Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Fella Ngidam


__ADS_3

"Sayang, aku berangkat ke kampus dulu ya," Arska yang sudah selesai sarapan beranjak dari kursinya, membuat atensi Fella tersita untuk menatap kearahnya. Melihat piring Arska yang sudah kosong, Fella segera bangkit dari duduknya guna mengantar Arska sampai pintu apartemennya, yah mereka baru pindah rumah beberapa minggu yang lalu, karena keduanya tak ingin merepotkan kedua orang tuanya, atau lebih tepatnya tergantung oleh keduanya. Sebab Arska sudah mampu membeli rumah dengan hasil uang tabungannya sendiri.


"Ayo!" serunya. Arska pun mengangguk dan berdiri, ia mengambil tasnya dan berlalu terlebih dahulu di ikuti Fella di belakang.


Sesampainya di depan pintu, Arska dan Fella menghentikan langkahnya. "Kamu jadi pergi belanja?" tanya Arska secara tiba-tiba.


Fella pun menggangu-kan kepalanya pelan. "Jadi." balasnya singkat.


"Ya udah, hati-hati ya sayang!" Arska mengacak gemas rambut istrinya yang di balas dengan senyuman oleh sang pemilik. Saat Arska hendak berlalu pergi, Fella menahan lengannya.


"Kenapa sayang?" Arska mengangkat sebelah alisnya karena Fella tak kunjung membuka suara.


"Emm.... Ayang," cicitnya pelan. Perempuan itu sedikit takut sekaligus malu ketika akan mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan, entah mengapa saat hamil tingkahnya banyak berubah dan sering kali membuat Arska gemas karena tingkahnya itu.


"Ngomong aja, aku nggak bakalan gigit kok, sayang," ucap Arska sedikit menggoda. Lelaki itu dapat melihat keraguan di mata Fella, memang setelah hamil tingkah istrinya itu banyak berubah, cenderung pemalu.


"Emmmm... nggak jadi deh," Fella terkekeh pelan. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri, padahal permintaannya itu pun tak terlalu memberatkan Arska atau mungkin suaminya itu justru bahagia saat Fella mengatakan hal yang di inginkannya.


"Ehem," Arska berdehem pelan. Ia tak tau apa yang istrinya inginkan, yang pasti tindakannya itu membuat pikiran Arska traveling kemana-mana.


"Ya udah, kamu berangkat sana, hati-hati di jalan," final Fella. Ia kemudian membalikkan badannya dan hendak masuk kedalam apartemennya, namun tangan besar Arska tiba-tiba menarik lengan Fella hingga tubuh mungil itu tertarik dan berbalik menabrak tubuh tegapnya. Mata Fella membola, ia terkejut melihat perlakuan suaminya yang secara tiba-tiba menarik lengannya, apalagi kala bibirnya menyentuh bibir Arska. Tubuh Fella membeku seketika, darahnya mengalir secara cepat. Fella ingin menjauh, namun tangan kekar suaminya itu justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Fella.

__ADS_1


"Mau apa hem?" suara lembut Arska menyapu indra pendengaran Fella membuat dadanya bergetar seketika.


"Ayang lepasin, ini diluar!" Fella mencoba meronta namun hasilnya nihil, Arska tidak ingin melepaskan pelukannya dan justru semakin mempererat-nya.


"Ngomong dulu baru aku lepasin, sayang?" suara lembut kembali terdengar di telinga perempuan itu.


Fella mendelik, tidak taukah jika jantung istrinya itu mulai tak bisa di kontrol dan bahkan ingin lepas dari tempatnya? Tidak taukah Arska jika perasaan Fella saat ini sedang di landa bahagia yang siap membuncah kapan saja? Ia merasa jika dirinya adalah wanita paling beruntung karena memiliki laki-laki yang begitu sempurna seperti Arska, bukan hanya dari segi fisiknya saja, tapi dari segi perhatian dan kasih sayangnya juga.


"Ayo ngomong," desak Arska dengan suara serak nan menggoda.


Fella menurunkan pandangannya, yang semula menatap netra kalem Arska yang menatap teduh dirinya, kini beralih menatap bibir suaminya yang berwana merah muda. Fella menelan saliva-nya dengan susah payah. Belahan bibir Arska tercetak jelas membuat Fella ingin sekali menggigitnya, semburat merah kini menghiasi pipi Fella.


"Aku tadinya pengen cium pipi kamu, tapi sekarang...." Fella tak berani melanjutkan kalimatnya. Ia kembali menatap bibir suaminya dan lagi-lagi menelan saliva-nya. Ada apa dengan dirinya? Kenapa keinginan mencium Arska begitu besar, padahal biasanya ia akan langsung melakukannya tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya, bahkan Fella tak pernah berkelakuan seaneh ini sebelumnya, atau mungkin dirinya sedang ngidam Arska? Ah tidak, lebih tepatnya ngidam bibir suaminya.


Arska yang melihat gelagat istrinya menahan senyumnya. Namun ia ingin membiarkan saja, biarlah istrinya yang memulai duluan.


"Ayang boleh?" katanya bertanya dengan suara pelan dan tatapan mata sarat akan permohonan. Fella menggigit bibirnya kala Arska hanya merespon dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Boleh apa, sayang?" gemas Arska seakan tak mengetahui keinginan istrinya itu.


Fella kesal, namun ia memberanikan dirinya dengan malu-malu. Biarlah Arska berpikiran aneh terhadapnya, asal keinginannya terpenuhi. Dan detik itu pun mata Arska membola dengan sempurna, di kala bibir mungil milik istrinya sudah menempel di bibirnya. Ini bukan kali pertamanya, tapi sikap malu-malu Fella yang ingin menciumnya, membuatnya semakin gemas dengan tindakannya itu. Saat Fella akan mengakhiri ciumannya dan memberontak dari pelukan Arska, lelaki itu justru menahan tengkuk istrinya dan membalas ciuman Fella, wanita itu sedikit terkejut lantaran ciuman yang di berikan oleh Arska berbeda dari biasanya. Namun, Fella justru menikmatinya.

__ADS_1


Saat dirasa keduanya mulai kehabisan pasokan oksigen di dalam rongga dadanya, Arska melepas ciumannya kemudian menatap dalam Fella yang juga menatapnya. Keduanya sama-sama meraup oksigen untuk memenuhi lingkup paru-parunya.


"Kenapa nggak langsung minta dari tadi? Kenapa malu-malu?" kata Arska berniat menggoda. Dalam hati ia sangat senang melihat tindakan istrinya itu.


"Maaf Ayang, nggak tau kenapa aku pengen cium bibir kamu, cicit Fella dengan pipi memerah.


Arska tersenyum senang, senyum yang sejak tadi di tahan akhirnya mengembang menghiasi wajah tampannya. "Nggak papa, asal jangan minta cium laki-laki lain, ya!" tuturnya.


Mendengar hal itu Fella sedikit mendongak dan menatap Arska. "Iya, lagian mana berani aku minta hal semacam itu, apalagi suami ku aja ganteng kaya gini," balasnya diiringi senyum.


Arska gemas, benar-benar gemas dengan sikap yang di tujukan istrinya itu.


"Pinter. Aku berangkat ke kampus dulu ya sayang, jaga diri baik-baik." serunya. Namun, sebelum meninggalkan Fella, Arska terlebih dahulu berjongkok di depan perut istrinya. Tangan besarnya mengusap lembut perut Fella yang sedikit membuncit.


"Nak, papa berangkat ke kampus dulu ya. Ingat, jangan ngidam yang aneh-aneh, apalagi ngidam pengen cium orang lain. Papa nggak ikhlas ya nak." tuturnya seraya mencium perut Fella dengan lembut.


Fella tersenyum geli mendengar ucapan Arska. Namun dalam hati ia merasa bahagia, lelaki itu kemudian menegakkan tubuhnya. "Aku berangkat dulu ya, sayang," ucapnya yang tak lupa mendaratkan bibirnya di kening Fella.


Fella mengangguk, membiarkan Arska berlalu meninggalkan apartemennya dan meninggalkan dirinya sendiri yang masih menatap punggung tegap suaminya itu.


"Astaga, kamu ini ya nak. Bikin Mama malu aja di depan Papa kamu," ucapnya mengusap lembut perutnya. Fella yakin jiks sekarang pipinya dan telinganya sudah merah merona. Di balik telapak tangannya, Fella tersenyum bahagia sebelum akhirnya ia masuk kedalam apartemennya untuk membereskan sarapannya dan bersiap menuju supermarket.

__ADS_1


__ADS_2