Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Trending Topik di Sekolahan


__ADS_3

Di kantin Aldy sibuk nyinyir karena dimana-mana selalu membicarakan Fella dan Arska. Termasuk adik kelas yang ia taksir. "Sialan lo ka, dari tadi gue kesal banget sama lo, gebetan gue yang di bicarain elo muluk" ucap Aldy seraya menaruh kepalanya di atas meja.


Seperti biasa Arska hanya bersikap datar tak merespon ucapan Aldy sama sekali.


"Ka.... gue ngomong sama lo, tolong hargai dong" keluh Aldy.


"Ya, gue denger kok dy, terus gue harus gimana?".


"Ya lo, suruh mereka diem kek, kan gue dengernya jadi iri, kapan gue punya ceweknya" ucap Aldy mencebirkan bibirnya.


Arska hanya geleng-geleng kepala, seraya mengambil dua mangkuk bakso jombo yang di bawakan mbak mimin, ia menaruhnya tepat di depan Aldy. "Makan gih, biar bisa menghadapi kenyataan, kalau lo itu jomblo!!, jangan kebanyakan ngehayal, besok kalau lo ketemu, sama orang yang bisa nerima lo apa adanya, hidup lo terasa lebih berwarna, daripada lo ngejar-ngejar yang nggak jelas" ucap Arska menasehati.


"Bener tuh.... yang di bilang sama Arska, dengerin makanya dy" ucap Dilan sambil meminum es tehnya, ia masih saja melihat ke arah Aldy, ia tersenyum sinis seraya berucap, "Buruan lo makan, biar semangat deketin dedek gemesnya" tambahnya.


"Gue lagi nggak minat bahas dedek gemes, dia udah bikin gue sakit hati terus. Yang paling gue mai makan biar kenyang, dari pada galau mikirin Dinda yang nggak pasti" kata Aldy seraya memakan bakso yang ada di hadapannya.


Dengan suara lumayan keras ada salah seorang cowok yang membicarakan Fella, mereka duduk tepat dibelakang Arska. "Eh... lo tau nggak, tunangannya si Arska, cakep banget, gue sampek nggak bisa kedip pas ngeliatnya, udah gitu orangnya pinter naik motor lagi, cewek idaman gue pokoknya".


Mendengar kekasihnya di sebut-sebut, Arska seger mengebrak meja cukup keras, seraya menoleh ke sumber suara. "Gue minta kalian tutup mata kalian kalau liatin tunangan gue !!!, gue nggak suka, apa lagi ada yang ngimpi in dia jadi ceweknya, gue paling nggak suka" ancamnya dengan lirikan mata membunuh.


Segera mereka berdua terdiam, bisa kacau kalau sampai Arska ngamuk. Arska langsung membalikkan badannya. Brayu yang melihat Arska sedang emosi, segera menepuk-nepuk pundak Arska pelan. "Sabar ka, resiko punya tunangan cantik, pasti dimana-mana banyak yang ngelirik".


"Hem... gue ngerti, tunangan gue emang cakep, kalian bertiga juga, awas aja kalau sampai gue tau kalian curi-curi kesempatan buat ngelirik Aya" tegas Arska.


"Hahaha... pelit amat sih lo ka" ledek Dilan.


"Iya ni, sama sohib sendiri, pelit amat, jangan terlalu posesif lah ka, kasihan Fella, dia jadi ngerasa nggak bebas" celetuk Aldy.

__ADS_1


"Dengerin tuh, curhatan kedua sahabat lo" sahut Brayu.


Arska hanya tersenyum sinis, "Gue nggak mau kehilangan dia, gue udah terlanjur sayang, gue rela ngelakuin apa aja cuma demi dia" jujur Arska.


"Anjay.....big bos gue bucin banget" ledek Dilan.


"Hahaha.... si gunung es bucin gara-gara ceweknya di lirik satu sekolahan" lanjut Aldy seraya mengunyah makannya.


Arska yang merasa terhibur dengan ucapan kedua sahabatnya itu sontak ikut tertawa terbahak. Di sisi lain cewek-cewek yang ngebucin gara-gara ulah Arska dan Fella, masih saja membicarakan hal romantis yang mereka lihat tadi pagi. "Kak Arska, tadi bener sweet banget, gue iri deh sama ceweknya tadi bener-bener cantik, nyaris sempurna, udah gitu jago banget naik motornya" celetuk Mikha.


"Iya beneran sweet, yang satunya cantik yang satunya lagi ganteng cocok banget pokoknya" ucap Dinda.


Brayu geleng-geleng mendengar celetukan dari adik kelasnya itu. "Hahaha... lo pinter banget ka, dalam waktu sepuluh menit, lo udah bikin seisi sekolah jadi heboh" ucapnya seraya memakan cireng yang ada di hadapnya.


Arska hanya tersenyum simpul, seraya meminum lemon teanya. Mona yang sudah tidak tahan dengan ucapan sahabat-sahabatnya itu langsung hengkang dari kantin, rasa kesalnya kini bercampur dengan kecemburuan.


...°°•©inta Untuk Fella•°•...


Dari dalam toilet Regina dan kedua sahabatnya keluar. "Liat gaes, ada yang curhat di toilet, tapi nggak liat-liat kalau masih ada orang di dalamnya, nggak punya malu banget ya masih aja ngejar-ngejar Arska" ucap Regina sambil membersihkan tangannya menggunakan tisu basah.


"Bener ni gin, udah punya tunangan di kejar terus, kaya nggak punya harga diri aja" sahut Melda.


Mona segera menoleh ke sumber suara. "Kalian diem aja deh, gue nggak butuh komentar pedes dari lo pada" ucap Mona ngegas.


Zea yang mendengar ucapan Mona merasa jengkel. "Lo tuh cuma adik kelas, omongan lo nggak udah nyolot gitu, kita kan cuma ngasih tau lo biar jelas. Biar lo jadi cewek yang punya harga diri meskipun sedikit" ucapnya sinis.


"Dan kalian kakak kelas yang nggak punya kerjaan, yang selalu ikut campur urusan orang, bisa nggak sih nggak ikut komentar gue muak dengerin ocehan lo pada" balas Mona tak kalah sinis.

__ADS_1


"Belagu amat sih, mentang-mentang ketua osis aja belagu, mungkin orang-orang di luar sana ngiranya lo itu baik, padahal lo itu cewek bermuka dua" ucap Regina seraya menaruh tangannya di dada.


"Gue nggak ada urusan sama kalian ya nenek lampir" ketus Mona sambil menunjuk kearah Regina dan ke dua sahabatnya.


"Ih.... cewek gila ya lo, nggak ngaca malah ngatain orang" celetuk Melda.


Mona memandang kearah Regina, ia melihat dari ujung kaki sampai kepala Regina, "Idih... yang katanya miss sekolahan, kok nggak bisa ngeluluhin hatinya si gunung es sih, payah banget" ucapnya mengejek.


"Seenggaknya gue masih punya harga diri, gue sadar kalau Arska itu udah jadi milik orang lain!!" tegas Regina. "Nggak kaya elo, yang nggak punya malu, ngehalal lin seribu cara buat ngedapetin tunangan orang".


"Bodo amat gue nggak peduli" ucapnya makin menantang.


Melda yang kesal dengan ocehan Mona, langsung saja mengambil gayung berserta isinya yang ada di dalam toilet.


"Lo mau ngapain?" ucap Mona melotot.


"Biar otak lo, jernih" ucap Melda seraya menyiramkan air tersebut ke kepala Mona.


Sontak Mona berteriak histeris sambil menghentak-hentakan kakinya, ia sungguh kesal dengan perlakuan ke tiga kakak kelasnya itu, "Kalian keterlaluan banget sih, otak kalian di taruh di mana, seragam gue basah semua" teriak Mona seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Itu... hadiah dari gue, untuk ketua osis yang sok-sokan kaya lo" ucap Melda seraya mendorong lengan Mona pelan.


"Aduh... gaes mending kita cabut yuk...kelamaan di sini otak kita ikutan gila entar" sindir Zea.


Regina dan Melda tertawa jahat, tapi sebelum mereka meninggalkan Mona, Regina berucap, "Gue saranin lo mundur, tunangannya Arska jauh lebih sempurna di banding lo. Ya itu pun kalau lo masih punya harga diri, hahaha...." ejek Regina sambil menepuk-nepuk pundak Mona cukup keras.


Mona langsung saja menyingkirkan tangan Regina dengan cepat. "Urusan gue sama lo belom kelar, kita liat aja, Arska bakalan jadi milik gue" tegasnya seraya melotot ke arah Regina.

__ADS_1


"Dasar otak miring.... gangguan jiwa ya lo !!" ucap Zea.


"Udah ah... cabut yuk... gue males banget satu toilet sama orang gila" celetuk Melda seraya melangkahkan kakinya keluar. Regina dan Zea ikut melangkahkan kakinya mengikuti Melda keluar. Di dalam toilet Mona berteriak histeris. "Gue bakalan bales perlakuan kalian ke gue!!" ucapnya penuh emosi sambil menatap ke pantulan cermin, ia menatap dirinya begitu menyedihkan.


__ADS_2