
Sore ini Leon membuktikan perkataannya, lelaki itu bertamu kekediaman Aregan untuk mendapatkan restu dari Violla dan Hendry, Leon sedikit merubah gayanya agar terlihat polos dan sedikit lebih sopan.
Sedangkan di ruang keluarga, Salsa sudah merasakan debaran jantungnya yang dirasa akan copot saat ini juga, mengingat jika Tante dan Om-nya melarang dirinya untuk tak berpacaran terlebih dahulu selama dirinya masih duduk di bangku SMA. Ya, sebenarnya itu juga perintah langsung yang diberikan oleh kedua orang tuanya, agar setelah lulus SMA, gadis itu tak segera menikah.
"Lo kenapa tegang banget? Mama sama Papa nggak akan gigit Leon kok, mereka masih doyan nasi," canda Arska diiringi senyum sinis-nya.
Sedangkan Salsa hanya membuang muka karena tak ingin mendengarkan celotehan dari kakak sepupunya itu, membuang napasnya secara perlahan. Salsa berlalu lalang dan hampiri Leon yang sudah duduk diruang tamu seorang diri.
"Kamu beneran dateng?" kata Salsa bertanya, sebenarnya pertanyaan konyol itu tak seharusnya keluar dari mulut bibirnya, namun karena dia terlalu takut, pertanyaan itu menjadi terlontar. Gadis itu juga mengamati penampilan Leon yang sedikit berbeda dari biasanya.
Leon masih menampilkan senyum lebarnya, tak ada rasa takut atau pun grogi dari raut wajahnya. "Kamu tenang aja, aku bisa atasi ini semua, kamu nggak perlu khawatir. Aku jamin, habis ini kita dapet restu dari Tante dan Om kamu." ucap Leon penuh percaya diri.
Menelan saliva-nya beberpa kali, Salsa sebenarnya ingin mempercayai ucapan Leon. Namun, mengingat sikap Violla yang sedikit keras kepala dan sikap Hendry yang begitu tegas, membuatnya harus mengurungkan niat positifnya itu. Sesaat oboran mereka harus terhenti karena kehadiran Violla dan Hendry, Salsa sedikit menjauhkan tubuhnya dari sang kekasih.
Lelaki itu segera menyapa kedua orang tua setengah baya itu, menjabat tangan mereka secara bergantian. Violla masih terdiam dan mengamati penampilan Leon dari atas hingga bawah, sedangkan Hendry masih menampilkan wajah tegasnya di sana, benar-benar tanpa ekspresi.
Debaran jantung yang tadinya sempat tenang, seketika berdetak dengan sangat cepat. Sedangkan pasangan suami-istri yang ada di dalam ruang kelurga sedang mengintip. Di sana Arska sudah menah tawanya saat melihat ekspresi wajah Salsa yang nampak ketakutan, membuatnya tak mampu lagi untuk tidak tertawa.
"Sayang, kamu nggak boleh kaya gitu, kasihan Salsa," tegur Fella saat melihat kelakuan suaminya yang menurutnya sangat mengesalkan itu.
"Kamu nggak lihat, ekspresi Salsa yang ketakutan itu?" tanya Arska yang masih tertawa kecil.
Mendengus kesal, "Kamu kalau udah besar jangan kaya Papa ya nak, suka ngebully orang lain, Mama nggak suka," ucapnya serya mengelus perutnya yang sudah membuncit itu.
"Ya ampun sayang, kamu sama laki gitu amat." protes Arska.
"Habisnya kamu sama sepupu sendiri kaya gitu. Jahat banget!" jelasnya.
Arska segera menutup mulutnya rapat, lelaki itu enggan berdebat dengan istri tercintanya, kini keduanya sibuk menguping percakapan yang tengah berlangsung di ruang tamu, memang awalnya percakapan itu terdengar cukup menegangkan, namun entah mengapa makin ke inti pembicaraan Violla sedikit menghangat.
"Ya, karena kamu ganteng. Okelah, jadi pacar keponakan saya." suara Violla terdengar melembut, bahkan di iringi tawa dari Hendry, sungguh keberuntungan bagi Leon karena mampu meluluhkan hati kedua orang tua tersebut.
Mata Arska sempat membulat, lelaki itu melirik sekilas istrinya, ia tak mempercayai jika Leon begitu mudahnya mengambil hati kedua orang tuanya, bahkan Violla dan Hendry juga berjanji akan membantu Leon untuk membicarakan hubungan mereka dengan kedua orang tua Salsa.
"Kok biasa kaya gitu sih yang? Mama sama Papa dengan mudahnya merestui hubungan mereka. Bahkan Mama malah muji Leon ganteng," kata Arska meras tak terima dengan keputusan orang tuanya itu.
Mengangkat seblah alisnya, Fella kini mencibir lelaki yang ada di seblahnya itu. "Makanya jangan suka ngebully orang, sekarang lihat sendiri-kan hasilnya."
"Tau ah, kamu jadi istri nggak asyik." Arska mengerucutkan bibirnya seperti Fella saat ngambek tehadapnya. Bahkan suami Fella itu langsung berlalu lalang, membuat Fella menggelengkan kepalanya pelan seraya menyusul suaminya itu menaiki anak tangga dengan langkah pelan, kali ini Arska sungguh terlihat seperti anak kecil.
Hari ini mungkin adalah hari bersejarah bagi Salsa, karena tepat hari ini gadis itu tak harus bersembunyi untuk sekedar kencan dengan Leon. Nampak wajah sumringahnya terlihat di sana.
"Kalau boleh, saya mau izin bawa Salsa keluar sebentar ya Om-Tante." katanya meminta izin.
"Berhubung sekarang malam minggu, saya izinin. Tapi jangan terlalu malam," sahut Hendry.
"Makasih Om-Tante."
Violla dan Hendry mengangguk pelan, Salsa yang merasa mendapat kemenangan semakin mengembangkan senyumnya lebih lebar, gadis itu tak sadar jika mendapat tatapan lebih dari Violla dan Hendry karena sikapnya yang terlalu berlebihan.
"Est, jangan terlalu senang dulu Salsa, bukan berarti kamu boleh seenaknya karena mendapat restu dari kami. Kalian tetap nggak boleh macem-macem, ingat kamu masih sekolah jadi pacaran sewajarnya saja." nasehat Violla.
Ucapan Violla berhasil membuat Salsa mengendurkan senyumnya. "Iya, yang di bilang sama Tante kamu ada benarnya, kami kasih izin kalian pacaran, tapi jangan salah gunakan kepercayaan kami. Dan satu hal lagi yang harus Om ingetin, nilai kamu harus jauh lebih baik daripada bulan lalu, Om sudah memeriksa hasil nilai kamu beberapa bulan ini, nilai kamu sangat buruk." cicit Hendry dengan ekspresi seriusnya.
Menelan saliva-nya secara perlahan, Salsa mengakui kesalahannya itu, nilainya memang sangat buruk, bahkan nilai fisikanya terbilang sangat memprihatinkan.
"Iya Om Salsa akan berusahan belajar lebih giat lagi." balasnya dengan wajah sedikit menunduk karena malu.
"Jangan cuma usaha, kalau nggak ada niat juga sama saja, nggak akan berhasil. Kamu harus tunjukkin prestasi kamu meningkat bulan depan." imbuhnya.
Salsa mengangguk pelan, ia tau kalau Om-nya itu pasti akan berucap sedemikian rupa.
"Berhubung kalian sudah pada paham, Om sama Tante permisi dulu," ucap Violla pamit.
Kedua orang tua setengah baya itu beranjak dari tempat duduknya, mereka meninggalkan kedua remaja itu, tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Kamu pinter bangat sih yang, bisa ambil hati Om sama Tante aku," ucap Salsa memuji.
"Itu udah bakat aku, kamu nggak usah terlalu memuji pacar kamu ini." Leon berlagak sombong.
"Ck! Nyesel aku udah ngomong kaya gitu!" kesal Salsa dengan wajah melihat ke sembarang arah.
"Hahaha.... Aku bercanda sayang, kamu jangan cemberut kaya gini ah. Buruan ganti baju kamu." kata Leon sedikit memerintah.
Dengan senyum simpul dan anggukan kecil, Salsa kemudian beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu merasa sangat bahagia, ia tak perlu bersembunyi-sembunyi lagi dari Om dan Tantenya untuk sekedar jalan bareng dengan Leon.
...~Cinta Untu Fella~...
Di sebuah bioskop, Leon dan Salsa kini berada, mengiyakan setiap permintaan kekasih kecilnya itu dengan senang hati. Ia tak mengeluarkan kata-kata mengeluh meskipun Salsa meminta hal yang aneh sekalipun, kali ini lelaki itu menurut saja, biarlah kekasihnya itu bahagia dengan segala cara yang dia inginkan.
"Habis ini kamu mau kemana?" kata Leon dengan sedikit berbisik.
"Terserah kamu aja yang, aku ngikut." ucapnya dengan atensi masih menatap lurus ke arah layar tanpa mengalihkan pandangannya.
Leon hanya menghela napasnya, merasa kekasihnya itu menduakannya dengan drama korea yang baru saja di putar di layar lebar itu. Namun tanpa Leon sadari gadis yang ada di sebelahnya itu sempat meliriknya sesaat, Salsa memegang tangan Leon pelan. Menarik sudut bibirnya dan bekata. "Maaf jika aku terlalu fokus, tapi aku bisa lihat tampang kusut kamu yang menurut aku imut ini.'' gadis itu tak mengalihkan atensinya.
Menarik pelan pipi cabi Salsa, Leon semakin gemas mendengar olokan yang di tunjukan untuknya itu. "Aw... sakit yang, kamu ini cubit-cubit pipi aku terus, kalau pipi aku tambah lebar gimana." protesnya seraya mengusap pelan pipinya.
"Salah siapa kamu godain aku, ya itu akibatnya." balas Leon yang terlihat santai.
Mengerucutkan bibirnya dengan ekor mata yang menatap tajam lelaki tersebut. "Kamu nyebelin," katanya seperti itu. Salsa segera mengalihkan atensinya dan kembali fokus menatap layar besar itu.
Leon mendekatkan bibirnya dan kembali berbisik, "Awas aja setelah ini kamu bakalan aku balas." ancamnya di sertai senyum sinis.
"Kamu ngancem aku," titahnya sedikit memundurkan tubuhnya.
Kini Leon yang berlagak sok cuek terhadap gadis yang ada di sebelahnya. Lelaki itu memilih untuk diam dan enggan menanggapi perkataan Salsa. Lagi dan lagi Salsa mendengus kesal melihat tindakan kekasihnya yang sok misterius itu, gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibirnya terlihat komat-kamit tapi tak mengeluarkan suara.
Aksinya itu membuat Leon semakin gemas, ingin rasa mencubit pipi cabi Salsa atau bahkan menciumnya saat ini juga, namun ia tak mau mengganggu kedamaian penonton lain yang sedang fokus ke layar besar tersebut.
Setelah selesai menonton drama, keduanya ingin lanjut makan, namun Salsa tiba-tiba merajuk dan ingin segera pulang lantaran waktu menunjukan sudah masuk malam.
"Tapi kita kan belom makan yang." protesnya.
"Kamu lihat antriannya kaya gitu, mau selesai jam berapa? Nanti pulang telat kena omel lagi." Salsa menunjuk restoran yang akan di masuki oleh Leon.
Dengan segala keterpaksaan Leon pun akhirnya menurut, namun masih mendumel, atensinya masih melirik-lirik restoran yang mereka lewati. "Tapi kita belom makan yang," ulangnya seraya melirik Salsa sesaat, wujud lelaki itu sudah tak karuan, lantaran bibirnya mengerucut hampir lima cm.
"Iya udah, ayo makan." finalnya tak ingin melihat ekspresi wajah Leon yang masam dan menggelikan itu.
Leon nyengir kuda hingga menampilkan deretan giginya yang putih, lelaki itu langsung menarik pergelangan tangan Salsa dan membawanya kesebuah restoran.
Setelah selesai makan mata Salsa tak sengaja melihat sebuah permain yang menurutnya cukup menarik, Salsa menarik tangan Leon masuk kedalam area bermain Timezone dengan riang. Bahkan, Leon harus setengah berlari untuk mengimbangi langkah cepat Salsa. Leon dapat merasakan kebahagiaan yang terlihat dari wajah cantik kekasihnya itu dari belakang. Saat ini contohnya, ketika Salsa memanfaatkan powercard milik kekasihnya untuk bermain Time Crisis wajahnya nampak bahagia di awal karena dia belom kehilangan nyawa. Hingga ia lupa dengan pesan yang di berikan oleh Hendry, jika dirinya tak boleh pulang terlalu malam, sebenarnya Leon tak ingin mengikuti kekasihnya itu bermain, tapi apalah adanya jika gadis kecilnya itu terus merajuk dan tak ingin mendengarkan semua perkataanya lagi.
Leon nampak mengawasi Salsa dari kejauhan, pikirannya masih melayang karena takut mendapat masalah dari Om Hendry.
Ini pertama kalinya Salsa memainkan game semacam ini. Cara ia memegang senjata masih kaku, namun Salsa masih berusaha mengarahkannya ke monitor untuk membidik musuh, namun nasibnya masih sama saja, nyawanya begitu cepat habis hingga di percobaan terakhirnya juga masih gagal. Salsa memang tak mengharap kemenangan. Paling tidak saldo yang di keluarkan untuk bermain tidak sia-sia.
"Baru pertama kali main, ya?"
Salsa terlonjak mendengar suara dari belakang. Bahkan, handgun di tangannya hampir terlepas ketika ia berniat meletakkan kembali ketempat semula. Ia hanya tersenyum menanggapi cowok yang baru saja mengajaknya bicara. Cowok yang kelihatan lebih tua darinya, mungkin seumuran dengan Leon, lelaki itu mendekat, mengambil alih handgun dari tempatnya.
"Gimana kalau gue ajarin cara mainnya?" tawar cowok itu kepada Salsa. Tanpa menunggu persetujun, ia menggesek powercard ke mesin swiper permainan Time Crisis untuk memulai permainan baru.
Salsa hendak menolak, tapi cowok asing itu mengulurkan handgun kepadanya. Mau tak mau ia menyambutnya.
Cowok asing itu mengambil handgun lain, kemudian mencontohkan cara menggengam senjata kepada Salsa. "Cara pegangnya gini. Tangan kiri lo pegang bagian depan tembakannya." Ia mengarahakan tangan Salsa untuk menggengam senjata dengan benar, membuat Salsa sedikit terkejut.
"Sekarang tembak musuhnya!" perintahnya sambil menembak musuh dengan handgun di tangan.
Setelah mengikuti arahan si cowok asing itu, Salsa lebih nyaman membidik musuh. Senyumnya mengembang. Ia mulai menikmati permainan ini.
__ADS_1
"Seru kak?" tanya cowok itu, menagkap jelas senyum di wajah Salsa.
Salsa menjawab dengan anggukan. Akhirnya, mereka berhasil memenangkan permainan.
"Sesekali lo injek pedalnya, dan lepas kalau mau sembunyi atau mau isi peluru."
Salsa ikut menunduk untuk melihat pedal yang di maksud. "Oh, gitu."
"Kita main lagi, yuk!" ajak cowok asing itu, yang di jawab anggukkan kecil. Akan tetapi, sebelum permainan benar-benar di mulai, seseorang dengan cepat merebut handgun dari tangan Salsa.
"Waktunya kita pulang." Suara dingin Leon berhasil melenyapkan senyum di wajah Salsa. Ternyata sejak tadi Leon selalu memperhatikan gerak gerik kekasihnya itu, namun yang di tatapnya tak pernah peka. Leon meletakkan handgun ke tempatnya, kemudian menatap cowok asing di sebelah Salsa dengan tak suka.
Dengan tak enak hati, Salsa memint maaf kepada cowok asing itu karena tidak bisa bermain bersama.
"Kak, sori___"
Akan tetapi, Leon buru-buru menghalangi pandangan Salsa kepada cowok asing itu. "Udah malam." ucapnya.
Terpaksa Salsa berbalik pergi setelah menatap Leon dengan tatapan kesal sekali. Darimana aja dia, kenapa mucul-muncul langsung ngomel, bukannya ngajarin aku tadi, batinya begitu.
"Tunggu dulu! Kita boleh kenalan?" seru cowok asing itu ke arah berlalunya Salsa. Sayangnya, suasana sekitar yang bising dan suara mesin berbagai permainan menenggelamkan ucapannya.
Leon mencegah cowok itu, yang berniat menyusul Salsa. "Jangan ganggu dia!" ucapanya penuh penekanan.
Cowok yang rupanya sama tinggi dengan Leon itu balas menatap dengan tidak suka. "Emang lo siapa?"
"Gue pacarnya!"
Hanya dua kata, tapi mampu membungkam mulut cowok asing itu hingga mengurungkan niat untuk mendekti Salsa.
Di sepanjang perjalanan pulang, keduanya nampak terdiam. Leon memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi tanpa mempedulikan gadis yang ada di jok belakang itu ketakutan atau tidak, pikiranya begitu kacau hingga tak memikirkan hal tersebut. Mencengkeram kuat perut Leon karena merasa takut. Leon dapat merasakannya, ia segera memelankan laju kendaraannya. Hingga gerimis mulai datang.
"Kita cari tempat berteduh dulu, kayaknya mau hujan lebat," ucapnya yang di balas anggukan oleh Salsa.
Kini mereka berteduh di emperan toko, Salsa segera memberi kabar kepada Violla, kalau dirinya sedang terjebak hujan dan Violla memakluminya. Hening tercipta karena keduanya masih sama-sama terdiam, mereka hanya diterangi oleh cahaya lampu yang tak terlalu terang di pojok toko tersebut.
Salsa menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya agar menciptakan hangat. Leon melihat sekilas ke arah gadis bertubuh mungil itu dengan rasa iba. Memeluknya dari samping, hingga Salsa sedikit terperanjat karena merasa kaget.
"Agak mendingan kan?"
Lagi-lagi Salsa mengangguk, "Ya." balasnya singkat dengan wajah tertunduk.
"Maaf."
"Untuk?" Salsa mengangkat wajahnya dan menaikan satu alisnya merasa tak mengerti.
"Untuk tadi dan sekarang."
Gadis itu hanya menghela napasnya, ia tak mengeluarkan sepatah kata pun, merasa jika dirinya juga bersalah.
"Aku juga minta maaf." ucapnya dengan kepala menunduk, gadis itu tak berani menatap ke arah Leon.
"Tatap aku!" perintahnya.
Salsa masih menundukkan kepalanya, Leon menghela napasnya secara kasar, ia segera meraih dagu runcing kekasihnya itu. Menatap manik mata yang kini juga menatap lurus ke arahnya, meskipun tak terlalu terang keduanya masih mampu melihat dengan jelas. Perlahan lelaki itu mendekatkan bibirnya ke arah bibir mungil yang nampak menggiurkan itu. Seketika mata Salsa membola akibat tindakan Leon, ini kali pertamanya dia berciuman, namun seakan terbuai dengan kelembutan bibir lelaki itu, Salsa tak menolaknya. Ia memejamkan matanya seakan menikmatinya.
Lima menit kemudian Leon melepaskan ciumannya, lelaki itu sadar jika Salsa sudah tak mampu bernapas lagi.
"Ciuman gitu aja kamu nggak bisa, masih berani godain cowok lain."
Memukul lengan Leon pelan. "Siapa yang godain dia, dia cuma ngajarin aku doang kok. Lagian kamu main nyosor aja. Dasar cowok ngeselin."
"Dari hal itu kamu pancing amarah aku! Itu hukuman buat kamu, biar kamu tau kalau aku ini pacar sah kamu!"
"Amarah? Salah aku apa? Kamu sendiri jadi pacar nggak peka, aku nggak bisa main, kamu malah diam aja. Hukuman yang aneh!" kesalnya yang tak mampu menatap balik mata Leon.
__ADS_1
Menarik sudut bibirnya, Leon kembali meraih dagu Salsa dan mendaratkan lagi bibirnya di sana. Kali ini ciumannya berbeda karena Leon melakukannya dengan sangat lembut. Lagi-lagi Salsa tak bisa menolaknya, bahkan ia kini tenggelam dalam ciuman yang di ciptakan oleh kekasihnya itu.