Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Bella di Tembak, Brayu Cemburu


__ADS_3

Di ruang tunggu. Bella, Brayu dan Tristan masih setia menunggu giliran untuk menjenguk Fella, hingga Tristan mengajak Bella untuk berbicara empat mata dengannya. Tak terima mendengar ajakan Tristan terhadap Bella. Brayu segera menarik tangan Bella cukup kuat. "Jangan pergi !!" perintah Brayu yang makin memperkuat pegangannya. Bella sedikit tersentak melihat hal yang di lakukan Brayu terhadap dirinya. "Bisa lepasin tangan lo nggak!!" perintah Bella dengan tatapan dingin.


"Bel..." ucap Brayu lirih.


"Gue nggak mau ribut. Ini di rumah sakit !!!, harusnya lo ngerti kan kondisinya" tegasnya.


Dengan berat hati Brayu melepaskan tangan Bella, dengan wajah semerawut ia menundukkan kepalanya. Bella dan Tristan segera meninggalkan tempat duduknya, meninggalkan Brayu sendirian duduk di ruang tunggu. Merasa tau akan hal yang akan di bicarakan oleh Tristan, Brayu segera mengangkat kepalanya, sesaat ia menatap punggung Bella dan Tristan yang kian menjauh. Dengan langkan pelan Brayu membuntuti Bella dan Tristan ke taman, ia mencari tempat yang tak jauh dari tempat duduk Bella dan Tristan, Brayu ingin mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.


Rasa gugup kini menghampiri Tristan hingga cara bicaranya berubah menjadi gugup dan tak beraturan. Bella yang sejak tadi mengamati tingkah laku Tristan yang begitu salah tingkah, segera membuka suara. "Kakak kenapa?, kok mendadak aneh gitu?" tanya Bella dangan mengerutkan keningnya.


Cukup lama Tristan berfikir hingga akhirnya ia membuka suara, suaranya terdengar terbata-bata. "G-u-e.... Sebenernya G-ue".


"Kenapa sih kak, ngomongnya pelan-pelan biar nggak gugup" selidik Bella.


Tristan mulai beralih memandang kearah Bella, ia sedikit membuang nafasnya sebelum akhirnya ia mengutarakan isi hatinya. "Gue suka sama lo bel, lo mau kan jadi pacar gue, gue udah lama suka sama lo, tapi gue nggak berani ngomong ke elo" ucap Tristan dengan nada cepat tanpa tempo.


Bella memutar bola matanya, kini ia kembali melirik ke samping, memastikan ucapan Tristan yang di dengarnya, benar apa salah. "Kak Tristan suka sama.....?" ucap Bella sambil menunjuk dirinya sendiri.


Brayu yang mendengar ucapan Tristan, segera menendang tong sampah yang berada di depannya, ia benar-benar kesal karena ada laki-laki lain yang menyukai pujaan hatinya itu. Kaget mendengar suara tersebut, Bella dan Tristan menoleh ke sumber suara, tapi tak di dapati ada orang di sana karena Brayu lebih dulu mengumpat.


"Aneh...tong sampahnya bisa jatuh sendiri" ucap Bella yang kembali ke posisi semula.


"Hehehe.... mungkin kucing yang jatuhin bel" lanjut Tristan. "Gimana bel?, elo mau nggak jadi cewek gue" ulangnya.


Bella menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Em... gimana ya kak".


"Elo nggak perlu jawab sekarang kok, gue nggak buru-buru" ucap Tristan menghela nafas pelan.

__ADS_1


Brayu yang masih dag dig dug karena belom mendengar jawaban dari Bella, sekali lagi ia menendang tong sampah yang ada di depannya hingga tong tersebut terjatuh.


Bella dan Tristan lagi-lagi menoleh ke sumber suara. Bella menghela nafasnya sejenak, ia tau kalau itu pasti perbuatan Brayu.


"Apaan sih itu bel?, dari tadi ganggu muluk" ucap Tristan nampak tak nyaman berlama-lama di taman.


"Udah kak, biarin aja paling kucing garong kelaparan, makannya ngorek-ngorek sampah" celotehnya dengan nada yang sedikit di keraskan.


"Apa perlu gue cek?".


"Nggak perlu kak, buang-buang waktu aja. Ow... iya kak, buat pernyataan cinta kakak yang barusan..." Bella mengatur nafasnya sejenak untuk melanjutkan ucapannya.


Brayu segera memasang kupingnya agar bisa lebih leluasa mendengar jawaban yang di berikan oleh Bella, sedangkan Tristan sangat degdegan dengan jawaban yang akan di berikan oleh Bella.


"G-gue.... minta maaf kak, gue nggak bisa nerima lo. Maaf banget" ucap yang kini beralih memandang ke arah Tristan.


Tristan tersenyum kaku, setelah mendapat jawaban dari mulut Bella, ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi Tristan kini sudah bisa bernafas dengan lega, hati yang selama ini ia pendam terhadap seorang Bella sudah bisa ia ungkapkan, walaupun hatinya sedikit kecewa dengan jawaban yang ia dapat.


"Nggak papa kok bel, gue sekarang udah bisa bernafas lega, setelah dengar jawaban dari lo tadi. Ya kedepannya pasti akan lebih sulit buat ngelupain elo" ucap Tristan sambil memainkan jarinya, ia melirik ke samping menatap Bella yang kini tengah menatapnya juga. Hembusan nafasnya kini terdengar sangat jelas, segera Tristan menaruh tangan kanannya di kepala Bella, elusan demi elusan ia lakukan.


"Semoga... kak Tristan... dapetin cewek yang 1000 kali lipat lebih baik dari gue" ucap Bella sambil memainkan kedua alisnya naik turun.


Tristan tersenyum simpul. "Semoga" jawabnya singkat, segera ia mengambil kotak dalam saku celananya.


"Itu apa kak?" selidik Bella.


"Udah lama gue pengen ngasih ini ke elo. Semoga lo suka. Ya meskipun lo udah nolak gue, tapi gue pengen lo pakai ini. Biar lo bisa ingat sama gue" jelas Tristan sambil membuka kotak kecil tersebut.

__ADS_1


"Ya ampun kak bagus banget" ucap Bella yang langsung menutup mulutnya. "Tapi gue nggak pantes buat dapetin ini kak".


"Lo pantes dapetin kalung ini bel, karena lo cewek yang bisa selalu bikin jantung gue lompat-lompat nggak karuan, kalau deket sama lo".


"Apaan sih kak, gombalnya gitu banget".


Brayu yang mendengar dan melihat hal tersebut merasa terbakar api cemburu, bisa-bisanya cewek yang selama ini ia sukai bisa sedekat itu dengan laki-laki lain, sedangkan dirinya sama sekali tak bisa sedekat itu.


"Gue pasangin ya?".


"Jangan kak, mending kakak simpan aja dulu, besok kalau udah dapat cewek yang tepat baru kakak kasih" Bella mencoba memberi saran.


Tristan menggeleng pelan ia tak mau menuruti saran yang di berikan Bella. "Ini kalung sengaja gue beli buat elo, jadi please jangan di tolak ya bel, lagian lusa gue udah balik".


Bella menyipitkan matanya. "Kok buru-buru kak, padahal besok Fella barus di izinin pulang sama dokter".


"Dua hari lagi jadwal kuliah gue udah di mulai bel, jadi nggak bisa lama-lama".


"Ow... gitu ya kak" jawab Bella dengan ekspresi sedih.


Lagi-lagi Brayu merasa kesal dengan ekspresi yang muncul dari raut wajah Bella. Tapi Brayu masih terdiam di tempat yang sama, ia mencoba bersabar agar tak emosi, jika ia emosi acara mengintipnya akan ketahuan.


"Jadi lo mau kan nerima kalung pemberian gue" ucap Tristan penuh harapan.


Sesaat Bella melihat ke arah Tristan, ia mengangguk pelan tanda setuju. Senyum lebar terpancar dari sudut bibir Tristan, segera ia memasangkan kalung tersebut di leher Bella.


Brayu mengepalkan tangannya, ia mengatur nafasnya secara perlahan. "Sabar... bray, seenggaknya Bella nggak ngebuka hatinya buat cowok lain. Lo masih punya kesempatan" ucap Brayu sambil mengelus-elus dadanya.

__ADS_1


__ADS_2