Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Salah Sasaran


__ADS_3

Keluar dari supermarket Salsa di kejutkan oleh kehadiran beberapa laki-laki yang mencoba menggodanya. Salah seorang di antaranya ada yang menebar senyum dan mencoba mencoleknya, namun Salsa buru-buru menghindar dengan memundurkan tubuhnya.


"Boleh kenalan nggak neng," ucapnya dengan alis naik turun, khas orang kecentilan.


"Boleh lah, masak enggak." imbuh teman satunya yang tak kalah genit.


"Sini, biar abang aja yang bawain belanjaannya, pasti berat kan." sahut teman lainnya yang mencoba menawarkan diri.


Salsa masih berdiri di tempatnya, gadis itu belum juga menggeser posisinya, bahkan ia pun tak bergeming sama sekali, wajah datarnya benar-benar membuat kesal siapa saja yang melihatnya. Namun, berbeda dengan kempat laki-laki yang tepat berada di depan Salsa yang justru semakin girang menggoda gadis tersebut.


"Boleh lah bagi nomor ponsel."


"Jangan jutek-jutek nanti cantiknya ilang loh neng."


Menoleh kesamping, dan mengamati Leon yang masih sibuk mengantri di dalam. Leon lama banget sih, batin Salsa dengan hati menggondok.


"Eh, jangan melamun neng, kata orang tua pamali. Nanti kerasukan penunggu sini." lelaki itu melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Salsa.


Aku malah takut kalau kerasukan setan ganjen kaya kalian, gumamnya dalam hati.


Salsa langsung menepis pelan tangan yang masih melambai di depannya itu, wajah datarnya kembali terlihat. Keempat laki-laki itu semakin gemas menggoda Salsa, namun gadis itu tak juga menghiraukannya. Hingga, sebuah suara menghentikan aksi dari keempat laki-laki itu.


"Sayang, maaf ya. Kamu harus nunggu lama, mbak kasirnya ngeselin," ucap Leon dengan kepala masih menunduk, lelaki itu masih sibuk menghitung belanjaan yang ada di tangannya.


Salsa masih terdiam dan belum juga merespon perkataan kekasihnya.


"Sayang, kamu kenapa sih? Ngambek ya?" kata Leon sekali lagi.


"Sayang." kali ini Leon menegakkan pandangannya, di sana Leon dapat melihat jika keempat temannya sudah berada di sana dengan tampang ketakutannya.


"Lama kamu tuh yang, aku udah lumutan nungguin kamu dari tadi." Salsa mengerucutkan bibir kedua sudah terlipat sempurna di dada.


"Maaf sayang," kata Leon yang langsung berdiri tepat di samping kekasihnya itu.


"B-bos." kata Devan mulai membuka suara.


"Kalian ngapain di sini?" kata Leon bertanya, lelaki itu kini menampilkan tampang seriusnya.


"Kamu kenal sama mereka yang?" Salsa bertanya, gadis itu pura-pura tak mengetahui apa-apa tentang keempat lelaki yang sempat ia lihat beberapa hari yang lalu.


"Mereka temen aku." balasnya singkat.


"Ow," balasnya seraya melirik keempat pemuda tersebut.


"Kamu kenapa sayang, kok mukanya di tekuk kaya gini?" kata Leon bertanya, atensinya kini fokus menatap Salsa.


Menggeleng pelan, seraya berlalu lalang tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Merasa heran dengan kelakuan kekasihnya, Leon segera pamit kepada keempat temannya itu. Dan aksi senggol mulai terlihat saat Leon sudah tak terlihat lagi.


"Anjir... untung aja mulut gue langsung ketutup rapat." ucap Reza yang kini membuka suaranya terlebih dahulu.


"Tuh kan bener. Bos kita di culik sama sasange cantik." Devan mulai mengarang.


Pluk!


"Sasange pala lu!" tangan enteng Reza sudah mendarat di kepala Devan.


"Lah itu barusan apa?" Devan bertanya, lelaki itu menyerutung akibat pukulan enteng yang diberikan Reza.


"Itu ceweknya bos, dodol." cicit Sam. "Ternyata masih imut gitu, pantesan aja bos kita seneng banget." imbuhnya.


"Udah, mata kalian kalau liat yang bening langsung ijo. Untung aja itu cewek nggak ngomong sama Bos, coba kalau ngomong, udah bonyok kita." kata Ivan mulai bijak.


"Sekalinya dapet yang bening, nggak taunya cewek bos sendiri. Salah sasaran kita." sahut Reza.


Mereka hanya manggut-manggut, hingga atensinya beralih kepada motor sport milik Leon yang masih terparkir dihalaman supermarket yang tak jauh dari tempat merkea berdiri.

__ADS_1


Menengguk saliva-nya beberapa kali. "Cabut yuk, perasaan gue nggak enak ni, motor bos masih parkir di sini ternyata." Reza mulai membalikkan tubuhnya.


"Iya Za, badan gue udah ngerasa kelu. Kayaknya gue butuh pulang ke rumah lebih awal." sambung Ivan.


Mereka sama-sama mengangguk, menyetujui untuk meninggalkan tempat itu lebih awal.


Di persimpangan, langkah kaki Salsa semakin cepat. Membuat Leon yang masih setia mengekor di belakangnya semakin kebingungan karena sikap kekasihnya yang tiba-tiba berubah.


"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Leon yang langsung menarik pergelangan tangan Salsa cukup kuat, hingga membuat sang pemilik harus berputar dan kini gadis itu memeluk tubuh tegap pria yang sejak tadi berada di belakangnya.


"Sengaja banget sih!" kesal Salsa yang kini menampilkan ekspresi cemberutnya.


"Kamu kenapa sih yang?" tanya Leon sekali lagi.


Salsa masih terdiam, dan justru semakin merapatkan bibirnya.


"Ya udah, aku nggak akan maksa kamu buat ngomong." imbuhnya saat melihat ekspresi wajah Salsa yang nampak tak ingin menjawab pertanyaannya.


Mendorong pelan dada bidang yang ada di depannya, seraya mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Leon. "Temen kamu rata-rata pada ganjen semua ya?"


Mengangkat sebelah alisnya, dengan dahi yang sedikit mencetak keriputan. "Maksud kamu?"


Membuang mukanya ke sembarang arah, gadis itu berbalik dan melanjutkan jalannya. "Iya, maksud aku. Mereka semua emang pada dasarnya suka ganjen sama cewek-cewek ya?" katanya bertanya dengan suara yang sengaja diperkeras, tampang gadis itu kini semakin tertekuk.


Menggaruk kepalanya yang tak gatal, Leon berusaha untuk mengejar Salsa dengan langkah lebar. "Apa sih yang, aku beneran nggak ngerti masuk ucapan kamu barusan." ucapnya dengan tampang yang memang terlihat kebingungan.


Berbalik, dan melipat kedua tangannya di dada. "Kamu tau? Tadi aku nungguin kamu di luar, mereka pada gangguin aku." finalnya.


Melebarkan matanya, nampaknya Leon juga tak percaya dengan kelakuan teman-temannya jika tak ada dirinya di sana. Ya, walaupun hanya sekedar iseng.


"Maksud kamu, mereka gangguin kamu?"


Mengangguk pelan, "Lebih tepatnya sangat agresif. Dan kepala aku jadi traveling kemana-mana." kini Salsa memegangi kepala, seakan dia benar-benar memikirkan sesuatu.


"Iya, aku jadi mikir. Jangan-jangan kamu kalau di belakang aku juga ngelakuin hal yang sama." tuduhnya, yang kini menampilkan mata besarnya, seakan memarahi Leon dengan mata kecilnya itu.


Tertawa kecil, dengan sedikit menutup mulutnya agar gadis yang ada di depannya itu tak semakin kesal dengan tindakannya.


Mengusap pelan pucuk kepala Salsa. "Kamu terlalu mikir parno sayang, yang kaya gitu udah biasa di lakuin cowok kalau meraka pada nongkrong."


Kesal dengan jawaban Leon, Salsa menginjak kaki lelaki tersebut dengan cukup kuat. "Bukan jawaban yang mengecewakan yang pengen aku denger Leon kampret!" cicitnya dengan napas naik turun.


Merasa injakan kaki kekasihnya yang tak terlalu terasa karena memang sepatu yang di kenakan oleh Leon begitu tebal dan kuat, membuatnya masih berdiri tegap dan hanya bisa menarik sudut bibirnya, ia tau jika Salsa sedang sangat kesal karenanya.


"Becanda ya yang. Jangan suka di masukin ke ubun-ubun nanti kamu puyeng." lelaki itu kembali menyeringai dengan tangan yang siap untuk menarik pergelangan tangan Salsa.


"Terserah!" ketusnya yang memilih untuk berlalu lalang.


Leon menarik tangannya kembali, "Yah, di tinggal lagi." keluhnya, dengan kaki yang kembali melangkah.


Di sepanjang jalan, lelaki itu dengan setianya mendengarkan setiap celotehan yang Salsa lontarkan, bahkan tak jarang ia menyaksikan tingkah gemas Salsa yang tiba-tiba menghentak-hentakkan kakinya tepat di depannya itu. Tingkah Salsa begitu imut menurutnya, bahkan saat cemberut atau kesal seperti ini, membuat Leon semakin mengembangkan senyumnya.


"Jangan senyum-senyum terus! Aku baru kesel sama kamu." cicitnya tak lupa memutar lehernya meski hanya sesaat.


Leon menutup mulutnya rapat-rapat, namun masih menampakan jika ia menahan tawa. Hingga, Salsa menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba dan membuat Leon menubruk tubuh mungil yang terhenti secara mendadak itu. Untung saja ia tak menubruk tubuh mungil itu terlalu keras, jika iya, mungkin Salsa akan tersungkur.


"Kenapa mendadak berhentinya yang? Kenapa nggak kasih aba-aba dulu?" kata Leon yang sengaja protes.


Berbalik badan dengan wajah tertekuk. "Kenapa kita jalan kaki?" Salsa balik bertanya, ia baru sadar jika langkah kakinya sudah terlalu jauh dari super market yang tadi di kunjungi-nya.


Menggeleng pelan. "Aku juga nggak tau. Aku cuma ikutin kamu aja." balas lelaki itu santai.


"Ya ampun, kenapa kamu ketularan oon sih! Harusnya kamu tadi bawa motor terus kejar aku, kenapa jadi ikutan jalan kaki sih!" Salsa semakin kesal, gadis itu mengepalkan tangannya dan sesekali meremat-nya, ia sedikit gemas dengan ucapan yang terlontar dari kekasihnya yang sok polos itu.


"Terus sekarang mau kamu gimana?" tanya Leon yang masih bersabar dan terus bersikap sok polos.

__ADS_1


"Ya balik ke sana lah. Ya kali, aku jalan naik kapal."


Menaikan sebelah alisnya, Leon nampak tak bisa mencerna ucapan Salsa. "Kapal? Pelabuhannya kan jauh dari sini, yang?"


"Heh... Leon oon. Bikin kesel." cicitnya yang langsung melangkahkan kakinya kembali.


"Sebenernya yang oon, gue apa dia sih? Atau gue ikutan oon gara-gara dia." gumam Leon yang kini langsung mengekor di belakang Salsa kembali.


Sepertiga perjalanan, Salsa nampak kelelahan terlihat dari cara berjalannya yang terkesan lambat dan sempoyongan. "Yang." katanya bersuara lemah.


"Hem..."


"Ini masih jauh?" katanya bertanya, jari telunjuknya menunjuk jalan yang masih lurus dan panjang itu.


Anggukan kecil di berikan oleh Leon, nampaknya ia juga mulai kelelahan.


"Yah, gempor dong kaki ku." menapakkan ekspresi masamnya lagi.


Salah mereka yang asal jalan dan halnya melewati gang-gang yang tak bisa terjangkau oleh angkutan umum. Mau tak mau mereka harus jalan kaki.


"Gendong yang." ucapnya merengek.


"Hah? Tadi ngomel-ngomel sambil jalan segitu panjangnya aja nggak ngeluh, pas sadar kenapa ngeluh?" ini bentuk protes Leon ketika rasa pegal di kakinya mulai terasa.


"Jadi kamu nggak mau gendong aku biar cepat sampai di super market?" gadis itu memutar lehernya agar bisa melihat Leon yang ada di belakangnya.


"Nggak! Kamu nggak liat, tampang aku yang juga kecapekan gara-gara ulah kamu ini."


"Jadi kamu nyalahin aku?" Salsa nampak tak terima.


"Iya."


"Oke. Mendingan aku telpon Rey aja suruh jemput aku di sini. Lagian kaki aku udah mulai kesemutan." ancamnya. Salsa langsung mengeluarkan benda pipih yang ada di dalam tas srempang-nya itu.


Mengambil alih dengan cepat. "Jangan, aku masih mampu."


"Jadi, salah siapa?" kata Salsa bertanya.


"Iya, salah aku yang nggak peka. Dimana-mana kan cewek selalu banyak benarnya, cowok mah serba salah." keluhnya. Wajah tertekuk kini terlihat jelas di wajah tampan lelaki tersebut.


"Jadi nggak ikhlas ni, ngakuin kesalahannya." cicit Salsa yang mulai protes.


"Aku ikhlas, aku ikhlas sayang." dengan keterpaksaan Leon mengindahkan ucapan kekasihnya itu.


Senyum puas menghiasi wajah gadis itu. "Buruan jongkok! Kaki aku udah kesemutan banget ni yang." pintanya yang di iringi sebuah protes.


Mau tak mau Leon pun menuruti permintaan Salsa, lelaki itu segera berjongkok. "Udah, buruan kamu naik." perintahnya cepat.


"Tenang aja yang, badan aku kan kecil. Jadi nggak mungkin berat." ucapnya penuh ke-PDan.


Salsa langsung naik ke punggung Leon tanpa berpikir nanti, senyum sumringah terlihat jelas menghiasi wajah cantiknya.


"Nggak berat apanya, aku gendong kamu aja udah sempoyongan kaya gini." protes Leon yang sengaja berbohong.


"Nggak mungkin, berat badan aku aja cuma 45kg. Kamu jangan bohong deh." cicit Salsa yang nampak kesal.


"Tapi kamu ini emang berat, seberat karung beras. Hahaha.." candanya dengan tawa melengking.


"Leon. Kenapa kamu selalu ngeselin."


"Ya, karena dengan aku ngeselin, kamu bakalan betah deket aku, bahkan makin sayang sama aku."


Mendengar hal itu, Salsa tak mengeluarkan suaranya. Gadis itu langsung menyembunyikan wajahnya di balik punggung Leon, rona merah pada pipinya tak bisa di sembunyikan lagi, ia benar-benar bahagia saat mendengar kata tersebut.


Astaga, Leon kamu selalu aja bikin aku baper. Dasar anak congek. cibirnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2