
Faya terpaksa mengikuti Bella berkumpul bersama dengan yang lainnya di sebuah restoran cepat saji. Matanya tak lepas dari sosok Aldy yang sedang duduk berdampingan dengan cewek lain sebut saja Zea. Ia *******-***** rok selutut nya dengan penuh kekesalan. Alis Bella terpaut saat melihat pergerakan tangan Faya yang napak begitu kesal. "Lo kenapa fay?" ucapnya menepuk pundak Faya pelan.
"Nggak papa, males aja ngeliat orang mesra-mesran," balasnya dengan nada pelan agar tak terdengar oleh yang lainnya.
Mata Bella kini beralih menatap ke arah Aldy. "Elo beneran suka sama dia?" tanya Bella dengan menunjuk ke arah Aldy menggunakan dagunya.
"Nggak... males banget suka sama cowok plin-plan," ucap Faya bohong dengan wajah kesalnya.
Bella menepuk-nepuk tangan Faya dengan pelan, ia meminta Faya agar lebih tenang.
Tak lama Fella dan Arska datang, dan langsung duduk di samping Faya.
"Udah lama nunggunya?" tanya Arska saat sudah bergabung dengan teman-temannya.
"Enggak kok baru beberapa menit," sahut Bella.
"Maaf ya... aku tadi ketiduran jadi nggak bisa on time," ucap Fella seraya mengambil daftar menu yang ada di hadapannya.
"Tenang aja fel, kita nggak papa kok," sahut Zea yang masih menggelayut di lengan Aldy, Aldy tanpa menolak justru tersenyum tanpa henti.
"Kalian nggak pada pesan?" tanya Fella kepada semua penghuni meja.
"Kita udah pesan, tinggal nunggu aja fel," jawab Zea.
Di saat sedang asyik mengobrol tatapan Faya beralih melihat ke arah sudut lain. "Dasar cowok buaya darat, ngakunya sayang sama gue, bilang sama Kevin kalau gue ceweknya. Sedangkan sekarang dia malah asyik sama cewek lain," gerutu Faya dalam hati.
Aldy mengamati betapa kesalnya Faya saat ini, tapi ia tak mau jika harus menyapanya terlebih dahulu. Aldy ingin Faya yang menyapanya terlebih dahulu. "Aku pengen liat kamu bakalan cemburu apa enggak waktu ngeliat aku sama cewek lain fay," batin Aldy.
Kedua insan itu sibuk menggerutu dalam hati, hingga makanan yang mereka pesan pun tiba. Faya yang bisanya paling lahap makan, kini selera makannya hilang, ia hanya memakan beberapa suapan dan sisanya hanya di aduk-aduk tak karuan. Sesekali ia melirik ke arah Aldy, tapi Aldy tak menghiraukannya ia sibuk berbincang dengan Zea. Setengah jam kemudian meraka baru menyelesaikan makanan yang ada di hadapan mereka sambil sedikit mengobrol dan bercanda hingga topik pembicaraan berganti saat Dilan meminta solusi untuk urusan percintaannya.
"Gimana caranya bikin pasangan kita makin lengket sama kita fel?" tanya Dilan dengan bertopang dagu.
"Di kasih lem lan, biar nggak kemana-mana," seru Aldy dengan khas ngakak nya.
"Gue nggak nanya ke elo nyet, gue nanyanya ke Fella,"
"Kok elo nanya ke gue sih lan?" balas Fella.
"Ya gue pengen tau aja, soalnya si gunung es bisa cair gitu sama elo dan nggak mau jauh-jauh dari elo. Gue pengen tau resepnya," balas Dilan sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Gini ya lan, gue nggak pakai resep apa-apa. Yang pastinya gue selalu punya prinsip gimana caranya biar bisa bikin pasangan gue selalu nyaman kalau ada di dekat gue, jelasnya"
"Prinsip elo apa fel? kalau boleh tau, siapa tau bisa gue praktek-kin sama Regina."
"Hahaha.... seneng banget deh ada yang perhatian sama Regina, gue kapan ya di perhatiin kaya gitu," celoteh Zea yang langsung melirik ke arah Aldy.
__ADS_1
"Sayangnya Regina nggak ada di sini, pasti seru kalau di ikutan kumpul," tukas Bella yang ikut membuka suara.
"Brayu juga nggak dateng, apa elo nggak kangen sama dia bel?," tanya Aldy sedikit meledek.
"Rese lo... gue nggak nanyain itu orang ya," ketus Bella.
Suasana meja kini mulai gaduh hanya Faya yang terdiam seribu bahasa. Fella yang ikut tertawa kini mengamati sekelilingnya, hingga matanya tertuju ke arah Faya, ia mulai memutar otaknya sejenak.
"Fel, elo belom jawab pertanyaan gue, dua cecunguk ini malah bikin buyar pembicaraan gue sama elo. Please kasih tau gue prinsip elo apa, biar bisa gue praktek-kin fel," pinta Aldy dengan wajah yang sengaja di melas-melas-kan.
"Itu dokumen rahasia gue lan, nggak boleh ada ya sampai tau, nanti nggak seru kalau semua pada praktek-kin," celoteh Fella yang langsung tertawa ketika melihat ekspresi wajah Dilan yang berubah masam.
"Ya elah fel... pelit banget ," Protes Dilan.
"Hahaha... itu mah harus dari hati elo sendiri lan nggak bisa kalau dari orang lain. Coba deh lo nanya ke Faya, biasanya dia punya banyak kata-kata yang oke buat motivasi, misalnya tentang cinta."
Semua mata kini mengarah kepada Faya. "Kenapa kalian ngelihatin gue sampai segitunya?"
"Kita perlu kata-kata motivasi dari elo, please," celoteh Zea yang lebih dahulu bersemangat.
Faya menghembuskan nafasnya dengan perlahan. "Cinta bukan Matematika yang menghitung banyaknya angka... Cinta bukan juga Ekonomi yang selalu mementingkan materi.... Bukan juga PPKn yang selalu mengurusi undang-undang Negara..... Tapi... Cinta adalah sebuah sejarah yang perlu kita kenang dan kita jaga di dalam hati.."Faya tersenyum getir sebelum akhirnya ia membuka suaranya kembali. "Tapi jangan salah taruh hati, salah dikit bisa retak, kaya gue yang salah pilih akhirnya sakit hati sendiri," lanjutnya sambil melirik ke arah Aldy dengan tatapan sendu.
"Wow... soal mata pelajaran semua bisa di jadiin motivasi juga dan lucunya itu semua tentang cinta, tapi panel terakhir bikin gue nggak minat," gumang Zea yang kini mencuri pandangan ke arah Aldy.
Semua yang mendengar ucapan Faya, hanya garuk-garuk kepala. "Ini mah... ditunjukin buat Aldy," batin Bella.
"Dasar cowok ngeselin, gue udah ngomong kaya gitu di malah mainan kuku. Cowok plin-plan," batin Faya yang mulai darah tinggi.
"Sengaja nyindir aku kamu fay, awas aja entar" batin Aldy.
Faya menyahut tasnya dan segera pamit pulang, ia tak mau lebih lama lagi melihat pemandangan mengesalkan di depan matanya itu, yang ada matanya bisa buram karena melihat cowok yang di sayangi nya bermesraan dengan cewek lain.
"Gue juga pulang duluan ya," ucap Aldy seraya menyambar jaket yang ada di samping kursinya.
"Lah... kok pulang dy?" tanya Zea kebingungan.
"Gue mau kejar pacar gue, kayaknya dia bener-bener ngambek karena ulah gue barusan," jelasnya seraya berlari mengikuti Faya.
Sontak ucapan Aldy membuat seisi meja melongo dengan ucapnya.
"Pacar? jadi cewek yang tadi di sini itu pacarnya Aldy?"
Mereka hanya geleng-geleng kepala karena mereka benar-benar tidak tahu jika Faya dan Aldy sudah resmi pacaran, mendengar berita kedekatannya pun hanya sekilas info.
Zea mengerucutkan bibirnya. "Gue patah hati, salah letak bisa retak...kenapa panelnya pas banget buat gue," celoteh Zea dengan menghentak-hentakan kakinya, ia benar-benar sakit hati. Fella segera menghampiri tempat duduk Zea dan mencoba menenangkannya agar tak makin nelangsa.
__ADS_1
...°•°©inta Untuk Fella°•°...
Faya berjongkok dengan tangan yang di lipat di lututnya dengan wajah yang tersembunyi di sana. Jantungnya bertalu dengan cepat. Helaan nafasnya keluar beberapa kali untuk mengusir rasa kesal yang menyelimuti hatinya. Faya bahkan harus berlari keluar agar Aldy tak bisa mengejarnya. Dan disinilah dia sekarang. Berada di luar restoran di gang yang cukup sempit yang jarang di lewati oleh orang-orang.
Mencari tempat sembunyi yang tak dapat di temukan oleh si buaya darat itu. "Bodoh... banget sih kamu fay, bisa sayang sama cowok model kaya gitu," ucapnya dengan tangan yang terus memukuli kepalanya pelan.
Hingga sebuah tangan menghentikan pukulannya pada kepalanya dan itu membuat Faya menjerit karena kaget, ia tak mau melihat kedepannya.
Aldy sudah ikut jongkok dengan posisi menghadap Faya. "Jangan suka pukul-pukul kepala, emangnya nggak sakit?" ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Aldy.
Faya langsung membuka matanya saat mengenali suara familiar tersebut dan menatapnya dengan tajam ke arah mata Aldy dengan sinis. "Kenapa nggak mesra-mesraan lagi sama tuh cewek," cicit Faya yang kembali menundukkan kepalanya lagi. Faya seperti mbah dukun yang sedang komat-kamit karena tak henti-hentinya menggerutu.
Sedangkan Aldy belum juga membuka suaranya, ia masih setia mendengarkan celotehan Faya yang menurutnya penting untuk di dengar.
"Aku nyesel sayang sama kakak," teriaknya dengan mata yang mulai memanas.
Seulas senyuman menghiasi wajah Aldy, ia mengangkat dagu Faya dengan pelan. "Kamu nggak perlu teriak-teriak biar orang lain tau kalau kamu nyesel karena udah sayang sama aku. Dan aku perlu ingetin ke kamu kalau kamu nggak sia-sia sayang sama aku, karena pada dasarnya aku juga udah terlanjur jatuh hati sama kamu Faya. Aku bakalan bikin kamu nggak lepas dari pandangan aku meski hanya seinci."
"Kakak nggak perlu ngehibur aku dengan kata-kata kuno kakak, besok akhirnya juga di ulangi lagi."
"Aku mungkin terlalu bodoh sampai aku nggak menyadari tentang perasaan kamu ke aku waktu itu, tapi aku sadar yang patut aku perjuangin itu cewek yang bener-bener tulus sayang dan suka sama aku bukan karena hal lain. Aku sengaja pengen ngelihat kamu cemburu apa enggak waktu ngeliat aku sama cewek lain mesra-mesraan di depan kamu. Itu sebagai bukti aku ngetes ke keseriusan kamu ke aku," jelas Aldy.
Faya menampakan wajah jeleknya yang akan menangis, ia masih kesal dengan sikap Aldy yang kekanak-kanakan. "Jahat...," ucap Faya lirih.
"Tapi sayangnya, yang kamu sebut jahat ini mencintai kamu," wajah Aldy lempeng sekali mengatakan itu, tangan kananya menarik sudut bibir Faya, agar Faya sedikit bisa tersenyum.
Faya bisa apa jika mendengar ucapan cinta dari Aldy kepadanya selain mengurungkan niatnya agar tak memulai drama marahan untuk jilid kesekian kalinya.
"Sumpah ya kakak pintar banget bikin hati aku berbunga-bunga dan pintar juga bikin hati aku kacau," celotehnya.
"Jangan sedih lagi ya my baby," ucap Aldy seraya mencubit pipi sebelah kiri Faya.
Wajah Faya kini berubah menjadi merah karena ulah Aldy.
"Kenapa mukanya merah gitu? Alergi?" Aldy
terlihat tersenyum untuk mencibir kekasihnya. Tak merasa kasihan pada gadis itu yang susah payah menyembunyikan rasa malunya.
Faya tak menjawab. Dia kembali menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya dan merengek pada dirinya sendiri. Aldy kembali memegang pucuk kepala Faya. "Nggak mau liat aku."
"Eeemmm...." begitu gumam Faya.
"Jangan gitu dong sayang, udah ya ngambeknya kan aku udah jujur sama kamu," ucap Aldy mulai merayu.
Faya kembali mengangkat kepalanya. "Kita resmi pacaran?" tanya Faya memastikan.
__ADS_1
Aldy mengangguk pelan dan segera menarik tubuh Faya agar jatuh kedalam pelukannya. Sepanjang perjalanan pulang mereka mengobrol kan apapun dan berusaha tak membahas lagi hal konyol yang di lakukan Faya. Faya mencoba menuruti kata hatinya, yaitu menikmati kebersamaan selagi ada waktu.