Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Terlalu Nyaman


__ADS_3

Fella mondar-mandir di dalam sebuah ruangan yang jarang sekali di di kunjungi mahasiswa lain, menggigit jari telunjuknya dan mengingat tindakan yang barusan ia lakukan. Kini ia lebih memilih berjongkok, dengan tangan yang di lipat di atas lutut dengan wajah yang bersembunyi di sana. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Helaan nafasnya keluar beberapa kali untuk mengusir rasa malu yang dirasakannya.


Dia harus berlari keluar kantin dan mencari tempat bersembunyi, seperti sedang melakukan tindakan kriminal.


Dan sinilah Fella sekarang, berada di aula kampus dengan perabotan yang hanya di pergunakan setahun sekali untuk melakukan pentas seni dan lainnya.


"Mau di taruh mana muka gue kalau ketemu Arska entar? Bisa di ledekin abis-abisan! Kenapa tadi gue nggak ngeliat dia ada di sana sih." Keluhnya pada diri sendiri, kipas angin yang memang selalu menyala di dalam ruangan tersebut membuat rambutnya berterbangan dan menguarkan wangi sampo yang di pakainya.


"Bukannya wajah memang akan selalu berada di depan ya? Nggak mungkin kan kalau wajah letaknya berubah jadi di ubun-ubun."


Fella berteriak karena merasa kaget dengan ucapan lelaki yang menurutnya tak asing lagi terdengar di telinganya. Ya suara lelaki itu adalah Arska, lelaki itu sudah ikut berjongkok menghadap Fella. Dan sialnya, masih ada jejak tawa di wajah tampannya itu.


"Kamu ini manusia atau apa sih? Suka ngilang secara tiba-tiba dan pergi tiba-tiba pula." Fella memang terlalu berlebihan, kalau ia tak sibuk dengan rasa malunya, dia pasti akan merasakan jika ada orang lain yang datang. Tapi sayangnya, ia terlalu menikmati acara bersembunyi-nya.


"Kenapa muka mu merah gitu? Alergi?" Arska terlihat menyeringai senyumnya terlihat ingin mencibir kekasihnya itu.


Fella tak menjawab, dia kembali menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya dan merengek pada dirinya sendiri. Arska menggerakkan tangannya untuk menyentuh pucuk kepala Fella seraya berkata. "Kamu nggak mau liat aku?"


"Emmmmm." Begitu gumam Fella.


"Oke." Arska berdiri dan meninggalkan Fella yang bertingkah konyol itu.


Mendengar suara langkah kaki, Fella mendongak dan mendapati Arska sudah berjalan agak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Dengan mata membulat Fella berlari mengejar Arska.


Dan langsung menubruk-kan tubuhnya ke tubuh lelaki itu dan langsung melingkarkan tangan di pinggang Arska. Sontak saja, Arska langsung menghentikan langkahnya dan melihat tangan Fella susah berada di perutnya.Meskipu terhalang oleh tas, tapi Arska dapat dapat merasakan pipi Fella yang menempel di punggungnya.


"Sayang," ucap Fella dengan suara manja. Ada seringaian kecil yang terbit di bibir Arska.


"Katanya nggak mau lihat aku. Lepas!" Serunya, bermain-main sebentar dengan Fella sepertinya bukan ide yang buruk juga.


Seketika ketika Arska mengucapkan kata tersebut Fella langsung melepaskan tangannya untuk bisa berdiri di depan lelaki itu.

__ADS_1


"Ih.... bercanda tau yang, mana ada aku nggak mau liat kamu lagi. Bisa rindu berat aku kalau hal itu sampai terjadi. Aku cuma mau aja kalau ingat kejadian tadi di kantin." Wajah Fella kembali merona setelah mengingat hal konyol yang dilakukannya di kantin tadi.


"Tadi di liatin sama orang-orang yang ada di kantin kamu nggak malu? Kenapa sewaktu aku bilang cinta, kamu malah malu. Ah....jangan-jangan kamu malu karena aku bilang cinta ke kamu ya?" Arska sepertinya belum puas untuk mengerjai Fella saat ini.


Bahkan saat wajah Fella terlihat panik karena ucapannya pun, Arska tetap memasang wajah datarnya.


"Bukan, bukan kaya gitu. Tapi karena aku bertingkah malu-maluin tadi. Ih.... sayang jangan marah ya." Fella menggoyang-goyangkan lengan Arska karena tak ada reaksi dari kekasihnya itu.


"Sayang," rengek-nya sekali lagi. Karena Arska tak kunjung meresponnya.


Arska tak mau membuang waktunya terlalu lama, cowok itu segera mengangkat dagu gadis itu dan menuntunnya untuk lebih dekat ke arah bibirnya. Arska pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membungkam bibir Fella agar tak terlalu cerewet lagi.


'Siapa suruh kamu bersembunyi di tempat seperti ini! Bahkan aku pun tergoda saat melihat bibir mu yang selalu bergetar jika sedang merengek seperti ini,' batin Arska dengan memejamkan matanya.


Lima detik kemudian Arska melepaskan ciumannya, menghela nafas sesaat sebelum akhirnya membuka suara. "Itu hukuman buat kamu, karena tindakan konyol yang kamu lakukan tadi, dan bersembunyi di tempat seperti ini sampai aku nggak bisa mengontrol pikiran aku untuk tidak mencium mu. Biar bagaimana pun aku ini pria normal." Arska menatap Fella dengan tatapan intensnya, lelaki itu memegangi kedua pipi gadis yang sekarang berada di hadapannya, seraya berucap. "Jadi jangan sembunyi lagi. Kamu mau kan ngeliat aku lagi?"


"Mau."


"Kenapa? Habis aku cium langsung mau liat aku?"


"Aku juga sayang kamu, Fella Anastasia Cantika."


Ucapan Arska membuat Fella kelimpungan karena bahagia. Di dalam hati, Fella menghitung sudah berapa kali Arska mengatakan cinta kepadanya.


Dan Fella mulai sibuk mengingat. Ketika sebuah jawaban muncul di kepalanya, senyumnya terbit lebar sekali.


Kenapa lelaki itu begitu mudah mengatakan cinta? Bahkan hari ini, dia sudah mengatakan kata cinta sebanyak tiga kali. Apa karena Fella baru saja sembuh dari sakit? Atau mungkin karena Arska merasa bersalah dengan tindakannya yang begitu cuek terhadap Fella beberapa hari ini.


Tapi Fella merasa beruntung mendapatkan cinta dari seorang Arska Aregan yang. Lelaki pendiam di kala dengan perempuan lain dan tindak dengannya dan juga lelaki dengan segala pesona yang di milikinya.


"Mau terus di sini apa ikut keluar?" Tanya Aska saat keheningan mulai terasa.

__ADS_1


"Keluar, tapi kamu nggak boleh ngeselin lagi," ucap Fella mulai merajuk.


"Iya."


Merasa jawaban Arska melegakan hatinya Fella meraih lengan lelaki itu dan memeluknya erat.


"Nggak takut ada yang ngetawain lagi kalau ngeliat tindakan kamu yang kaya gini?" Tanya Arska saat sudah di depan pintu dan akan membukanya.


"Ngapain takut, aku kan nggak lagi selingkuh, lagian jalan kaya gini juga sama tunangan sendiri."


Arska hanya menampilkan senyumannya sekilas, melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan wajah yang kembali datar.


"Dasar cowok lucu, keluar kandang langsung pasang muka datar," gumam Fella dengan bibir mengerucut.w


"Aku bisa denger sayang, meskipun kamu memelankan suara mu sekaligus."


Arska benar-benar menyebalkan, tanpa meliriknya sedikit pun pemuda itu langsung menyindirnya dangan ucapan yang begitu pedas. Entah belajar darimana sikap menyebalkan-nya itu, padahal dulu ia selalu memperlihatkan sisi hangatnya.


"Kenapa cemberut?" Tanya Arska dengan tiba-tiba, padahal cowok itu tidak sedang menatap ke arahnya, tapi entah mengapa setiap apa yang di lakukan oleh Fella selalu saja cowok itu dapat mengetahuinya.


"Nggak papa, jalan sama patung kaya gini nggak keliatan buruk juga kok," ucap Fella dengan nada judesnya.


Seketika ucapan Fella berhasil membuat Arska menatap kearahnya. "Kamu bilang tadi apa? Patung?" Kening Arska terlihat mengerut.


"Iya! Patung kebo yang bisanya cuma diem, giliran di deketin sama cowok lain langsung kepalanya mendidih." Fella sengaja memancing perkara, agar Arska tak terlalu serius dengan setiap kegiatan yang di lakukan-nya, termasuk jika sedang bersama dengannya.


"Jangan paksa aku untuk cium kamu di depan umum ya ay!" Arska mendekatkan bibirnya ke arah telinga Fella, agar gadis itu segera menutup mulut bibirnya rapat-rapat.


"Lakuin aja jika kamu nggak takut dan malah di laporin ke dekan. Lagian ciuman kamu itu terlalu nyaman di bibir aku, mana nolak kalau kamu ngelakuin hal itu." Fella sengaja membalikan kata-kata Arska, karena setiap kali Fella melakukan kesalahan selalu saja Arska mengancam dengan kata-kata CIUM!


Arska memundurkan tubuhnya agar berjarak dengan Fella, wajahnya berubah menjadi semu merah, lelaki itu hilang konsentrasinya. Tanpa menunggu lama lagi, Arska berjalan meninggalkan Fella dengan wajah yang sudah tak karuan jantungnya berdesir dengan sangat cepat.

__ADS_1


Fella yang masih di tempat semula, melongo dengan tindakan kekasihnya itu, bisa-bisanya ia di tinggalkan begitu saja, tanpa mengucapkan satu kalimat pun. Gadis itu kini menghentak-hentakkan kakinya, saat mendapati tubuh Arska yang kian menghilang dari pandangannya itu. "Ih.... giliran udah dapetin yang dia mau langsung berubah jadi kutub utara. Kenapa nggak berubah jadi Ultraman aja sekalian, tanggung banget berubahnya," gumam Fella kesal.


Gadis itu kini kembali melangkahkan kakinya menuju ke kelas, karena memeng sebentar lagi ia ada kelas kedua dan tak mau terlambat. Urusan Arska biar saja nanti ia pikirkan lagi.


__ADS_2