Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Tentang Perasaan Bella


__ADS_3

Wajah Bella nampak khawatir, ia takut akan hal yang menimpanya beberapa tahun yang lalu akan terulang kembali. Menghela napasnya beberapa kali, karena ia melihat belum ada tanda-tanda untuk Brayu sadarkan diri dari komanya. Jasmin yang sejak tadi tak berhenti menangis membuatnya semakin merasa bersalah. Bella melamun, jika mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu ingin rasanya ia mengakhiri hidupnya.


"Kamu istirahat aja Bel, biar kakak yang jagain Brayu." Suara Jasmin menyadarkan lamunan Bella.


"Eh.... nggak papa kak, biar Bella aja yang jagain Brayu, kakak kalau mau pulang, pulang aja. Kakak abis pulang kerja juga belum istirahat kan?"


Jasmin masih terdiam, menggenggam erat tangan adiknya itu. "Kakak nggak mungkin ninggalin Brayu, dia satu-satunya keluarga kakak. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Brayu, apa artinya hidup kakak Bel." Suara Jasmin terdengar paruh, wanita itu benar-benar menyayangi adiknya lebih dari apa pun.


"Maafin Bella ya kak, ini semua gara-gara Bella," ucapnya dengan wajah tertunduk.


"Kamu nggak perlu minta maaf, Brayu ngelakuin itu karena emang dia sayang sama kamu, jadi kakak minta tolong sama kamu. Tolong buka sedikit hati kamu buat Brayu," ucap Jasmin dengan menepuk pundak Bella pelan.


"Untuk saat ini, aku belum bisa kak, banyak faktor yang ngebuat aku belum siap nerima Brayu."


"Kakak ngerti, kakak nggak mau maksa kamu juga, soal perasaan memang nggak bisa di paksain."


Bella hanya mendengarkan semua nasehat yang di berikan oleh Jasmin, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan jam 23.00, Jasmin sudah tertidur pulas di sofa, sedangkan Bella masih duduk di sebelah Brayu. Sesekali Bella mengucek matanya, merasa bahwa matanya memang tak mampu lagi untuk terus terbuka, dengan perlahan ia pun memejamkan matanya, lipatan tangannya menjadi bantal untuknya tidur di tepi ranjang sebelah Brayu.


Gadis itu tertidur dengan perasaan bersalah dan tak tenang, lagi dan lagi, ia harus mengorbankan orang yang terus menyayanginya.


Sesaat setelah Bella tertidur Brayu membuka matanya dengan perlahan, sebenarnya lelaki itu sudah sadar sejak sore tadi, namun ia ingin mengetahui lebih jauh tetang perasaan gadis itu terhadap dirinya, bahkan Jasmin pun harus ikut ambil permainan yang sudah di rencanakan oleh adiknya tersebut. Lagi dan lagi hasilnya tetap saja nihil.


Perlahan lelaki itu mengelus pucuk kepala Bella pelan, menyingkirkan rambut-rambut halus yang menutupi wajah cantik gadis tersebut.


"Kapan lo bisa buka hati lo buat gue Bel?" tanya Brayu dengan suara pelan.


"Gue masih bisa sabar, kalau itu emang keputusan elo. Tapi gue berharap suatu saat nanti, akan ada keajaiban yang bakalan ngebuka hati lo buat gue," lanjutnya.


Setelah mengucapkan kata-kata tersebut. Brayu kembali mengerjapkan matanya beberapa kali, menahan sakit di kepala yang masih terasa ngilu. Ia rela melakukan apa saja asalkan itu tak melukai Bella. Sedangkan Bella sedikit membuka matanya, ia merasakan ada yang menyentuh kepalanya beberapa kali sejak dirinya tertidur tadi. Mengintip aktifitas yang di lakukan oleh lelaki itu, Brayu masih dengan posisi berbaring memegangi kepalanya yang masih teras ngilu.


Bella membuka matanya dengan sangat lebar, ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya saat melihat Brayu sudah siuman.


"Syukur, lo udah siuman Bray, gue takut banget, karena lo nggak bangun-bangun dari kemarin," ucapnya dengan tangan memeluk tubuh Brayu pelan.


Lelaki itu melebarkan matanya, sedikit terkejut dengan tindakan Bella, namun ia juga bahagia, bisa melihat Bella begitu khawatirnya terhadap dirinya.


"Gue nggak papa, asal lo baik-baik aja, gue udah seneng," ucap Brayu dengan suara yang masih terdengar lemah.


"Lain kali, jangan ngelakuin hal konyol kaya gitu lagi, gue hampir mati jantungan gara-gara lo!" seru Bella dengan mata yang kini telah menatap lurus ke arah Brayu.


Lelaki itu hanya bisa tersenyum. Menurutnya tak apa jika Bella belum siap membuka hatinya, setidaknya ia masih memiliki harapan.

__ADS_1


"Kak Jasmin khawatir banget waktu tau lo kaya gini. Dia nangis terus, gue jadi ngerasa makin bersalah banget," ucap Bella dengan wajah tertunduk.


"Gue udah siuman, jadi nggak usah pasang wajah kaya gitu lagi di depan gue. Ngerasa lemah gue jadinya," kata Brayu.


"Gue bangunin kak Jasmin ya, pasti dia seneng banget ngeliat elo udah siuman," ucap Bella serambi berdiri, namun tangannya di cekal oleh Brayu. Hingga Bella harus menoleh ke arah lelaki tersebut. "Kenapa?"


"Kak Jasmin pasti capek, biarin dia istirahat," pinta Brayu.


Lelaki itu baru sadar dari komanya, namun tenaganya begitu kuat saat menarik tangan Bella tadi. "Lo baru sadar, kenapa lo bisa sekuat ini pegang tangan gue?" tanya Bella dengan ekspresi menyelidik.


"Di alam bawah sadar gue, gue jadi super hiro. Makannya pas gue sadar tenaga gue langsung pulih lagi, apa lagi di jagain sama orang yang gue sayangi," ucap Brayu ngasal, lelaki itu tak mungkin berbicara hal yang sebenarnya, jika ia bercerita, mungkin Bella akan mencekiknya saat ini juga.


"Ck.... mana ada hal kaya gitu, dasar aneh!" Bibir Bella terangkat sebelah.


"Hahaha... ya jangan sesinis itu lah Bel, gitu aja ngambek." Tawa Brayu kian menjadi.


"Kayaknya lo udah sembuh deh, jadi gue mending ngeliat kondisi Fella aja kalau gitu," ucapnya dengan badan yang siap berbalik.


"Aduh sakit Bel," keluh Brayu serambi memegangi kepalanya.


"Udah deh... nggak usah akting," kata Bella dengan kaki yang sudah melangkah.


"Gue bener-bener nggak bohong Bel," ucapnya lirih. Lambat laun lelaki itu membenarkan posisi tidurnya, kepalanya benar-benar terasa ngilu.


"Lo beneran sakit?" tanya Bella saat sudah berada di dekat Brayu.


"Kepala gue ngilu Bel, sakit banget rasanya," ucap Brayu masih dengan tangan yang memegangi kepalanya.


"Lo, mending istirahat dulu deh, jangan banyak gerak dulu. Jahitan lo juga belum kering kan? Gue nggak mau kelamaan di rumah sakit, jagain orang yang tiap kali ngeliat darah langsung pingsan!" sindir Bella.


Brayu tak menjawab ucapan Bella, lelaki itu hanya menurut sambil terus mendengarkan setiap ucapan Bella.


"Kalau lo masih cerewet kaya tadi, gue nggak mau nungguin elo lagi! Mending gue pulang."


"Cewek cantik nggak boleh marah-marah, nanti cepat tua loh.." ledek Brayu.


"Jangan-jangan, lo sengaja ya. Cuma pura-pura sakit biar gue jagain elo!" Bella menyipitkan matanya.


"Gue beneran sakit Bel, kepala gue nyut-nyutan, kalau nggak percaya, coba deh lo dengerin suara nadi di otak gue," ucap Brayu dengan membimbing tangan Bella agar menyentuh pelipisnya.


"Kok bisa kaya gini ya," ucap Bella dengan nada pelan.

__ADS_1


"Gue juga nggak tau, rasanya nyeri banget." Lelaki itu terus menatap Bella tanpa berkedip. "Coba deh... lo dengerin suara nadi gue yang menyiksa ini," lanjutnya.


"Emang bisa?" tanya Bella dengan menaikan satu alisnya.


"Makanya dengerin dulu, terus jangan bersuara."


Bella nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia menuruti perkataan Brayu, naluri keingin tahuannya sungguh sangat besar. Bisa-bisanya ia percaya dengan ucapan lelaki itu dan lagian pengetahuan dari planet mana coba, kalau bukan akal-akalnya Brayu.


"Kedengaran kan?" tanya Brayu dengan senyum mengembangnya ketika Bella benar-benar mendekatkan telinganya ke arah kepala Brayu hingga menempel.


"Lo bohongin gue ya?" tanya gadis itu dengan kening mengkerut.


"Kebawah lagi Bel, mana kedengaran kalau dari situ."


"Masak iya sih," gumam Bella pelan, tapi gadis itu tetap saja menurut.


"Lebih bawah lagi Bel," pinta Brayu.


"Awas ya, sampai lo bohongi gue!"


"Gue nggak bohong kok," balas lelaki itu, hingga saat pipi Bella melintas melewati bibir Brayu, lelaki itu dengan isengnya mencium pipi Bella. Membuat sang pemilik membelalakkan matanya.


"Brayu....!" suara Bella cukup nyaring untuk ukuran ruangan yang tak terlalu luas tersebut. Gadis itu memegangi pipinya dan membenarkan posisinya saat ini.


"Apa? Jangan keras-keras, nanti kak Jasmin bangun loh," Brayu masih bisa menggoda Bella dengan begitu santainya.


"Kalau kak Jasmin bangun. Itu semua salah lo! Elo yang mulai kurang ajar sama gue!"


"Impas dong berarti," Brayu menaik turunkan kedua alisnya.


"Impas?" kening Bella semakin mengkerut.


"Yang.... waktu di rumah gue kan lo cium pipi gue, dan gue belum sempat bales, karena kak Jasmin ke buru pulang, nah itu balesan gue," ucap lelaki itu dengan santainya, ia justru mengembang senyumnya, ketika mendapati wajah Bella yang sudah merah merona.


Sedangkan Bella membuka mulutnya cukup lebar, gadis itu tau jika wajahnya sedang panas gara-gara tindakan Brayu. Namun ia juga tak mau jika lelaki itu terus berceloteh tentang hal yang tidak-tidak, makanya ia buru-buru membungkam mulut Brayu dengan kedua telapak tangannya, bisa berabe kan kalau kak Jasmin denger.


Padahal Jasmin sudah dari tadi mendengarkan segala celotehan dari kedua remaja tersebut, ia enggan membuka suaranya, karena tak mau mengganggu moments mereka. Ketika Bella menoleh pun, ia buru-buru menutup matanya agar Bella mengira jika dirinya memang sedang tertidur. Jasmin tak mau melewatkan live streaming yang di lakukan oleh sang adik. 'Dasar.... idenya benar-benar kena. Punya adik kok otaknya encer banget,' pikir Jasmin.


"Bisa diem nggak! Awas aja kalau lo sampai ngomong yang enggak-enggak, apa lagi kalau kedengaran sama kak Jasmin," ancam Bella.


Brayu hanya meraih tangan Bella dengan pelan, nyatanya Bella tak benar-benar membungkam mulutnya.

__ADS_1


"Sebelah sini, maksud gue yang kedengaran kencangnya," kata Brayu, dengan tangan yang membimbing tangan gadis itu untuk merasakan jantungnya yang mulai tak karuan akibat tindakannya tersebut.


Bella hanya mampu menghela napas, ia bisa gila jika menuruti ke isengan Brayu yang semakin menjadi.


__ADS_2