
Sudah tiga hari terakhir ini semenjak mengikuti kegiatan camping, Fella selalu mengeluh akan badannya yang terasa sakit seperti tertimpa seekor anak gajah.
"Badan gue udah kaya remukan rempeyek, sakit semua," keluh Fella dengan kepala yang masih menempel di atas meja.
"Kulit gue juga jadi item kaya gini...udah kaya plastik keres warna item.... mana belom sempet luluran udah main masuk sekolah aja jadi kesel deh gue," ucap Faya tak kalah mengeluh.
"Ck...dasar kalian tuh, bisanya cuma ngeluh terus, kalau ada Arska sama Aldy aja sok-sakan kuat, sok-sokan nggak peduli mau item apa kagak," cetus Bella karena ia merasakan kupingnya mulai panas mendengar keluhan ke dua sahabatnya sejak tadi.
"Ye... emang item gini masih di bilang nggak boleh ngeluh, coba elo jadi gue pasti elo juga ngeluh," ucap Faya sewot.
Bella hanya berdecak tanpa ada niatan untuk membalas ucapan Faya yang sangat membuat kepalanya pusing jika ia terus meladeninya, karena di pagi harinya ini Bella tak mau terlalu banyak ribut, ia memilih diam.
Merasa tak ada tanggapan dari Bella, Faya beralih pandang menatap ke arah Fella. "Elo juga kenapa sih fel dari tadi diem mulu? kayaknya kemarin yang paling heboh di acara camping itu elo deh. Mana semangat elo yang kemarin?".
"Apa elo nggak denger? Barusan gue ngeluhin badan gue yang sakit! Terus kalau ngomongin semangat, semangat gue udah ilang, kebawa sama acara game kemarin, sampai sekarang nggak ada notifikasi dari email gue yang masuk, udah gitu badan gue ngerasa pengen copot satu persatu," balasnya dengan wajah yang masih murung, kepalanya masih menempel di atas meja.
"Ya elah... fel, gitu aja ngeluh.... semangat dong pikir positifnya negatifnya di buang jauh-jauh," timbrung Bella.
"Gue kan pengen dinner bareng sama Arksa bel."
"Yah... tinggal minta aja sama Arska apa susahnya, pasti di kabulin kok," sahut Faya.
"Beda fay, gue p..." belom sempat melanjutkan ucapannya, Bella sudah memotong terlebih dahulu.
"Emang lebih enak yang gratisan daripada ngeluarin duit sendiri," potong Bella secepat kilat.
"Iya... kaya elo yang udah makan nasi gorengnya Brayu sampai habis, abis itu baru sadar, nasi gorengnya dari siapa?" sindir Faya dengan bibir khas nyinyir-nya.
Bella membelalakkan matanya. "Rese lo fay, ngingetin yang udah lewat aja," suara Bella terdengar sewot.
"Ya itu kan kenyataannya bel, akui aja deh," Fella kini ikut memojokkan Bella.
"Ck... kalian itu sahabat macam apa sih? bukannya belain gue malah mojokkin gue mulu."
"Ya kali, kita belain orang salah," sahut Faya.
"Seenggaknya gue nggak asal nyerobot makanan orang sebelum di persilahkan makan," lanjut Fella.
Nampak ke dua orang itu sibuk membully Bella, hingga sebuah notifikasi email masuk, membuat Fella segera meraih ponselnya. Matanya membulat sempurna ketika mengetahui notifikasi tentang pemain game/kemampuan mengasah bakatnya waktu mengikuti acara camping telah di terimanya.
"Wow..... gue akhirnya bisa dinner sama nonton bareng... sama Arksa," teriaknya memenuhi ruang kelas, kepala yang tadinya hanya menempel di atas meja kini terangkat seperti tak ada beban, hingga sakit badannya pun mungkin Fella sudah lupa.
Mereka yang melihat hal tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mencibir dengan kelakuan gadis tersebut.
"Wah.... syukur deh kalau elo yang menang, kita ikut seneng," ucap mereka serempak.
"Tapi jangan terik-teriak juga ya fel, ini bukan kebun binatang!" seru Bella ketika matanya melihat sekeliling kelas yang menatap kearahnya dengan tatapan sinis.
"Ya kan sahabat elo ini baru happy, jadi wajar aja lah kalau teriak-teriak," balasnya.
"Liat tuh... temen sekelas elo pada ngeliatin ke sini semua," ujar Bella seraya menunjuk sekelilingnya.
__ADS_1
Fella tak mempedulikan hal tersebut, ia merasa masa bodoh sama tatapan teman sekelasnya yang mungkin tak menyukainya.
"Nggak sia-sia gue ngeluh, ternyata Tuhan masih ngabulin keluhan gue," ucap Fella dengan riangnya, tak mempedulikan nasehat Bella sama sekali.
"Mana ada? Orang ngeluh terus di kabulin fel, berdoa itu baru di kabulin, itu cuma keberuntungan elo aja," tukas Faya sedikit tak terima dengan ucapan Fella.
"Lah... ini apa?" ujarnya seraya memperlihatkan layar ponselnya ke depan wajah Faya.
"Ck... iya gue percaya. Terserah elo mau ngomong apa yang penting elo bahagia."
Bella yang sejak tadi mengamati tingkah Fella mulai bergeming, ia mulai menyindirnya. "Btw... udah ada yang sembuh ya, tadi gue denger ada yang ngeluh badannya kaya remukan rempeyek."
Fella tiba-tiba memegangi pinggangnya seakan mengingat keluhannya tadi.
"Masih sedikit sakit kok bel," balasnya dengan wajah memelas-nya, manik matanya tertuju ke arah Bella.
"Ow... cuma sedikit, nggak jadi banyak," cibir Bella.
"Udah... dong bel, jangan bikin mood Fella turun, kan kasihan dia, baru juga bahagia, udah main jatuhin aja," kata Faya mencoba membela.
Merasa dapat pembelaan dari Faya, Fella sedikit menyunggingkan bibirnya, ia merasa nanti malamnya akan menjadi hal yang paling menyenangkan.
"Jatuhin Fella-nya kalau dia udah kebanyakan bahagianya aja, kan lumayan jadi bahan bullyan," lanjut Faya saat melihat perubahan ekspresi wajah Fella yang begitu senang.
"Ini mah... udah di angkat setinggi langit, abis itu di tenggelamin di tengah lautan, tau gitu nggak usah belain fay," nada bicara Fella kini meninggi wajah kusutnya kembali terlihat.
Bella dan Faya nampak tak mempedulikan celotehan Fella, mereka tertawa tanpa dosa, mengingat Bella dan Faya sering juga mendapat bullyan dari Fella.
Fella sudah berdandan cantik, ia memakai make-up yang tak terlalu tebal, mengenakan dress warna putih kesayangannya dan siap melakukan aktifitas nonton dan dinner-nya, bayangannya melayang-layang membayangkan indahnya keromantisan yang akan ia alami nanti.
"Udah siap ay?" tanya Arska memecah lamunan Fella, tunangannya itu masih saja sibuk menatap dirinya sendiri di depan kaca dengan raut wajah yang terus mengembangkan senyumnya.
Fella nampak terkejut mendapati Arska yang sudah berada di belakangnya, tak mau membuang waktu Fella segera menggelayut di lengan kekar milik Arska. Senyumnya mengembang setiap detik menambah kesan cantik yang menghiasi wajah ayunya.
Di dalam mobil....
"Bahagia banget sih ay?" tanya Arska di balik kemudi, tatapannya sejak tadi melirik ke arah Fella.
"Makan plus nonton gratis, siapa yang nggak bahagia, dengan bakat yang kita miliki kita bisa dapetin yang kita mau," ucap Fella menggosok-gosok telapak tangannya ia mulai tak sabar.
"Tapi apa perlu sampai dandan secantik ini? nggak takut ada yang ngelirik dan buat aku cemburu?"
"Perlu banget... biar kamu nggak lirik-lirik cewek lain. Lagian kalau cemburu juga makin bagus, itu artinya kamu beneran sayang sama aku."
"Aku.... aku mana berani ngelirik cewek lain selain tunangan aku sendiri. Dan perlu aku peringati sama kamu... jangan terlalu sering buat aku cemburu, karena itu cuma bikin aku kelihatan lebih tua, karena sering marah-marah," ucap Arska seraya mengelus pucuk kepala Fella seperti biasanya.
Tiga puluh lima menit kemudian.....
Fella dan Arska sampai di tempat yang sudah di janjikan, jalan yang tidak terlalu macet membuat mereka sampai dengan tepat waktu. Saat Fella akan memilih tempat duduk yang berada di pojokan paling belakang, seseorang memanggil namanya dan juga Arska mereka kompak menoleh dan langsung menghentikan langkah kakinya.
"Fella....Arska... di sini duduknya, bareng sama yang lain, kita semua kan satu tim," ucap salah seorang pria paruh baya.
__ADS_1
Fella menyipitkan matanya saat mengetahui suara yang ia dengar itu adalah suara Hendry. "Pantas saja suaranya tak begitu asing di telinga ku," pikir Fella sesaat.
Fella semakin terkejut lagi di saat mengetahui seluruh siswa-siswi yang kemarin mengikuti game atau lebih tepatnya kemampuan/talenta juga berada di satu meja yang sama dengan Hendry.
"Lah... ini yang lain..." tunjuk Fella dengan mulut sedikit terbuka, ia masih bingung dengan kondisi saat ini.
"Iya... kalian begitu bertalenta dan berbakat, semangat kalian sungguh bagus saat mengikuti game yang saya tawarkan, jadi kalian semua berha mendapatkan hadiah dari saya," ucap Hendry.
Fella tercengang setelah mendengar ucapan kepala sekolah.Ternyata dugaannya salah, pikirnya ia akan makan malam dengan romantis bersama Arska dengan usaha yang mereka dapat dan tak sia-sia, ternyata semua menjadi pemenang karena dengan suka rela mengikuti game dengan hadiah yang di iming-imingkan oleh kepala sekolah.
Dengan berat hati Fella melangkahkan kakinya, rasa kecewanya muncul, ia menarik kursi dan duduk dengan muka canggungnya. Menatap ke semua murid yang kini tengah menatap ke arahnya.
"Nggak usah sedih, lain kali aku janji bakalan ngajak kamu dinner, sesuai yang kamu inginin," ucap Arska yang sejak tadi melihat ekspresi wajah Fella yang berubah dengan begitu cepat.
Hanya anggukan kecil yang bisa Fella berikan saat ini, malam itu begitu menyenangkan karena di sana mereka bisa bersendau gurau, ya... tak terkecuali bagi Fella, yang hanya menatap makanannya sambil terus mengaduknya.
Sesekali Arska melirik kesamping, memastikan jika gadis yang ada di sampingnya itu makan dengan tenang, karena sejak tadi ia merasakan jika kekasihnya itu sedikit kecewa dengan apa yang di dapatkannya.
Arska tersenyum sinis, seraya tangannya sibuk membersikan sisa makanan yang menempel pada pipi Fella, gadis itu selalu belepotan saat makan. Tak merasa canggung dangan tindakannya, Arska juga tak mempedulikan mata-mata yang terus menatap kearah meraka, baginya saat ini hanya Fella yang mampu mencuri pandangannya.
Satu jam lebih mereka menghabiskan acara makan malam bersama, hingga kini mereka harus rela melakukan acara nonton bersama sesuai jadwal yang sudah tertera, seperti gerombolan pasar malam karena terlalu berantusias menyaksikan film mereka sampai lupa diri.
Fella yang sejak tadi memasang ekspresi datarnya, tak membuka suaranya sama sekali, mungkin hatinya masih tak rela jika hadiah yang ia dapatkan akan berujung kebersamaan seperti malam ini.
"Senyum dikit ay!" suara bisikan Arska terdengar merdu di telinganya.
Reflek mendengar bisikan Arska, Fella langsung saja mengarahkan jari-jarinya untuk mencubit perut Arska. "Kamu kenapa bisik-bisik? Bikin aku kaget!"
"Dari tadi aku ngeliatin kamu, kamu nggak ada semangat. Sepanjang malam ini juga kamu melamun terus."
"Gimana mau semangat, Papa kamu ngeselin," ucapnya dengan muka cemberutnya.
Arska tersenyum tipis, ia tak bisa mengolok kekasihnya dengan tampang yang menurutnya cute itu, tangan kanan Arska terangkat dan mengusap-usap rambut Fella pelan. "Itu cara Papa bikin semangat para muridnya sayang."
Fella mendogok mengamati tindakan Arska yang terus mengusap-usap rambutnya, apalagi ucapannya yang terdengar cukup santai ketika membela Hendry, membuatnya semakin jatuh cinta dengan cowok yang sekarang menyandang status sebagai tunangannya.
"Kamu nggak boleh kesel lagi ya, lain waktu aku bakalan ajak kamu dinner sama nonton, cuma kita berdua nggak ada yang lain," jelas Arska.
"Serius?"
"Dua rius buat kamu sayang."
Fella merasa terteguh mendengar ucapan kekasihnya itu, senyumnya mengembang dengan seketika, tangan kanannya meraih lengan Arska dan kini memeluknya.
"Manja," cibir Arska.
"Biarin, aku manja gini aja kamu sayang," ledek Fella menjulurkan lidahnya.
"Pinter..." puji Arska.
Fella lagi-lagi mengembangkan senyumnya, tak menyangka jika moodnya akan berubah dengan cepat, padahal tadi ia masih menahan kekesalan di dalam hati. Arska memang obat mujarab bagi dirinya.
__ADS_1