
Salsa dan Rey sedang duduk di depan kelas sambil memakan cemilan yang ada di tangan Salsa saat ini. Kedua remaja itu sibuk mendengarkan celotehan dari beberapa Siswi yang juga teman sekelas mereka, yang duduknya bersebelahan dan hanya berjarak lima meter saja.
"Pangeran lo mau lewat tuh!" seru Amel pada Sisi yang tak sengaja melihat Leon dari jarak beberapa meter.
"Mana mau dia sama Sisi," celetuk Lena sambil memasukan kripik usus kedalam mulutnya.
"Ya nggak mau lah, dia kan bakalan jadi suami gue." Imbuh Yolan sambil menyahut cemilan yang ada di tangan Lena.
"Cemilan gue woy!" ucap Lena seraya merebut kembali cemilannya.
Disisi lain, Salsa justru acuh tak acuh melihat pacarnya terus direbutkan oleh gadis-gadis yang ada di sebelahnya itu, ekor matanya justru melihat kearah Leon yang sedang mengobrol dengan seseorang. Leon nampak serius menaggapi ucapan seorang Siswa laki-laki itu.
"Elo nggak usah seserius kaya gitu juga kali Si, kak Leon itu bakalan jadi suami gue besok lusa," celetuk Lena polos tanpa dosa.
Kali ini Salsa membuang mukanya, ia malas sekali melihat Leon yang menjadi pusat perhatian teman sekelasnya itu.
"Dasar, tukang cari muka!" desisnya pelan.
"Lo kenapa?" tanya Rey pura-pura tak tahu apa-apa.
"Nggak ada, aku baru malas aja." balasnya dengan memainkan jari-jari tangannya. Gadis itu nampak gelisah.
Rey mencubit pipi Salsa cukup keras. "Aarrrrgghhh!" erang Salsa saat tangan lelaki itu menarik pipinya dengan tiba-tiba.
"Rey! Sakit tau, kalau pipi aku makin lebar, gimana?" Salsa mengerucutkan bibirnya sambil mengusap pelan pipinya.
Dari kejauhan Leon dapan melihat bagaimana mesranya kedua remaja tersebut. Lelaki itu seakan kebakaran jengot, apa lagi laki-laki yang ada di sebelah Salsa kali ini memiliki perasaan lebih terhadap kekasihnya itu. Perlahan, Leon melangkahkan kakinya dan meninggalkan Siswa laki-laki itu tanpa sepatah kata pun, membuat para siswi yang bergosip tadi menjerit histeris.
"Anjim, kak Leon dateng ke sini." jerit Amel.
"Pasti dia mau nyamperin gue!" Yolan sudah terlalu PD terlebih dahulu.
"Ye... dia mana mau sama elo Lan, pastinya nyamberin gue lah," sahut Lena.
"Gue kan sering ngobrol sama kak Leon, pastinya dia nyamperin gue!" balas Sisi tak kalah PD.
Suara semruak keluar dari mulut bibir gadis-gadis tersebut, Salsa yang tak mau merespon pun masih asyik bercanda dengan Rey dan berpura-pura tak mendengarnya.
"Kak Leon," ucap Yolan terlebih dahulu menyapa.
Akhirnya Salsa dan Rey langsung menoleh, saat sapaan Yolan menyeruak masuk ke dalam telinga mereka.
Leon hanya mengembangkan senyumnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, lelaki itu langsung melewati mereka dan mengehentikan langkahnya tepat di hadapan Salsa.
"Aku pengen ngomong sama kamu, Sal. Berdua aja." pintanya dengan wajah sedikit merunduk.
Mengernyitkan keningnya, Sejak kapan Leon panggil aku kamu? Dih, dia pasti pengen cari sensasi. Kerena dilihatin Yolan sama yang lainnya. batin Salsa masih menggerutu.
"Nggak perlu, di sini aja kan juga bisa." balasnya dengan wajah memaling.
Hal itu membuat gadis-gadis atau lebih tepatnya teman sekelas Salsa itu berbisik saat mendengar hal tersebut. Mereka tak percaya jika Leon ternyata dekat dengan gadis yang popular di sekolahannya itu.
"Di sini terlalu banyak orang, aku cuma pengen ngomong sama kamu, tanpa ada orang lain yang denger. Terutama dia!" tunjuk Leon menggunakan dagu, lelaki itu sepertinya mulai cemburu dengan adanya Rey yang selalu menempel di dekat Salsa.
"Lah, gue kenapa? Lagian sah-sah aja kali, gue kan sahabatnya Salsa." ucap Rey dengan tatapan sinis.
Muka masam Leon sudah terpampang jelas di sana. Lelaki itu sudah meraih tangan Salsa terlebih dahulu, dan mengabaikan ucapan Rey, menarik pergelangan tangan Salsa agar mengikutinya.
"Dia kan nggak mau, kenapa lo paksa sih!" Rey mencoba menahan agar Salsa tetap di tempatnya.
"Rey..." ucap Salsa pelan, gadis itu mengisyaratkan agar Rey tak terlalu ikut campur dalam masalahnya.
Perlahan Rey menurut, ia kembali duduk dan hanya mengangguk pelan. "Kalau dia macam-macam langsung bilang ke gue, Sal. Atau, mungkin aja lo berubah pikiran dan mutusin dia." kata Rey bernada cukup tinggi.
Salsa hanya menoleh sekilas, ia dapat mendengarkan ucapan Rey dengan jelas. Bahkan Yolan dan yang lain, yang sejak tadi bergosip tentang Leon pun turut membuka mulut mereka cukup lebar, apalagi saat Leon dan Salsa melintas di depan mereka.
"Ih... Ternyata kak Leon itu pacarnya Salsa." Yolan menghentak-hentakkan kakinya merasa tak terima.
"Beruntung banget sih Salsa dapetin kak Leon." imbuh Lena.
"Kitanya aja yang terlalu berharap dan kebanyakan ngehalu." timpal Sisi.
"Pupus sudah harapan gue, buat deket sama kak Leon!" keluh Amel dengan tangan memukul-mukul lututnya.
Sekilas Salsa dapat menangkap ucapan teman-teman sekelasnya itu, tatapan mereka terlihat sangat iri melihat keduanya begitu dekat seperti itu, apalagi Leon menggenggam tangannya begitu erat.
Saat sudah di persimpangan menuju gang. Salsa mencoba melepaskan tangan Leon, "Jangan suka cari sensasi, para fans kamu bisa ngamuk kalau liat kamu gandeng tangan aku kaya gini!" seru Salsa dengan wajah tertekuk.
Menghentikan langkahnya dan langsung menoleh. "Masih peduli sama perasaan mereka? Bahkan, kamu aja nggak pernah peduliin sama perasaan aku, aku nunggu kabar dari kamu udah berapa minggu aja?" Lelaki itu langsung memegangi kedua bahu Salsa cukup erat.
Kali ini terlihat dengan jelas, jika Salsa sedang menahan sakit karena cengkraman di bahunya cukup kuat.
__ADS_1
"Sorry." perlahan melepaskan cengkraman-nya.
Hanya itu yang di ucapkan Leon saat ini, Lelaki itu kembali menarik pergelangan tangan Salsa.
"Kamu mau bawa aku kemana? Aku udah harus masuk kelas." kata Salsa yang masih mengatur napasnya yang berantakan.
"Ikut aja, nanti kamu juga tau."
"Leon! Aku udah nggak masuk sekolah dua minggu, apa kata wali kelas aku, kalau aku telat masuk kelas. Kamu juga nggak ngerasain penderitaan aku waktu kamu tarik tangan aku kaya gini, aku nggak bisa napas dengan bebas, karena langkah kaki kamu ini terlalu cepat banget! Apa kamu nggak dengar napas aku udah seperempat habis!" gadis itu mencoba mencari alasan agar Leon segera melepaskan genggaman tangannya.
Leon menghentikan langkahnya hingga Salsa menubruk tubuh lelaki itu cukup keras.
Bruk...
"Kamu bisa nggak sih, kalau mau berhenti itu kasih sen atau aba-aba dulu kek, jangan asal berhenti! Kening aku kan sakit!" keluh Salsa yang langsung mengusap keningnya.
Leon membalikkan tubuhnya, bibir mengerucut Salsa sudah terpampang jelas di sana.
"Bisa nggak kalau cemberut kaya gitu nggak di tunjukkin didepan cowok lain?"
"Kenapa emangnya?" Salsa balik bertanya, kali ini ia mendongak agar bisa menatap wajah Leon.
"Bikin kesel tau! Apalagi cowok itu yang ngeliat, pasti dia makin gemes sama kamu!" jelas Leon.
"Dih, cuma temenan aja ngapain banyak ngatur." kesal Salsa. Gadis itu memalingkan wajahnya, sejak tadi ia tak mampu menatap muka Leon lebih lama.
"Kamu itu pacar aku!" tegasnya.
"Kita kan cuma temenan, bukannya kamu sendiri yang bilang!" sindir Salsa yang masih enggan untuk menatap muka Leon.
Memangut dagu Salsa agar menatap ke arahnya. Namun Salsa justru menutup matanya dengan sangat rapat.
"Kenapa nggak berani tatap aku lagi?" tanya Leon bernada rendah.
Seakan mulutnya terkunci, Salsa hanya mampu menggigit bibir bawahnya. Badannya bergetar seiring Leon mendekatkan bibirnya ke arah telinganya, hembusan napas dari mulut lelaki itu terasa panas saat masuk kedalam telinganya.
"Kenapa?" tanyanya sekali lagi, nadanya sedikit lembut.
Mendorong pelan dada bidang Leon, Salsa langsung memundurkan tubuhnya. Hawa panas mulai terasa menyelimuti tubuhnya dan pikirannya.
"Kenapa kamu bawa aku kesini?" tanya Salsa saat pikirannya mulai tenang.
"Kamu masih ingatkan, pertama kali kita di pertemukan ditempat ini. Kamu..."
"Bilang aja kamu mau ngeledek aku!" cela Salsa cepat.
"Aku nggak mau ngeledek kamu, aku cuma mau ingetin kenangan kita."
Dasar Leon ngeselin, jelas-jelas dia mau ngeledek aku. Pakai bawa aku ketempat ini segala lagi. Ish... lagian kenapa waktu itu aku pakai acara ngompol segala sih bikin malu aja. batin Salsa semakin kesal.
"Waktu itu aku baru ngalamin patah hati. Aku milih menyendiri, siapa tau hati aku mulai tenang kalau aku sendiri. Tapi, nggak taunya kamu justru ngatain aku penculik." Leon sedikit ber-curhat.
"Lalu apa hubungannya sama aku?"
"Ada kalitan-nya sama waktu itu."
"Sama waktu yang kamu bilang kita cuma temenan!" kesalnya seraya melepaskan genggaman tangan Leon cukup kasar.
"Iya aku salah, aku minta maaf." Leon menyatukan kedua telapak tangannya, lelaki itu memohon dan berharap Salsa akan memaafkannya.
"Kenapa harus minta maaf, toh aku cuma pelampiasan buat kamu!"
Salsa mulai melangkahkan kakinya agar berjarak dengan lelaki tersebut.
"Kalau saat ini aku minta putus sama kamu, itu artinya nggak papa kan! Lagian kamu cuma anggap aku temen. Dan bisa di pastiin kalau aku cuma jadi pelampiasan buat kamu." ucap Salsa yang membelakangi Leon.
"Itu nggak akan pernah terjadi. Karena setelah putus, kamu mau jadian sama Rey kan? Aku juga mau minta maaf, waktu itu otak ku nggak sinkron, tapi aku bisa jamin kalau kamu bukan tempat pelampiasan aku."
"Jadian sama siapa kan bukan urusan kamu. Lagian kita cuma temen, bahkan aku lebih deket sama Rey dibanding sama kamu." ucapnya lirih.
Leon mengepalkan tangannya, hatinya mulai memanas. Sepertinya ia mulai cemburu.
"STOP! Jangan pernah bahas dia, di depan ku." rahang Leon mulai mengeras.
Tubuh Salsa mulai bergetar mendengar bentakan Leon yang di tunjukan untuk dirinya, gadis itu mengepalkan kedua tangannya dengan wajah tertunduk. Memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa kabur dari situasi ini.
"Sal," ucap Leon lirih. Leon tau jika Salsa sedang ketakutan karena ulahnya saat ini.
Mendengar Leon memanggil namanya, Salsa semakin was-was. Apalagi Leon melangkahkan kaki ke arahnya saat ini.
Menelan saliva-nya beberapa kali, Salsa bersiap-siap untuk melarikan diri. Mengetahui gerak-gerik gadis itu, Leon langsung menarik lengan Salsa dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Memukul dada bidang Leon berkali-kali, akhirnya Salsa menangis didalam pelukan lelaki itu.
"Dua minggu ini aku terus mikirin ucapan kamu, kamu jahat banget Leon. Aku udah berharap lebih sama kamu, tapi kamu justru bikin aku mikir yang enggak-enggak." isak tangis mulai terdengar dari bibir mungil gadis tersebut.
"Iya, aku salah, aku minta maaf atas tindakan konyol aku waktu itu. Aku nggak akan ngulangin kesalahan yang sama lagi." Leon mengelus pucuk kepala rambut gadis yang ada di pelukannya saat ini.
Tubuh mungil Salsa masih bergetar, bahakan lebih dari tadi.
"Kamu galak banget, aku takut." gumamnya.
Leon melebarkan matanya, Astaga, ternyata dia ketakutan gara-gara nada bicara gue yang tinggi tadi. batinnya sesaat.
"Siapa yang galak sih." elaknya.
"Kamu tadi bentak aku, padahal yang salah kan kamu!"
"Sorry. Lagian kamu bilang mau putus dari aku. Habis putus kamu mau jadian sama Rey kan?"
Bugh...Bugh...Bugh..
Tiga pukulan mendarat di dada bidang lelaki tersebut. "Siapa bilang aku mau jadian sama Rey. Kamu sok tau banget sih!"
Menghela napas sesaat, Leon sedikit lega mendengarnya. "Tangan kamu kecil, tapi sekali mukul sakit juga." candanya.
"Leon." jari Salsa mulai mencubit dada Leon cukup kuat.
Lelaki itu hanya mampu menahannya, biarlah Salsa melampiaskan rasa kesalnya, yang terpenting gadis itu segera memaafkannya.
"Dih, ingusan segala lagi. Bikin ilfil." ledek Leon sembari mengangkat sudut bibir.
Salsa mendelik tanpa menatap keatas, ia merasa malu karena suara ingusnya terdengar sampai ke telinga Leon.
"Cengeng." ledeknya sekali lagi.
Mendengar kata-kata mengesalkan yang keluar dari mulut Leon, Salsa justru mengelap ingusnya di jaket kesayangan lelaki tersebut.
"Sal..." Leon tak melanjutkan ucapannya, biarlah gadis itu meluapkan segala kekesalannya di dalam pelukannya, biarlah jaket kesayangannya itu menjadi lap ingus untuk Salsa saat ini. Yang terpenting, Salsa tak akan lari ke pelukan laki-laki lain selain dirinya.
"Udah, jangan nangis. Kamu jelek banget kalau nangis." Ledek Leon sekali lagi.
"Kamu ngeselin!"
"Sayangnya, cowok yang bikin kesel kamu ini nggak mau kehilangan kamu!" jelas Leon.
Mendorong pelan dada bidang Leon, dan mengangkat kepalanya agar bisa menatap wajah tampan lelaki yang baru saja ia peluk.
"Kenapa?"
"Karena aku udah terlanjur sayang sama kamu." jelas Leon.
"Sayang?" ucapnya lirih.
"Iya, kenapa?"
Menggeleng pelan seraya menggigit bibir bawahnya. Perasaannya Salsa saat ini sedikit lega, saat mendengar kata sayang dari lelaki yang ada di hadapannya itu.
"Jangan pikir kamu bisa lari dari aku, bahkan minta putus. Aku nggak akan biarin itu terjadi, karena aku nggak mau kehilangan cewek cerewet kaya kamu ini." Leon langsung menarik pipi cubi Salsa.
Sedangkan Salsa masih terdiam, dan tak mengatakan sepatah kata pun. Hingga sebuah ciuman mendarat di keningnya cukup lama. Membuat debaran jantungnya semakin tak karuan akibat tindakan Leon itu.
"Siapa yang izinin kamu cium kening aku!" protesnya.
"Itu naluri hati aku yang suruh."
"Dih, kebanyakan alasan."
Menyunggingkan sudut bibirnya, lelaki itu segera menarik pergelangan tangan Salsa agar mengikuti langkahnya.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Salsa.
"Aku pengen hari ini kamu bolos." balasnya dengan enteng.
"Nggak mau! Aku udah nggak masuk dua minggu kemarin, aku nggak mau tinggal kelas."
"Sekali-kali bolos sama pacar, nggak masalah kan. Lagian siapa suruh kamu nggak kasih kabar aku beberapa minggu ini. Aku kangen waktu kita berduaan."
"Tapi.." Salsa ingin menyela, namun ucapannya terhenti ketika Leon mulai berbicara lagi.
"Aku tersiksa, karena nggak ada kabar dari kamu." lanjutnya.
Salsa memilih menuruti ucapan Leon, gadis itu mengekor di belakang lelaki itu dengan patuh. Membawa segala rasa bahagia yang dua minggu ini telah hilang dari dirinya.
__ADS_1