Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Ketakutan 2


__ADS_3

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!"


Salsa berteriak sangat keras dan nyaring, mungkin dengan suara se-nyaring itu, dua mampu memecahkan rentetan gelas kaca dan merusak gendang telinga siapa saja yang ada di dekatnya. Semula, gadis itu tak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali karena rasa panik yang berlebihan membuat syaraf-syaraf di tubuhnya lumpuh sementara.


Tapi, di saat dia sudah sangat terdesak, seketika syarafnya kembali pulih dengan sangat cepat dan energinya kembali berkumpul begitu saja menjadi satu untuk menghasilkan kekuatan level maksimal hanya untuk sebuah teriakkan untuk melindungi diri.


Terlihat seorang laki-laki bertubuh jangkung, yang berada di belakang Salsa menurunkan cengkraman-nya dari pundak gadis tersebut dan secepat kilat menutup kedua telinganya dengan tangan. Kemungkinan lelaki itu takut akan tuli karena mendengar teriakan Salsa yang begitu kencang.


Sedangkan gadis itu masih berteriak dan berharap ada seseorang yang datang menolongnya.


"Aaaaaaaaaa.... PENCULIK!!!"


Blub!!


Tangan lelaki itu langsung membekap mulut Salsa.


"Emmmm....Hemmm....Mmmmm!!"


Salsa berusaha memberontak dengan kedua tangannya, berusaha melepaskan tangan lelaki itu dari mulutnya. Lelaki itu melepas bekapannya dari mulut Salsa, kemudian memutar tubuh Salsa yang semula membelakanginya agar dapat menghadap dirinya. Lalu melingkarkan salah satu tangannya ke atas punggung Salsa dan yang satunya lagi memegang tangan Salsa agar tak lagi memberontak. Namun dengan posisi yang menempel satu sama lain.


"Lo bisa diem nggak! Suara lo itu bikin sakit telinga gue! Dan satu hal lagi! Gue ini buka PENCULIK!" kata lelaki itu tegas, dan tepat di depan wajah Salsa.


Salsa langsung terdiam.


Salsa kaget, karena yang membuatnya ketakutan bukanlah seorang penculik yang bertubuh besar dan bertampang seram seperti yang di gambarkan oleh orang-orang. Melainkan seorang lelaki yang memakai baju rapi, seperti anak kuliahan. Mereka berdua sangat amat dekat dan saling menempel, keduanya saling menatap satu sama lain dengan beradu pandangan. Salsa mengamati wajah lelaki yang ada di depannya dengan sangat detail.


Alis mata yang tebal dan pekat seperti memayungi sorot mata yang begitu tajam namun sayu, ditambah bulu mata yang panjang dan lentik. Hidung yang ramping dan mancung ke depan membuatnya tampak seperti pria dengan nuansa eropa. Guratan urat nadi yang begitu kekar terlihat jelas menonjol di sekitar keningnya, membuat parasnya benar-benar terlihat maskulin. Salsa tidak sadar memandangi begitu lama. Menurutnya seorang lelaki yang mempunyai wajah seperti blasteran memiliki nilai plus dan patut untuk di pelihara.


Endus... endus... endus...


"Dih, baunya pesing banget! Lo betah ni, nggak ganti baju!" ujar lelaki itu sambil mengedus-endus udara di sekitar Salsa. Terlihat hidung mancungnya itu naik turun.


Jdrettt!!!


Bagai di sambar petir di siang bolong. Perkataan lelaki itu langsung membuat Salsa dihujani meteor yang beratnya berton-ton, urat nadi berserta syaraf-syaraf di tubuhnya seperti terputus dan ingin menjalar keluar dari tubuh mungilnya itu. Yang lebih parahnya lagi, otaknya seperti memilih untuk berhenti berfungsi dan ingin segera pergi meninggalkan dirinya untuk mencari pemilik baru yang tidak akan melakukan hal bodoh dengan mempermalukan diri sendiri di hadapan seorang lelaki. Terlebih cowok itu terlihat sangat tampan.


Salsa dengan segers melepaskan diri dengan mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh dari dirinya. Salsa merasa benar-benar malu dan gugup dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ngompol di depan cowok ganteng, hanya karena panik dan meneriaki orang lain sebagai penculik. Yah, mungkin bagi sebagian orang hal tak terduga seperti itu wajar jika terjadi saat kita panik, karena yang ada di pikiran kita hanyalah agar cepat terbebas dari situasi yang menegangkan seperti tadi.


Apa lagi jika Rey sampai tahu, bisa guling-guling dia saking senengnya. Bahkan gadis itu sampai berpikir jika sampai satu sekolahan tau, mereka pasti akan mengucilkan Salsa dan menganggap dirinya sebagai gadis jorok yang suka ngompol sembarangan. Tapi, cewek mana sih, yang nggak malu kalau dikatain bau pesing sama lelaki yang baru pertama kali di lihatnya dan notabennya masih seliweran di sekitar sekolahnya. Apa lagi di jaman sekarang yang paling di pentingkan adalah pamor dan remaja masa kini yang sok berlomba-lomba menaikan status sosial alias pengen di bilang hits.


"Please, jangan kasih tau ke siapa-siapa ya. Tentang kejadian hari ini, kalau ada yang sampai denger aku pasti akan diketawain sama satu sekolahan. Dan, pastinya aku bakalan mau banget," pinta Salsa dengan tampang memelas.


Lelaki itu hanya membuang napas ringan lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, dan melihat Salsa dengan wajah dingin.


Pikiran Salsa semakin tak karuan ketika melihat ekspresi seperti itu, lelaki itu seperti tak menggubris permintaan Salsa. Ia takut, jika lelaki itu akan berniat jahat dan menuntut hal yang macam-macam terhadapnya. Wajah Salsa berubah menjadi sedih dan murung.


Melihat wajah Salsa yang berubah seperti itu, membuat lelaki itu tiba-tiba menarik tangan Salsa dan menyeretnya bersandar di sebuah dinding tembok di dekatnya. Salsa sangat terkejut dengan apa yang di lakukan lelaki tersebut. Rasa takutnya kembali muncul menyusuri tubuh secara perlahan.


Lelaki itu mulai mendekatkan wajahnya ke arah Salsa. Jantung Salsa menjadi berdebar begitu cepat. Gadis itu berpikir, ini pertama kalinya dia bertemu dengan lelaki tampan ini, lelaki yang sungguh lancang dan tak tahu diri berusaha untuk mencium dirinya di situasi yang menegangkan ini. Salsa ingin sekali menghindari dan menyingkir dari cengkraman lelaki itu untuk kesekian kalinya. Namun, setelah mengetahui fakta bahwa lelaki itu sangat tampan, ia seolah terhipnotis, dan tak bisa mengelak, lebih tepatnya tidak ingin berusaha mengelak.

__ADS_1


Salsa memejamkan matanya dengan sangat rapat, ia merasakan napas hangat dari lelaki tersebut, semakin pekat dan perlahan mendekat merasuk ke pori-pori wajahnya. Gadis itu merasa jika sekujur tubuhnya yang ketakutan itu mulai di jalari oleh kehangatan yang merembet naik ke wajahnya. Wangi sekali, begitu pikirnya karena posisi mereka yang sangat dekat membuat Salsa bisa mencium aroma tubuh lelaki itu. Tanpa sadar Salsa mengangkat wajah dan mengarahkannya wajahnya ke arah lelaki tersebut.


Sejenak ia melupakan statusnya yang saat ini masih menjadi kekasih Dimas. Meskipun dua minggu ini sudah tidak ada kabar dari Dimas, ia seolah ingin melampiaskan rasa kecewanya terhadap Dimas yang sekian lama tidak menghubunginya.


Gadis itu juga melupakan jika beberapa hari lagi adalah hari anniversary mereka yang ke satu tahun. Baginya, itu adalah hal berharga, karena itu akan menjadi kali pertama dalam hidupnya merayakan hari jadi sebuah hubungan bersama seorang lelaki. Tapi sepertinya, hari itu tak akan menjadi hari yang di harapkan oleh Salsa, keadaan dan suasananya akan berbeda dengan yang telah ia rencanakan sebelumnya.


Perlahan Salsa mulai merasakan napas lelaki itu berpindah dan mengarah ke arah telinga kanannya. Hangatnya masih terasa seperti mengepul yang tertinggal di


lapisan pori-pori wajahnya. Kepala Salsa seakan bergerak mengikuti kemana arah napas itu berpindah. Gadis itu merasa hawa itu semakin dan makin dekat di telinganya. Angin bergesir begitu lembut melintasi mereka berdua. Salsa masih tetap memejamkan matanya, menantinya, menikmatinya, hingga lupa diri dan tak sadar bekas basahan di roknya mulai mengering dan membentuk sebuah pola.


"Oh, jadi elo yang suka maling gorengan di kantin? Pantesan aja, nyokap gue selalu ngeluh tiap pulang ke rumah, katanya gorengannya nggak untung!" bisik lelaki itu tepat di telinga Salsa.


Bezzzt!!!


Dalam sekejap, moments romantis yang benar-benar di hayatinya langsung terhempas dan lenyap begitu saja. Salsa segera membuka mata dan kembali menyadari bahwa ia telah berulang kali mempermalukan dirinya sendiri, di hadapan seseorang yang baru saja ia temui. Dalam sehari, ia membuat harga dirinya seperti terinjak-injak karena kecerobohan dan kegeeran-nya. Muka gadis itu sudah terlanjur memerah karena malu, tapi ia masih berusaha membela martabatnya.


"H-Heh... sembarangan ngatain orang maling!" bantah Salsa dengan mendorong lelaki itu dengan keras sampai hampir terjatuh.


"Terus, yang tadi ngaku sendiri habis maling siapa?" sambung lelaki itu.


"Itu kan nggak sengaja! Cuma sekali, dan aku nggak tau kalau ngambilnya kelebihan!" bantahnya.


"Oh, nggak sengaja? Kalau tau itu kelebihan kok nggak di balikin lagi sih?" tanya cowok itu sambil nyengir.


"Yah... yah... kan mumpung gitu, loh! Pas aku lagi lapar juga!" Salsa kehabisan akal untuk mengelak.


"Hahaha.... dasar tukang ngutil! Oh, iya. Rok elo udah ngebentuk pulau, tuh!" ledek lelaki itu di ikuti dengan nada cekikikan.


Salsa baru menyadari bahwa bekas di depan rok yang terkena air seninya perlahan mulai kering dan membentuk pola, jika tidak segera menggantinya maka polanya akan terlihat semakin jelas dan berubah warna menjadi agak kecoklatan. Ia segera menutupinya menggunakan tangan, tapi ia tidak bisa menutupi seluruhnya karena merembes hampir ke seluruh bagian depan roknya.


Di samping itu Salsa berpikir sepertinya lelaki itu bermulut besar dan suka mempermalukan orang lain. Jika tidak segera membungkam mulut besarnya, Salsa takut lelaki itu akan menyebarkan kejadian hari ini ke seluruh penghuni sekolahnya, sehingga ia akan lebih di permalukan. Salsa berinisiatif mengawali nego dengan lelaki itu.


"Please, jangan kasih tau kejadian ini ke siapa-siapa, ya." pinta Salsa dengan memasang wajah imutnya, biasanya ia melakukannya ketika meminta bantuan ke temen laki-laki di sekolahnya, dan itu selalu berhasil karena memang wajahnya yang imut mampu meluluhkan hati setiap lelaki yang memandangnya.


Lelaki itu hanya mengernyitkan keningnya.


"Jadi, ceritanya lagi nyogok pakai wajah sok imut, nih?"


'Yah, kok dia tahu?' herannya dalam hati.


"Enggak kok! Ini kan permintaan sesama manusia, masa kamu tega ngeliat aku di bully, gara-gara kamu ngebocorin hal ini di sekolah nanti?" lanjutnya dengan nada memelas.


"Nggak tertarik, tuh!" lelaki itu segera menjawab dengan ketus.


"Hah, seriusan?" Salsa melemas dengan seketika.


Lelaki itu terdiam sebentar, lalu melihat ke arah wajah Salsa.


"Hem, tapi kayaknya ini bakalan jadi berita paling seru, di abad sekolah Gabriel Sanjaya," ujar lelaki itu dengan nada mengejek.

__ADS_1


Salsa kaget mendengar perkataan lelaki itu. Ia benar-benar khawatir jika lelaki itu serius akan membeberkan kejadian hari ini ke seluruh penghuni sekolah.


"Please, please, jangan dong! Nanti aku bakalan di jadiin bulan-bulanan warga sekolah, please..." Salsa terus memohon dengan melasnya, berharap lelaki itu akan merubah pikirannya dan membuat hari ini menjadi sebuah rahasia yang tidak akan di ketahui oleh siapa pun kecuali mereka berdua.


"Lagian kamu tuh kenapa, sih? Ngikutin aku sampai kesini? Jangan-jangan kamu cowok yang selama ini nguntit aku, ya?" sambung Salsa dengan penuh curiga.


Lelaki itu terlihat keheranan dan langsung menyangkal pertanyaan Salsa.


"Hah, nguntit elo! Halo... apa untungnya?"


"Terus, kenapa kamu tadi jalan di belakang aku, sampai nakutin aku pakai suara berisik kaya tadi?"


"Lah, gue tiap hari emang biasa lewat sini dah! Tadi gue nggak sengaja nendang kucing, terus dia lari nabrak tong sampah. Jangan GR, deh!"


"Alasan yang nggak masuk akan banget! Lagian, nggak ada suara kucing juga. Tadi kamu sempat ngilang pas aku nengok kebelakang?" Salsa terus menanyakan hal-hal sampai rasa penasarannya terjawab.


"Wohoooo.... Elo nggak tau ya? Gue ini keturunan Limbad!" ucap lelaki itu nyeleneh.


Wajah Salsa berubah menjadi masam, saat mendengar ending dari pertanyaannya itu. Ia merasa semakin sebal, dan berharap tidak akan pernah bertemu dengan lelaki itu lagi di gang ini atau pun di kantin. Tapi, ia tetap berharap lelaki itu tidak akan membuka mulut ke siapapun tentang kejadian hari ini.


"Terserah! Tapi, please. Aku beneran mohon sama kamu jangan kasih tau ke siapapun tentang masalah ini." Salsa terus memohon kepada lelaki itu. Ini pertama kalinya ia memohon kepada seseorang yang baru pertama kali dilihatnya itu. Ia tidak menyangkan bahwa hari-hari baiknya selama ini ternodai dengan kesialan hari ini.


"Please." Salsa kembali memohon dengan kedua tangan yang menyatu, dan mata yang mulai berkaca-kaca.


Lelaki itu menjadi tak tega karena terus-terusan menjahili Salsa yang sudah terlihat sangat gundah karena kepopulerannya akan di pertaruhkan hari ini dan di tangan lelaki itu. Lelaki itu, akhirnya menyudahi keisengannya. Tapi, untuk sebuah rahasia sebesar ini bagi seorang gadis yang begitu mementingkan kepopulerannya, ada harga yang harus d bayarnya.


"Oke, tapi ada satu syarat, kalau elo mau gue simpan rahasia ini," lelaki itu menawarkan.


Mata Salsa berubah menjadi berbinar-binar. Berarti ia telah sukses bernegosiasi dengan lelaki menyebalkan itu, meskipun dengan jaminan bersyarat.


"Apa?" tanya Salsa penasaran dengan apa syarat yang akan di ajukan oleh lelaki itu.


"Besok, saat elo pulang sekolah kita ketemuan di belakang sekolah, kalau sampai elo nggak dateng...." lelaki itu tidak melanjutkan kata-katanya, namun ia memberi tanda isyarat dengan mengarahkan tangannya ke lehernya seolah-olah seperti sedang memotong leher. Ya, mungkin maksudnya jika Salsa sampai tidak datang menemuinya, itu artinya. 'Mampus Kau!'


Salas tidak tahu harus senang atau ngeri, tapi yang jelas lelaki itu sudah bilang tidak akan membocorkan rahasianya kepada siapapun. Setidaknya, Salsa s-e-d-i-k-i-t aman, asalkan dia menemui lelaki itu sepulang sekolah. Salsa tidak tahu apa yang di inginkan oleh lelaki itu. Tapi, ia pasti akan menemuinya.


"Oke, kita akan ketemu di belakang sekolah, besok. Tapi janji ya, jangan bilang sama siapa-siapa?"


"Ya." balasnya singkat.


Lelaki itu kemudian berlalu meninggalkan Salsa, langkah kakinya semakin jauh.


"Woy... tunggu!" teriak Salsa. Lelaki itu berhenti di tempatnya lalu menoleh.


"Nama kamu siapa?" tanya Salsa masih dengan berteriak.


"Leon!" balas lelaki itu singkat. Kemudian melajukan langkahnya kembali, meninggalkan Salsa.


"Hem... Leon? Nama yang bagus," gumam Salsa pelan seraya beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2