
Senyum Fella kembali merekah dikala ia melihat sepasang kekasih di dalam film yang sedang melakukan adegan romantis dan hal itu tertangkap jelas oleh Arska yang terus memperhatikan kelakuan kekasihnya itu, sejak tadi mata hazelnya tak lepas memandang gadis yang ada di sampingnya. Fella menoleh ke samping dan baru menyadari jika kekasihnya itu sek dari tadi telah menatapnya. "Ayang ngapain ngeliatin aku kaya gitu?" tanya Fella seraya mengambil popcorn yang ada di pangkuan Arska, karena popcorn yang ada di pangkuannya telah habis.
"Seneng aja ngeliat kamu sebahagia ini, kaya ngeliat anak kecil yang baru dapet mainan baru," ledek Arska dengan jari telunjuk yang kini menyentuh hidung Fella pelan.
"Aku," Fella menunjuk dirinya sendiri. "Kaya anak kecil?" lanjutnya dengan kening berkerut sehingga alisnya hampir menyatu.
Arska mengangguk kecil, tawanya ia tahan sementara agar Fella tak semakin menampakkan wajah juteknya.
"Ngeselin, aku mau pulang aja kalau gitu."
"Ngambek lagi, baru juga separuh film yang kamu tonton, masak udah mau pulang, apa nggak sayang?" tanya Arska dengan nada bicara yang masih merendah.
"Abis... kamu ngeselin, coba kamu tadi nggak ngatain aku kaya anak kecil, nggak mungkin kan aku ngambek dan minta pulang," ucapnya bersedekap dada.
"Coba tebak, kenapa aku suka ngeliat kamu saat kamu ngambek kaya gini?"
"Karena kamu suka nyium aku secara tiba-tiba kalau aku baru majuin bibir kaya gini."
"Salah."
"Kok bisa salah?" tanya Fella yang cukup bingung, keningnya semakin manambah lipatan karena semakin cemberut.
"Karena kamu paling gemesin waktu pasang ekspresi wajah kaya gini, dan itu ngebuat aku pengen cium kamu," bisik Arska pelan, dan itu membuat Fella terperanjat, seketika wajahnya berubah menjadi merah.
"Itu sama aja Arska, dasar tukang kibul."
"Bukan tukang kibul, tapi aku itu tukang ngabulin permintaan kamu," ujar Arska seraya mengelus rambut Fella.
"Berati kamu jin-nya Aladut dong, yang," kini Fella yang bergantian meledek.
"Berarti kamu tunangan sama jin-nya Aldut," Arska nampak menyipitkan matanya, menatap lekat gadis yang tengah asyik menertawakannya.
"Hahaha...aku ganti aja, kebagusan kalau jin-nya Aladut, mending jin tomang aja," tunjuk Fella seraya menutup mulutnya.
Tawa Fella membuat seluruh penonton bioskop menoleh ke arahnya, tatapan mereka begitu sinis seperti akan melempar barang ke arahnya, suara Fella benar-benar menggangu penonton yang lain.
"Aduh... yang... kelepasan," Fella menutup wajahnya, ia benar-benar malu dan takut akan di amuk penonton lain.
"Makanya jangan suka ngeledek orang yang lebih tua, kualat kan," bisik Arska di iringi dengan senyum mengejek.
Fella tak membalas cibiran Arska, ia hanya melotot ke arah kekasihnya itu. Sebenarnya jika di perbolehkan Fella ingin sekali mencubit atau memukulnya saat ini juga.
__ADS_1
"Mata kamu itu udah sipit, jangan di lebar-lebarin nggak cocok," kata Arska dengan suara pelan.
"Tau...ah kesel banget aku dengerin ledekan kamu!" seru Fella yang kini kembali menatap ke depan, ia melanjutkan acara nontonnya dengan menguyah popcorn yang ia rebut dari pangkuan Arska, begitu banyak adegan yang ia lewatkan karena sibuk berdebat dengan Arska tadi.
Arska hanya mampun tertawa kecil melihat tingkah Fella yang tengah menahan kekesalan terhadap dirinya.
Pukul 20.30 mereka sudah melewati begitu banyak kejadian siang ini, bahkan acara nontonnya pun berantakan karena Arska terus mengusik konsentrasinya.
"Seneng nggak yang?" tanya Arska saat mereka sudah berada di luar bioskop.
Fella memutar bola matanya, nafasnya terlihat naik turun karena menahan kesal sejak tadi, tanpa ragu-ragu Fella segera mengeluarkan jurus cubitan dan pukul-pukul nya ke arah Arska.
"Ih...... kamu tuh jadi cowok ngeselin, aku udah tahan dari tadi, rasanya pengen pukul kamu," kata-kata gemas Fella akhirnya keluar, tangannya masih memukul Arska dengan pelan.
"Aduh... ay, enak banget pukulan kamu serasa di pijetin lengan aku. Ini mukul apa pukul-pukul gemes sih, aku kok jadi gemes pengen cium kamu di sini," kata Arska mulai merajuk.
Mulut bibir Fella terbuka cukup lebar, tak habis pikir dengan ucapan Arska yang begitu terang-terangan.
"Merinding aku lama-lama deket kamu," ujar Fella seraya memegangi ke dua lengannya.
"Sini aku peluk, biar nggak merinding," tawar Arska dengan merenggangkan tangannya.
"Nggak mau, bulu kudu ku jadi berdiri semua gara-gara ngeliat kelakuan aneh kamu," ucap Fella yang kini berlari kecil meninggalkan Arska.
Di luar mall Fella menghentikan langkahnya, ia menatap ke langit, cuaca malam ini sepertinya tak terlalu mendukung, nampak tetesan air turun satu persatu. Begitu asyik mengelilingi mall sampai lupa waktu pulang.
"Yah... kenapa harus hujan, aku belom sampai rumah," gumam Fella.
"Kenapa ay?" tanya Arska saat sudah berada di belakang Fella.
"Gerimis yang, tapi kita belom juga pulang, gimana kalau nanti kita kehujanan," raut wajah Fella nampak sedikit panik.
Arska yang melihat ekspresi Fella segera menariknya. "Baru gerimis kan? belom hujan," katanya seraya menarik pergelangan tangan Fella dan berlari ke area parkir.
"Tapi yang..." Fella tak melanjutkan kata-katanya, ia mulai ngos-ngosan karena ulah Arska yang tiba-tiba menarik tangannya tanpa memberi aba-aba.
"Nggak ada tapi-tapian, ia udah malam juga, mau sampai jam berapa kita nunggunya," kata Arska seraya memakai helmnya dan memakaikan helm untuk Fella.
Saat di rasa Fella sudah duduk di jok belakangnya Arska segera melajukan motornya. "Kamu pegangan yang kuat, aku bakalan ngebut ay."
Kata-kata itu membuat Fella senam jantung bukan main, sesekali ia menelan saliva-nya, berharap nyawanya dan raganya akan baik-baik saja. 'Bener-bener keterlaluan ini si Arska,' pikiran Fella sudah kemana-mana.
__ADS_1
Arska menambah gas kecepatan untuk menambah laju motornya. Fella menundukkan kepalanya, berlindung di balik punggung Arska sambil memeluk perutnya dengan erat. Tidak lama kemudian, rintikan gerimis mulai turun perlahan membasahi jalan. Gerimis itu langsung berubah menjadi hujan, hujan yang sangat deras. Tak ayal sepasang kekasih itu di guyur hujan, tanpa mantel ataupun jas hujan.
"Yang, kita berteduh dulu yuk, hujannya semakin deras," ajak Fella. Gadis itu berteriak agar suaranya dapat di dengar oleh telinga Arska, karena hujan menimbulkan suara yang cukup berisik.
Arska tak menjawab, tapi telinganya berhasil menangkap dengan sempurna suara Fella. Dengan segera, Arska membelokkan motornya ke arah pertokoan yang sudah tutup dan sepi. Mereka turun dan berteduh di sana. Baju mereka sudah basah kuyup di guyur hujan.
Fella menggosok kedua telapak tangannya untuk menciptakan kehangatan di tangannya yang sudah mengeriput akibat air hujan. Fella nampak kedinginan, Arska memandangi bibir Fella yang bergetar menahan dinginnya kota jakarta saat ini. Dengan sigap, Arska melingkarkan tangannya ke tubuh Fella dari belakang, memberi kehangatan pada tubuh kekasihnya itu. Fella tersentak kaget dalam pelukan cowok tampan tersebut. Ya ini bukan kali pertaman-nya Fella di peluk oleh Arska, yang membuat sedikit berbeda adalah kondisi mereka yang saat ini dalam keadaan basah.
"Udah ngerasa hangat?" bisik Arska di telinga Fella dengan suara lembutnya.
Fella yang diam dalam pelukan Arska, hanya mengangguk kecil.
"Kamu tau nggak, dulu aku nggak pernah takut sama hujan, tapi sekarang aku jadi takut," ucap Arska sambil memandangi derasnya hujan.
"Kenapa bisa takut? Padahal air hujan itu menurut aku bisa membuat hati kita sedikit tenang," tanya Fella memiringkan wajahnya sedikit agar bisa menatap Arska.
"Soalnya.... sekarang aku lagi bawa anaknya Om Angga sama Tante Merry. Kalau dia sakit, pasti aku kena omel dan di kira nggak bisa jagain tunangan dengan baik," ujar Arska di iringi tawa kecil.
Fella ikut tertawa dengan ucapan konyol yang barusan Arska ucapkan. Hening...tiba-tiba mereka saling terdiam cukup lama. Arska membalikan badan Fella, memposisikan gadis itu menghadap dirinya.
"Sepetinya aku sudah terlalu dalam menyayangi mu bahkan untuk kehilangan mu pun aku merasa tak sanggup," ungkap Arska sambil menatap dalam bola mata Fella.
Fella terdiam. Dia nampak malu dan hanya mampu menundukkan kepalanya.
"Jangan menunduk! Lihat aku!" pinta Arska.
Fella tetap menunduk tanpa berani menatap Arska yang berada di depannya, ia sudah tak bisa mengekspresikan wajahnya saat ini, wajahnya benar-benar memerah.
"Kamu keras kepala ya, ay! Oke...aku akan memberi mu hukuman kecil, karena kamu nggak mau nurutin perintah ku."
Dalam tundukan nya Fella membulatkan matanya, ia mengerti maksud hukuman kecil yang akan di dapatnya, baru beberapa gerakan ingin mengangkat kepalnya, Arska sudah terlebih dulu memegang dagunya, membenamkan bibirnya ke bibir Fella. Arska menciumnya degan singkat. Bahkan Fella tak mempercayai jika Arska benar-benar berani melakukan hal tersebut terhadap dirinya padahal ini di muka umum, banyak kendaraan yang berlalu lalang tapi Arska tak mempedulikannya.
Arska melengkungkan kedua bibirnya membentuk senyum sempurna. "Lihat aku!" pinta Arska sekali lagi.
Kali ini Fella tak lagi menunduk, dengan ekspresi wajah ya memerah itu, ia lebih memilih menatap cowok tampan yang ada di hadapannya, daripada harus mendapatkan ciuman yang terlalu mendadak itu, ia lebih memilih di ejek.
"Kenapa malu? Bukanya kita sering melakukannya, dan wajah mu selalu memerah saat aku mencium bibir mu, apakah kamu belum puas?" tanya Arska yang sengaja mengejek.
"Hah..." hanya jawaban itu yang keluar dari mulut bibir Fella.
Kali ini Fella dapat merasakan aroma tubuh Arska yang begitu memikat. Di depan pertokoan yang sepi dan jalan yang tak terlalu ramai, dan hanya bercahaya kan lampu jalanan, keduanya saling bertatapan.
__ADS_1
Arska mulai kembali mendekat ke arahnya. Entah kenapa secara refleks dan tak tahu malunya Fella mulai memejamkan matanya, seolah siap dengan apa yang akan di terimanya.
Fella hanya bisa terdiam dan tanpa penolakan menerima ciuman dari Arska, bahkan Fella masih berada di dalam pelukannya seakan menikmati hukuman kecil yang selalu di berikan oleh Arska untuk dirinya, suara nyanyian hujan dari langit menambah kesan hangat pada sepasang kekasih yang di landa kasmaran ini.