
Malam ini Bella mengadakan pesta ulang tahun yang cukup meriah, di umurnya yang genap menginjak sembilan belas tahun, gadis itu tak pernah menyangka jika ia akan menggunakan gaun untuk kali pertamanya dalam acaranya tersebut. Mengundang banyak alumni di SMA-nya terdahulu, tak sedikit yang ikut berpartisipasi untuk merayakan pestanya tersebut. Di tambah lagi, dengan kehadiran Rahenda yang secara khusus pulang ke kotanya, untuk merayakan pesta anak tunggalnya tersebut. Semakin lengkap kebahagian yang menyelimuti hati Bella saat ini.
"Ini nggak terlalu menor apa? Gue takut di ketawain sama yang lainnya," keluh Bella saat ia sudah berada di depan kaca, menganti penampilannya yang sangat terlihat feminim, dengan gaun merah marun bertali tipis dengan pita di bagian pinggang, di tambah lagi, dengan adanya aksesoris yang menghiasi kepalanya, membuat Bella bak seorang putri raja.
"Enggak, siapa yang bilang menor. Lo cantik kaya gini juga," kata Fella yang ikut berpartisipasi dalam merombak penampilan Bella kali ini.
"Percaya deh sama kita, lo beneran cantik banget hari ini," sambung Faya.
"Beneran ya, gue nggak mungkin diketawain sama tamu yang datang?" tanyanya sekali lagi.
Kedua sahabatnya hanya mengangguk, sambil tersenyum. Hasil karya kedua orang itu sungguh menakjubkan, mereka sampai tak percaya jika itu adalah hasil karya dari tangan mereka.
"Nggak nyangka ya Fay, tangan kita berbakat juga make over-in Bella. Dia yang biasanya pakai kaos oblong sekarang pakai gaun, sampai pangling gue," kata Fella.
"Iya, Fel. Gue juga nggak percaya kalau ini hasil karya dari tangan kita," balas Faya yang langung memeluk lengan Fella.
Melihat hanya kedua sahabatnya saja yang berpelukan, Bella menjadi iri dan langsung memajukan bibirnya. "Kok gue nggak di peluk sih, jahat banget," protesnya.
Tanpa menunggu nanti-nanti kedua gadis itu langsung memeluk Belal dengan sangat eratnya. Gadis itu berada di dalam pelukan kedua sahabatnya itu, sungguh perasaan yang luar biasa baginya memiliki sabahat yang begitu perhatian kepadanya.
Tok...tok ..tok..
Terdengar suara ketukan pintu, beberapa kali, membuat ketiga gadis itu merenggangkan pelukan mereka.
"Sayang, udah belum? Tamu udah pada dateng sayang," suara Ranita memanggil.
"Anak, Daddy kenapa lama sekali?" tanya Rahendra tak berselang lama.
Bella melepaskan pelukannya dari kedua sahabatnya itu, memegang handel pintu dengan perlahan, sampai pintu pun terbuka cukup lebar. Membuat kedua orang tua setengah baya itu takjub dengan dandanan anak semata wayangnya itu.
"Ya ampun sayang, ini beneran kamu?" tanya mereka hampir bersamaan, mereka sempat tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Bella memegangi pipi sebelah kanannya. "Ada yang aneh ya Mom, Dad?" tanyanya sambil melihat ke bawah.
"Kamu cantik sekali sayang," ucap Ranita yang langsung memeluk tubuh mungil sang anak. Di susul oleh Rahendara, lelaki setengah baya itu sangat bahagia melihat kedua orang yang ia cintai saling bertukar kebahagiaan. Rahendra menciumi kening Bella dan Ranita secara bergantian. Membuat Fella dan Faya takjub akan kasih sayang yang di berikan oleh lelaki yang terkenal kejam di kotanya tersebut.
"Ini semua ulah Fella sama Faya Mom," kata Bella pelan.
"Kamu benar-benar cantik," balas Ranita yang kini merenggangkan pelukannya dan menatap Bella kembali. "Makasih ya Fel, Fay, kalau nggak gara-gara kalian maksa, mana mau Bella dandan kaya gini." Ranita mengalihkan pandangannya ke arah ke dua sahabat Bella itu.
"Sama-sama tante, sebenarnya Bella tuh udah cantik dari sananya. Cuma males aja dandan, ya udah, sekalinya di make-over cantiknya kelewatan," ucap Fella. Di lanjut anggukan oleh Faya.
Setelah puas melihat penampilan berbeda dari Bella, mereka pun memutuskan untuk turun dan menyambut para tamu yang hadir di acara perayaan ulang tahun putri tunggal mereka. Tak sedikit yang melirik ke arah Bella dengan tatapan penuh kagum, bahkan Brayu pun ikut terpukau saat tangan Aldy menepuk pundaknya agar melihat penampilan Bella yang terbilang sangat berbeda dari biasanya.
"Anjir.... Bella bisa di sulap jadi kaya gitu," ucapnya dengan tangan yang masih berada di pundak Brayu.
Brayu hanya bisa mematung, tanpa mengeluarkan suara. Wajahnya bersemu merah dengan sendirinya, dan jantungnya berdesir dengan sangat cepat ketika melihat Bella begitu anggun menuruni anak tangga. Aldy sibuk mengernyitkan keningnya, mengetahui Brayu tak merespon ucapannya kali ini, Aldy pun kembali mengeluarkan suaranya.
"Nyet.... Sadar lo! Lo nggak lagi kerasukan setan kan!" seru Aldy dengan mata melirik ke arah Brayu dengan sangat dekatnya.
Lirikan mata dan tampang dingin Brayu, membuat Aldy merinding ngeri. "Anjir.... Lo ngapain pasang muka kaya gitu?" tanyanya sedikit memundurkan tubuhnya.
"Lo! Berisik! Gue baru fokus ngeliat bidadari gue!" serunya masih dengan muka datarnya.
Aldy hanya mampun menelan saliva-nya, lelaki itu tak berkutik ketika melihat ekspresi wajah datar dan tatapan dingin dari Brayu. Sungguh tatapan yang ingin membunuh seseorang.
"S-sorry.... Gue nggak ada maksud, lo lanjutin aja ngeliatin Bella gih..." ucapnya dengan tampang panik sambil memalingkan wajahnya.
Brayu tak menghiraukan celotehan sahabatnya itu, sampai Bella pun melintas di depannya dengan senyum mengembang di sana, gadis itu memeluk lengan Rehendra dengan cukup kuat. Membuat Brayu semakin terpesona dengan gadis yang selama ini diimpikannya itu.
__ADS_1
"Tunjukkin kemampuan elo! Bikin Bella tersentuh dengan apa yang elo perjuangin ke dia." Suara Arska terdengar sangat jelas di telinga sebelah kananya.
"Pasti Ka, gue akan berusaha semampu gue," balasnya.
"Semangat Bray," kata Fella yang sudah berada di sampingnya juga. Perempuan itu memeluk erat lengan suaminya dengan senyum yang terus mengembang di sudut bibirnya.
Jika yang lain di sibukkan dengan hati dan kebahagiaan yang mereka rasakan, lain halnya dengan Faya yang harus tersenyum miris melihat kedekatan mantan kekasihnya dan juga Zea. "Ck.... kenapa harus ketemu mereka sih... n geselin. Mana Kevin nggak bisa dateng lagi," gumamnya pelan.
Fella yang merasa sahabatnya sangat kesal langsung memindah tangannya dari lengan Arska ke lengan Faya. Perempuan itu memeluk gadis itu dari samping. "Nggak usah lo pikirin, anggap aja mereka nggak ada," bisik Fella sambil mengusap-usap lengan sahabatnya itu.
Faya melempar senyum terpaksa-nya dengan menarik napas dalam-dalam.
Acara pun di buka dengan suara host yang menyambut para hadirin yang menghadiri acara pesta tersebut. Banyak orang-orang yang ikut memeriahkan ulang tahun gadis itu, khususnya relasi bisnis Rahendra yang memang jumlahnya tak terhitung juga hadir di sana.
Bella sangat bahagia terlihat sangat jelas di wajahnya saat ini, di ulang tahunya yang ke sembilan belas tahun. Akhirnya Rahendra bisa menepati janjinya dengan sang anak untuk merayakannya. Sempat menolak untuk merayakan ulang tahunnya, namun Rahendra dan Ranita memaksa gadis itu, selain ini pertama kalinya gadis itu di rayakan secara besar-besaran. Rahendra juga ingin mengenalkan anaknya kepada kolega bisnisnya.
Deretan acara telah berlangsung dengan meriah, bahkan artis ternama pun juga ikut hadir di acara tersebut. Banyak kegembiraan yang dirasakan malam ini, termasuk Brayu yang mulai grogi untuk menaiki panggung karena Rahendra sejak tadi terus menatap kearahnya.
Host mulai membuka suaranya kembali. "Saya dengar, malam ini akan ada yang akan mengungkapkan, tentang perasaannya ke pada seorang gadis yang sejak dulu susah untuk di taklukkan-nya, dan dia juga berharap semoga malam ini, akan menjadi malam keberuntungan baginya. Oke.... sepertinya tak perlu menunggu terlalu lama lagi, kita langsung tampilkan pemuda tampan, yang bernama Brayu Dirgantara untuk naik ke atas panggung," kata Host tersebut dengan suara yang cukup menghebohkan.
Bella menghela nafasnya kembali, hal gila apa yang akan di lakukan oleh lelaki itu untuk membuat kehebohan di acara spesialnya? Entah lah... Bella pun tak tahu juga. Hingga suara tepuk tangan menyambut Brayu dengan sangat meriah. Bahkan Bella pun melebarkan matanya selebar-lebarnya, jantungnya berdetak dengan sangat kencang akibat antusias para tamu undangan.
"Selamat malam untuk semua hadirin. Saya di sini akan membawakan, sebuah lagu untuk orang yang paling spesial. Untuk seseorang yang sekarang sedang bertambah usianya, semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku berdoa yang terbaik untuk kamu. I LOVE YOU BELLA," ucap Bray dengan senyum lepasnya, tak ada rasa grogi seperti saat ia masih di bawah panggung. Semua mata menatap ke arahnya dengan tatap takjub dan merasa jika lelaki itu sangatlah gentleman. Para gadis yang merasa iri dengan Bella pun berteriak dengan sangat histeris.
Brayu mulai memainkan jari-jarinya di atas piano, menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Ajari aku yang di populerkan oleh Adrian Martadinata.
Bella membuang nafasnya berkali-kali. Gadis itu merasa di kutuk oleh Brayu saat ini juga, melihat wajah Rahendra tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari atas panggung. Membuat Bella ketar ketir. 'Bakalan di jadiin perkedel daging sama Daddy elo Bray,' batin Bella was-was.
Karena sejak tadi Rahendra selalu berwajah serius, tanpa ada senyum yang menghiasi wajahnya. Membuat Bella menelan saliva-nya berkali-kali.
"Dia pacar kamu?" tanya Rahendra secara tiba-tiba. Membuat gadis itu harus terbatuk-batuk secara tiba-tiba.
Uhuk... uhuk...
Rahendra hanya menaikan satu alisnya, kemudian beralih pandang menatap istrinya.
"Kenapa ngeliatin Mommy kaya gitu Dad? Lagian siapa suruh kelamaan di luar negri. Anak diembat sama perjaka baru kelabakan kan!" seru Ranita yang kini memalingkan wajahnya.
Rahendra kembali fokus menatap Bella. "Kalau dia beneran pacar kamu! Jangan harap Daddy akan ngasih tantangan ringan buat dia." Rahendra mencoba mengingatkan.
"Ck... suka mutusin yang enggak-enggak. Daddy paling ngeselin," balas Bella dengan tangan terlipat di depan dada.
"Waktu Daddy nggak di ramah, cowok itu sering banget main ke rumah. Masakannya, hemm.... Koki andalan Daddy aja kalah saking enaknya," puji Ranita, saat mengetahui wajah suaminya yang terus saja datar.
Rahendra kembali menoleh, ia menatap sang istri dengan tatapan penuh menyelidik. Kepalanya terus berpikir akan hal yang di ucapan sang istri barusan. "Mommy bilang apa? Dia pintar masak? Dan koki andalan Daddy, nggak bisa ngalahin masakannya?" tanya Rahendra sambil memegangi bahu Ranita.
"Hem.... Anak gadis mu aja sampai ketagihan makan masakannya."
"Menantu idaman Daddy." ucapan itu lolos dari mulut bibir pria setengah baya itu.
Bella melebarkan matanya, mulutnya sedikit terbuka. 'Barusan Daddy, bukannya bilang mau kasih tantangan. Kenapa lembek waktu tau Brayu pintar masam,' batinnya
"Daddy plin-plan nggak konsekuen sama ucapannya!" seru Bella yang langsung berlalu lalang tanpa berpamitan.
"Ya ampun Mom, anak kamu marah? Sampai nggak pamit sama Daddy."
"Ya itu kelebihan anak mu Dad. lagian salah Daddy sendiri, kenapa langsung berubah dalam hitungan detik," balas Ranita.
"Niatnya mau becanda Mom."
__ADS_1
"Dan pada akhirnya nggak lucu kan Dad," jawab Ranita bersedekap dada.
"Tapi kan Mommy yang pancing Daddy tadi, kalau Mommy nggak bilang dia pinter masak. Mana ada Daddy tergiur Mom."
"Bella sama Daddy itu. Sama-sama cuma mentingin perut," ucap Ranita dengan kepala menggeleng. Bisa seperti itu kelakuan CEO dan anaknya benar-benar sangat konyol, apa kata musuh-musuh mereka jika mengetahui hal tersebut. Sudah jangan pikirkan lagi, karena memang saya bingung.
Rahendra hanya tersenyum, membenarkan ucapan sang istri. Hingga pertunjukan pun berakhir, suara tepukan tangan terdengar sangat meriah. Penampilan Brayu begitu memukau siapa saja yang mendengarkannya tak terkecuali bagi Rahendra dan Ranita, sedangkan sang pemilik acara entah pergi kemana, gadis itu benar-benar di buat malu dengan tindakan lelaki tersebut.
Bella memakan beberapa kue tradisional yang di sajikan di atas meja sambil membawa segelas orange jus untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokannya. Sampai suara tepukan tangan membuatnya harus rela mengalihkan padangan-nya dari makanan tersebut. Betapa terkejutnya Bella saat mengetahui siapa orang di balik punggungnya, ia tak lain adalah Priska.
Suasana yang sepi membuat gadis itu leluasa untuk memancing emosi Bella. Bahkan tempo hari yang lalu pun, Priska belum sempat memberi pelajaran kepada Bella. Orang yang dulunya pernah sangat dekat dengan Bella itu pun, entah memiliki dendam apa terhadap keluarga Moregan.
"Ngapain lo disini! Gue nggak undang lo buat datang di acar gue!" seru Bella dengan perasaan menggondok.
"Uh.... sayangnya Daddy lo! Yang nyuruh gue sama bokap gue datang kesini." tampang Priska begitu sangat menjijikan.
"Dasar penjilat!" serunya dengan mata menatap lurus ke arah Priska.
"Terserah! Lo mau bilang apa? Tapi gue nggak akan pernah nyerah buat bikin hidup lo hancur! Dan kayaknya lo nggak respek ya sama cowok yang tadi ada di atas panggung."
Bella mengernyitkan keningnya. 'Cewek iblis ini punya rencana apa lagi?' pikiran Bella bertanya-tanya.
"Bukan urusan elo!" seru Bella dengan mengepalkan tangannya.
"Ck.... sungguh temperamental yang sangat buruk. Tapi, gue heran kenapa mereka bisa suka sama gadis kaya lo, yang kasar ini!" serunya dengan wajah datar. Priska berencana akan membuat malu Bella dan keluarganya dengan terus memancing emosi gadis itu. "Kalau lo nggak respek, boleh kan buat gue! Lumayan buat gue jadiin koleksi pacar," bisik Priska saat posisi mereka sudah sangat dekat.
Bella masih mengepalkan tangannya, mencoba menetralkan emosinya agar tak terpancing dengan setiap ucapan Priska.
"Dia ganteng loh... lebih ganteng daripada Ferdy," lanjutnya masih dengan posisi yang sama.
Bella menggigit bibir bawahnya, napasnya naik turun karena menahan emosi sejak tadi. Sampai ia tak sadar tangannya mulai terangkat, dan akan mengarahkan ke kepala gadis berhati iblis itu, agar dia terdiam dan tek banyak membual lagi. Namun belum sempat tangannya mendarat mulus, sebuah tangan cukup kuat menariknya dan langsung memeluk Bella dengan cukup erat.
"Jangan lakuin tindakan konyol disini. Dia cuma pengen bikin kamu malu," bisik lelaki tersebut yang tak lain adalah Brayu.
Priska ternganga sambil memegangi tangannya yang tertepis oleh tangan sebelah Brayu dengan cukup kuat. "Ck.... Sialan kenapa lo harus dateng sih, hancur lah rencana gue!" seru Priska dengan wajah bengisnya.
"Mending lo pergi!" seru Brayu dengan tampang datarnya.
Gadis itu menggigit giginya sendiri, ia tak terima dengan tindakan lelaki itu. Bahkan ia memutar otaknya untuk mengganti rencana lainnya.
Menghela napasnya sesekali, sambil menampilkan senyum sinis-nya. "Next... lain waktu kita bakal ketemu lagi. Gue suka sama sikap lo!" seru Priska yang mulai meninggalkan tempatnya.
Bella menatap kepergian Priska dengan hati menggondok. Gadis itu tau jika Priska akan melakukan hal yang lebih gila dari sebelumnya, sedangkan Brayu masih dengan santainya memegang kedua lengan Bella. Lelaki itu masih saja terfokus dengan kecantikan gadis yang masih berada di pelukannya itu.
"Sampai kapan? Kalian mau ngumbar keromantisan di depan umum?" tanya Ranita saat ia sudah berada di samping kedua remaja tersebut. Namun keduanya masih di posisi yang sama, Bella yang masih terbawa emosi dan Brayu yang terlalu fokus kepada gadis tersebut.
Ehem...Ehemm ...
Suara deheman Rahendra begitu keras. Hingga lelaki separuh baya itu me
mukul bahu Brayu cukup keras. "Sampai kapan kamu mau peluk anak saya?" tanyanya dengan wajah tegas.
Brayu yang merasa belum siap bertatap muka secara dekat, pun langsung melepaskan tangannya dari lengan Bella. Ucapannya terdengar gagap. Kesannya pun terlalu buruk jika melihat posisinya saat ini.
"M-maaf o-om, Brayu l-lancang," ucapnya dengan wajah tertunduk.
"Daddy, jangan terlalu galak sama Brayu, dia anak yang baik," kata Ranita pelan.
"Daddy nggak galak Mom, Daddy cuma tanya aja kok sama dia," jawab Rahendra.
__ADS_1
Arska melebarkan senyumnya, melihat sikap Brayu yang begitu grogi. "Om Rahendra emang suka becanda Bray, lo nggak perlu tegang gitu."
Mereka pun tertawa tak terkecuali bagi Brayu yang masih tegang dan kikuk. Hingga Rahendra memutuskan untuk kembali dan melanjutkan acara potong kue yang harusnya sudah di lakukan beberapa menit yang lalu. Acara berjalan dengan sangat lancar, meskipun sedikit terusik dengan kedatangan Priska yang menyebalkan itu. Namun Bella kembali tersenyum puas, karena ulah dari kedua orang tua dan sahabat-sahabatnya.