Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Pura-pura Amnesia 2


__ADS_3

Fella yang sedang asyik menikmati sunset di kafe favoritnya, serta lemon tea yang menemani sore harinya menambah suasana sore menjadi mengasyikan. Sambil di iringi lantunan musik favorit menggunakan earphone dan kini tangannya sibuk mengetik sesuatu di laptopnya hingga Arska datang dan langsung duduk di meja Fella tanpa meminta izin terlebih dahulu dengan pemilik meja. Jari-jari Fella kini berhenti, ia memutar bola matanya. "Siapa yang suruh lo duduk di sini?" suara Fella terdengar ketus hingga wajahnya kini berubah menjadi datar, ia langsung menarik earphone yang masih menempel di telinganya.


"Aku pengen nemenin kamu menikmati pemandangan sore hari Ay" ucapnya sambil menampilkan senyum.


"Nggak usah sok akrab, gue nggak suka !!, lagian lo kurang kerjaan banget sih, ngapain juga ngikutin gue sampai sini !!".


Arska menundukkan kepalanya sesaat sambil mengambil ponselnya dari saku jaketnya. "Kamu beneran nggak ingat tentang kenangan kita ay?" suara Arska sedikit bergetar sambil melihatkan layar ponselnya ke depan wajah Fella, di sana terpampang foto mereka berdua.


Fella menggigit bibir bawahnya, ia nampak berfikir sejenak, ia tak mau melunak begitu cepat. "G-gue nggak ingat sama foto itu, mungkin aja lo nyuri foto gue. Jangan-jangan lo sasange ya" jelasnya.


"Ya Allah ay segitu curiganya kamu sama aku. Percaya sama aku, ini beneran foto asli kamu sayang" suara serak Arska mulai terdengar pilu, segera ia meraih tangan kanan Fella.

__ADS_1


Fella berdecak pelan, ia memalingkan pandangannya agar tak melihat wajah menyedihkan yang di tunjukan oleh Arska. Jika Fella terus memandang kearah Arska hatinya terasa semakin sakit karena tindakan bodohnya ia harus rela menyakiti orang yang paling ia sayangi. "Sorry gue bener-bener nggak ingat sama lo, please jangan ganggu gue!!" ucapan Fella benar-benar menyayat hati Arska.


"Aku nggak bisa kalau nggak gangguin kamu, karena aku udah sayang sama kamu Aya. Please beri aku kesempatan buat bikin kamu ingat kalau aku ini bener-bener tunangan kamu sayang" Arska memegang tangan Fella begitu eratnya, matanya terpejam segera ia membenamkan wajahnya di tangan Fella yang sejak tadi ia genggam. Rasa hangat mulai terasa menyentuh tangan Fella, ternyata Arska meneteskan air matanya untuk kedua kalinya Fella merasakan hal tersebut, pertama waktu di rumah sakit dan yang kedua Arska menangisi dirinya yang berpura-pura amnesia. Antar bingung dan bimbang hati Fella saat ini, dilema sudah pasti melanda dirinya, tapi ia tak mau mengakhiri sandiwaranya begitu cepat, Fella ingin melihat bagaimana pengorbanan Arska untuk membuatnya yakin kalau Arska tak akan meninggalkan dirinya seperti yang sudah-sudah meskipun itu untuk melindungi dirinya tapi itu Fella benar-benar tak rela.


"Jadi cowok cengeng banget sih, mana ada cewek yang mau kalau lo cengeng gitu" suara ketus Fella terdengar nyaring di di telinga Arska.


Arska membuka matanya, segera ia mengusap air matanya yang menetes. Arska melihat ke arah Fella dengan tatapan sendu.


Fella yang merasa sudah sangat keterlaluan karena mengerjai kekasihnya itu mulai gelisah. "G-gue mau pulang" ucap Fella yang langsung berdiri, tapi tangan Arska masih memegang tangan Fella dengan sangat erat. "Bisa lepasin tangan lo nggak?, tangan gue sakit" sambungnya dengan nada sedikit membentak.


Fella merasakan dadanya mulai sesak, ia mengatur nafasnya secara perlahan untuk mengurangi rasa sesak yang menusuk ke dalam ulu hatinya, tapi tiba-tiba kepalanya terasa sakit hingga ia harus memeganginya menggunakan tangan kirinya. "Begitu banyak beban pikiran ku hingga kini kepala ku terasa sakit, please jangan tumbang sekarang" batin Fella.

__ADS_1


Arska yang melihat hal tersebut segera menarik Fella ke dalam pelukannya. "Kamu nggak papa kan ay?" ucapnya memastikan. "Aku nggak akan maksa kamu buat terlalu mengingat kenangan tentang kita. Cukup kamu selalu ada di samping aku aja udah cukup, jangan sakit lagi ya ay". Arska mengecup kening Fella dengan penuh perasaan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengantar Fella pulang.


Di mobil suasana terasa hening tak ada satu patah kata pun muncul dari bibir mereka, tapi sesekali Arska melirik ke samping. Fella masih saja membuang muka tampa melirik ke arah Arska sedikit pun. "Tahan fel, lo harus tahan kalau enggak rencana lo bisa berantakan. Ini juga demi kebaikan Arska" batinnya.


"Kalau masih pusing tidur aja ay, aku nggak bakalan ngapa-ngapa kamu kok" ucap Arska dengan pandangan yang masih fokus menyetir.


"Kepala gue udah mendingan kok, cuma masih pening sedikit" jawaban jutek yang selalu Fella perlihatkan di depan Arska.


"Pertama kali aku deketin kamu, sikap kamu ke aku juga dingin kaya gini ay. Juteknya sama persis tapi itu yang ngebuat aku semangat buat ngejar kamu".


Fella memutar bola matanya, kini ia menghadap ke arah Arska. "Katanya nggak mau ngingetin masalalu lagi, kenapa sekarang malah bahas lagi sih, nggak konsekuen banget sih jadi cowok" celetuknya. Sejujurnya ia sangat bahagia karena cowok yang ada di sampingnya itu masih mengingat tentang kenangan mereka berdua, tapi ia tak terlalu ingin memperlihatkan ekspresi wajah bahagianya di depan Arska.

__ADS_1


"Iya ay, maafin aku".


Fella langsung memalingkan wajahnya, ia tak mau berlama-lama menatap wajah kekasihnya itu, Fella takut khilaf dan hanya akan menghancurkan rencananya. Lama kelamaan rasa pening di kepalanya mulai terasa berat, ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, Fella mulai memejamkan matanya secara perlahan. Beberapa menit kemudian Fella sudah tertidur pulas dengan posisinya yang di bilang tak begitu nyaman. Arska yang tak tega melihat wajah pucat sekaligus cara tidur Fella yang tak nyaman segera menepikan mobilnya, ia mengelus-elus wajah Fella secara perlahan, di ciumnya kening Fella dengan lembut, hingga ia rela menjadi sandaran tidur untuk kekasihnya itu agar meras lebih nyaman, Arska mulai bernafas lega setidaknya Fella tak memberontak jika sedang tertidur, senyum lepas terpancar di sudut bibirnya dengan segera Arska melajukan mobilnya kembali.


__ADS_2