Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Bella menghampiri kedua sahabatnya yang tengah asik mengobrol-kan sesuatu. Gadis itu memegang dua kertas undangan yang siap di berikan untuk Fella dan Faya.


"Kalian pada ngobrolin apaan sih? Serius gitu muka kalian?" tanya Bella, saat ia sudah duduk di atara mereka berdua.


"Ini, pada bahas senior. Yang suka ngejar-ngejar elo itu," jelas Faya.


Bella mengernyitkan keningnya. "Dia kenapa? Sampai harus di omongin serius kaya gitu, sama kalian?" tanya Bella sedikit penasaran.


"Dia kena D.O, gara-gara urusan administrasi, sama nonjok dosennya." jelas Fella.


"Ow... gitu," balas Bella singkat, dan hanya manggut-manggut. Karena tak merasa terlalu penting baginya, dia tak ingin membahas lelaki lain kali ini.


"Kok gitu sih, Bel," ucap Faya dengan muka tertekuk-nya.


"Ya, terus gue harus gimana? Percuma aja, kalau gue cuma kasihan sama dia, tapi nggak bantuin dianya?"


"Bener juga sih Bel. Ngomong-ngomong, elo kok baru dateng, terus akhir-akhir ini, elo kemana aja? Kok nggak berangkat ke kampus?" tanya Fella panjang lebar, istri Arska itu sangat kepo dengan apa yang di lakukan oleh sahabatnya itu, karena Bella tak memberinya kabar sama sekali.


Seulas senyaman terlukis di wajah cantiknya. "Kalian dateng ya," ucapnya, dengan menyodorkan dua kertas undangan tersebut kepada Fella dan Faya.


"Ini apaan?" tanya mereka kompak.


"Gue mau nikah, awas aja. Kalau kalian sampai nggak dateng!"


"What? Elo mau nikah! Sama siapa?" tanya Fella sedikit melotot.


"Laki mana? Yang mau sama elo!" seru Faya, dengan tangan yang langsung membuka plastik kertas tersebut.


Dan bertapa terkejutnya gadis itu, saat mengetahuinya. "Seriusan, elo mau nikah sama Brayu," kata Faya dengan ekspresi wajah terkejutnya.


Fella yang mendengar kata Brayu, segera membuka undangannya. "Sejak kapan kalian deket?"


"Kalian kapan jadiannya? Tiba-tiba langsung main nikah aja?" tanya Faya, yang masih tak percaya.


Bella menghela napasnya, gadis itu terlihat menyeringai. "Gue nggak pacaran sama Brayu, gue langsung ta'aruf. Kelamaan kalau pacaran. Nanti kebanyakan dosa."


"Elo nyindir kita!" seru mereka kompak.


"Kagak, siapa yang nyindir kalian."


Mereka mencebirkan bibirnya, merasa Bella memang sengaja mengatakan hal tersebut. Namun rasa penasaran mereka lebih tinggi di banding itu semua saat ini.


"Elo beneran seriusan sama, dia?" tanya mereka kompak.


"Iya, gue serius sama dia, kalian kenapa sih. Nggak percaya banget sama gue!"


"Asli gue kaget."


"Sama Fel, gue juga," balas Faya dengan memegangi dadanya.


"Biasa aja kali, semua orang itu, bisa berubah dalam hitungan detik, nggak cuma gue kan."


"Elo, sih, enak Bel. Nggak kaya gue." Faya memajukan bibirnya, gadis itu cukup sedih karena tinggal dirinya lah yang belum memiliki pasangan.


"Buruan cari gih, nggak usah nungguin cowok kampret kaya si Aldy itu!" seru Bella rada sensi.


Faya mengernyitkan keningnya hingga alisnya hampir menyatu. "Siapa juga yang nungguin dia, gue itu, lagi malas bahas cinta-cintaan. Lagian, masih enakan jomblo kok, mau deket sama siapa aja, nggak ada yang ngelarang."


"Bener Fay, kalau elo masih sendiri, nggak bakalan ada yang ngelarang elo deket sama siapa pun. Coba kalau elo udah nikah kaya gue, cicak deketin elo aja, suami udah cemburu. Bibirnya sampai bisa di kucir."


"Hahahaha... gue nggak pernah ngebayangin Fel, kalau elo ternyata, pernah di deketin cicak," kata mereka kompak, dangan mata yang saling pandang.

__ADS_1


Fella mendengus kesal. "Itu cuma perumpamaan-nya aja, lagian cicak yang sering nemplok sama gue itu kan kalian." Fella menjulurkan lidahnya, sambil bersedekap dada. Niat hati ingin di bully kedua sahabatnya, justru dengan otak cerdasnya ia mampu membalik ucapan kedua sahabatnya.


Bella dan Faya saling pandang sesaat, kedua gadis itu menghentikan tawa mereka. Seketika tampang mereka berubah seperti kesemek mentah.


"Rese lo! Kita cantik-cantik kaya gini. Di samain kaya cicak!" seru Bella tak terima.


"Iya ni, bikin mood orang down aja, kesel gue dengernya!" sambung Faya dengan muka tertekuk-nya.


"Habisnya, kalian duluan kan yang mulai, giliran dikatain kaya cicak pada marah," balas Fella dengan menyeringai.


Merasa Fella terlalu menjengkelkan, Bella dan Faya sepakat untuk mencubit pipi gadis itu secara bergantian. "Ini anak, mumpung nggak ada lakinya, mending kita aniaya aja Fay."


"Setuju Bel, gue nggak terima dikatain mirip cicak," sambungnya.


Tanpa nanti-nanti kedua gadis itu mengambil kesempatan untuk meluncurkan aksinya. Fella yang akan melarikan diri pun, segara di tarik oleh kedua gadis tersebut.


"Nggak ada acar kabur-kaburan, elo udah bangunin macan tidur!" seru Bella.


"Macan betina," balas Fella keceplosan. Istri Arska itu segera menutup mulutnya rapat-rapat, kali ini ia mungkin tak akan di maafkan lagi.


"Mulai mancing lagi dia Bel, kayaknya nggak usah nungguin suaminya datang deh Bel, langsung aja kita eksekusi."


"Setuju Fay."


Meraka pun, mengarahkan jari-jari mereka untuk menggelitik dan mencubit pipi Fella tanpa ampun. "Biar makin lebar ini pipi," ucap Bella.


"Hahaha... ampun, Hahaha... ya ampun kalian tega banget sih... hahaha..." Hanya suara itu yang keluar dari mulut bibir Fella.


Tak berselang lama, Arska dan yang lainnya pun langsung menghampiri meja mereka. Namun eksekusi mereka telah usai, membuat istri Arksa itu seakan kehilangan napas karena terengah-engah dan tertawa tanpa ada jeda.


"Jahat kalian, beraninya main keroyokan," ucapnya dengan napas tersengal.


"Hem.... siapa suruh elo mulai duluan," balas mereka kompak.


"A-aku, di aniaya sama mereka huby," jawabnya, dengan bibir maju. Perempuan itu mulai merajuk dan memerankan aktingnya. Sambil memeluk suaminya dari samping.


"Dasar drama Queen, udah ada lakinya. langsung aja ngadu, tanpa nunda-nunda."


"Ck... biasa, Bel, akting, biar di kira, kita jadi pemeran antagonisnya. Terus, habis itu pasti langsung pamer kemesraan di depan umun," sahut Faya. Gadis itu sudah hafal dengan lagak sahabatnya itu setelah menikah.


Arska pura-pura tak mendengar celotehan dari kedua gadis tersebut, ia hanya melihat ke arah mereka berdua sambil tangan kanannya terus aktif mengelus pucuk kepala Istrinya dengan pelan.


"Nggak papa sayang, ngalah aja kamu-nya, kan bentar lagi ada yang mau nikah. Jadi, wajar aja kalau kamu terus dijahili, soalnya bentar lagi pasti ada yang manja-manjaan kaya kita." jelas Arska.


Merasa tak mengetahui apa-apa. Dilan, Regina dan Aldy melebarkan mata meraka sambil berkata. "Siapa yang mau nikah?"


"Itu, tuh... yang ada di pojokan, sambil ngupil" tunjuk Fella dengan dagunya.


Istri Arska itu, benar-benar mengada-ngada. Padahal tak ada seorang pun yang mengupil di sana.


"What? Elo mau nikah Bel? Sama cowok mana? Kok gue nggak denger kabar ini?" tanya Regina mulai nerocos tak karuan.


"Iya lo! Mau nikah, tapi kita nggak tau calonnya. Brayu pasti baper, denger kabar elo mau nikah," sahut Dilan dengan menyandarkan kepalanya di bahu Regina.


"Tapi kok, tampang Brayu lempeng-lempeng aja. Kaya nggak ada kesedihan sama sekali, denger elo mau nikah." timpal Regina.


"Tau ini, santai aja, ngeliat cewek yang dicintainya mau nikah sama orang," kata Aldy seraya mengeloyor kepala Brayu palan.


"Ck... kenapa kalian pada sewot sih, yang mau nikah kan Bella. Lagian calon lakinya kan juga Brayu," sahut Faya, mulai membuka suara.


Ucapan Faya membuat mereka bertiga syok, bahkan ada juga yang hampir terjungkal saking syok-nya. "Elo nyuri star gue Bray," ucap Dilan tak terima.

__ADS_1


"Astaga. Kalian kapan jadian, tau-tau udah mau nikah aja," kata Regina dengan mata melihat kearah Bella dan Brayu secar bergantian.


Belum ada reaksi dari keduanya, Bella hanya mengeluarkan kertas undangan dari dalam ranselnya. "Kalian jangan lupa datang ya," ucapnya dengan senyum melebar.


"Iya, kalian jangan lupa dateng, ke acar spesial gue sama Bella," sahut Brayu dengan mengedipkan sebelah matanya, lelaki itu nampak sumringah.


Dilan menggaruk kepalanya yang mungkin terasa gatal saat ini. "Si batu akik, akhirnya luluh juga sama elo Bray, gue pikir elo yang paling terakhir nikahnya, nggak taunya, elo. Malah lebih dulu luluhin si batu akik ini," kata Dilan masih tak terima jika Brayu mencuri startnya. Lelaki itu langsung mengangkat kepalanya, agar lebih dekat jaraknya dengan Brayu.


"Hahaha.... sabar aja Lan. Ini rezeki gue, elo yang lagi pacaran puas-puasin aja dulu. Kalau gue sama Bella kan nggak pakai pacaran langsung nikah. Ta'aruf," ucap Brayu.


"Kalian, udah baikan. Makannya langsung nikah?" pertanyaan itu keluar dari mulut bibir kedua pasangan remaja yang memang duduknya berhadapan dengan Brayu dan Bella saat ini.


"Udah.... kalian nggak usah pada lebay kaya gitu, udah rezekinya si Brayu dapetin Bella," sahut Arska yang sejak tadi menjadi penonton di antara mereka.


"Masih nggak nyangaka, gue, Ka," ucap Regina sambil memegangi kedua pipinya. "Tapi mereka emang sweet sih, nggak heran mereka mau nikah cepat.


Bella tersenyum, dengan manik mata melihat ke arah Fella yang mengumpat di bawah ketiak suaminya, perempuan itu memainkan jari-jarinya dengan wajah rada menunduk. "Nikmatin dulu aja, masa muda kalian. Jangan kaya cicak yang satu itu. Habis nikah banyak cemburunya," sindir Bella.


Fella melebarkan mulutnya, wajahnya terangkat sedikit, lirikan matanya menatap tajam ke arah Bella.


"Bella!" seru Fella, dengan menggigit bibir bawahnya yang langsung tertutup.


Arska merasa, jika istrinya, mengatakan hal yang tidak-tidak di belakangnya, lelaki itu langsung mencubit pelan, pipi istrinya. "Kamu bilang ke mereka apa, yang?" tanyanya dengan lirikan mata yang menatap serius dari samping.


"Aw.... ampun huby, tapi kan, itu emang bener. Kamu sendiri kan yang bilang."


"Iya. Tapi jangan di ceritain ke orang lain juga, aku jadi malu!" jelas Arska.


Tawa mereka semakin menjadi, di kala pasangan suami istri itu, tengah berdebat karena masalah sepele. Fella menjadi bulan-bulanan suaminya, akibat mulut ember-nya sendiri. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin pribahasa itu cocok untuk Fella saat ini, tadi sudah mendapatkan hukuman dari kedua sahabatnya, sekarang ia harus pasrah, dengan kelakuan suaminya yang terus menyembunyikannya wajahnya di bawah ketiaknya.


Sampai, satu ketukan di meja mengalihkan pandangan mereka dari pasangan suami istri tersebut. "Sorry, ganggu kalian yang baru asyik," ucap lelaki itu yang tak lain adalah Kevin.


"Haha.... nggak masalah Vin, elo mau jemput Faya?" tanya Bella to the point.


Menggaruk kepalanya yang tak gatal sekilas. "Hehehe... iya Bel, saking hafal-nya ya, elo."


Aldy mulai kesal, dan langsung saja asal bicara. "Ck... kaya nggak ada kerjaan lain aja, cuma antar jemput terus. Cocok deh, jadi tukang ojek."


Membuat mereka yang sedang duduk di sana pun, mengalihkan pandangan mereka. Mulut cabalak Aldy benar-benar pedas.


"Elo, kenapa sewot gitu sih Dy? Pakai ngatain orang kaya gitu lagi, nggak sopan itu namanya," ucap Regina yang mulai sensi.


"Tau, ini anak. Udah mantan juga, masih aja cemburuan!" seru Bella dengan nada tak biasa.


"Kalau, masih sayang. Mending balikan aja," sahut Arska.


Faya, yang tak ingin mendengarkan perdebatan di antara mereka, pun, langsung pamit tanpa nanti-nanti. "Gue, cabut duluan ya, kasihan Kevin. Udah jauh-jauh jemput. Kalau gue masih kelamaan di sini, serasa kaya nggak ngehargain usaha dia," ucapnya, dengan tangan menarik ransel yang ada di atas meja itu.


Faya sebenarnya sengaja mengatakan hal tersebut, agar Aldy mampu menghargai jerih payah orang lain tanpa harus mencelanya.


"Oke, hati-hati," balas mereka.


"Siap, lagian Kevin bawa motornya nggak ngebut-ngebut kok," jawab Faya. Tanpa melirik ke arah Aldy, dan langsung mengandeng tangan Kevin. Sebelum pergi, lelaki itu sempat berpamitan.


"Elo kenapa sih? Sensi amat ngeliat Faya bahagia!" Bella nampak sewot melihat tindakan Aldy yang kekanak-kanakan itu.


"Iya nih Aldy. Kalau masih sayang kenapa elo jadian sama Zea?" tanya Regina yang ikut mengomentari.


"Siapa juga yang jadian sama Zea. Kalian itu nggak tau apa-apa! Terlalu menghakimi orang, tanpa tau kebenarannya!" seru Aldy seraya berlalu lalang, tanpa mengucapkan kata-kata lain.


"Ck.... dasar kekanak-kanakan. Tetap aja nggak mau ngalah, udah tau kesalahannya. Masih aja nyolot ngomongnya," gumam Bella.

__ADS_1


"Udah, ya sabar," kata Brayu, dengan tangan mengusap-usap lengan gadis yang sekarang duduk di sampingnya itu.


Mereka sangat bingung dengan sikap Aldy yang semaki hari semakin tak jelas. Padahal lelaki itu dulu tak seperti itu, bisa di bilang dia lelaki paling asyik dan koplak di gengnya.


__ADS_2