
Sekuat apa pun kita menyederhanakan hidup, hidup tak pernah sederhana. Selalu ada kejutan, selalu ada yang tidak sesuai harapan.
Faya menekankan kata-kata itu untuk dirinya sendiri, ia masih sangat kecewa dengan apa yang ia alami sewaktu liburan, terlalu baper kata-kata yang cocok untuk dirinya saat ini.
"Yang di anterin sama mantan jadi lupa diri sampai nggak sempet ngasih kabar ke gue. Jahat banget sih lo fay." celoteh Bella yang langsung menimpuk-kan coklat ke kepala Faya.
"Hehe.... sorry bel, abis Kevin tiba-tiba udah ada di depan pintu rumah gue. Jadi gue nggak sempet ngasih kabar ke elo." balas Faya yang langsung merebut coklat yang ada di tangan Bella.
"Tau gitu gue nggak perlu repot-repot buat jemput elo." cetus Bella yang merebut coklatnya kembali.
"Ya elah bel kok di ambil lagi." protes Faya.
"Gue minta sepotek fay, jatah makan coklat gue cuma sebatang seharinya. Kata Dady biar nggak gemuk." ucapnya seraya mengigit ujung coklat.
"Yah... yah... jangan di habisin dong bel." ucap Faya yang langsung merebut coklat itu kembali.
"Btw Fella mana sih, di tungguin kok nggak dateng-dateng." seru Bella dengan kepala celingukan mencari sosok yang di carinya.
"Tau ah... tuh anak ngeselin, kalau udah sama Arska lupa deh sama kita." balas Faya.
Tanpa di sadari mereka, Fella yang tengah mendengar celotehan dari kedua sahabatnya itu langsung menimpukinya dengan permen.
Faya dan Bella serempak menoleh, sedikit kesal tapi saat melihat siapa yang menimpukinya Faya langsung membuka suara. "Lah...elo udah dateng fel?."
"Sejak kapan elo di situ fel?, udah kaya hantu aja pulang pergi nggak pamit." lanjut Bella.
Fella bersedekap dada tatapnya sangat datar. "Sejak kalian ngomel-ngomel ngatain kalau gue ngeselin terus lupa sama kalian." jelasnya seraya membalikan badannya.
"Yah... yah... fel, jangan ngambek dong, kita kan cuma bercanda." kata Faya yang langsung menaiki anak tangga untuk mengejar Fella.
"Pokoknya kalau Fella ngambek itu semua salah elo ya fay."
"Loh... kok cuma gue sih bel, nggak adil banget."
"Ya kan elo yang bilang Fella ngeselin terus lupa sama kita."
"Ya masak elo juga nggak mau tanggung jawab."
"Nggak mau lah."
"Nggak setia kawan lo."
"Fella jangan ngambek dong, kita nggak maksud" teriak Bella.
"Iya fel, kita nggak maksud kok" lanjut Faya.
Fella menghentikan langkahnya dengan segera ia membalikan badannya. "Siapa juga yang ngambek, gue pengen buru-buru nyampai kelas. Tadi gue nungguin kalian sampai lumutan di kelas, makanya gue nyusul kalian berdua ke parkiran." jelas Fella.
"Huf.... gue bisa bernapas lega berarti dong fel" ucap Faya yang seraya menepuk punya Fella pelan.
"Lagian elo tumben berangkat pagi banget sih fel?" tanya Bella.
"Arska mau ke perpustakaan mau balikin buku jadinya pagi-an berangkatnya, kalau kesiangan takutnya ngantri katanya." jelas Fella.
"Ow... gitu... pantes aja lo rajin berangkat pagi hari ini." ledek Bella.
Dari belakang napak Jessy the gang muncul dan langsung menyenggol lenggan Fella cukup keras. "Ups... sorry jalan gue nggak seimbang jadinya gue nabrak ketua trio wek-wek" ledek Jessy sambil mengibas-ibas-kan tangannya.
"Mending kita trio wek-wek, masih ada imut-imutnya. Daripada kalian trio garang nggak ada imut-imutnya yang ada amit-amit baru benar." celoteh Faya dengan mulut pedasnya.
"Eh.... lo tuh rese banget si" cetus Jessy.
__ADS_1
"Woy....woy.... ngaca dong yang rese tuh kalian, pagi-pagi gini udah nyari masalah." ucap Bella yang langsung mendorong tubuh Jessy agar menjauh dari Fella.
"Nggak perlu dorong-dorong juga kan." sentak Jessy seraya merapikan seragamnya.
"Kasar banget sih jadi cewek." sahut Salsa.
"Yang mulai duluan siapa? kalian kan!" akhirnya Fella membuka suara.
"Aduh.... cewek bar-bar minggir dong kalian ngehalangin jalan kita." seru Bella mengibas-ngibaskan tangannya.
"Woy... santai dikit napa." ketus Indria.
"Sorry gue nggak bisa santai kalau sama kalian, malah gue pengen nonjok kalian." wajah Bella mendekat ke arah mereka bertiga.
Jessy menghentak-hentakan kakinya, dengan wajah kesal Jessy akhirnya meninggalkan mereka bertiga.
"Dasar trio rusuh, pagi-pagi udan ngajakin adu mulut." celoteh Fella yang kini kembali melangkahkan kakinya menuju kelas.
"Itu si Jessy mulutnya pengen gue sumpal pakai kaus kaki dah rasanya." celoteh Bella yang ikut mengekor di belakang Fella.
"Udah... cuekin aja orang kaya gitu bel, nggak ada faidahnya juga kalau kita ngeladenin mereka." sahut Fella.
"Hahaha.... bener yang di bilang Fella, nggak ada faidah-nya cuma buang-buang tenaga bel." sahut Faya nyengir kuda sambil merangkul pundak kedua sahabatnya itu.
"Ow... iya... btw elo kenapa sama si Aldy kok kaya jaim-jaiman gitu. Jangan-jangan ada sesuatu yang elo sembunyi-in dari kita." selidik Bella dengan alis terpaut.
Mulut Faya tiba-tiba menjadi kaku dan kelu, ia bingung mau memulai pembicaraan dari mana yang jelas meskipun ia berbohong tetap saja kedua sahabatnya itu bisa melihat dari gerak-geriknya.
"A-a-apaan sih... g-gue nggak ada apa-apa kok sama kak Aldy beneran deh."
"Ya kalau nggak ada apa-apa kenapa lo jadi gugup gitu, kita cuma tanya, kalaupun ada elo kan bisa cerita ke kita." tukas Fella.
"Jangan tegang gitu kenapa fay. Keliatan kalau elo bohong." ucap Bella seraya mencubit hidung mungil Faya.
"Nggak papa kalau elo nggak mau cerita itu kan privasi elo. Tapi kalau ada apa-apa ngasih tau ke kita lebih awal biar kita bisa bantu." celoteh Fella yang langsung menarik kursinya.
Faya tersenyum masam. "Makasih ya kalian emang sahabat terbaik gue."
"Sama-sama" balas mereka kompak, padahal mereka tau kalau Faya sedang menyembunyikan sesuatu, terlihat jelas dari raut wajahnya yang tidak sedang biasa-biasa saja.
...°•°©inta Untuk Fella°•°...
Arska yang siap di meja mengerjakan soal-soal latihan ulangan yang di berikan Papanya, dengan tenang ia mengerjakannya sebelum akhirnya para perusuh datang dan mengusik konsentrasinya.
"Rajin bener sih ka, pagi-pagi udah numpuk soal segitu banyaknya." celoteh Dilan yang langsung duduk di samping Arska.
"Dia pengen dapet nilai yang sempurna lan, jangan lo ganggu, habis lulus kan si Arska mau married makanya...ya gitu rajin belajarnya." sahut Brayu ngawur.
"Elo mau married sama Fella?"
"Ya iya lah....masak gue nggak mau nikah sama cewek yang paling gue sayang. Bodoh kalau gue nggak mau" celoteh Arska yang langsung memukulkan pulpen ke kepala Dilan.
"Maksud gue abis lulus, elo langsung mau married?" tanya Dilan seraya mengusap-usap kepalannya.
"Hahaha... mulutnya Brayu elo percaya, sama aja musyrik." jelas Arska.
"Elo tuh... bohongin gue." mata Dilan melotot ke arah Brayu seraya menyikutnya cukup keras.
Brayu malah cekikan tak kuasa menahan tawanya. "Lagian otak elo yang nggak lancar, percaya aja sama omongan gue." tukasnya.
Aldy yang baru datang dengan ekspresi wajah masamnya segera duduk di depan Arska. "Rajin amat elu ka, gue aja malah males mau ngadepin ujian, ujian hidup gue aja belom kelar-kelar udah suruh ngurusin ujian kelulusan."
__ADS_1
"Muka lu kucel gitu dy, emangnya seberapa berat hidup elu sampai nggak bisa ngadepinnya." cecer Dilan.
"Pokonya berat, berat banget sama berat badan elu aja masih berat ujian hidup gue." balasnya dengan wajah yang masih memelas.
"Anjir.... muka elu ngeselin banget dy." celoteh Brayu yang langsung mengusap kasar wajah Aldy.
"Gue galau gara-gara Faya, elu pada nggak ngasih semangat ke gue malah ngeledekin terus" ucap Aldy dengan mimik wajah mengesalkan ia memukul-mukul lengan Brayu dengan manjanya.
Mereka kompak tertawa tanpa henti. "Anjir muka lu ngeselin banget sih bikin perut gue sakit nyet."
"Dasar punya temen pada nggak solid, gue baru sedih kalian malah ketawa seenak jidat kalian tanpa peduli sama perasaan gue." ucap Aldy seraya menyandarkan kepalanya ke bahu Brayu.
"Ya..ya... gue ngerti sama keadaan elo dy dan elo boleh cerita ke kita sekarang." ucap Arska menenangkan suasana sesaat.
Aldy menarik napasnya sebelum akhirnya membuka suaranya. "Gue nyium paksa Faya waktu di Villa." ucap Aldy jujur.
"Anjir.... gue nggak tau kalau otak lu ternyata kaya gitu dy." celoteh Brayu.
"Lo ngapain anak orang? sampai lo cium paksa si Faya, bibirnya emang seksi sih mungil lagi." tangan Dilan mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.
"Woy.... lo nggak ada pikiran buat nikung sahabat lo sendiri kan."
"Hehe.... becanda dy."
Aldy kini beralih menyandarkan kepalanya ke tembok dengan malasnya, sebelum Arska membuka suaranya kembali.
"Lo ada dendam apa sih sama Faya sampai lo paksa cium dia? jangan-jangan bekas luka di bibir lo itu, bekas gigitannya Faya." selidik Arska.
Aldy mengangguk pelan. "Gue ngelakuin itu karena gue cemburu waktu Faya pergi sama mantannya."
"Berarti kecurigaan gue waktu di Villa itu bener, bibir lo sama bibirnya Faya ada hubungannya." ucap Dilan manggut-manggut.
"Hal itu nggak perlu kita bahas lan." ucap Arska.
"Ciumannya ganas nyet, gue kan jadi penasaran." balas Dilan.
"Otak lu ngeres muluk." Brayu menjitak kepala Dilan cukup keras.
"Ya elah bray, tega banget sih lo, gue cuma penasaran siapa tau bisa gue coba sama Regina." ucap Dilan nyengir kuda.
"Biar otak lo lurus nggak ngeres terus. Kalau gue jadi Regina ogah gue jadi cewek lo." jelas Brayu yang kini melirik ke arah Aldy. "Dan buat lo dy, nggak seharusnya elo ngelakuin hal bodoh kaya gitu yang ngerusak nama baik lo sebagai cowok baik." celoteh Brayu.
"Gue tau bray, sebelumnya Faya bilang suka sama gue..." Aldy menghela nafas sesaat. "Tapi gue nggak peka, gue malah anggap Faya kaya adik gue dan dia marah, tapi waktu Faya pergi sama cowok lain perasaan cemburu itu tiba-tiba muncul."
"Itu tandanya elo udah jatuh cinta sama Faya dy." tegas Arska.
"Elo yang bego dy, udah tinggal beberapa langkah ada cewek yang suka sama elo malah elo sia-sai-in dan parahnya elo nyium dia secara paksa." sahut Brayu.
"Gue khilaf bray, gue syok waktu dia bilang suka sama gue dan bodohnya gue nggak peka, gue malah menganggap kalau dia lagi becanda."
"Siapa yang bilang elu pinter dy, dari dulu kan elu yang paling bodoh di antara kita berempat." ledek Dilan.
Tawa mereka bertiga semakin pecah saat Dilan mulai mengejek Aldy.
"Kalian nggak ngasih solusi malah bikin kepala gue makin sakit." ucap Aldy memijat pelipisnya.
"Kita pengen ngasih solusi ke elo dy, tapi kayaknya bakalan berat solusi yang kita kasih k elo." sahut Dilan.
"Jangan berat-berat ngasih solusinya otak gue mana sampai." kata Aldy jujur.
Merasa sahabat-sahabatnya tak ada yang bisa membantunya, Aldy hanya bisa pasrah dengan jalan cerita yang ia alami saat ini. Solusi yang di berikan sahabat-sahabatnya pun terlalu berat, dan mustahil untuk Aldy bisa memahaminya.
__ADS_1