
Fella mengembangkan senyumnya, perempuan itu merasa senang. Keinginannya untuk refreshing pun akhirnya akan terpenuhi. Masih dengan senyum yang mengembang, perempuan itu masih sibuk memilah-malah pakaian yang sudah tertata dengan rapi untuk di masukkan kedalam koper.
"Girang banget sih, istri ku ini," ucap Arska seraya mengecup kening istrinya.
"Besok kita liburan ke jogja," balasnya.
"Ya udah. Kamu sekarang tidur, gih. Udah malam, besok takut kesiangan."
"Aku, mau ke kamar mandi dulu," ucap Fella yang langsung berlari kearah kamar mandi.
Setelah sepuluh menit berlalu, Fella belum keluar dari kamar mandi. Arska terlihat khawatir, lelaki itu memutuskan untuk mendekati pintu kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa lama banget? Apa kamu lagi semedi?" tanya Arska ngasal.
Fella yang berada di kamar mandi pun bimbang, dia malu jika harus meminta tolong kepada Arska.
Karena tak kunjung ada jawaban dari Fella, Arska pun kembali bersuara. "Sayang, kamu nggak kenapa-napa, kan? Ayo, jawab aku. Kalau nggak kamu jawab, aku bakalan dobrak pintunya!" seru Arska.
"Eh, ya jangan dong, Huby." balasnya sambil membuka pintu kamar mandi dan hanya menampakan kepalanya saja.
"Huby, bisa tolong ambilkan aku pembalut fi laci paling bawah, sama handuk ya Huby," pinta Fella dengan malu-malu.
"Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku kan jadi khawatir sayang," ucap Arska. Lelaki itu memutar tubuhnya untuk mengambil pembalut yang di minta oleh Fella.
Arska mencari benda yang di maksud oleh Fella, tetapi lelaki itu tak menemukannya di sana. Dia sudah mencari di semua laci yang ada, ternyata tidak ada juga.
"Nggak ada sayang, kayaknya udah habis." jelas Arska yang langsung menghampiri keberadaan Fella.
"Yah... gimana dong? Kamu beliin ya sayang, please," Fella memohon.
"Biar aku suruh bibik aja ya, yang beliin," Arska akan meninggalkan Fella, tapi ia urungkan saat Fella berucap.
"Jangan, Hubby. Bibik tadi bilang nggak enak badan. Ini juga udah larut malam kan?" ucap Fella sambil menunjuk jam diding, supaya Arska tau sudah jam berapa saat ini.
"Harus aku berarti? Aku nggak ngerti hal kaya gituan, sayang," keluh Arska.
"Ya udah, kalau kamu nggak mau beliin, biar aku yang beli sendiri!" ucap Fella kesal, perempuan itu melangkahkan kakinya keluar kamar mandi.
Arska mengikuti Fella yang sedang mencari baju di lemari. Lelaki itu memegang pundak Fella.
"Biar, aku saja yang beli, ini sudah larut malam. Kamu tunggu di sini, jangan ngambek lagi," ucap Arska dengan tersenyum. Fella membalas senyum tersebut meskipun terpaksa.
Arska dengan terpaksa membelikan apa yang di butuhkan oleh istrinya tersebut, meskipun dia tak tahu bentuknya seperti apa. 'Eh, kenapa nggak tanya dulu,' pikir Asrka saat sudah melangkah beberapa langkah. Lelaki itu pun berbalik menghampiri Fella.
__ADS_1
"Bendanya seperti apa, yang?" tanya Arska sebelum Fella bertanya terlebih dahulu.
"Nanti, kalau Huby udah sampai sana. Telpon aku, biar aku kasih tau seperti apa?" tutur Fella.
"Baiklah, aku pergi." pamit Arska.
Fella mengangguk lalu berkata, "Makasih, Huby ku sayang.
Arska mengangguk dan tersenyum, lalu ia melangkahkan kakinya keluar kamar. Arska menuruni anak tangga, terlihat ruangan bawah telah gelap karena lampu telah di matikan. Dan ia pun menyalakan beberapa lampu supaya terang. Membuka pintu utama, lalu melangkahkan kakinya menuju garasi, dimana tempat mobil berada.
Arska memencet klakson saat berada di depan gerbang, terlihat dua satpamnya yang berada di dalam pos satpam, salah satu di antaranya menghampiri Arska.
"Mau, kemana mas malam-malam gini?" tanya satpam yang bernama Bejo.
"Keluar sebentar Mang, buka gerbangnya ya," jawab Arska.
Satpam itu pun mengangguk, lalu membukakan gerbang untuk Arska.
Arska melajukan mobilnya, menuju mini market terdekat. Setelah lima menit berjalan, dia pun sampai di mini market yang sudah terlihat sepi, karena jam sudah menunjukkan pukul 22:30.
Arska masuk kedalam mini market tersebut dan langsung menelpon istrinya, menanyakan di mana letak benda yang dia inginkan.
"Sayang, aku udah sampai. Tunjukkin dimana letaknya," ucap Arska saat melihat wajah istrinya di layar ponsel.
"Coba kamu arahin kameranya ke depan biar aku lihat," perintah Fella di seberang sana.
"Kamu jalan terus, nanti belok kanan, benda itu ada di sebelah kiri kamu." Fella memberikan arahan. Arska seperti di remote saja, dia menuruti ucapan Fella.
Saat melihat banyak bungkusan yang dia sendiri tak paham apa isinya. Ada yang warna biru, pink, hitam dan oranye juga ada. Lelaki itu bingung akan mengambil yang mana.
"Yang mana, sayang? Aku nggak tau?".
"Yang warna biru aja Huby," titah Fella.
"Oke, aku tutup telponnya dulu ya," ucap Arska sambil menekan tombol merah pada layar ponselnya.
Dia mengambil enam bungkus besar, supaya awet pikirnya. Arska membawa roti tawar itu ke arah kasir, karena sepi dia tidak perlu mengantri.
"Mau aja mas disuruh beli ginian sama ibunya, menantu idaman banget," celetuk seseorang yang ada di belakang Arska, yang juga mengantri.
Arska tersenyum canggung dan tak menggubris ucapan ibu-ibu yang ada di belakangnya itu.
"Beneran ini Mas? Banyak banget?" kini giliran Mbak-mbak kasir yang berujar.
__ADS_1
"Iya, mbak," jawabnya singkat.
"Biasanya anak muda kaya kamu gini, di suruh beli pembalut wanita pasti pada nggak mau, salut aku sama kamu Nak. Kalau kamu jadi suami anak saya, bisa bahagia sekali." Ibu-ibu di belakang Arska terus saja mengomentari, tapi Arska hanya membalasnya dengan senyuman canggung, lelaki itu malu sebenarnya. Kalau bukan karena istri tercintanya mana mau dia.
"Semuanya dua ratus lima puluh, Mas," ucap Mbak-mbak kasir tersebut.
Arska mengeluarkan kartu debitnya, lalu menyerahkan itu kepada mbak kasir.
Arska baru menyadari jika ada beberapa orang yang mengantri dan melihat dirinya dengan tersenyum, Arska menjadi salah tingkah sendiri. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Kasir itu mengembalikan kartu debit Arska, lelaki itu langsung mengambilnya dan memasukkannya kembali kedalam dompet. Dia mengambil bungkusan plastik yang masih ada di depan kasir, lalu pergi dengan tersenyum canggung.
Setelah masuk kedalam mobil, Arska melempar bungkusan plastik besar itu ke kursi sebelah kemudi, dan menjalankan mobilnya. Sesampainya di rumah, Arska segera menghampiri Fella yang tengah duduk di depan meja rias.
Fella terkejut melihat, banyak sekali yang di beli Arska.
"Serius ini? Banyak banget sayang, harusnya satu aja cukup," ucap Fells tak percaya.
Arska mendengus mengingat orang-orang yang menatapnya aneh, dan tersenyum saat melihat ia membawa bungkusan pembalut itu.
"Kamu tau nggak, aku malu banget. Aku nggak mau, kalau di suruh lagi beli bantal mu itu," ucap Arska kesal.
"Maafin aku ya Huby, gara-gara aku, Huby jadi malu. Mungkin aja mereka heran sama Huby yang belinya banyak banget, ini mah buat satu tahun nggak abis by." Fella terkekeh saat mengucapkan itu.
"Udah sana pakai, udah malam cepatan tidur." perintah Arska masih dengan raut kesal.
Fella hanya tersenyum, perempuan itu langsung masuk ke dalam kamar mandi dan memakai 'bantal' di bilang oleh Arska barusan.
Setelah selesai, Fella langsung menghampiri suaminya yang sudah berada di atas ranjang menunggunya, karena Arska terlihat masih menyandarkan tubuhnya di kepala rajang.
"Maaf ya Huby, Huby malah jadi bete kaya gini, aku jadi merasa bersalah." tutur Fella saat sudah duduk di samping suaminya.
Arska menghela napas, dia sebenarnya masih terlihat kesal, tapi mendengar permintaan maaf istrinya, rasa kesal itu berunsur-unsur hilang. Apalagi ucapan Fella yang terdengar begitu lembut saat meminta maaf.
Arska meraih tangan Fella, "Iya sayang, aku udah maafin kamu. Besok-besok kalau udah jatahnya kamu dateng bulan, kamu priksa masih punya 'bantal' itu apa enggak, biar aku nggak malu lagi kalau di suruh beli barang seperti itu," tutur Arska dengan lembut.
"Iya Huby, maafin aku ya," ucap Fella seraya memeluk suaminya itu.
Arska membalas pelukan Fella dan mengelus-elus rambut panjang istrinya.
Lelaki itu merebahkan tubuhnya, di susul oleh Fella. Arska menarik tubuh istrinya agar merapat dengannya. Lalu ia mengecup sekilas seluruh bagian wajah istrinya yang berada di dalam dekapannya itu.
"Selamat malam sayang, selamat tidur, semoga mimpi indah," ucapnya setelah selesai menjelajahi wajah cantik istrinya.
__ADS_1
"Selamat malam juga Huby," timpalnya.
Keduanya pun terlelap dan saling mendekap. Karena kebiasaan mereka yang sering seperti itu.