
Fella terus mengembangkan senyumnya, tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiannya saat ini, hingga di dalam tenda pun, ia masih sibuk memeganginya kedua pipinya, mengingat tindakan yang Arska lakukan tadi siang membuatnya terbang melayang sampai lupa ada sepasang mata yang terus menatapnya.
"Ya elah fel, di kasih apa sih elo sama Arska? sejak tadi gue perhatiin elo senyum mulu kaya orang kurang waras?" tanya Bella mulai memecah keheningan di antara mereka berdua. Sedangkan Faya sibuk pacaran dengan Aldy di luar, mereka menikmati sisa api yang masih menyala untuk menghangatkan tubuh mereka masing-masing.
"Nggak pa-pa kok bel, cuma hati gue seneng aja, nggak bisa move on pokonya."
"Ck... . ya udah kalau nggak mau cerita, susah deh kalau ngomong sama orang yang baru bucin, yang satunya udah sibuk pacaran dari tadi sore belom juga balik, yang satunya lagi senyam-senyum kaya orang kehabisan obat," celoteh Bella seraya menarik selimutnya, ia tak ikut berkumpul di luar karena ia sangat menghindari Brayu yang terus mengganggunya.
"Nggak ikut kumpul di luar bareng yang lain?" tanya Fella saat mengetahui Bella berbaring di bawah selimutnya.
"Enggak... males," jawab Bella dengan singkat.
Tak lama kemudian Arska membuka tenda milik Fella. "Ay... udah tidur belom?" tanya dengan suara lirih.
"Belom yang," sahut Fella.
"Aku pengen ngomong bentar sama kamu ay, bisa keluar sebentar."
Fella masih terdiam seraya melangkah keluar dengan langkah pelan, takut mengganggu Bella. Di depan tenda Brayu sudah celingukan mencari keberadaan Bella.
"Bella kemana fel?" tanyanya dengan kepala sedikit terangkat.
"Bella udah tidur, katanya capek," balas Fella singkat sebelum akhirnya Arska menarik tangannya dengan cepat, Arska tak mau ada yang menggangu moments berdua-nya dengan Fella.
__ADS_1
"Mojok terus...." ucap Brayu dengan nada sewotnya.
"Sewot terus lo, makanya buruan kejar Bella biar nggak baperan kalau ada orang pacaran," sahut Arska nyengir.
Arska melepas jaket yang ia kenakan, memberikannya kepada Fella agar gadis itu merasa hangat. Arska terus mengandeng tangan Fella hingga kini mereka berada ditepi danau.
"Kamu dari tadi di sini?" tanya Fella saat ia melihat sisa api yang masih menyala di sana.
Arska hanya mengangguk. Sesekali tangan Fella mengusap telapak tangannya agar merasa sedikit hangat, udara di sana cukup dingin.
"Belom ngantuk?" tanya Arska memecah keheningan di antara mereka.
"Tadinya udah ngantuk, tapi kamu bawa aku ke sini, ngantuk nya jadi kabur," ucapnya seraya melihat ke arah Arska. "Btw... kamu mau ngomong apa sih yang, sampai bawa aku ke sini segala."
Arska masih terdiam, kini tangannya meraih kedua tangan milik Fella. "Rindu aja sama kamu," ucap Arska ngawur.
"Aku mau kasih ini buat kamu, ya... meskipun harganya nggak seberapa karena ini aku beli dari tabungan ku sendiri," ucapnya seraya mengeluarkan sebuah kalung dari saku celananya.
"Aku nggak pernah mandang dari segi mahalnya, asal kamu yang kasih aku pasti seneng."
Arska menarik sudut bibirnya, merasa puas dengan jawaban yang di berikan kekasihnya. Segera ia memasangkan kalung tersebut di leher Fella.
"Makasih ya sayang," kata Fella seraya mencium pipi Arska dengan cepat.
__ADS_1
"Kamu berinisiatif buat cium aku duluan," goda Arska dengan tangan yang kini memegang pipi kanannya.
"Nggak boleh ya, kalau aku berinisiatif duluan," Fella mengerucutkan bibirnya.
Arska semakin menyunggingkan senyumnya di kala wajah imut Fella berekspresi sedemikian rupa membuatnya semakin tak ingin jauh dari gadis tersebut. Fella mulai merasakan dinginnya hembusan angin yang kini menusuk kedalam pori-pori kulitnya.
Arska memandangi bibir Fella yang bergetar menahan dinginnya angin malam. Dengan sigap, ia melingkarkan tangannya ke tubuh Fella dari belakang, memberikan kehangatan bagi tubuh kekasihnya itu. Fella tersentak kaget dalam pelukan cowok tampan yang berada di sampingnya saat ini.
Fella masih terdiam dengan perlakuan Arska terhadap dirinya. Kini posisi Arska menghadap ke arah Fella, ia menatap gadis itu dengan tatapan lekat. Hingga Fella sedikit menundukkan kepalannya menahan rasa mu akibat perlakuan Arska terhadap dirinya saat ini.
"Jangan menunduk, liat aku!" pinta Arska.
Fella tetap menunduk tanpa berani menatap Arska yang kini telah menghadap ke arahnya.
"Kamu keras kepala, ya! Baiklah aku akan memberikan mu hukuman kecil, karena kamu tidak mau menatap mata aku."
Mata Fella membulat sempurna setelah mendengar ucapan Arska. "Bukankah tadi siang dia juga berkata hal yang sama," pikir Fella.
Arska mengangkat dagu Fella, lalu membenamkan bibirnya ke bibir Fella secar tiba-tiba. Arska mencium dengan singkat. Bahkan Fella masih tak percaya dengan apa yang ia alami barusan. Kata-kata Arska tak hanya membaul saja tapi dia benar-benar menepatinya.
Arska melengkungkan kedua bibirnya membentuk senyum sempurna. "Lihat aku!" pintanya sekali lagi.
Kali ini Fella menuruti perintah Arska. Fella bisa merasakan aroma tubuh Arska yang begitu memikat. Di tepi danau yang sepi dan hembusan angin malam yang menusuk ke pori-pori kulit, dengan hanya bercahaya-kan lampu yang tak begitu terang keduanya saling bertatapan.
__ADS_1
Arska mulai kembali mendekatkan tubuhnya ke arah Fella. Entah kenapa, secara refleks Fella memejamkan matanya seakan siap dengan apa yang akan ia terima. Sesuatu yang lembut dan hangat kembali menyentuh bibirnya.
Fella hanya bisa terpaku dan bingung harus berbuat apa?. Perlahan dia mulai menikmati ciuman yang di berikan oleh Arska untuk dirinya.