Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Terpojok!


__ADS_3

Aldy nampak mengusap wajahnya dengan kasar, lelaki itu terlihat menyedihkan dengan tampilan wajahnya yang kusam, bahkan penampilannya sudah seperti gelandangan di pinggir jalan, entah mengapa pikirannya tiba-tiba kembali melayang, saat mengingat kenangannya dengan Faya yang terus berputar di memori otak kecilnya itu.


"Gue, nggak terima dengan keputusan secara sepihak ini! Agrahh...." lelaki itu memukul-mukul kepala ranjangnya dengan cukup keras.


"Kenapa harus berakhir seperti ini! Kenapa gue nggak bujuk Faya waktu itu, ini semua terlihat konyol," ucapnya menggerutuki dirinya sendiri.


Di samping itu, Miranti hanya bisa menguping di balik pintu, tanpa berani menegur anaknya itu secara langsung. Sebab, ini kali pertamanya anak laki-lakinya bersikap seperti ini. Jadi, wajar saja jika ibunya takut untuk mengganggu anaknya itu.


"Ibu nggak jadi, manggil bang Aldy-nya?" tanya Alina, dengan tangan yang sudah berlipat di depan dada, adik Aldy itu sudah berdiri di samping Miranti.


"Abang kamu kenapa kaya gitu, Lin. Ibu bingung harus negur Abang kamu. Ini kali pertamanya di ngomel-ngomel nggak jelas kaya gitu." tutur Miranti.


"Ya elah bu, palingan Abang abis putus cinta sama kak Faya."


"Lah, kok kamu tau?" tanya perempuan setengah baya itu. "Pantes aja, Faya udah lama nggak main ke rumah." lanjutnya.


"Secara, pengalaman pacaran aku itu lebih banyak daripada Abang, jadi wajar aja kalau Alina tau."


Miranti menatap anak perempuannya itu dengan ekspresi datarnya. Sebab, buat apa berbangga diri karena memiliki banyak mantan kekasih, jika ada satu yang setia dan membuat nyaman, kenapa tidak di pertahankan.


"Kamu ini, punya mantan banyak. Bangganya minta ampun. Harusnya kamu itu contoh Abang kamu itu, dia cuma punya pacar satu." ucap Miranti mencoba menasehati.


"Tapi, endingnya sama aja. Abang jadi terpuruk karena sakit hati kan, bu. Mending kaya Alina yang nggak pernah ngerasain patah hati." balasnya dengan rasa bangga.


Saat mereka sibuk berdebat di depan pintu, tiba-tiba terdengar suara pintu telah terbuka.


Ceklek!


Membuat Ibu dan anak itu langsung menatap ke arah pintu yang sudah di buka oleh sang pemilik kamar. "Ibu sama Alina ngapain ada di depan pintu aku?" tanya lelaki itu tanpa ekspresi.


Miranti dan Alina bingung harus berucap bagaimana, tidak mungkin kan kalau mereka bicara jujur tentang acara menguping-nya tadi.


"A-ah, Ibu ngajak Alina buat nyuruh Abang makan, soalnya dari seharian Abang kan belom makan," tutur Alina.


"Abang lagi males makan, lagi nggak ada selera buat ngeliatin makanan." balasnya.


"Makanan kok diliatin, yang ada makanan itu di makan, kali bang." cibir Alina dengan bibir terangkat sebelah.


Miranti masih terdiam, di kala melihat penampilan anaknya yang acak kadul itu. Kumis tipis yang mulai tumbuh panjang dan janggut yang tak terawat.


"Ya ampun, Aldy. Kenapa penampilan kamu udah kaya pemulung kaya gini." kata Miranti yang langsung memegangi wajah anaknya itu.


"Hah..." Alina membuka mulutnya cukup lebar, yang benar saja Miranti mengatai anaknya seperti pemulung.


Miranti menoleh, mendengar helaan napas terdengar dari samping telinganya. "Kenapa kamu ngeliatin Ibu kaya gitu?" tanya Miranti penasaran saat ekspresi wajah Alina berubah.


"Ya kali Abang dikatain kaya pemulung bu, yang bener itu. Abang kaya gelandangan nggak ke urus selama setahun." mulut cablak Alina mulai beraksi.


Miranti mengusap wajahnya dengan pelan, ia merasa ucapannya dan anak perempuannya itu tak jauh berbeda.


"Itu sama aja, nggak ada kata-katanya yang beda dari Ibu."


"Tetap aja, beda Ibu!" serunya.


Miranti dan Alina kembali berdebat, seakan mereka lupa dengan keberadaan Aldy yang seharusnya mereka bujuk, untuk mau makan itu. Melihat perdebatan antara adik dan Ibunya, Aldy memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamar dengan menutup pintu cukup keras.


Dur!


"Astaga, Abang! Kalau aku jantungan gimana, nutup pintu kaya gitu!" seru Alina dengan mengelus dadanya.


"Kamu sih, Lin. Abang kamu jadi marah kan." ucap Miranti.


"Ck, ini semua itu gara-gara Ibu. Makanya Abang marah!"

__ADS_1


Keduanya kembali berdebat, membuat Aldy yang berada di dalam kamar semakin kesal. "Kalian berdua, bisa nggak berhenti berdebat di depan kamar orang!" teriak Aldy cukup keras.


Keduanya langsung terdiam dengan siku saling menyenggol.


"Biar, Alina aja ya bu, yang jinakin Abang."


"Terserah kamu aja, Ibu mau balik kedapur lagi," bisik Miranti seraya menggalkan Alina.


"Yah, Ibu. Nggak solit banget!" gumamnya.


Gadis itu mengetuk pintu kamar Aldy beberapa kali, sebelum ia menutuskan untuk masuk ke kandang lembu tersebut. "Bang, Alin masuk." ucapnya dengan suara kecil.


Alina melihat Aldy yang sedang duduk bersandarkan kepala ranjang, lelaki itu nampak melamun.


"Abang, kenapa, sih? Nggak kaya biasanya, tau." kata Alina yang langsung menghampiri Aldy dan duduk di tepi ranjang.


"Abang, capek," balasnya singkat.


"Kalau capek, tinggal istriahat bang, jangan teriak-teriak. Kasihan Ibu khawatir sama Abang. Lagian, kalau Abang teriak-teriak kaya tadi itu, bukanya tambah capek ya?" Alina mulai tak bisa mengontrol ucapannya.


"Alin, tolong. Abang nggak mau berdebat sama kamu." Aldy bersuara dengan nada serendah-rendahnya.


Gadis itu menghela napasnya dengan pelan. "Abang, Alina kesini itu buat ngasih nasehat ke Abang. Bukan mau ngajak debat atau ribut."


"Tau apa kamu? Mau nasehat Abang segala!"


Alina tersenyum sinis, seraya menepuk bahu Aldy pelan. "Alina tau banyak, Alina lebih pengalaman di banding Abang." balasnya, sedikit membanggakan diri.


Aldi mengerutkan keningnya, ia masih bingung dengan ucapan adiknya. "Abang nggak negerti."


"Aduh Abang! Kalau nggak ngerti, gimana bisa kejar kak Faya lagi."


Aldy langsung menegakkan tubuhnya, lelaki itu masih belum paham maksud dari ucapan adiknya itu. Namun, yang membuatnya heran, kenapa Alina bisa tau tentang apa yang menjadi penyebab perubahan sikapnya itu.


"Kenapa kamu tau? Kalau Abang udah nggak sama Faya lagi?" lelaki itu semakin mengerutkan keningnya.


Membuang wajahnya sambil berdecak. "Astaga, Abang ini emang dasar nggak peka ya, pantesan aja Abang susah dapetin kak Faya lagi, caranya aja kaya gini. Kuno dan nggak respek."


"Maksud kamu?"


"Ah, nggak ada maksud aku bang, capek ngomong sama orang yang nggak peka. Padahal adeknya sendiri aja peka banget!" cibir Alina.


Aldy meraih pundak Alina agar bisa kembali menatap ke arahnya. "Caranya gimana?"


"Abang punya cewek lain nggak?" tanya Alina secara tiba-tiba.


"Enggak!"


"Gebetan atau lagi main kucing-kucingan sama kucing tetangga?" pancingnya lagi.


"Enggak!"


"Yang bener?" selidiknya dengan jari telunjuk mengarah kepada lelaki tersebut.


Aldy menghela napasnya perlahan. "Ada, teman Abang dulu waktu SMA."


Alina berdecak, dengan manik mata menyincing. "Dasar ya cowok! Lain di mulut lain di hati. Pantesan aja kak Faya lebih milih ninggalin Abang!" ucapnya dengan tampang judes.


"Astaga, katanya mau ngasih solusi, kenapa ujung-ujungnya Abang juga yang diomelin." lelaki itu membanting tubuhnya kembali ke atas kasur.


"Lagian Abang, masih sayang sama kak Faya, malah cari cewek lagi!" gadis itu masih menatap Aldy dengan tangan yang sudah terlipat di depan dada, rasanya ia ingin sekali menghukum Abangnya itu dengan tinjuan.


"Abang itu, nggak punya cewek lagi!"

__ADS_1


"Terus apa?"


"Abang, cuma bantuin dia, buat terlepas dari perjodohannya. Dia dijodohin sama Om-Om." jelasnya dengan tubuh yang masih membelakangi Alina.


Alina membuka mulutnya, dan langsung membalikan tubuh Aldy agar bisa melihat ke arahnya. "Terus Abang terima gitu aja?"


Aldy mengangguk. "Terpaksa."


"Itu, namanya bukan terpaksa. Tapi, Abang egois!"


"Egois dari mananya, Alina?"


"Coba deh, Abang pikir. Gimana perasaan kak Faya waktu liat Abang jalan sama cowok lain, pasti dia sakit banget."


"Tapi, dia juga jalan sama cowok lain. Terus salahnya Abang dimana?"


Alina menghela napasnya kembali, "Posisinya, kak Faya jalan sama cowok lain itu, udah putus belom sama Abang?"


Aldy mengangguk, lelaki itu terlihat sangat memperihatinkan dengan tampang yang memelas.


"Terus Abang ikut-ikutan?"


"Ya kan, terpaksa Lin!"


"Terpaksa, atau emang dasarnya Abang demen?" lagi-lagi Alina memojokkan Aldy.


"Alina...."


"Apa?" balasnya dengan ekspresi datar.


"Kok, jadi galakan kamu, sih. Ketimbang Abang?"


"Habisnya, Abang ngeselin!"


"Terus, Abang harus gimana?"


"Gimana apanya?" Alina kembali bertanya.


"Abang, sayang sama Faya, Lin."


Alina memutar bola matanya, melihat kondisi Abangnya yang memang nelangsa membuatnya semakin kasihan dan juga kesal. "Kejar kak Faya. Berhenti main drama-dramaan. Biarin dia urus urusannya sendiri!"


"Kok, kamu kejam sih, Lin!" tutur Aldy dengan mata terpejam.


"Kejam mana? Sama Abang yang tega nyakitin perasaan cewek, demi bantuin cewek lain. Giliran udah kehilangan baru kelabakan."


"Jadi, kamu nyalain Abang?"


"Iya!"


"Ya udah, Abang yang salah." lelaki itu menarik selimutnya.


"Loh.... Abang kenapa? Malah balik tidur?"


"Abang, salah terus di mata kamu. Ya mending Abang tidur lagi aja."


"Pengen balikan lagi nggak, sih. Sama kak Faya? Jadi cowok jangan plin-plan lah kak!"


Aldy beranjak dari tidurnya, lelaki itu kembali mendengarkan ucapan adiknya, jika tidak mendengarkan, bisa seharian penuh dia mengoceh di kamar Aldy.


"Paham kan, maksud dari ucapan aku. Akhiri drama, kembali kejar kak Faya, jangan jadi cowok plin-plan!"


Lelaki itu mengangguk, mendapat masukan dari adiknya yang menurutnya memang tak terlalu buruk. Bahkan patut di coba.

__ADS_1


__ADS_2