
Ketika camping hal yang paling di tunggu-tunggu adalah acara api unggun, selain untuk melepas masa di mana menyiksa semua siswa-siswi, hal itu juga menandakan kalau kegiatan camping segera berakhir.
"Nggak sabar pengen ikut game, biar bisa dapetin tiket nonton," celoteh salah seorang gadis yang sedang melintas.
"Lumayan kan kalau kita menang, udah nonton gratis, dapat voucher makan di restro-an seafood kan lumayan banget, tanpa ngeluarin duit banyak tapi bisa makan plus nonton sepuasnya," ucap salah seorang cowok yang ikut membahas masalah game pasangan.
"Emang baik banget ya kepala sekolah kita yang sekarang, cara memotifasi-nya sungguh luar biasa, selain bakat kita tersalurkan, kita masih bisa dapet hadiah," sambung yang lainnya.
Tertangkap beberapa percakapan yang terdengar dari telinga Arska, saat beberapa siswa-siswi yang melintas di belakangnya sedang membahas tentang game atau apalah itu, yang pastinya ia sungguh kebingungan.
"Game apa sih yang?" tanya Arska saat setelah suasana tak begitu ramai.
"Emang tadi kamu nggak ikut apel ya?" tanya Fella balik.
Arska hanya menggeleng. "Malas dengan cara Papa yang suka ngatur."
"Kamu kena marah?"
"Aku kena omelan," jelasnya dengan wajah nampak tak bersemangat.
"Apa bedanya kena omel sama kena marah, kayaknya sama-sama nggak menyenangkan," cibir Fella.
"Penulisan katanya yang beda, Aya," jelas Arska.
"Hem...." Fella bergumang sesaat, matanya kembali melirik ke arah Arska yang terlihat tak semangat. "Kenapa nggak semangat gitu sih yang? padahal aku pengen kamu nemenin aku main game!"
"Main game?"
"Lebih tepatnya unjuk kebolehan dalam setiap bakat yang di miliki, cuma buat seru-seruan sih, tapi hadiah yang di janjikan sama om Hendry lumayan tau yang," jelas Fella.
Arska manggut-manggut, seraya memegangi dagunya.
"Ih...ayang cuma manggut-manggut, mau nemenin aku tampil nggak?" tanyanya dengan wajah cemberutnya. "Itu pada antri loh... yang, kalau nggak buruan daftar, keburu di tutup," kata Fella dengan menunjuk ke arah kerumunan siswa-siswi yang sudah mengambil giliran antrian untuk menunjukan bakat terpendam mereka.
"Banyak banget yang ngantri yang?" tanya Arska tak percaya dengan apa yang di lihatnya. "Aturan gamenya gimana sih yang, boleh ya rame-rame tampilnya."
"Nggak boleh yang, maksimal cuma dua orang."
"Faya sama Bella?"
"Mereka nggak ikut yang, tadi rencananya Faya sempet maksa Aldy buat ikut, tapi si Aldy tiba-tiba sakit perut, ya udah rencananya gagal."
"Kamu beneran pengen ikutan?"
Fella mengangguk secepat kilat hingga tak ada celah untuk Arska menolak. "Ya udah.... ayo kita daftar," katanya seraya menarik tangan Fella pelan dan menuju tempat pendaftaran.
Hari yang masih terlihat sore membuatnya semakin bersemangat untuk mengikuti acara yang di nantikan nanti malam. Semangat Fella tak terlihat padam, meski sudah mengikuti banyak kegiatan siang tadi.
Malam yang di nanti seluruh siswa-siswi pun akhirnya tiba, suara detak jantung menyelimuti mereka yang akan tampil nanti, begitu juga Fella ia sibuk menaruh tangannya di dada, merasakan jantungnya akan loncat saat ini juga.
"Kamu kenapa ay? Narfus?" tanya Arska saat melihat tingkah Fella yang tak bisa anteng dari tadi.
"Dikit yang," balasnya singkat.
Senyum sinis di tunjukan oleh Arska, ia menarik sebelah tangan Fella untuk di genggamnya. Menarik nafas cukup panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan. "Sama aku juga," balas Arska seraya melirik ke samping, menatap gadis yang ada di sebelahnya dengan senyum menawannya.
Fella membalas senyum Arska, diiringi suara detak jantungnya yang mulai tak terkontrol, karena merasa narfus.
__ADS_1
Malam ini cuaca sangat mendukung karena langit cerah tanpa adanya mendung yang menyelimuti, hanya ada bintang-bintang yang mewarnai gelapnya langit. Bulan sabit pun terlihat meskipun tak terlalu jelas.
Mereka semua sudah berkumpul lagi, acara malam ini adalah pertunjukan seni/game yang sudah di perjelas-kan oleh kepala sekolah siang tadi saat mengikuti apel. "Acara malam ini pasti lancar," pikir sebagian orang yang tak sabar ingin mengikuti game.
Sambutan demi sambutan sudah terlewati satu persatu, sekarang memasuki acara inti pada malam ini. Api unggun telah di nyalakan oleh panitia dengan meriah, semua bersorak sorai saat api unggun sudah menyala.
Setelah api unggun menyala sekarang saatnya mereka memainkan game/bakat terpendam yang mereka miliki, mereka sangat antusias untuk mendapatkan hadiah yang sudah di janjikan oleh kepala sekolah. Semua kompak memperlihatkan kompetensi secara adil, dimana tak seorang pun boleh melakukan kecurangan. Kali ini yang pertama tampil adalah anak IPS, mereka melakukan break dance, ada pula yang membaca puisi dan lain sebagainya.
Kini giliran Arska dan Fella yang unjuk kebolehan, suara detak jantungnya kini terdengar sampai ke telinganya. Arska sudah siap dengan gitar yang ada di tangannya, menuju ke tempat yang sudah di tentukan. Fella dan Arska akan berduet untuk kali pertama, mereka sudah sepakat menyanyikan lagu yang berjudul Hingga Nanti, lagu yang di populerkan oleh Andien dan Vidi Aldiano. Kini Arska mulai memetik gitar yang sudah berada di pangkuannya, suara alunan gitar terdengar merdu berpadu dengan hangatnya api unggun.
Kau berikan arti
Saat ku tuliskan namamu di hati
Tak akan ku sesali
Dirimu hadir dan menjadi
Detak di jantungku
Detak di jantungku
Hingga nanti lemah langkahku
Hingga nanti putih rambutku
Hingga ku kau lupa selalu
Hanyalah cinta kita yang kan ku ingat selalu
Hadirmu kan tetap ada (hadirmu kan)
Tak akan kusesali
Dirimu hadir dan menjadi
Detak di jantungku
Semua ikut hanyut dalam alunan suara Fella dan Arska yang merdu. Mereka berteriak memanggil nama Arska dan Fella dan tak jarang mereka ikut bernyanyi. Fella dan Arska saling melirik satu sama lain, memamerkan kemesraannya lewat lagu yang mereka nyanyikan tatapan mereka sangat lekat, sadar jika mereka menjadi pusat perhatian saat ini, tapi sepasang kekasih ini tak mempedulikannya, yang ada hanyalah perasaan hanyut akan suasana yang mereka ciptakan.
"Suara mereka adem banget ya Allah, jadi pengen punya pacar."
"Aduh jadi iri sama pasangan couple yang ini."
"Dalem banget sih lagunya, jadi pengen gali-gali tanah."
"Iri deh sama Fella. Pengen punya tunangan kaya gitu juga, di toko ada yang jual enggak?"
"Yang satu ganteng yang satu lagi cantik, ih... bikin iri."
Banyak cuitan dan teriakan yang terdengar saat Fella dan Arska menyanyikan lagi tersebut, mungkin sebagian orang menganggap itu lebay, kuno, tapi untuk sebagian orang yang mampu menghayati lagu tersebut pasti akan terkesan romantis.
Hingga nanti lemah langkahku (hingga nanti lemah langkahku)
Hingga nanti putih rambutku (hingga nanti putih rambutku)
Hingga ku kau lupa selalu
__ADS_1
Hanyalah cinta kita yang kan ku ingat selalu
Ku ingin kita selama lamanya
Tetap bersama
Hingga nanti lemah langkahku (hingga nanti lemah langkahku)
Hingga nanti putih rambutku (hingga nanti putih rambutku)
Hingga ku kau lupa selalu
Hanyalah cinta kita yang kan ku ingat selalu
Hingga nanti lemah langkahku
Hingga nanti lemah langkahku rebahkan kakimu
Hingga nanti putih rambutku
Hingga ku kau lupa selalu
Cinta kita yang kan ku ingat selalu
Cinta kita yang kan ku ingat
Cinta kita yang kan ku ingat selalu
Prokk.... prokk...
Suara tepukan tangan terdengar saat Fella dan Arska menyelesaikan lagu yang mereka bawakan tadi. Sungguh suara tepuk tangan itu sangat meriah melebihi penampilan yang sebelumnya. Fella memang salah satu siswa yang pernah mengikuti lomba porseni untuk mewakili sekolah, jadi tak dapat diragukan lagi penampilannya pasti memukau.
Arska tersenyum puas, ia meraih tangan sebelah kiri Fella untuk mengajaknya duduk di tempat semula, sambil terus menenteng gitar yang sejak tadi di bawanya.
Rasa hangat bercampur kebahagian menyelimuti hati Fella saat ini, ia tak mungkin melupakan kejadian malam ini.
"Kamu keren yang, aku suka..." ucap Fella memuji Arska.
"Kamu juga, aku sampai nggak bisa ngalihin pandangan aku dari kamu."
"Jantung aku serasa mau copot."
"Jangan copot, nanti aku sakit," candanya dengan tangan yang kini memegang kepala Fella pelan, perlahan-lahan ia mendekatkan bibirnya ke arah kening Fella, sentuhan bibir Arska begitu lembut dan nyaman, membuat Fella memejamkan matanya.
Sesaat mereka tak mempedulikan ke empat orang yang terus menatap ke arah mereka.
"Woy.... ingat situasi dan kondisi dong, ini masih banyak orang main nyosor aja," teriak Brayu sewot, ia tak terima jika harus melihat keromantisan yang ada di hadapannya, ia merasa iri jika melihat hal tersebut.
"Arska....Fella... bikin iri," celoteh Faya yang kini menyembunyikan tubuhnya di antara ketiak Aldy.
"Lain kali kita juga gitu ya yang," balas Aldy menanggapi ucapan kekasihnya.
"Boleh... aku kan suka hal yang romantis-romantis gitu," kata Faya dengan mata berbinarnya.
"Ck... biasa aja," sahut Bella yang kini memalingkan wajahnya ke sudut lain.
Fella dan Arska hanya mencibirkan bibirnya, tak menanggapi celotehan dari ke empat orang tersebut, kedua remaja itu larut dengan dunia mereka sendiri.
__ADS_1