
Sudah seminggu ini Leon mengajaknya untuk memberi makan kucing-kucing yang kelaparan di gang sempit itu, tak banyak yang berubah dari sikap mereka saat menghabiskan waktu berduaan.
"Lo bosen, tiap hari gue suruh kesini buat kasih makan kucing?" tanya Leon, saat keheningan mulai terasa. Karena sejak tadi Leon selalu memperhatikan gerak-gerik yang di dilakukan oleh Salsa. Untung saja lelaki itu begitu peka.
"Aku nggak bosan kok, cuma aku masih bingung aja." balasnya dengan wajah yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Lo, baru ada masalah?" Leon kembali bertanya, nampaknya lelaki itu akan lebih cerewet dari biasanya.
Salsa mengangguk pelan, kali ini ia melihat ke arah Leon yang sejak tadi terus memandang ke arahnya.
"Lo punya masalah apa? Cerita ke gue. Siapa tau gue bisa bantu elo buat keluar dari maslah ini." jelasnya seraya mengelus pucuk kepala Salsa pelan.
Mimik wajah Salsa sudah terlihat sangat membingungkan. Entah apa yang membuatnya seperti ini, Leon semakin kebingungan saat melihat manik mata Salsa yang tiba-tiba memerah.
"Elo kenapa? Cerita sama gue, kalau elo punya masalah." ucap Leon sekali lagi.
"Huhuhu...."
Suara Salsa yang tiba-tiba nyaring itu membuatnya terjungkal kebelakang karena terkejut. Lelaki itu mengelus dadanya bidang, mencoba bersabar dengan tindakan kekasihnya itu, untung saja gendang telinganya masih berfungsi normal, jika tidak ia akan menghukum Salsa seberat mungkin. Karena, teriaknya mampu membuat orang yang mendengarnya menjadi sakit telinga dadakan.
"Aku di selingkuhin sama pacar aku, huhuhu.. dan teganya temen deket aku yang jadi selingkuhannya dia." suara isak tangis Salsa membuat lelaki itu menggeleng pelan, bagaimana tidak? Gadis itu menangis sambil terus berbicara, bahkan suaranya pun tidak terlalu jelas saat sampai di telinga Leon.
'Astaga, dia nangis gara-gara cowoknya selingkuh. Sedangkan dia juga selingkuh sama gue. Nasib punya pacar ABG, labil terus,' batin Leon.
"Aku harus gimana?" tanya Salsa dengan wajah menyedihkan.
"Dasar cewek bodoh, bukannya malah bagus. Jadi lo nggak perlu mikirin gimana caranya putus sama cowok lo itu!" jelas Leon dengan.
Salsa menoleh ke arah Leon, suara isakan dan sesegukan masih terdengar di telinga lelaki tersebut. "Jangan nangis lagi ya," ucap Leon sembari mengusap air mata yang membasahi pipi Salsa.
"Apa ini karma, karena aku pacaran sama kamu?" tanyanya di iringi dengan sesegukan.
"Mana ada yang kaya gitu di sebut karma. Elo tuh, keseringan nonton drama jadi otak lo agak kolot!" seru Leon dengan hati kesal.
Salsa mengerucutkan bibirnya, gadis itu kesal mendengar olokan Leon yang begitu menyinggung hatinya. "Ini semua gara-gara kamu, coba kamu nggak maksa aku buat jadi pacar kamu. Semua ini pasti nggak akan terjadi." keluhnya.
"Ye, kok elo jadi nyalahin gue. Padahal gue nggak tau sama rencana-Nya. Ya, mungkin itu udah takdir lo, harus hidup sama gue!"
"Iya, bener banget. Hidup dalam keterpaksaan," sahut Salsa.
"Kenapa harus terpaksa?" tanya Leon tak terima.
Menekuk wajahnya dengan tampang serius. "Ya karena aku jadian sama kamu-nya terpaksa." cibir Salsa.
Lelaki itu langsung menarik hidung Salsa dengan cukup kuat, sampai gadis itu jauh ke dalam pelukan-nya. Perkataan Salsa memang benar, namun ia tak mau juga di salahkan secara sepihak. Siapa suruh Bella menikah begitu cepat, hingga ia harus mengalami patah hati yang cukup mendalam dan harus mencari penawarnya.
"Lo, kalau ngomong emang selalu bener ya! Tapi, biar gimana pun juga, gue tetap pacar elo saat ini!" serunya.
"Iya, pacar terkutuk. Karena maksain kehendaknya sendiri!" balas Salsa dengan nada meninggi. Gadis itu justru menenggelamkan wajahnya di dada bidang Leon, mungkin rasa nyama telah ia dapatkan saat ini.
__ADS_1
"Astaga, elo tuh kecil-kecil mulutnya cabe juga ya!" lelaki itu langsung menghukum Salsa dengan memiting kepala gadis tersebut. Tak terlalu sulit memang, karena Salsa sudah berada di depan dadanya.
"Aw! Sakit! Apa ini yang di namakan pacar suka menganiaya!" teriak Salsa yang mencoba melepaskan dirinya.
"Ampun nggak! Biar gimana pun, gue ini pacar elo sekarang. Ya, meskipun maksa tapi seenggaknya gue ini setia." jelas Leon yang belum juga melepaskan pitingan-nya.
Merasa tak bisa keluar dari ketiak Leon, gadis itu menggigit tangan lelaki itu. Samapi membuat Leon membelalakkan matanya dengan cukup lebar, merasakan ada sesuatu yang begitu kuat menekan tangannya.
"Aw! Sakit, lo keturunan kanibal ya? Main gigit-gigit orang tanpa permisi dulu!" seru Leon dengan mengibas-ngibaskan tangannya.
Menyunggingkan bibirnya sebelah. "Iya, sayangnya keturunan kanibal ini pacar kamu!" balas Salsa diiringi senyum tipisnya.
Leon merasa di permainkan oleh gadis bertubuh mungil tersebut, dengan gerakan cepat Leon langsung mencubit kedua pipi Salsa tanpa ampun, membuat gadis tersebut kembali mengaduh karena tindakan Leon tersebut.
Hingga sebuah ide muncul dari dalam otak kecilnya itu. "Entar malam jalan, yuk." ajak Leon, dengan menghentikan aksi konyolnya itu.
Salsa memegangi kedua pipinya, ia mengusap pelan pipinya yang terasa kebas itu. Gadis itu merasa cukup lega, ia tak lagi merasa sedih seperti tadi. "Jalan kemana?"
"Kemana-mana hati ku senang." jawab Leon ngasal.
Tindakan konyol Leon itu semakin membuat Salsa geleng-geleng kan kepalanya. Gimana tidak, jika lelaki itu usianya lebih tua darinya, namun kelakuannya masih seperti anak paud.
"Dasar anak paud!" cibir Salsa seraya melipat kedua tangannya dan menaruhnya di depan dada.
"Lo bilang apa?" tanya Leon dengan wajah seriusnya.
Leon tersenyum sinis, lelaki itu meraih dagu Salsa dan mendekatkan wajahnya ke arah gadis tersebut dengan tiba-tiba. "Gue ada hukuman baru buat elo!"
"Kenapa ada hukuman lagi, sih. Nggak capek apa hukum aku kaya gini," protes Salsa yang semakin mengerucutkan bibirnya.
"Ya itu semua salah elo, sih!"
"Kenapa jadi salahnya aku. Dari tadi aku sedih tau. Jadi, mana ada aku buat salah sama kamu."
Leon semakin menyunggingkan bibirnya, lelaki itu langsung berbisik di telinga Salsa. "Ya, karena lo udah nangis buat cowok lain. Dan pacar lo ini cemburu."
Salsa mendorong pelan dada bidang lelaki tersebut. "Terus kamu mau apa kalau cemburu?" tanya Salsa dengan ekspresi yang sedikit menantang.
"Gue cuma mau..." ucapan Leon terhenti sesaat.
Salsa mengernyitkan keningnya, gadis itu begitu penasaran dengan apa yang akan di ucapan Leon selanjutnya.
Tak mau bosa-basi lagi, karena Salsa sudah penasaran dengan ucapannya. Leon langsung mencium pipi kiri gadis itu.
Gadis itu hanya bisa mematung seraya memegangi pipinya, matanya membulat sempurna. 'Dasar, om-om mesum. Tapi kenapa jantung aku serasa mau copot saat bibir dia nempel di pipi aku. Kenapa bibirnya lembut banget.' pikiran Salsa mulai melayang.
Leon hanya mampun tersenyum dengan tangan kiri membungkam mulut bibirnya. 'Astaga, ekspresi dia kenapa imut banget. Gue cuma cium pipi dia, kenapa dia jadi kaya gini.' batinnya saat melihat ekspresi Salsa yang masih mematung itu. Tiba-tiba saja wajah Leon memerah dengan sendirinya, lelaki itu langsung membuang mukanya ke sembarang arah, dengan hati yang begitu senang saat mengerjai Salsa dan tentu saja, dengan cara seperti ini. Leon seakan mulai bangkit dari keterpurukannya. Setidaknya, gadis biang onar ini bisa sedikit membuatnya bernapas lega.
...~Cinta Untu Fella~...
__ADS_1
Tak banyak yang bisa dilakukan oleh Aldy. Lelaki itu berusaha menghubungi nomor Faya beberapa kali, namun panggilannya selalu saja di alihkan. Aldy hampir frustasi, mengingat disini memang yang salah adalah dirinya ia seakan mengerutuki dirinya sendiri. "Harus pakai cara apa lagi Fay, biar lo balik lagi sama gue!" gumamnya pelan.
"Apa gue minta tolong sama Bella aja ya, dia kan paling ngerti sama perasaan Faya saat ini."
Lelaki itu beranjak dari tempat tidurnya seraya meraih jaket yang ada di sandaran kursi. Ia tak mau menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan Faya kembali.
Aldy menuruni anak tangga yang tak terlalu panjang itu, sampai di ruang keluarga. Alina langsung menegur lelaki tersebut.
"Abang mau kemana? Rapi banget?" tanya Alina dengan ekor mata melirik kearah Aldy.
"Mau kejar cintanya Abang, yang sempet hilang di jalan." balasnya.
"Wih, ini baru Abang aku. Pokoknya semangat deh buat Abang, Alina selalu dukung Abang."
Seulas senyum terbit di sudut bibir lelaki tersebut, tak mau berlama-lama lagi di sana. Aldy segera melangkahkan kakinya.
'Lo emang patut gue perjuangin Fay. Pokoknya, lo harus balik ke sisi gue. Gimana pun itu caranya.' pikirnya.
Di jalan, lelaki itu sedikit gusar. Lantaran mengingat kembali ekspresi wajah Bella yang memandangnya begitu sinis. Perempuan itu benar-benar salah paham terhadap dirinya. Namun, tekatnya sudah sangat bulat untuk meminta bantuan kepada perempuan tersebut. Bahkan, jika ia harus mendapat cacian atas tindakannya itu, ia sudah sangat siap.
Di halaman rumah kediaman Moregan.
Aldy terus mengatur napasnya agar tak berserakan kemana-mana. "Lo pasti bisa, Dy. Kalau Bella ngamuk, anggap aja sebagai konsekuensi yang harus lo tanggung karena tindakan nggak bener lo waktu itu!" ucapnya pada diri sendiri.
Aldy mulai melangkahkan kakinya, walaupun keringat dingin sudah keluar dari tubuhnya ia tetap berusaha memberanikan dirinya.
Saat sudah di depan pintu, lelaki itu sudah di sambut dengan adanya Brayu yang membuka pintu. Aldy begitu lega saat mengetahui Brayu yang membukakannya pintu.
"Lo kenapa? Tiba-tiba ke rumah gue?" tanya Brayu sedikit bingung.
Lelaki itu menundukkan kepalanya. "Gue perlu bantuan Bella, Bray."
"Ya udah masuk, mumpung mood istri gue baru baik." balas Brayu yang langsung mempersilahkan Aldy untuk masuk kedalam rumah.
Aldy menghembuskan napasnya beberapa kali, ketika melangkahkan kaki masuk kedalam rumah. Di sana ia melihat Bella yang sedang duduk bersantai dengan banyak cemilan di atas meja.
"Hay, Bel." sapa Aldy sedikit canggung.
Perempuan itu langsung menoleh ke sumber suara. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat Adly sudah berdiri di belangnya.
"Ngapain lo kesini?" tanya Bella dengan tatapan tak bersahabat-nya.
Benar dugaan Aldy, jika Bella langsung kesal saat melihat wajahnya. "Gue kesini mau..."
"Elo mau bikin ribut di rumah gue!" potong Bella seraya berdiri.
Buru-buru Brayu langsung menghampiri Bella dan merangkul istrinya itu. "Sabar sayang, Aldy ke sini mau minta bantuan kamu. Jangan marah-marah dulu ya. Dengerin Aldy ngomong dulu." ujar Brayu menenangkan istrinya itu.
Perempuan itu hanya melihat sekilas ke arah suaminya, ia mengangguk pelan dan mempersilahkan Aldy untuk duduk. Aldy tak mau menunggu lebih lama lagi, lelaki itu langsung menceritakan semuanya kepada Bella. Ia berharap Bella mau membantunya, agar masalah yang di alaminya bisa cepat terselesaikan dengan baik.
__ADS_1