
Jessy yang memang satu kampus dengan Fella, kini berlari menyelusuri koridor kampus dengan segala kepanikan yang terlihat jelas dari wajahnya. Napas gadis itu terengah-engah, mencari keberadaan Bella. Ia takut dengan apa yang di lihatnya tadi, tak ada satu orang pun yang berani mendekat untuk sekedar menolong Fella.
"Dimana ini anak! Kenapa gue nggak liat batang hidungnya sama sekali." gumam Jessy dengan rasa paniknya.
Kepalanya sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang di yakini berani untuk melawan orang-orang yang menahan Fella tadi. Sampai akhirnya ia menemukan Bella tengah duduk bersandar di bawah pohon dengan Faya dan entah siapa lagi, karena Jessy tak terlalu mengenal sosok tersebut. Napasnya sudah tak teratur, rambut yang tadinya rapi sekarang sudah berantakan, bahkan keringatnya pun mulai bercur-curan di seluruh badannya, karena ia berlari dengan kepanikan yang terus menyelimuti pikirannya saat ini.
"Bella....!" teriaknya dengan napas tersengal.
Suara teriakan itu sontak membuat semua orang yang berada di sana kompak menoleh. Bella yang merasa telah di panggil namanya mengernyitkan keningnya. Tampangnya terlihat sangat serius bahkan lebih serius dari biasanya.
"Jessy?" ucapnya lumayan keras.
"Dari tadi gue nyariin elo! Fella butuh bantuan lo saat ini," katanya dengan napas tak beraturan, gadis itu membungkukkan badannya sesaat.
"Maksud lo?" tanya Bella dengan langkah kaki mendekat ke arah Jessy, suara Jessy tak terlalu jelas karena memang napasnya naik turun.
Jessy menarik napasnya beberapa kali, menetralkan napasnya yang benar-benar berantakan. "Fella di keroyok di gang sempit deket kampus ini, gue nggak tau mereka siapa? Gue mau bantuin, tapi gue juga takut. Gue udah teriak-teriak minta tolong, tapi nggak ada yang berani nolongin Fella." jelas Jessy ketika napasnya mulai kembali normal.
"Lo nggak ngarang cerita kan?"
Jessy menggeleng dengan cepat. Arska yang mendengar bahwa kekasihnya sedang dalam bahaya segera berlari tanpa pikir panjang, membuat Bella dan yang lainnya menatap kepergian lelaki itu. "Thanks Jes," ucap Bella yang kini berlari mengikuti langkah kaki Arska yang sudah menjauh.
Tak butuh waktu lama untuk menemukan tempat yang di maksud oleh Jessy, karena mereka sudah sering melintas di gang tersebut. Arska dan yang lainnya melihat Fella yang sudah tak sadarkan diri. Membuat emosi Arska kian meluap-luap setelah mengetahui jika pelakunya adalah orang yang sama.
"MONA!!" teriak Arska dengan penuh kemarahan, otot-otot yang tadinya meles tiba-tiba terlihat sangat jelas saat ini.
Sedangkan gadis tersebut menoleh dengan melemparkan senyum sinis-nya. 'Akhirnya yang gue tunggu-tunggu datang juga,' batinnya.
"Lama nggak jumpa ya kak Arska, kangen tau! Main kucing-kucingan sama kak Arska!" serunya dengan suara yang terdengar mengejek saat mendengarnya.
"Mau lo apa?" sentak Arska.
__ADS_1
"Uw.... kak Arska to the point banget sih, kan aku jadi malu. Harusnya pakai basa-basi dulu lah, biar sedikit ada pemanasan." Senyum sinis-nya kembali terbit di sana.
"Gue nggak butuh basa-basi lo!"
"Huft.... sayang banget ya, nggak seru loh.... kalau langsung ke intinya." Mona memainkan jari kukunya. "Mau gue! Kalian berdua nggak ada yang boleh bahagia! Meskipun hanya seujung kuku, karena apa? Karena gue menderita jika ngeliat kalian bahagia." Tawa Mona dan anak buahnya pun semakin meledak.
Gerombolan yang di bawa Mona jumlahnya memang terlalu banyak, meskipun di sini yang bermain tangan hanyalah Mona, tapi gadis cantik berwujud iblis itu, meminta tolong kepada beberapa anak buahnya untuk memegangi tangan dan kaki Fella, agar ia bisa leluasa untuk meluapkan segala kekesalannya terhadap gadis yang sudah berhasil merebut Arska dari daftar incarannya.
"Dasar! Wanita gila lo ya!" teriak Faya.
"Hahaha... kalau pun gue gila, bukan urusan elo juga kan!"
Tak tahan melihat tingkah Mona yang semakin menjadi, Bella pun tanpa basa-basi langsung berlari dan memukul wajah gadis tersebut hingga dia tersungkur jatuh kebawah dengan hidung yang mengeluarkan darah segar.
"Gue udah pernah ingetin lo! Buat nggak ganggu sahabat atau pun temen-temen gue lagi!" seru Bella dengan jari telunjuk menunjuk ke arah Mona.
"Lo selalu ikut campur urusan gue! Kali ini gue nggak akan biarin lo lolos begitu aja!" teriaknya dengan tangan memegangi hidung karena mengeluarkan banyak darah. "Kalian kenapa diam! Pukul dia sampai mati!" teriak Mona kepada anak buahnya, gadis iblis itu kian menjadi-jadi, tindakannya begitu brutal. Tak memiliki kemampuan apa pun, namun menurutnya. Dengan memiliki uang yang banyak, ia bisa melakukan apa saja yang di inginkan-nya.
Arska dan Brayu tak tinggal diam begitu saja, kedua lelaki itu membantu Bella melawan preman-preman bayaran tersebut, di susul dengan Aldy dan Dilan. Jumlah mereka yang terlalu banyak tak menyurutkan keberanian mereka untuk melawan. Sedangan Faya dan Jessy membantu Fella menjauh dari tempat tersebut, tubuh gadis itu terlihat begitu lemas tak sedikit luka yang membekas di bagian tubuhnya.
"Telpon dokter, biar ada yang kesini Fay, gue takut Fella kenapa-napa kalau nggak cepat-cepat di bawa ke rumah sakit," ucapnya dengan tatapan iba. Meski saat SMA mereka tak pernah akur, namun Jessy ingin sekali membantu Fella. Ya... gadis itu memang sudah berubah jauh lebih baik semenjak putus dengan Andy.
Anggukan hanya di berikan untuk Jessy, Faya dengan segera mengeluarkan ponselnya, dan mencari rumah sakit terdekat agar bisa menangani keadaan Fella saat ini.
Tanpa perlu waktu yang lama Bella dan yang lainnya pun berhasil membereskan gerombolan preman yang di sewa oleh Mona tersebut. Tapi saat semuanya merasa telah beres, kesalahan fatal muncul karena Bella sedikit lengah hingga membuat Mona memiliki ide gila dengan mengarahkan tongkat besi ke arah kepala Bella. Mata Bella membulat dengan sempurna, ketika mendapati tongkat besi tersebut sudah mengarah kepadanya, tenaganya sudah terkikis habis karena lawannya kali ini terhitung lebih banyak di banding sebelumnya. Namun saat tongkat itu di layangkan ke arah Bella, Brayu dengan sembrono-nya menggunakan tubuhnya untuk melindungi gadis yang di cintai-nya itu agar tak terluka. "Lo baik-baik aja kan Bel," ucapnya dengan suara lemas, tak terasa darah segar pun mengalir di kepala lelaki tersebut, pikirannya meleset ingin melindungi dengan tubuhnya namun kepalanya pun ikut terluka, dan Brayu melihat darahnya menetes melewati pipinya, tangannya pun mengusap pelan, hingga lelaki itu pingsan di hadpan Bella.
"Brayu....!" teriaknya mencoba menahan tubuh lelaki itu. Bella tak mau kejadian beberapa tahun yang lalu terulang kembali. Gadis itu terlihat murka dengan tindakan yang di lakukan oleh Mona, rasanya ia ingin sekali menghabisi Mona saat ini juga.
"Gue bakalan hancurin lo! dan keluarga lo sehancur-hancurnya!" Amarah Bella semakin menjadi di kala ia melihat Fella dan Brayu yang sudah tak sadarkan diri lagi. Bella berjalan menghampiri Mona setelah Brayu mendapat pertolongan dari teman-temannya, memukul keras wajah Mona hingga kembali tersungkur.
Mona memegangi sudut bibirnya yang mulai mengeluarkan darah segar. "Punya dendam apa lo sama gue! Dari dulu! Lo selalu ngerusak rencana gue buat singkirin cewek sialan itu!" teriak Mona memenuhi jalanan yang cukup sepi. Sambil matanya melirik ke arah beberapa orang yang masih berdiam diri dan tak mampu menggerakkan tubuh mereka.
__ADS_1
"Kalian ngapain? Cepat habisi cewek sialan ini!" perintah Mona dengan berteriak, ia menahan sakit di bagian wajahnya.
Namun teriakan Mona tak di indahkan oleh kelima lelaki tersebut. "Gue bilang! Habisi cewek sialan ini!" ulangnya dengan menunjuk ke arah Bella.
"Pak Heri, bang Jhon, Alex, Rilan dan bang Roy!" ucap Bella dengan melirik kelima lelaki tersebut .
Mona membuka mulutnya cukup lebar. 'Bagaimana cewek itu bisa tau nama mereka,' pikirnya.
"Maaf non Bella, kami tidak mengetahui sebelumnya, kami hanya menjalankan tugas yang non Mona ucapkan. Kami tidak tahu kalau yang di maksud itu adalah non Bella" ucap salah satu di antara mereka yang tak lain adalah Bang Roy.
Mereka adalah agen rahasia, yang di percaya oleh keluarga Moregan untuk melakukan misi, jika dalam keadaan mendesak dan berbahaya. Mereka selalu bisa di andalkan.
"Kalian kenal cewek sialan ini!" seru Mona dengan menunjuk Bella.
Senyum Bella terbit kembali. "Lo udah berani-beraninya ajak mereka dalam misi busuk lo ini! Mereka adalah orang kepercayaan keluarga Moregan! Daddy kalau tau tentang hal ini, habis hidup lo!" sentak Bella dengan bersedekap dada.
Mona nampak berfikir lebih keras. "Siapa lo sebenarnya!" teriaknya kembali, tapi kali ini bukanlah kesombongan yang Mona tampakkan, melainkan ketakutan yang menghiasi wajahnya.
"Hahaha.... muka lo kenapa? Nggak sesombong kaya tadi?"
"Lo siapa?" teriaknya sekali lagi, tubuh Mona bergetar hebat, ia tak berani melihat ke arah Bella, gadis itu hanya mengepalkan tangannya dan terus menundukkan wajahnya.
"Kenalin, nama gue Bella Sandrica Moregan. anak tunggal dari Rahendra Moregan, pemilik perusahaan Antero Group."
Bibir Mona bergetar hebat, setelah mendengar hal tersebut, habislah dirinya hari ini, menentang anak dari Rahendra, sama saja mati dengan cepat. Bagaimana nasib bokap dan keluarganya yang mengantungkan segala fasilitas dan kemewahan yang ia dapat dari Antro Group.
"Gue udah pernah peringatin elo berkali-kali jangan sentuh sahabat atau pun teman-teman gue! Tapi lo nggak pernah dengerin ucapan gue! Dan lo liat aja, dalam hitungan detik keluarga lo akan hancur karena ulah lo sendiri!"
Mulut Mona menganga, ia tak sanggup mendengarkan ucapan Bella lagi. Kakinya lemas tak mampu berdiri, saat Bella mengeluarkan sebuah ponsel dan mengetikan sesuatu di sana. Benar kata Bella, tak perlu terlalu lama, hanya beberapa detik untuk membuat keluarganya hancur, sekali ketik pun ponselnya segera berdering. Mona melihat ke layar ponselnya. "Papa," gumamnya pelan, dengan gemetar Mona pun mengangkat telponnya. Baru sampai di telinganya, gadis itu berteriak histeris. Dan memohon ampun kepada Bella namun Bella tak meresponnya.
"Beresin cewek iblis ini! Saya nggak mau liat muka dia lagi. Kalau perlu penjarakan saja, karena saya sudah muak melihat tingkahnya yang menjijikan itu!" perintah Bella kepada kelima lelaki tersebut.
__ADS_1
"Bella, gue mohon." Suara Mona kembali terdengar, namun Bella tak meresponnya. Gadis itu memilih pergi meninggalkan tempatnya, dan menghampiri tempat Fella dan Brayu. Ambulan datang di saat yang tepat, jadi mereka dapat di larikan ke rumah sakit dengan segera.