Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Suara Petir yang Marah


__ADS_3

Pukul 22:30 mereka sampai di tempat tujuan, Brayu yang merasa sangat kelelahan segera membangunkan teman-temannya, tak lupa ia juga membangunkan Bella yang masih tertidur di bahunya, bahunya sudah separuh mati rasa akibat terlalu lama menopang kepala Bella, tapi ia ikhlas melakukan itu untuk orang yang benar-benar ia sukai. "Bel, bangun udah sampai kita" tangan Brayu menepuk-nepuk pipi Bella dengan pelan.


Bella mengucek matanya, ia masih belum sadar jika yang ada di sampingnya itu Brayu. Bella mencoba mengatur nafasnya sesekali sambil menutup mulutnya karena menguap, mata sipitnya kini melirik ke arah siapa yang membangunkannya, secara spontan Bella langsung mendorong tubuh Brayu agar menjauh dari tempatnya duduk. "Ngapain lo disini" ucapnya penuh keheranan.


"Yah... Bella jangan gitu dong Brayu udah rela in bahunya buat lo tidur tadi" ucap Fella sambil menutupi mulutnya karena menguap.


"G-gue nggak sengaja kok, namanya juga orang tidur mana tau, lagian kenapa juga Brayu nggak langsung ngehindar" suara Bella sedikit meninggi.


"Udah... udah... gue nggak papa, gue mau istirahat dulu, capek badan gue pegel semua" suara Brayu terdengar serak dan wajahnya kelihatan kelelahan. Brayu segera membuka pintu mobil agar bisa segera keluar untuk beristirahat.


"Elo nggak kasihan apa bel, ngeliat Brayu kaya gitu" ucap Fella pelan saat semua penghuni mobil sudah turun kecuali Arska dan dirinya.


Bella menarik nafasnya sambil memegangi kepalannya. Matanya yang masih mengantuk terlihat jelas oleh Fella. "Lo pada juga kenapa nggak bangunin gue, kalau tau yang nyetir dia, mending gue pindah ke tempat duduk paling belakang, di sana kan kosong".


"Kita nggak mau ngerusak mood dia, dia udah seneng waktu tau lo duduk di depan" jelas Fella.


"Bukan mood dia yang rusak, tapi mood gue sekarang yang rusak" ucapnya sambil membuka pintu mobil dan membantingnya cukup keras.


Fella memegangi dadanya karena kaget mendengar bantingan pintu di depannya. Arska langsung menarik badan Fella, ia memeluknya cukup erat. "Jangan di paksain kalau Bella nggak mau sayang, biar mereka urus masalah mereka sendiri. Mereka kan udah gede".


Fella hanya mengangguk pelan, sentuhan di kepalanya membuatnya sangat nyaman. "Turun yuk sayang" ajak Fella.


Arska tersenyum, segera ia menarik tangan Fella dan mengajaknya untuk turun dari mobil. Di luar Villa ternyata gerimis segera Arska mengajak Fella berlari agar baju mereka tak basah. Sampai di dalam Villa mereka berdua masih melihat teman-temannya yang terkapar di ruang tamu dengan ransel yang masih melekat di pundak mereka.


"Kalian nggak langsung ke kamar?" tanya Arska.


"Pembagian kamar ka, kita nggak tau kamar kita dimana" celoteh Aldy yang masih berbaring di sofa.


"Buat para cewek di atas ada dua kamar di sana terserah kalian mau tidur sama siapa?, terus yang cowok di bawah juga ada dua kamar" jelasnya.

__ADS_1


"Gue tidur sama elo ya ka. Yang waras" celetuk Brayu yang langsung berdiri dan menenteng ranselnya.


"Woy... kita juga waras kali bray" teriak Aldy.


"Waras nya juga kadang-kadang maksudnya" tukas Dilan.


Mereka berdua hanya cekikikan sambil menenteng ransel masing-masing dan menuju kamar yang tak jauh dari kamar Arska dan Brayu. Sedangkan para cewek langsung menaiki anak tangga tanpa menggubris candaan Aldy dan Dilan.


Sampai di atas Regina menghentikan langkahnya. "Gue tidurnya sama Fella ya" pinta Regina karena cuma Fella yang ia kenal di sini selain ke empat cowok tadi.


"Oke...kalau ada apa-apa tinggal panggil kita" ucap Bella yang langsung masuk ke kamar samping di ikuti Faya yang mengekor di belakang Bella.


"Gue istirahat duluan ya fel, badan gue pegel-pegel semua" ucap Regina yang langsung masuk ke kamar.


"Iya lo istirahat aja duluan gue masih entar" ucap Fella sambil mengekor di belakang Regina.


Regina langsung membanting kan tubuhnya ke atas kasur, ia benar-benar kelelahan, sejak di dalam mobil ia tak bisa memejamkan matanya dengan tenang ada saja gangguan baginya yang tak bisa buatnya tidur dengan nyenyak.


Suara petir menyambar kian terdengar nyaring di telinganya. "Kenapa harus ada petir saat aku jauh dari Bunda, kenapa pesannya nggak ada yang terkirim" ucapnya lirih sambil terus menutup telinganya, kini ia tak lagi memegang ponselnya, suara petir itu sungguh membuatnya benar-benar ke takut tan hingga Fella menitihkan air matanya. Kepalanya yang pusing membuatnya susah mengondisikan keadaanya saat ini. Biasanya Merry yang selalu memenangkan dirinya saat petir menyambar.


Tok....


Tok....


Tok....


Suara ketukan pintu mulai terdengar cukup keras saat tak ada jawaban dari dalam kamar. "Sayang kamu udah tidur" ucap salah seorang cowok di balik pintu, ya orang itu sudah pasti Arska yang menghawatirkan keadaan kekasihnya. Masih tak ada jawaban Arska mencoba membuka handel pintu dengan sangat pelan, untung saja pintu dalam keadaan tak terkunci hingga memudahkan Arska untuk masuk dan memastikan Fella sudah tertidur atau belum. Saat di dalam kamar ia tak terlalu jelas melihat karena keadaan kamar yang remang-remang membuat pengelihatannya kabur, tapi terdengar jelas suara tangisan di pojokan jendela. Sedikit merinding tapi Arska tetap melangkahkan kakinya untuk melihat Fella. Arska sungguh di buat terkejut saat mengetahui suara tangisan itu adalah kekasihnya, segera ia memeluk tubuh Fella dengan eratnya. "Kamu kenapa nangis sayang?" ucapnya lirih dagunya menempel di atas kepala Fella.


"Aku takut petir sayang" suara isak terdengar jelas di telinga Arska, badan Fella yang gemetar hebat membuat Arska semakin panik.

__ADS_1


"Sekarang udah aman sayang, kamu nggak perlu takut" ucapnya mencoba menenangkan.


"Petir nya marah-marah terus, kepala aku jadi sakit nggak bisa buat mikir".


Mata Arska membulat sempurna, sungguh ia ingin tertawa saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut kekasihnya itu.


"Petir nya marah-marah?".


"Iya sayang, petir nya marah-marah. Kepala aku sakit, telinga ku juga sakit dengernya" Fella masih saja menangis tanpa henti.


"Turun yuk... aku buatin coklat hangat biar kamu bisa tenang" bisik Arska yang langsung membopong Fella sambil menyambar selimut yang ada di atas kursi. Ia benar-benar tak tega jika melihat kekasihnya menangis di pojokan kamar tanpa alas dan selimut yang melindungi tubuhnya.


Sampai di ruang tamu Arska segera mendudukkan Fella di sofa. Sesekali Arska menyeka air mata yang menetes di pipi mulus milik Fella. "Jangan nangis lagi ya, aku bakalan jagain kamu sampai petir nya pergi".


Fella mengangguk, tapi tangannya masih menggenggam erat lengan Arska.


"Aku bikinin coklat anget ya sayang?" tawarnya.


Fella menggeleng cepat, ia tak mau jika di tinggal sendirian oleh Arska sedangkan suara petir terus menyambar tanpa henti.


"Aku takut sayang" tatapannya begitu sayu.


"Nggak usah takut, ada aku yang siap jagain kamu semalaman" ucap Arska yang langsung mencium kening Fella dengan penuh perasaan.


"Petir nya marah-marah terus, kepala aku jadi sakit" keluhnya dengan mata yang masih terpejam, suara cegukan terdengar jelas hingga membuat suara Fella sedikit tersengal.


Arska yang iba mendapati kekasihnya begitu takut akan petir segera meraih tangan Fella sambil terus mengusapnya pelan. Mata yang tadinya kantuk kini kembali terbuka lebar. Ia membenarkan posisi duduknya agar Fella bisa leluasa untuk tidur di pangkuannya. "Sayang jangan pergi" ucap Fella pelan dan masih menggenggam tangan Arska dengan eratnya.


"Aku nggak akan pergi kemana-mana, kamu tidur aja kalau kepala kamu sakit, aku bakalan jagain kamu sayang" suara Arska terdengar lembut, sambil tangannya berkerja menyingkirkan poni yang menutupi wajah cantik Fella. Arska menyelimuti tubuh kekasihnya itu agar dapat merasakan hangat dan sedikit tenang. Arska dapat merasakan bagaimana ketakutannya Fella saat ini.

__ADS_1



__ADS_2