Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Pengakuan Cinta Dilan


__ADS_3

Pagi ini mungkin menjadi hari yang paling menyebalkan untuk diri Arska. Bel masuk masih akan berbunyi setengah jam lagi, tapi suasana kelas mendadak sunyi dan kondusif. Padahal, siswa-siswi kelas tersebut sebagian besar sudah datang dan mengisi bangku masing-masing, termasuk Arska. Semua anak kini memperhatikan Arska yang kedatangan tamu tak di undang, Mona.


Cewek itu meletakan susu kotak coklat di meja Arska, kemudian duduk di bangku Aldy dengan posisi memutar menghadap Arska.


"I-ini apa?, jangan bikin emosi gue naik!!, ini masih pagi!!" tanya Arska dengan muka datar sambil melirik ke atas mejanya.


"Ya ampun baby, masak kamu nggak tau ini apa?, ini kan susu coklat" sahut Mona santai. Matanya terfokus kepada Arska.


"Maksud ucapan gue, buat apa lo ngasih susu ke gue?".


"Ya, buat kamu minum lah baby. Mulai hari ini aku bakalan kasih kamu susu coklat tiap pagi, kan kamu sekarang pacar aku, jadi aku harus lebih perhatian dong sama kamu" ucap Mona dengan suara yang sengaja di keras kan agar semua orang dapat mendengarnya.


Suasana kelas yang tadinya sunyi kini mulai ricuh. Teman-teman sekelas Arska berbisik-bisik, sempat tak percaya dengan apa yang mereka dengar, karena kabar sebelumnya Arska sudah memiliki tunangan.


"Sejak kapan Arska pacaran sama Mona?".


"Bukannya Arska udah punya tunangan ya, bahkan tunangannya lebih cantik daripada Mona?.


"Jadi, kita bisa dong deketin mantan tunangannya Arska" ucap salah seorang teman sekelasnya.


Arska menangkap beberapa bisikan teman sekelasnya. Dan, itu membuatnya semakin muak dengan ucapan mereka.


"Gue bukan P A C A R lo. Mending lo balik ke kelas sana" perintah Arska dengan sedikit membentak.


"Oke... kalau kamu nggak mengakui aku sebagai pacar kamu, nggak masalah buat aku, Aku bakalan balik ke kelas setelah aku liat kamu habisin susu ini" Mona membantu menusukkan sedotan ke susu kemasan, kemudian mengulurkannya mendekati Arska, ia sama sekali tak takut dengan sikap Arska yang dingin terhadapnya.


"Gue ..... " suara Arska selanjutnya tertelan kembali setelah bibirnya menyentuh ujung sedotan yang yang diulurkan Mona".

__ADS_1


"Minum dulu" kata Mona dengan suara lembut.


Arska buru-buru mengambil minuman tersebut dari tangan Mona, segera ia meletakan minuman tersebut di atas mejanya dengan cukup kasar. Arska tak mau lagi menjadi tontonan gratis bagi teman-teman sekelasnya.


"Kenapa kasar gitu sih baby, niat aku kan baik".


"Gue bilang keluar" perintah Arska yang menunjuk ke pintu arah keluar kelas, emosinya kini meluap-luap.


Mona yang kesal dengan sikap kasar Arska terhadap diri segera menghentak-hentakan kakinya, ia tak mau tinggal diam, terlanjur malu sudah pasti untuk mundur jangan harap. Dalam keadaan tenang Mona meninggalkan kelas Arska, ia tak merespon tatapan yang terus memandangnya. Arska mengusap wajahnya dengan kasar, Baryu mulai membuka suaranya. "Sejak kapan tuh anak makin berani sama lo ka?" tanya Brayu sambil menepuk pundak Arska.


"Sejak dia berani ngancem gue lewat Aya" jawab Arska yang langsung mengebrak mejanya.


Aldy dan Dilan tersentak sesaat, jantung mereka berdetak kencang karena ulah Arska. Regina dan kedua sahabatnya saling lirik, mereka telah menyaksikan adegan telenovela yang menurut mereka tak layak untuk di tonton. Hingga mata Regina beralih menatap ke arah Dilan yang terus membuang muka terhadap dirinya. Dilan yang selalu menghindari kontak mata dengan Regina merasa sangat gugup hingga ia memutuskan untuk pergi ke toilet, tapi di cegah oleh Aldy.


"Lo mau kemana lan, suasana genting gini lo malah mau pergi".


"Gue mau ke toilet, lo mau ikut?".


Mata Regina masih memandangi ke arah Dilan sampai ia memutuskan untuk mengikuti Dilan dan meminta penjelasan kenapa Dilan selalu menghindar dari dirinya.


"Lan... gue perlu ngomong sama lo" teriak Regina yang langsung menarik tangan kiri Dilan.


Tangan kanan Dilan menutupi wajahnya yang kini sudah merah padam.


"Kenapa sih lo, setiap kali ngeliat gue lo selalu ngehindar?".


Dilan membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya. "Gue nggak maksud buat ngehindar dari lo, gue cuma malu kalau ingat gue udah nuduh lo yang enggak-enggak" jelasnya.

__ADS_1


Mona melepaskan genggamannya. "Gue kan udah maafin lo, kenapa lo masih sungkan sih sama gue. Gue seperti monster aja kalau lo terus ngehindar dari gue" celetuk Regina yang langsung bersedekap dada.


Dilan melihat ke arah Regina, ia tau waktunya tidak tepat untuk mengungkapkan isi hatinya. "Sebenernya gue nggak maksud buat ngehidar dari lo gin, gue suka sama lo" jelas Dilan.


Mata Regina terbelalak saat mendengar ucapan Dilan. "Maksud lo apaan sih?, s-suka sama gue?" ulangnya.


"I-iya gue udah lama suka sama lo, cuma gue nggak berani ngungkapin perasaan gue ke elo".


Regina menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya, beberapa langkah ia mundur agar tak terlalu dekat dengan Dilan.


"Gina, lo dengar gue ngomong kan?. Gue suka sama lo, gue pengen lo jadi cewek gue" jelasnya yang langsung meraih tangan Ragina.


"G-gue nggak bisa, Melda suka sama lo, g-gue nggak mungkin ngehianatin sahabat gue sendiri" suara Regina terdengar gemetar.


"Melda udah tau kalau gue suka sama lo!".


Regina menggelengkan kepalanya pelan. "Tau gitu gue nggak ngejar lo, kalau tau lo bakalan bilang suka sama gue" ucap Regina yang mencoba melepaskan genggaman tangan Dilan.


"Emangnya kenapa kalau gue suka sama lo, ada yang ngelarang, enggak kan?" ucap Dilan yang langsung mengelus pucuk rambut Regina.


"Gue nggak suka di perlakuin kaya anak kecil" tegas Gina yang langsung menarik tangan Dilan.


"Tapi gue suka ngelus rambut cewek kaya gini, lo kali pertama cewek yang bisa gue perlakuin kaya gini".


Mata Gina menyipit, saat mendengar Dilan berbicara hal tersebut kepada dirinya. "Terus kenapa lo malu sama gue, gara-gara kejadian tempo hari?, kalau lo suka sama gue kenapa lo ngehindar terus dari gue?".


"Karena gue udah nuduh cewek yang gue sayang sebagai penculik tunangan sahabat gue, gue seperti nggak punya muka di depan lo" ucap Dilan yang terus menatap lurus ke arah Gina.

__ADS_1


Regina menganga, ia tak percaya jika Dilan menyukai dirinya. Sedikit merinding jika mendengar hal tersebut keluar dari mulut Dilan, dengan nafas berat Regina segera memalingkan wajahnya, ia tak mau menatap ke arah Dilan. Dilan meraih kedua tangan Gina, hingga bel masuk berbunyi, itu membuat Regina sedikit lega. "Bel... masuk, gue mau ke kelas dulu, tolong lepasin tangan gue!" perintah Regina dengan gugup, segera Regina berlari meninggalkan Dilan.


Dilan menghembuskan nafasnya pelan, ia sedikit lega setelah mengungkapkan isi hatinya kepada cewek yang selama ini ia sukai.


__ADS_2