Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Rasa Kesal!


__ADS_3

Saat mereka sedang berkumpul dan tak melihat keberadaan Faya di sana, Bella segera membuka suaranya di iringi dengan senyum ringan. "Gimana kemarin, Dy? Oke nggak rencana gue?" tanya Bella dengan raut wajah serius dan nampak penasaran, perempuan itu sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Aldy.


Mengangkat kedua bahunya, lalu menggeleng pelan. "Fifty-fifty Bel. Gue nggak tau juga, gue bingung mau ngomong gimana."


"Kenapa nggak tau, sih. Kita udah penasaran banget tau." sahut Regina dengan melipat kedua tangannya dan menaruhnya di atas meja.


"Iya, masa nggak ada perkembangan, padahal udah beberapa jam aja kita ngurung elo dan Faya di ruangan yang sama." timpal Fella dengan nada kesalnya.


"Iya, dan beberapa jam itu. Kalian berhasil bikin gue nggak ada muka di depan Faya." lelaki itu menjawab dengan nada songkol.


"Loh, kok bisa? Bukannya ide gue itu brilian. Kalau sampai nggak berhasil itu artinya salah elo, yang nggak bisa memanfaatkan situasi." kata Bella yang masih membela diri.


"Perjanjiannya kan nggak sampai malam, dan elo ngurung gue sama Faya sampai malam, bahkan penjaga kampus buka pintu aja, gue pikir setan." jelas Aldy dengan hati menggondok saat mengingat kejadian malam kemarin.


Bella nyengir kuda, perempuan itu tau akan kesalahannya. "Ya sorry, gue kan sebagai manusia juga ada rasa lupa. Jadi wajar-kan kalau bukanya rada telat."


"Rada telat apanya, telat banget malahan." kesal Aldy.


"Tapi tetep aja, sih. Harusnya elo pinter-pinter ngambil kesempatan, nggak sepenuhnya elo nyalahin Bella." ujar Regina mulai menghakimi.


Ketiga perempuan itu justru sibuk menghakimi Aldy, bahkan mereka belum mendapat penjelasan yang tepat dari mulut bibir lelaki tersebut.


Menarik napasnya dalam-dalam, hingga Aldy melayangkan kedua tangannya mendarat di atas meja dengan suara keras.


Brak..


Lelaki itu membuat ketiga perempuan itu terkejut, bahkan hampir membuat Regina terjungkal kebelakang akibat kaget dengan apa yang di lakukan Aldy barusan.


"Rese, lo. Kira-kira dong kalau mau mukul meja. Hampir aja kan gue jatuh!" serunya. Bibir Regina berubah mengerucut, ia begitu kesal dengan tindakan Aldy barusan.


"Habis, kalian ini main menghakimi orang tanpa dengerin omongan gue terlebih dulu."


"Kenyataannya, elo emang udah gagal dan nggak bisa manfaatin situasi yang udah gue rencanain, kan!" sahut Bella tak kalah kesal.


Mengacak rambutnya, lelaki itu mulai frustasi dengan perkataan dan ucapan dari ketiga perempuan itu, mereka tak memberikan ruang untuk dirinya menjelaskan maksud dari ucapannya itu.


"Kalian bisa nggak? Bikin bini-bini dan pacar kalian diem, bentar aja. Gue stres kalau harus ngadepin ucapan mereka yang kaya mercon ini. Gue belom sempet ngasih penjelas mereka udah main ngehakimin gue!" keluh Aldy yang kini memilih membenamkan wajahnya di antara tas ranselnya.


Hening terasa, saat keluhannya tak juga ada yang merespon, bahkan suara semut pun mungkin tak terdengar oleh pendengaran lelaki itu, ia mencoba mengangkat wajahnya dan menatap sekelilingnya. Aldy tak mendapati seorang pun berada di meja tersebut, sungguh sial nasibnya saat ini. Bahkan, mereka pergi pun Aldy tak menyadarinya.


"Astaga, mereka nggak ada yang peduli sama gue. Bahkan, gue ngeluh pun mereka malah ninggalin gue! Sahabat dan temen macam apa kalian itu!" serunya yang kembali menenggelamkan wajahnya ke tempat semula.


Tangan seseorang menepuk pundak Aldy beberapa kali, lelaki itu masih belum memberi respon. Hingga, tepukan terakhir membuatnya harus mengangkat kepalanya dan meninggikan nada bicaranya.


"Elo bisa nggak! Kalau nggak ganggu gue! Gue baru pusing!" sentak-nya yang langsung menoleh.


Orang itu sudah menarik tangan. Bahkan, dia sempat menutup mulutnya menggunakan tangan yang tadi digunakannya untuk menepuk bahu Aldy. Saat menoleh pun, Aldy tercengan dengan sosok yang baru saja ia bentak.


"Faya..." melebarkan matanya.


"Maaf, ya kak. Kalau aku udah ganggu," ucapnya dengan tubuh yang sudah memutar balik.


"Aduh Fay, sorry. Aku nggak tau." ucapnya yang berusaha menahan Faya agar tak beranjak pergi.


"Iya, nggak papa. Lagian, aku juga yang harusnya minta maaf ke kakak. Udah ganggu jam istirahatnya kak Aldy."


Menarik tangan Faya pelan, dan menuntunnya untuk duduk. "Bukannya begitu, aku cuma kesel aja sama kutu-kutu kampret yang tiba-tiba ninggalin aku gitu aja tanpa pamit. Bahkan makanan yang mereka makan belum ada yang mereka bayar." tutur Aldi yang langsung melirik ke atas meja yang masih berantakan dengan makanan yang sudah tak tersisa.

__ADS_1


Gadis itu hanya terkekeh sambil menutup mulutnya. Bahkan kelakuan konyol Aldy sama sekali belum berubah, masih sama saja seperti saat Faya berstatus sebagai kekasih Aldy.


Aldy langsung bertanya saat tak ada reaksi dari Faya. "Kamu udah lama di sini, Fay?" tanya Aldy yang masih setia memegangi tangan kiri Faya.


"Em... lumayan, sih. Dari pertama kali kak Aldy ngomel tadi."


Mengusap wajahnya secara kasar, ia bertindak konyol lagi di hadapan Faya. 'Astaga, betapa konyolnya elo, Dy! Gimana kalau Faya makin ilfil sama kelakuan elo ini!' pikirnya sejenak.


Gadis itu melihat kegelisahan yang di perlihatkan oleh Aldy. Sedikit menggigit bibir bawahnya, karena rasa penasaran mulai muncul di dalam otak kecilnya itu.


"Kak Aldy kenapa, sih? Gelisah banget kayaknya." gadis itu langsung to the point dan tak mau bosa-basi terlebih dahulu.


"Ah, nggak papa Fay. Aku cuma baru mikir sesuatu." balasnya cepat.


'Mikirin sesuatu. Sampai segelisah gini, bener-bener bikin malas.' batin Faya sedikit kesal.


'Aduh, gue ngomong apaan, sih. Barusan, Faya bisa makin ilfil sama tindakan gue. Aldy, kenapa elo bego, sih!' keluh Aldy dalam hati.


"Berhubung kak Aldy nggak kenapa-napa. Aku pamit duluan, ya." ucap Fella seraya berdiri.


"Lah kok mau pergi?" tanya Aldy merasa tak ikhlas.


Seulas senyuman di perlihatkan Faya. "Maaf ya kak Aldy. Aku udah ada janji. Aku nggak bisa nemenin kak Aldy lebih lama lagi." katanya yang langsung melepaskan tangannya dari genggaman lelaki tersebut.


Perlahan Aldy mengikhlaskan tangannya melepas genggaman pada tangan Faya. Tubuhnya tiba-tiba melas, lelaki itu tau, jika janji yang di maksud oleh Faya barusan adalah janji dengan Kevin, saingannya itu.


Lelaki itu menatap punggung Faya yang mulai menjauh dari pandangannya. Matanya terlihat sayu.


...~Cinta Untuk Fella~...


"Duh, dia telpon lagi." keluh Salsa saat melihat ponselnya terus berdering.


Meletakan ponselnya dengan kasar di sebelah kiri, rasa malas mulai menghampirinya. Salsa mulai meraih kembali ponselnya saat menerima notifikasi pesan.


"Elo pilih angkat telpon gue, atau lo pilih gue samperin elo ke rumah!" ancam Leon melalui pesan singkat itu.


Menghela napasnya berulang kali, Salsa terlihat kesal dengan sikap memaksa Leon. Bahkan lelaki itu memaksanya untuk menuruti segala permintaannya. "Dasar Leon ngeselin! Kenapa dia seenaknya sendiri, sih." umpat Salsa memukul-mukul bantal yang ada di pangkuannya.


Tak berselang lama, Leon kembali menelponnya, dengan segala keterpaksaan Salsa pun mengangkatnya. Bahkan, benda pipih tersebut belum sempat menempel ke telinganya dengan sempurna, namun suara dari seberang sana sudah menyeruak nyaring ke telinganya.


"Astaga, dia nggak bisa apa? Kalau ngomongnya pelan-pelan." keluh Salsa dengan nada pelan.


Meraih ponselnya yang sempat terjatuh itu. "Halo," ucapnya serasa tak bersemangat.


"Kenapa lama angkat telponnya? Apa perlu gue ngancam elo dulu, baru elo mau angkat telpon dari gue?" tanya Leon dari seberang sana.


"Aku baru malas, dengerin suara kamu yang cerewet ini." balasnya tanpa ragu-ragu.


"Astaga, gue ini cowok elo. Masak lo nggak mau dengerin suara seksi cowok lo yang ganteng ini," balasnya dengan segala ke PD-an yang ada di diri lelaki tersebut.


"Dasar narsis." desis Salsa yang entah terdengar oleh Leon atau tidak.


Saat obrolan mereka sedang berlanjut, ketukan pintu mulai terdengar beberapa kali.


"Sal, elo nggak makan lagi? Dari kemarin elo belom makan sama sekali, entar kalau elo sakit, gue nggak mau tanggung." ucap suara lelaki yang tak lain adalah Arska.


Sedikit menjauhkan benda pipih tersebut dari telinganya. "Entar kalau lapar, aku makan kok kak," balasnya dengan nada tak terlalu keras.

__ADS_1


"Terserah lo aja deh, yang penting gue udah ngingetin elo." kata Arska yang langsung beranjak dari balik pintu.


Merasa Arska sudah tidak ada lagi di balik pintu, Salsa kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


Hening tercipta beberapa detik, sampai Leon kembali membuka suaranya. "Kenapa lo nggak makan?" tanyanya dengan nada pelan.


"Pengen diet, makanya aku nggak makan dulu," jawabnya ngasal.


"Badan sekecil itu mau diet, entar yang ada lo jadi kertas lembek."


Menarik napasnya kemabli. "Hina aja terus, sampai kamu puas!"


"Ya kan, gue cuma ngomong apa adanya, elo sendiri-kan yang bilang kalau badan lo itu kecil mungil. Ya wajar aja kalau gue ngomong kaya gitu."


"Tapi, nggak harus ngatain aku kaya kertas lembek juga kali!" Salsa mulai kesal dengan ejekan yang di berikan oleh Leon itu.


"Elo boleh ngambek, tapi lo juga harus konsisten lah, masak iya lo ngelanggar kesepakatan yang udah gue tentuin."


"Maksud kamu?" Salsa mengernyitkan keningnya, ia tak paham dengan maksud dari ucapan Leon barusan.


"Lo, jangan pura-pura lupa. Lo masih punya hutang yang belum elo selesain dan beberapa hari ini elo udah ngelanggar peraturan yang udah gue kasih."


"Iya maaf, aku tau aku salah. Tapi akhir-akhir ini aku beneran nggak mood." Salsa mengerucutkan bibirnya, bahkan ia nampak tak baik-baik saja kali ini.


"Est.... gue nggak mau denger alasan apa pun, sekalinya elo ngelanggar, gue wajib kasih hukuman ke elo. Dan siap-siap aja elo nerima hukuman dari gue." ancam Leon dari balik telpon.


Mendesis karena ucapan Leon sangatlah mengesalkan. Lagi dan lagi, Salsa merasa di permainkan oleh lelaki itu, bahkan Leon tak memberikan kelonggaran untuknya, dan justru dengan seenaknya sendiri memberikan hukuman.


"Dasar cowok nggak punya hati, ngakunya pacar, tapi dikit-dikit kasih hukuman." Salsa mulai mengomel tak karuan.


"Hahaha... Itu biar elo bisa disiplin dan nggak ngulangin kesalahan yang sama lagi." lelaki itu justru terkekeh karena sukses membuat Salsa yang ada di seberang telpon sana terus komat-kamit tanpa henti.


"Ha...ha...ha... Bye juga! Lama-lama aku juga kesel dengerin peraturan kamu, kalau kaya gini caranya, aku malas nemuin kamu!" seru Salsa yang langsung mematikan telpon secara sepihak.


Tut...Tut...Tut...


Sedangkan Leon yang akan mengatakan sesuatu justru terkejut dangan sikap Salsa, lelaki itu masih memegangi benda pipih tersebut, ekspresi wajahnya nampak melongo saat melihat ke layar ponselnya.


"Sial! Langsung di matiin lagi! Awas aja lo besok, nggak akan gue kasih ampun kelinci kecil ku." Leon menggenggam erat ponselnya, dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dengan cukup keras. Napasnya seakan naik turun, ia benar-benar di buat ling-ling oleh gadis SMA yang dipaksa-nya untuk menjadi kekasihnya itu.


Di sisi lain, Salsa berteriak tak karuan. Ia memukul-mukul lututnya. "Dasar cowok ngeselin, kenapa aku bisa ketemu sama cowok model kaya gitu, sih! Bahkan, apesnya dia itu cowok aku sekarang, Aaaaaa.... ngeselin!" gadis itu langsung menenggelamkan wajahnya di atara boneka yang tak berwujud lagi, karena cengkeramannya yang begitu kuat membuat boneka itu tak beraturan.


"Sal, lo kenapa? Elo nggak lagi kesurupan kan? Suara teriakkan elo sampai ke bawah! Bahkan, Mama sama Papa sampai nyuruh gue buru-buru liat keadaan elo." teriak Arska saat sudah berada di depan pintu.


"Mampus, ini mulut kenapa keterlaluan banget, sih. Hobi banget bikin orang geleng-geleng." Salsa mengerutuki dirinya sendiri bahkan tangannya memukul pelan mulut bibirnya itu.


"Sal, elo masih hidup kan?" tanya Arska yang kini memutar handle pintu.


"Masih lah, emangnya aku apaan!" kesal Salsa.


"Syukur lah, kalau elo masih hidup. Jadi gue nggak perlu nyari alasan lagi kalau elo udah nggak napas." ejeknya Arska yang masih di ambang pintu.


Geram mendengar ucapan kakak sepupunya itu, Salsa langsung melemparkan barang-barang yang ada di atas sofa. "Kak Arska mending keluar, deh. Aku makin kesel ngeliat muka kakak!" sentak-nya.


Arska terkekeh saat melihat ekspresi wajah Salsa yang langsung berubah akibat ulahnya itu, lelaki itu langsung menutup pintu kamar Salsa dengan rapat.


Mengacak rambutnya. "Dua mahluk yang hari ini bikin mood aku rusak! Dasar dua cowok ngeselin!" napas gadis itu terlihat naik turun. Ia menjatuhkan tubuhnya kebelakang, lalu menatap langit-langit kamarnya. Salsa membayangkan apa yang akan terjadi kepada dirinya esok hari, mendengar ucapan Leon yang sepertinya tak main-main kali ini.

__ADS_1


__ADS_2