
Seminggu setelah ujian Arska melepas rindunya kepada Fella, selama seminggu ia harus menahan diri untuk tidak menjumpai kekasihnya walaupun ia sebenarnya tak sanggup. "Pagi sayang," ucap Arska yang sudah berdiri di depan pintu rumah Fella.
Fella tersentak karena dirinya masih menggunakan piyama. "Pagi banget sih yang kesini nya, aku kan baru bangun tidur," cicit Fella mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Aku kan kangen sama kamu jadinya aku pagi-an datangnya," ucap Arska seraya mengacak-acak rambut Fella. "Nggak subuh dong ay kalau jam segini baru bangun?"
"Enggak yang, aku baru halangan," jelasnya dengan kaki melangkah ke arah ruang tamu. "Kita nanti mau kemana sih yang?"
"Ada yang janji mau traktir makan, abis jadian soalnya?"
"Tumben banget ada traktiran,"
"Hahaha...aku sama Brayu maksa yang," jelas Arska tak menghentikan tawanya.
Fella manggut-manggut mengerti. "Aku mandi dulu ya yang, nggak PD kalau deket kamu masih bau gini."
"Nggak bau kok sayang, cuma itu ilernya kemana-mana," jelas Arska sambil menunjuk sudut bibir Fella.
Fella memegang sudut bibirnya sebelum akhirnya berteriak. "Arska.... jahat banget sih..." ucap Fella yang langsung berlari meninggalkan kekasihnya yang masih tertawa jahat melihat dirinya berhasil di permalukan.
Sekitar setengah jam Fella menuruni anak tangga dengan badan yang sudah harum, rambutnya yang terurai karena masih basah menambah kesan cantik bagi gadis berambut sepinggang itu.
"Harumnya sayang ku ini," celoteh Arska dengan tangan yang hendak merangkulnya.
Fella yang masih kesal dengan tindakan Arska yang mengejeknya tadi segera menghindari rangkulan Arska .
"Nggak mau....aku kan ileran nanti kamu ilfil," sindir Fella dengan bibir mencibirnya.
"Ya ampun sayang...masih ngambek aja, aku cuma becanda tau."
"Nggak lucu bercandanya."
"Yah... sayang kalau ngambek nggak cute lagi tau," seru Arska mengedip-ngedipkan matanya.
"Ya ampun mata kamu kenapa yang? kelilipan?"
"Iya..... kelilipan kasih sayang kamu," celetuk Arska menggoda.
"Ih... ngeselin."
"Aku ngeselin kaya gini aja kamu sayang apa lagi aku nggak ngeselin ay," balas Arska dengan senyum memikat ala Arska.
"Nggak usah senyum-senyum nanti di kira orang nggak waras," ucap Fella sedikit sensi.
"Jahat banget sih kamu ay, sama tunangan sendiri kaya gitu ngomongnya," celetuk Arska yang kini merangkul lengan Fella dengan eratnya. "Aku kangen tau ay, seminggu nggak ketemu kamu serasa kaya di penjara."
"Idih... lebay banget sih kamu yang."
"Biar lebay gini kamu juga sayang, apalah arti sebuah cacian tanpa penolakan."
Mereka terus tertawa tanpa henti, saking bahagianya dan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10:12. Bella yang sejak tadi mondar-mandir di depan rumah Fella sambil terus menggerutu tak khayal membuat Arska dan Fella keluar untuk melihat siapa yang tengah berada di depan rumahnya.
"Elo kenapa nggak langsung masuk aja sih bel? udah kaya gosokan aja mondar-mandir di depan rumah gue," ucap Fella di ambang pintu masuk ruang tamu.
"Nggak mau jadi obat nyamuk gue, makanya gue nunggu disini sampai kalian selesai mesra-mesraannya," jelas Bella menoleh sambil menghentikan aktivitas mondar-mandirnya.
"Sekali tepuk mati dong bel kalau jadi nyamuk beneran," kata Arska bermaksud meledek.
"Nggak usah ngeledek deh... ngeselin banget."
"Hahaha... abisnya lo lucu banget bel, yang lain udah punya gandengan lah...elo belom," Arska makin nyinyir meledek temannya itu.
"Ye..... di bilangin jangan ngeledek gue," tangan Bella hendak memukul Arska tapi ia urungkan. "Gue bisa aja punya gendengan tinggal tunjuk. Mang Ujang aja bisa jadi gandengan gue kalau cuma gandengan," tunjuk Bella saat melihat Mang Ujang sedang menyirami tanaman di depan rumah Fella.
"Nyari cowok maksudnya bel, bukan gandengan yang kaya gitu yang fi maksud Arska, truk aja gandengan masak kamu kalah."
"Jangan mulai lagi deh, mood gue jelek banget hari ini, jadi jangan di tambahin lagi."
Arska celingak-celinguk mencari mobil Bella tapi tak ada di sana. "Elo kesini sama siapa bel, tumben nggak bawa mobil sendiri?"
Bella memutar bola matanya ia sungguh kesal jika mengingat kejadian tadi pagi. "Gue abis nabrak motor orang, mobil gue masih di bengkel," jelasnya dengan muka bete-nya.
"What? elo nggak ngarang cerita kan bel? terus apa lo yang luka," Fella membolak-balik tubuh sahabatnya itu.
"Gue nggak kenapa-napa yang gue tabrak yang kenapa-napa, dia lecet-lecet tapi udah gue antar ke dokter."
Fella menghela nafas lega, setidaknya sahabatnya itu tidak kenapa-napa. "Syukur deh kalau gitu.".
"Btw mau berangkat jam berapa ni?"
"Ini juga mau berangkat bel," sahut Arska.
"Gue nebeng kalian, tapi kalian di larang mesra-mesaraan di depan gue."
"Elo yang numpang, kenapa elo juga yang ngatur sih," protes Arska.
__ADS_1
"Mata gue sakit dodol ngeliat kalian mesra gitu, nggak bisa apa ngehargai jomblo apa?" ketus Bella menginjak kaki Arska dan mulai masuk kedalam mobil.
Arska meringis dengan tindakan Bella, ia mengangkat kakinya untuk memastikan tak ada yang bengkak.
"Woy.... buruan lama banget," teriak Bella dari jendela mobil yang sudah ia buka.
"Sabar bel, kaki gue sakit gara-gara elo."
"Jadi cowok lembek banget," celoteh Bella yang kini sudah menutup kembali kaca mobilnya.
Tak ada kata-kata mesra yang keluar dari mulut Arska, ia sibuk mengamati kaca spionnya, mengamati apakah Bella sedang tidur atau tidak, jika sedang tidur ia aman untuk menebar pesona kepada kekasihnya jika masih bangun jangan harap tebar pesona, memasang senyum pun pasti sudah ada singa yang segera mengamuk.
"Ngapain lo ngeliatin gue!" mata Bella sudah terlebih dahulu melotot ke arah Arska.
"Galak banget bel."
"Elo pikir gue tidur," cetusnya.
"Jangan galak-galak kenapa sih bel? cepat tua tau," sahut Fella sambil mencuri-curi padangan dari kekasihnya.
"Nggak usah main mata, cepetan fokus nyetirnya," perintah Bella sambil memalingkan wajahnya ke jendela mobil. "Hahaha... gue kerjain kalian siapa suruh ngeledekin gue terus," batin Bella hingga seulas senyuman terlukis di sudut bibirnya.
...•°•©inta Untuk Fella|°•°...
Sampai di sebuah kafe yang mereka sepakati, mereka sudah melihat kehadiran lima makhluk hidup yang sudah berjejer rapi di pojokan, dengan tawa khas Aldy dan satu makhluk yang menjadi bullyan mereka siapa lagi kalau bukan mantan play boy Brayu.
"Akhirnya kelar juga...selama seminggu nggak ketemu pacar rasanya kangen banget," celoteh Aldy yang kini menyandarkan kepalanya ke bahu Faya sambil matanya melirik ke arah Brayu.
"Pamer aja kemesraan di depan kita, yang baru anget-angetnya jadian jadi lupa diri," balas Brayu mencibir.
"Ya elah bray, kaya elo nggak pernah pacaran aja," sindir Dilan.
"Rame banget sih... mentang-mentang pasangan baru," timbrung Arska yang langsung menarik kursi dan mempersilahkan Fella untuk duduk, di ikuti dirinya yang juga menarik kursi di sebelah Fella.
"Tau ni, pada rese ngecengin gue muluk."
"Nggak papa bray, yang penting hari ini kita dapet traktiran dobel dan makan sepuasnya. Jarang-jarang kan mereka mau traktir kita."
"Hahaha... bener ka."
Aldy dan Dilan mencebirkan bibir mereka. "Sial... padahal mereka yang maksa," kata Dilan berbisik kepada Aldy.
"Tenang aja gue udah minta uang lebih sama emak. Tapi... kalau kurang elo yang nambahin ya lan," balas Aldy pelan tak lupa nyengir ala khasnya.
"Iya...iya.. tenang aja gue tambahin gopek nanti."
"Nggak usah pada bisik-bisik suara kalian sampai sini," jelas Bella sambil menatap ke arah Aldy dan Dilan dengan muka masam.
"Hehehe.... si benes denger kita ngomong apa lan," celetuk Aldy menepuk pundak Dilan.
"Benes apa dy?" Dilan memperjelas suaranya.
"Bella ngenes lan."
"Tarik nggak kata-kata elo barusan," sentak Bella.
"Hahaha becanda bel, jangan ngambek gitu dong," ucap Aldy dan Dilan serempak.
"Tau ah... pusing dengerin elo pada ngomong," ucap Bella yang langsung berdiri dari duduknya.
"Mau kemana lo bel?" tanya Regina.
"Mau ke toilet lo mau ikut," jelas Bella dengan muka datarnya.
"Hehe.. enggak bel," balas Regina dengan senyum menyungging. "Bella kenapa sih datar banget mukanya."
"Dia lagi sebel tadi pagi abis nabrak orang," jelas Fella.
"Pantes aja dia tadi barengnya sama kalian," timbrung Dilan manggut-manggut.
Brayu yang mendengar hal tersebut segera menggebrak meja pelan. "Tapi Bella nggak kenapa-napa kan?" ucapnya memastikan.
"Elo liat sendiri kan kalau semua anggota badannya masih lengkap," ucap Arska.
"Masih lengkap sih ka, tapi mukanya datar gitu."
"Lo ledek aja bray, pasti kena tampol," ledek Arska.
"Rese lo."
"Abis lo nanyanya ada-ada aja, dia sehat gitu masih tanya yang enggak-enggak," balas Aldy.
Bella keluar dari toilet ketika ada seseorang yang menyengat nya. Kepalanya terangkat untuk menatap siapa pelakunya dan matanya mendapati seorang cowok sedang tersenyum tipis kearahnya.
"Hay!" sapa-nya dengan ringan. Bella sama sekali tak merubah ekspresinya dan melihat penampilan cowok tersebut. Dia memakai seragam taekwondo dan terlihat sangat gagah.
__ADS_1
"Kita ketemu lagi," katanya masih dengan senyum. Bella tak menanggapi dan berlalu begitu saja dari hadapan cowok tersebut namaun tangan Bella di cekalnya.
"Lepasin!" ucap Bella tak terima karena ada orang yang menyentuhnya. Tatapannya terlalu tajam dan cowok tersebut langsung melepaskan tangan Bella.
"Sorry!" katanya. "Elo nggak lupa kan sama gue?" lanjutnya lagi dan Bella benar-benar tak mempedulikan cowok tersebut. Namun bukannya marah di perlakukan seperti itu, cowok itu justru tersenyum dan merasa ini menjadi sangat menarik, dengan langkah pincang ia terus mengikuti Bella.
Bella kembali ke bangkunya dengan muka datarnya ia mengangkat tangannya untuk menopang wajahnya.
"Kenapa lagi sih bel?" tanya Fella memastikan.
"Gue abis ketemu sama orang yang tadi pagi gue tabrak," jelasnya.
"Orangnya di sini? yang mana?" Fella makin penasaran.
"Iya bel, mana orangnya? ganteng nggak?" sahut Faya dengan mata berbinar.
"Ingat udah punya cowok fay, Aldy melototin elo mulu tuh."
Faya menoleh ia menunjukan gigi putihnya di depan cowoknya itu. "Hehehe... khilaf beb."
"Nggak ada kata khilaf beb," ucap Aldy dengan posesifnya.
Faya mencebirkan bibirnya tak puas dengan jawaban kekasihnya itu. Dari arah belakang cowok tersebut ternyata mengikuti Bella dengan kaki yang sedikit pincang ia tak menyerah sampai di sana. "Hay....gue belum selesai ngomong," kata cowok itu yang langsung duduk di sebelah Bella.
"Gue kan udah tanggung jawab, motor lo juga udah gue bawa ke bengkel, bahkan elo juga udah gue bawa ke dokter, elo masih mau minta pertanggung jawaban apa lagi dari gue!"
"Ganteng bel," timberung Faya senyum-senyum tak jelas. Aldy yang menyaksikan tingkah kekasihnya itu segera menarik lengan Faya agar mendekat ia menutup mata Faya mengunakan tangan kanannya. "Aku udah bilang jangan centil sama cowok lain," jelas Aldy.
"Elo belom tanggung jawab soal..." cowok itu menaruh tangannya di dadanya.
"Elo kenapa sih? gue lagi nggak mood jadi tolong pergi" cetus Bella memalingkan wajahnya.
"Gue mau elo tanggung jawab karena hati gue udah berhasil elo curi," lanjutnya.
Bella mengeriput kan keningnya. "Elo gila ya, gue nggak tertarik."
"Tapi gue tertarik sama elo."
Brayu yang sejak tadi memperhatikan ucapan cowok tersebut sontak mengepalkan tangannya.
"Leon....elo di cariin dosen, katanya elo belom ngumpulin makalah." ucap cowok yang menghampiri meja mereka dengan nafas ngos-ngosan.
Cowok itu berdecak kesal sebelum akhirnya berdiri dari duduknya.
"Lagian lo ngapin juga, ikut anak kencur-kencur duduk di sini? elo tadi bukanya izin mau beli minum."
"Ck... kencur? mending sini kayaknya dari pada itu terasi basi," comel Regina yang kesal mendengar kata-kata kencur ditunjukan untuk dirinya dan teman-temannya.
"Sabar gin, maklum udah pada tua, kita yang muda mending ngalah diem aja takut kualat," timbrung Aldy.
"Orang tua ngomongnya emang ngawur nenek gue aja kalau ngomong persis kaya gitu," sahut Arska yang kini malas melihat ke arah dua cowok yang terus menganggu pemandangannya, lebih menarik memandang kekasihnya dari pada harus memperhatikan drama abal-abal. "Nggak usah ngeliat ke sana ay, aku aja malas mending tatap aku aja ay," ucap Arska yang kini menarik dagu Fella agar menatap ke arahnya.
"Lagi seru yang," protesnya.
"Nggak ada seru-serunya lebih seru ngobrol sama kamu.".
Senyum Fella mengembang, kini ia lebih fokus mengobrol dengan Arska.
"Tuh... bau mulut mereka aja masih tercium bau kencur."
"Elo bisa diem nggak Al !" sentak Leon cukup kesal dengan mulut mercon Al.
"Sorry Le... mulut gue ini emang susah di rem."
"Bukanya susah di rem tapi emang mulut cowok ember kan gitu!!" teriak Regina karena malas melihat cowok itu terus nyinyir tanpa henti.
"Sabar sayang, kita liat aja celotehan orang tua kaya apa sih...biar kita yang bau kencur ini kalau udah dewasa nggak jadi mulut racun," jelas Dilan menenangkan Regina, sebenarnya ia sudah muak dengan ucapan cowok rese yang ada di hadapan mereka saat ini, tapi ia tidak mau membuat rusuh.
Leon melangkahkan kakinya beberapa langkah, saat sedang di samping Bella ia membisikan sesuatu. "Gue bakalan temuin elo lain waktu," ucap Leon yang langsung menarik tali rambut Bella. "Elo lebih cantik kalau rambut elo terurai gini," lanjutnya seraya meninggalkan meja Bella.
Bella mengepalkan tangannya ia sudah tak bisa membendung emosinya lagi.
"Sabar bel," suara Fella mencoba menenangkan Bella.
"Iya bel, kita di sini buat ngerayain jadian gue sama Aldy," sambung Faya.
"Iya.. kita kan mau makan-makan doble bel," sahut Regina.
"Ck.... sorry.. gue kesel sama kelakuan cowok gila tadi," balas Bella.
"Oke... kita yang bau kencur ini mau makan dengan tenang," ucap Aldy.
"Mulut elo udah kaya jahe pedesnya dy," cicit Dilan.
"Abisnya gue kesel dari tadi nahan emosi gara-gara dengar celotehan cowok tua itu."
__ADS_1
Brayu yang tak lepas menatap ke arah Bella masih saja melihatkan muka datarnya. Aldy tak sengaja melihat hal tersebut segera membully Brayu tanpa ampun. "Tenang aja bray, Bella nggak minat sama cowok yang tadi, jadi elo nggak perlu pasang muka datar gitu," ledek Aldy.
Gelak tawa kini memenuhi penghuni meja pojokan sambil memakan makanan yang mereka pesan.