpesona.

__ADS_1


"Ganteng...?" tanya Arska saat mengetahui Fella terus-menerus menatap ke arahnya.


Fella mengangguk tanda setuju dengan perkataan Arska.


"Hahaha... patuh banget sih kamu ay," kata Arska mengacak rambut Fella.


"Jangan di acak-acak rambut aku jadi berantakan," keluhnya dengan tanya yang terus membenarkan rambutnya yang masih terikat itu.


Jarak mereka duduk tak terlalu jauh, dan Arska kini menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Fella. "Betis mana yang sakit?" tanya Arska memecah keheningan tangannya sudah memegang kaki Fella.


"Ah.... apa?" tanya Fella terpekik seraya menggeser kakinya sedikit menjauh dari Arska.


"Betis sebelah mana yang sakit? biar aku lihat," ulangnya dengan kepala terangkat, tatapannya mendongok keatas.


"Betis sebelah kanan, perih banget gara-gara ulah Faya tadi," ucapnya dengan kepala menunduk


karena Arska persis berada di bawahnya.


Arska melihat sekilas dengan tangan mengelus pelan di bagian yang tergores, sesekali ia meniupinya tak berselang lama Arska merogoh saku jaketnya dan mengambil hansaplast dari sana kemudian menempelkannya pada luka Fella.


"Masih sakit?"


"Masih.... sakitnya nggak akan pernah hilang karena kamu narik tangan aku kenceng banget."


"Kapan aku narik tangan kamu?"


"Tadi...jangan pura-pura lupa deh!" seru Fella bersedekap dada.


"Aku kan cuma gandeng tangan kamu doang, mana ada sampai narik-narik."


"Ya intinya sama!"


"Terus kamu jangan pura-pura lupa? tadi kamu udah bikin aku cemburu setengah mati!" seru Arska dengan tatapan tajamnya.


"Itu ka sebuah kecelakaan, mana ada niatan aku buat mesra-mesraan di belakang kamu."


"Bukan di belakang, justru di depan mata kepala aku sendiri!"


"Tapi aku nggak tau kalau, Andy di belakang aku."


"Pokoknya intinya sama, aku nggak suka ngeliatnya meskipun kamu kenapa-napa orang pertama yang harus nolongin kamu itu aku! bukan yang lainnya," Arska mengingatkan kembali ucapan yang pernah terlontar dari mulut bibirnya beberapa bulan yang lalu.


Anggukan kecil di berikan Fella, meskipun sepenuhnya itu bukan kesalahannya tapi ia memilih untuk mengalah agar kekasihnya berhenti untuk mengoceh.

__ADS_1


__ADS_2