Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Menjadi Tersangka


__ADS_3

Faya yang menyembunyikan wajahnya di balik jaket Kevin pun mulai terisak, entah mengapa rasa tegar-nya kembali runtuh saat lelaki itu mendesaknya kembali, perasaan sedih itu datang menghampiri, hatinya mulai goyah lagi.


"Lo, kenapa?" tanya Kevin seraya memegangi tangan sebelah kiri gadis tersebut.


Gerakan kepalanya mengisyaratkan jika ia tidak kenapa-napa. Namun, Kevin dapat merasakan jaket bagian belakangnya mulai basah. "Elo, nangis?" tanya Kevin sekali lagi. Lelaki itu menoleh sesaat.


Sesegukan mulai terdengar dari mulut bibir gadis tersebut, lelaki itu langsung menepikan motornya.


"Lo, masih ada rasa sama dia? Sampai lo cengeng kaya gini?" tanyanya seraya melepas helm full face-nya.


Faya masih terdiam, wajahnya sudah sangat jelek dengan ekspresi menangisinya saat ini. "G-gue, N-nggak nangis kok," elaknya seraya mengusap air matanya.


Lelaki itu turun dari motornya, melepas helm yang masih di kenakan oleh gadis tersebut. "Lo, boleh nangis sepuasnya. Lo, keluarin amarah elo, kalau itu bisa buat hati lo lebih tenang." kata lelaki tersebut mencoba memberi masukan, Kevin segera mengarahkan ibu jarinya untuk mengusap butiran air mata yang membasahi pipi Faya saat ini.


"G-gue, nggak nangis Kevin!" bibirnya mulai bergetar.


Lelaki itu tersenyum tipis, "Iya, gue percaya kalau elo nggak nangis. Tapi, ingus lo itu nggak bisa bohongin gue, kalau elo beneran habis nangis."


Gadis itu kembali memasang wajah kusutnya, ia mulai menangis kembali. Namun, kali ini suaranya terdengar lebih kencang dari pada tadi. Faya seakan meluapkan segalanya, sampai ia tak mempedulikan orang yang berlalu lalang yang terus melihat ke arahnya.


"Pacarnya diapain mas sampai nangis kaya gitu," celoteh salah seorang ibu-ibu yang melintas.


"Jangan-jangan, hamil duluan, terus yang laki nggak mau tanggung jawab."


"Bisa jadi, anak jaman sekarang. Pacaran sampai kebablasan. Urat malunya udah putus."

__ADS_1


"Dasar ya Jeng, nggak kasihan sama orang tuanya."


Beberapa ucapan dari ibu-ibu tersebut terdengar sampai ke telinga Kevin, 'Astaga, ternyata gue nyuruh Faya nangis itu, kesalahan yang besar. Gue, malah di kira ngehamilin anak orang,' batin Kevin. Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba mengering.


"Fay, please dong, lo diem. Gue malu di lihatin mereka kaya gitu. Gue nggak mau di katain lelaki nggak bener." tutur Kevin memohon.


Gadis itu bukannya diam, justru mengencangkan suaranya. "Lo, yang suruh gue nangis biar hati gue lega. Sekarang, lo suruh gue diem, huhuhu... Dasar cowok nggak berperasaan." gadis itu berucap diiringi suara isakan dan juga sesegukan.


"Ya, ampun. Kalau kaya gini, tadi gue nggak mau nyuruh lo nangis. Lo, jadi bikin gue kaya tersangka tau!" Kevin mengacak rambutnya, lelaki itu merasa frustasi dan bingung harus berbuat apa.


"Terserah, pokoknya elo harus tanggung jawab!" gadis itu semakin mengeraskan suaranya.


"Ya ampun, tanggung jawab kek mas, berani berbuat harusnya berani bertanggung jawab, dong!"


Kevin mulai kesal dengan celotehan ibu-ibu yang sejak tadi menyudutkannya. Bahkan, tak sedikit beberapa kata pedas yang di lontarkan oleh mereka untuk dirinya. Lelaki itu mulai bergeming, memakaikan helm Faya kembali, Kevin memutuskan untuk kembali melajukan motornya.


"Nyesel gue! Nyuruh lo nangis, tau gini gue tadi ogah nawarin lo nangis!"


Faya yang berada di jok belakang pun memajukan bibirnya, gadis itu menggunakan jaket Kevin sebagai lap untuk membuang ingusnya.


Lagi dan lagi, Kevin di buat kesal. "Fay, kira-kira dong! Ini jaket baru kemarin gue beli, jaket limited. Susah buat dapetinnya!" seru Faya memperingatkan.


Bukanya menyudahi aktifitasnya, gadis itu semakin menjadi, ia semakin mengelap ingusnya di sana. Hingga, jaket tersebut tak berupa lagi. Kevin mulai berteriak. "Astaga, dosa apa yang telah hamba perbuat."


"Gue turunin lo disini kalau masih kaya gini!" ancam Kevin.

__ADS_1


Faya yang masih terisak pun, langsung memukul helm Kevin beberapa kali. "Tega banget lo! Temen macam apa coba, gue ini lagi sedih, kenapa lo nggak nenangin gue!"katanya di iringi suara sesegukan.


Kevin menginjak remnya dalam-dalam, saat mendengar penuturan Faya yang begitu menyebalkan. Faya yang belum siap dengan tindakan Kevin pun harus merelakan keningnya terpentok oleh helm milik Kevin.


"Lo, jahat banget sih, Vin. Seenggaknya, kalau mau berhenti kasih aba-aba kek, jadi cowok nggak peka!" seru Faya, yang kembali melayangkan tangannya untuk memukul helm Kevin.


Lelaki itu membungkukkan tubuhnya, melipat kedua tangannya dan menaruhnya tepat di atas tangki. Menghela napasnya beberapa kali, nampaknya ia mulai frustasi dengan tingkah laku Faya.


"Harusnya gue yang bilang jahat ke elo, Fay. Elo udah sukses bikin gue malu tadi!"


Faya melayang-layangkan kakinya ke udara, sudah seperti anak kecil yang meminta balon. Gadis itu tak mau di salahkan, meskipun memang dia sumber masalah yang membuat Kevin menjadi tersangka.


Faya mengigit bibir bawahnya, menutup mulutnya rapat-rapat. "Hati gue sakit, Vin."


Hati Kevin sesaat melunak, lelaki itu menoleh saat jari-jari Faya meremas jaket tersebut dengan cukup kuat.


Menghela napasnya kembali, ia tak ingin mengambil resiko dengan membiarkan Faya berteriak-teriak tak karuan seperti tadi. Kevin segera menyalakan mesin motornya, melanjutkannya dengan pasti.


Sampai di halaman rumah Faya, lelaki itu langsung melepas jaketnya. "Cuci sampai bersih! Gue!" perintah Kevin seraya melemparkan jaket ke arah Faya.


"Udah dong nangisnya, kasihan tante kalau denger lo nangis kaya gini, entar di kiranya elo kesurupan." ledek Kevin.


Faya mengerucutkan bibirnya, ia tak menanggapi ucapan Kevin, ia melangkah masuk tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


Kevin hanya menggeleng pelan, lelaki itu kembali melajukan motornya.

__ADS_1


__ADS_2