
Brayu dan Aldy saling lirik, mereka bingung harus bagaimana, yang satu murung yang satunya lagi bahagia. Brayu dengan tatapan sinis nya segera membuka suara. "Bisa nggak sih lan, nampakin wajahnya biasa aja".
"Emangnya kenapa sih... bray, sahabat lo ini lagi bahagia, masak lo nggak ngasih selamat" jawabnya dengan santai.
"Ya lo kira-kira dong lan, Arska lagi galau gitu, lo malah senyam-senyum kaya gini. Udah kaya pribahasa aja senang di atas penderitaan orang lain" ucap Aldy.
Dilan segera melihat ke arah Arska. "Sorry ka, gue nggak maksud buat nggak ngeharagin elo, hati sama otak gue lagi nggak lagi nggak seimbang".
"Nggak masalah, santai aja lan, lo kan juga berhak bahagia. Kalau lo ikut mikir masalah gue terus kapan lo bahagianya".
Sesaat Dilan terdiam, ia melihat wajah ketiga sahabatnya secara bergantian, di sana hanya terlihat wajah kusut tak bersemangat yang mereka tampakkan. Dan disini hanya Dilan yang merasa hatinya sedang berbunga-bunga. "Gue bakalan bantuin lo keluar dari masalah ini ka, gue pengen ngeliat kita seneng-seneng bareng kaya dulu" ucap Dilan yang membuka suara wajahnya menunduk.
Arska tersenyum sesaat. "Selamat ya lan, lo udah berhasil ngungkapin isi hati lo ke Regina".
Dilan mengangkat wajahnya dengan cepat. "Thanks ka, tapi gue belom jadian sama Regina" Dilan tertawa kaku, karena di antara Brayu dan Aldy belum ada yang merespon ucapannya.
"Kalian berdua kenapa tegang gitu sih, sahabat lo yang satunya lagi seneng. Jangan karena gue lagi ada masalah, kalian berhak bahagia. Selama Mona nggak nampakin wajahnya di depan gue, gue masih bisa berpikir jernih, buat sekedar ngelepas penat di otak gue sama kalian" jelas Arska sambil menatap ke arah Aldy dan Brayu.
Aldy nampak tertawa kecil setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Arska begitu juga Brayu. Mereka nampak membahas hal yang tak penting yang membuat tawa mereka semakin menjadi-jadi.
"Tau gini, kita sering nongkrong aja disini, nggak ada pengganggu yang bikin mood kita ilang" ucap Dilan.
"Gue setuju sama omongan lo lan, yah.... meskipun harus lewat jalan ekstrim baru bisa ketempat ini" tukas Brayu.
"Cuma manjat tembok berapa meter aja udah bilang ekstrim bray, lebay lo" protes Aldy.
"Yah..... kalau elo mah udah keseringan maling kali dy, jadi handal manjat nya lah gue" protes Brayu balik.
"Hahaha yang penting otak gue bisa jalan normal lagi, masalah soal panjat memanjat itu nggak penting" timbrung Arska.
Aldy, Brayu dan Dilan serempak melihat ke arah Arska, akhirnya big bos mereka bisa tertawa lepas lagi setelah beberapa hari murung karena ulah Mona.
"Nah.... gitu kan gue demen ngeliatnya ka" ucap Aldy yang langsung menyomot gorengan yang ada di depannya.
"Andai hati gue tiap hari bisa tenang kaya gini, nggak perlu gue capek-capek emosi" keluhnya dengan wajah yang kembali masam.
__ADS_1
"Untung aja sekolahan nggak ngizinin muridnya pergi ke kantin luar, coba aja kalau di bolehin, pasti mau makan aja udah nggak *****" celoteh Brayu.
"Bener banget, kalau si pengganggu udah dateng hati serasa pengen emosian mulu" lanjut Aldy.
Dilan hanya mendengarkan tanpa ada niat untuk memberi komentar. "Bentar lagi bel masuk nyet, kalau nggak buru-buru bisa telat masuk kelasnya" ucap Dilan yang segera melirik jam tangannya.
"Bilang aja lo nggak betah kalau lama-lama nggak ngeliat Regina" ledek Aldy.
"Bisa aja lo dy" ucapnya dengan menyenggol lengan Aldy.
"Gimana ajakan lo pulang bareng, di terima nggak sama Regina?" tanya Arska yang kembali meminum lemon teanya.
"Hehehe... belom sempet dia jawab, udah gue tinggal kabur" jawab Dilan cengengesan.
"Ya.... elah payah banget sih lo lan" ledek Brayu.
"Seenggaknya gue udah berusaha ngajak dia bareng, urusan entar dia nolak gue pikir nanti" ucapnya serambi berdiri. "Balik kelas yuk, kasihan Dilan kalau mepet masuk kelasnya".
"Bilang aja lo nggak sabar nunggu bel pulang, pakai ngeles segala" cecer Brayu.
"Mau gue kemana itu bukan urusan elo, lagian gue nggak perlu izin ke elo juga kan".
Mona berdecak kesal setelah mendengar ucapan Arska. " Pokonya dimana ada elo harus ada gue" paksa nya.
"Minggir, gue mau masuk, lo ngalangin jalan gue sama yang lain" cetus Arska dengan datarnya.
Mona melihat kebelakang Arska, di sana sudah banyak yang mengantri untuk masuk kedalam kelas termasuk Regina, Regina yang tak mau menunggu lebih lama segera menarik lengan Mona agar menjauh dari pintu masuk. "Lo ngalangin jalan gue!!" ucap Regina yang langsung masuk ke dalam kelas. Mona memajukan bibir sesekali ia menghentak-hentakan kakinya dengan penuh emosi Mona meninggalkan kelas XII IPA 1.
...•°©inta Untuk Fella°•...
Begitu bel tanda pulang berbunyi dan guru yang mengisi pelajaran terakhir meninggalkan ruang kelas, Regina buru-buru kabur meninggalkan mejanya, ia tak mau jika kedua sahabatnya terus-terusan menggodanya. Di koridor kelas XII IPA 2 Regina tak sengaja menabrak Mona, ia tak memperhatikan jalannya karena terburu-buru. Hingga Mona memulai adu mulut dengan Regina, Mona sengaja menumpahkan minuman ke baju Regina.
Regina berteriak cukup keras hingga membuat seisi kelas keluar karena teriakkan nya. "Apa-apaan sih lo, pakai nyiram seragam gue segala" bentaknya.
"Nggak papa, gue cuma pengen nyiram lo aja, tangan gue udah gatel banget pengen ngelakuin hal itu ke elo. Ya anggap aja itu balasan dari gue karena tempo hari sahabat lo udah nyiram gue pakai air kamar mandi" jelasnya.
__ADS_1
Melda dan Zea menghampiri Regina. "Lo gila ya" sentak Zea.
"Ya sorry gue kelepasan, tangan gue licin" ejeknya.
Dilan yang mendengar teriakan Regina segera berlari mendekati ke sumber suara, Dilan yang tak pernah ikut campur dengan urusan perempuan kini harus turun tangan ia tak mau jika Regina menjadi korban kekejaman Mona selanjutnya, dengan segera Dilan membuka jaketnya yang masih melekat di badannya, segera ia memberikan kepada Regina agar menutupi seragamnya yang basah.
"Bisa nggak sih lo, sedetik aja nggak bikin ulah, tadi pagi sahabat gue udah lo bikin emosi, sekarang pacar ku" ucap Dilan dengan nafas tak terkontrol.
Semua mata kini beralih menatap ke arah Dilan sambil berbisik. Dinda sahabat Mona yang suka dengan Dilan segera membuka suara. "Kak Dilan sama kak Regina pacaran?" ucapnya yang langsung menunjuk ke arah Dilan.
"Dilan... kita nggak pacaran" ucap Regina pelan.
Segera Dilan meraih tangan Regina. "Perlu bukti apa lagi gin, buat gue yakinin lo biar percaya kalau gue beneran sayang sama lo" mata Dilan tak sedetik pun beralih menatap Regina yang tampak sangat tegang. "Buat teman-teman yang ada di sini, gue pengen kalian jadi saksi kalau gue DILAN DIRGANTARA. SUKA SAMA REGINA MAFITA. GUE PENGEN LO JADI CEWEK GUE GINA" teriak Dilan dengan lantangnya, tatap yang sejak tadi tak pernah lepas dari Regina kini beralih memindai siswa-siswi yang berkerumun tak karuan di dekatnya. Sorak-sorai masih terdengar di telinga mereka berdua.
Adapun Reguna masih berdiri mematung setelah mendengar pernyataan cinta Dilan di muka umum. Seruan kompak dari teman-temannya justru membuatnya menjadi kebingungan sendiri. "Dilan... jangan ngelakuin hal gila kaya gini, bikin gue malu" ucap Regina lirih.
"PJ! PJ! PJ!" suara ribut yang kompak meminta pajak jadian itu baru berhenti ketika Mona kembali membuat ulah. "Berisik..... kalian bisa diem nggak!!" sentak nya dengan nafas yang tersengal. "Udah... drama-dramanya.... nggak usah pamer kemesraan di depan gue!!".
"Kenapa lo sewot gitu sih, nggak pernah ada cowok yang nembak lo di depan umum kaya gini ya makanya lo syirik gitu" sindir Melda.
"Diem lo.... gue nggak butuh sindiran lo, gue kesini cuma nyari baby Arska" jelasnya.
Zea tertawa sesaat. "Yah... telat deh... Arska udah pulang dari tadi".
"Ini semua gara-gara kalian" teriak Mona yang langsung meninggalkan tempatnya bersama ketiga teman sekelasnya.
Kini siswa-siswi yang berkerumun telah membubarkan diri, sehingga Regina sedikit lega. Tapi tangan Dilan sejak tadi tak juga melepaskan genggamannya.
"Dilan.... lepasin tangan gue!" perintah Regina sedikit kesal.
"Gue nggak bakalan ngelepasin tangan lo, yang ada lo kabur lagi kaya tadi" jelas Dilan yang segera menarik tangan Regina pelan, ia tak mau melepaskan cewek yang ada di sebelahnya itu.
Zea dan Melda hanya bisa mematung melihat kepergian dua sejoli yang meninggalkan mereka tanpa pamit. "Kapan gue bisa kaya gitu ze, gue minder" celotehnya yang langsung memeluk erat tubuh Zea.
"Sabar.... besok lo dapat gantinya yang lebih kok" ucap Zea yang menepuk-nepuk bahu Melda dengan pelan. "Pulang yuk" ajak Zea sambil melepaskan pelukan Melda dari tubuhnya.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya meninggalkan koridor, banyak hal yang menarik perhatian hari ini, entah itu dari Arska maupun Regina.