Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Penculikan


__ADS_3

Fella masih menunggu jemputan di halte dekat sekolahannya. Sesekali ia melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya, dengan sabar ia menunggu kekasihnya itu untuk datang menjemputnya. Terik panas tak menyurutkan semangatnya untuk setia menunggu sang pujaan hati, karena semua itu akan terbayar dengan kebahagiaan saat Arska datang nanti. Hingga suara deringan ponsel pun menyadarkannya dari angan-angan yang baru saja ia bayangkan, ia segera mengambil ponselnya dari saku bajunya. Matanya berbinar, senyum mengembang di bibirnya, dengan segera Fella mengangkat telfon dari kekasihnya itu. "Assalamualaikum sayang" ucapnya dengan penuh kebahagiaan.


"Waala'ikumsalam sayang, maaf ya sayang pasti lama nungguin nya, aku baru pulang les ni" ucapnya dengan nada memelas.


"Em....iya, nggak papa kok sayang, aku setia kok nungguin kamu".


"Um... sayang ku, kamu sweet banget sih" celetuk Arska memamerkan kemesraan di hadapan sahabat-sahabatnya itu.


"Pamer aja terus...." sindir Dilan dan Aldy dengan kompaknya.


"Ya gitu tuh... kalau bujang udah laku kelakuannya nauzubillah banget" celetuk Brayu dengan senyum sinis nya.


"Hahaha.... bisa aja sih lo bray" ucap Arska seraya mengeloyor kepala Brayu.


Fella yang mendengar celotehan dari kekasihnya itu sontak tertawa, ia benar-benar tak habis pikir dengan kekonyolan yang di buat oleh kekasihnya. "Ya udah kamu pakai mobilnya hati-hati ya yang, nggak usah ngebut-ngebut. Ngobrolnya di lanjutin nanti aja ya. Assalamualaikum" ucap Fella segera mematikan ponselnya.


"Waalaikumsalam sayang" ucap Arska pelan seraya memanyunkan bibirnya, ia tak ikhlas karena obrolan mereka harus berakhir secepat ini. Gara-gara harus meladeni ejekan dari ketiga sahabatnya itu, ia harus merelakan Fella menutup telfonnya dengan cepat.


Brayu yang geli melihat tingkah lakunya sahabatnya itu, langsung saja menepuk pundak Arska cukup keras. "Jangan suka pasang muka cemberut lo ka, cewek-cewek di sini makin ngincer lo, lo nggak takut apa?, kalau Fella banyak saingannya entar" celoteh Brayu.

__ADS_1


"Nggak ada yang bisa jadi saingannya aya, aya udah permanen di hati gue" ucap Arska alay.


"Ih..... bucin, bucin, bucin... belajar darimana lo bisa ngegombal kaya gitu" ejek Dilan dengan muka menyebalkan nya.


"Bodo amat...... Dari pada jomblo, jomblo, jomblo...gue belajar ngegombal juga nggak penting kan buat lo" balas Arska dengan gaya kekanak-kanakan.


"Biarin...gue jomblo, yang penting hidup gue happy, gue bisa suka sama cewek mana aja, tanpa ada yang bisa ngelarang gue" celoteh Dilan masih dengan ekspresi mengejeknya.


Aldy dan Brayu geleng-geleng kepala, mereka tak mau ikut-ikutan gila karena ulah kedua sahabatnya itu, dengan langkah pelan mereka berdua meninggalkan Arska dan Dilan. "Tumben lo nggak ikutan-ikutan dy, biasanya lo paling duluan buat ngebully si Arska" ucap Brayu membuka suara.


"Gue lagi nggak mood bray, gue lagi banyak pikiran" ucapnya pelan.


"Tau... ni... main nyelonong aja nggak ngajak-ngajak, mana gue di tinggalin sama kembarannya curut" lanjut Dilan.


"Ya elah... sesama curut di larang saling menghina woy.... lagian ni ya daripada gue ngajakin orang-orang aneh kaya kalian, mending gue ngajak orang yang waras, ya nggak dy" ucap Brayu seraya merangkul pundak Aldy. Aldy hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Sialan lo pada" ucap Dilan memukul lengan Brayu dan Aldy pelan tawa mereka semakin menggila.


Arska mengernyitkan dahinya, ia tak ikut tertawa, wajahnya terlihat cemas karena memikirkan suatu hal. Brayu menghentikan tawanya segera ia menginjak kaki Arska cukup keras, agar Arska tak lagi melamun lagi. "Lo kenapa lagi ka, tadi lo ketawa ketiwi kaya orang nggak waras, terus sekarang lo diam seribu bahasa kaya gini".

__ADS_1


"Em... nggak tau kenapa gue tiba-tiba kepikiran Aya, perasaan gue nggak enak. Gue mau cabut duluan ya bray" ucap Arska panik seraya berlari kefakiran.


...°•©inta Untuk Fella°•...


Fella menggeluarkan handset dari tasnya, ia mendengarkan lagu favoritnya, ia terlalu asyik memainkan ponselnya, sampai ia tak menyadari kalau segerombol preman datang menghampirinya. "Hay cantik boleh gabung nggak?" ucap pria bertubuh kurus itu, sebut saja Johan.


Fella memandang sekelilingnya, ia ketakutan dengan suara gemetar ia memberanikan diri untuk bersuara. "Kalian mau ngapain?".


Marko si pentolan preman segera mendekat ke arah Fella, senyumnya sinis. "Kita cuma mau bawa lo ke suatu tempat".


Fella menelan saliva nya. "Salah saya apa?".


"Kamu nggak punya salah sama kita, tapi kamu punya masalah sama bos kita" celetuk Marko sekali lagi.


Fella terpekik setelah mendengar ucapan pria tersebut. "Tapi saya nggak pernah punya musuh!, saya juga nggak kenal bos anda" ucap Fella memberanikan diri.


"Maaf nona yang cantik, kita butuh duit buat makan, jadi terpaksa kita mau bawa lo ke suatu tempat, seperti perintah bos kita" ucap Johan memperjelas ucapannya.


"Jecky, cepetan bawa dia ke mobil" ucap Marco memerintah salah satu anak buahnya.

__ADS_1


Fella yang panik mencoba melawan dan berteriak. "Tolong.... penculik.." teriaknya cukup keras. Tapi dengan sigap Johan segera membungkam mulut Fella mengunakan saputangan yang sudah di beri obat bius. Seketika tenaga Fella melemas ia jatuh pingsan, Marco dengan sigap langsung membopong Fella masuk ke dalam mobil.


__ADS_2