Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Terpaksa Pulang Bareng


__ADS_3

Aldy tetap saja tidak menyerah, ia memarkirkan motor sport warna merahnya di pintu gerbang SMA Gabriel Senjaya. Sudah tidak ada muka lagi bagi Aldy untuk mundur dan malu karena sudah terlanjur berwajah tebal. Ia sedikit pun tak melihat ke arah cewek-cewek yang berlalu lalang dan terus menatap ke arahnya sambil berbisik.


Bella segera menepikan mobilnya setelah melihat Aldy sedang duduk di atas motornya, tepat di samping gerbang pintu masuk Aldy memarkirkan motornya. Bella buru-buru turun dari mobil dan langsung menghampirinya. "Ngapain elo di sini dy? tumben banget"


"Gue mau jemput Faya," jelasnya.


"Lah.... Faya udah pulang, baru aja di jemput sama Kevin."


"Kevin?."


"Iya Kevin mantannya Faya, emangnya elo nggak bilang kalau mau jemput Faya hari ini?" tanya Bella dengan sedikit bingung.


"Nomor gue di blok," ucapnya dengan keputusasaan.


Bella mengerutkan keningnya alisnya terpaut setelah mendengar kata-kata blok. "Kalian ada masalah apa sih? sampai Faya bisa blok nomor elo. Bukannya kalian sebelumnya baik-baik aja?"


"Semuanya berjalan baik sebelum gue ngelakuin kesalahan fatal," ucap Aldy yang langsung memakai helm full face-nya. "Gue cabut dulu bel, siapa tau Faya belom jauh," seru Aldy yang langsung menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan Bella yang masih kebingungan mengartikan kata-kata Aldy. Sesaat ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Tau... ah... pusing mikirin masalah orang," ucapnya yang langsung memasuki mobilnya kembali.


...°•°©inta Untuk Fella°°•...


Aldy melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata, ia tak mau kehilangan jejak Faya, dan ternyata usahanya tak sia-sia di depannya ada siswi yang mengenakan seragam SMA Gabriel Senjaya sedang berboncengan dengan seorang cowok, dengan kecepatan di atas rata-rata Aldy memepet motor yang ada di depannya. Sontak itu membuat Kevin dan Faya kalang kabut dengan kedatangan Aldy yang terus memepet mereka.


"Woy... mau mati lo, bawa motor ugal-ugalan kaya jalan ini punya nenek monyong lo, jadi bisa seenaknya sendiri," ucap Kevin penuh kekesalan.


"Ya ampun vin, jantung gue berasa mau copot," lanjut Faya dengan reflek memeluk Kevin dengan erat.


Aldy segera turun dari motornya dan menghampiri ke arah Kevin dan Faya, ia benar-benar tak suka melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. "Turun!!," perintah Aldy yang langsung menarik tangan Faya.


"Lo tuh siapa?," tanya Kevin dengan nada meninggi, ia melepas helm full face-nya.


"Gue cowoknya Faya, dan gue nggak suka cewek gue boncengan sama cowok lain selain gue," jelas Aldy tanpa melepas helm-nya.


Alis Faya terpaut saat mendengar ucapan cowok yang ada di depannya. "Cowok?," ulang Faya pelan.


Kevin tersenyum sinis, ia buru-buru turun dari motornya. "Faya aja kebingungan kalau dia punya cowok. Elo nggak usah ngaku-ngaku," ucap Kevin yang langsung mengangkat kerah jaket Aldy dengan kasar dan menghempaskan nya jauh-jauh dari dirinya.


"Mending lo pergi sekarang sebelum gue bikin elo babak belur," ancam Kevin dengan kesal.


Aldy tak mau menyerah begitu saja ia mencoba mendekati Faya kembali, Kevin yang terlebih dahulu mengehentikan langkah Aldy dan langsung memukulnya di bagian perut hingga Aldy tersungkur jatuh ke aspal.


Faya yang tak mau melihat ada pertumpahan darah di depannya segera turun dari motor dan mencoba menghentikan hal gila yang di lakukan Kevin. "Udah vin, nggak perlu sampai mukul kan?"


"Gue kesel sama ini orang," tunjuk Kevin dengan nafas naik turun.


Aldy segera membuka helm full face-nya dan meletakan di pinggir trotoar, mencoba berdiri dengan sisa tenaga yang di milikinya. "Pulang sama aku fay," pintanya dengan nafas naik turun.


Faya mematung ketika mendapati cowok yang tengah membuntutinya itu adalah Aldy. "Kenapa nggak kepikiran kalau itu kak Aldy," batinnya dengan posisi masih mematung di hadapan Kevin.


"Pulang sama aku ya sayang," kini Aldy beralih menggunakan kata-kata sayang agar Kevin percaya kalau mereka benar-benar sudah jadian.


Faya semakin bingung dengan sikap Aldy. "Sayang?"


"Kamu beneran jadian sama dia fay?" tanya Kevin memastikan.

__ADS_1


"E-enggak... siapa juga yang jadian," jelas Faya.


Seulas senyuman muncul di sudut bibir Aldy, dengan langkah cepat ia menarik tangan Faya agar sejajar dengan dirinya. "Kita emang belum resmi jadian tapi seenggaknya dia suka sama gue!" seru Aldy dengan senyum sinis nya.


"Kak lepasin tangan aku," perintah Faya sedikit membentak.


"Kalau dia nggak mau pulang sama elo nggak perlu paksa dia," tegas Kevin yang langsung melayangkan pukulan di sudut bibir Aldy.


Faya mematung sesaat mulutnya yang terbuka kini di tutupnya dengan tangan kirinya. "Stop!! Kevin!! jangan lakuin lagi," teriak Faya seraya mencoba melepaskan tangan Kevin dari kerah jaket yang di kenakan Aldy.


"Tapi dia gangguin elo terus, gue nggak suka!!"


"Tapi gue paling nggak suka sama cowok yang kasar, yang bisanya nyelesain masalah pakai kekerasan,"


"Tapi fay, gue emosi," suara Kevin terdengar merendah.


"Dan.... apa lagi gue paling nggak suka sama cowok yang emosian vin. Harusnya elo tau itu karena elo lebih dulu kenal sama gue di banding kak Aldy," jelas Faya yang langsung membantu Aldy berdiri. "Gue balik sama kak Aldy dulu, elo tenang-in diri lo dulu, bahaya pakai motor kalau suasana hati lo sedang nggak baik," nasehat Faya yang langsung memapah Aldy.


Kevin mengusap wajahnya dengan kasar sebelum akhirnya berteriak tak karuan. Setelah Faya pergi meninggalkannya sendirian di pinggir trotoar.


Faya tak membuka suaranya, ia masih saja terdiam tak membuka suara. Aldy melirik lewat kaca spionnya. "Kenapa diem fay?"


"Pengen diem aja."


"Singkat banget jawabnya."


"Terus aku suruh ngomong gimana kak? suruh ngomong wow... kakak keren bisa sabar gitu untuk nggak ngelawan Kevin, atau ngomong gini, kakak ngeselin karena maksa aku pulang balik," ucapnya dengan bibir yang di buat-buat.


"Hahaha.... enggak untuk keduanya fay, sangat konyol kalau aku milih salah satu di antara kedua pilihan kamu itu."


"Jangan manyun gitu fay, aku ngerasa bersalah."


"Emang kakak banyak salah, tadi aja udah bikin kesalahan sampai berantem sama Kevin."


"Lagian siapa suruh kamu balik sama dia dan blok nomor aku, jadi aku nggak bisa hubungin kamu," jelasnya.


"S-siapa y-yang blok nomor kakak," elaknya dengan nada gugup.


"Nggak usah gugup gitu, nggak papa kalau kamu blok nomor aku, yang penting kamu nggak blok hati kamu buat aku."


Lagi-lagi Faya melongo di buat oleh ucapan Aldy yang terus saja menghipnotis otaknya dan perasaannya.


"N-nggak usah... sok narsis gitu kak,"


"Buktinya kamu suka sama aku," ucap Aldy yang mencoba mengingatkan tentang kejadian beberapa hari yang lalu.


"Stop!! jangan ingetin lagi, aku nggak mau ingat-ingat kenangan buruk itu."


"Hahaha seburuk apa sih fay?" Aldy masih memaksakan untuk tertawa.


"Seburuk kak Aldy nyium paksa aku!" jelas Faya.


Aldy langsung mengerem motornya dengan tiba-tiba. Hingga helm Faya dan Aldy berbenturan sampai Faya refleks memeluk Aldy cukup erat.

__ADS_1


"Maaf refleks fay," ucap Aldy yang langsung melajukan motornya kembali.


"Sengaja banget," celoteh Faya yang langsung menarik tangannya kembali.


"Kenapa pelukannya di lepas fay?" protes Aldy.


"Refleks.... aku nggak punya niatan buat peluk kakak," balas Faya dengan nada jutek.


"Yah... padahal udah ngarep di peluk," ucap Aldy pelan.


"Ya....minta peluk aja sama pacar kakak."


"Pacar aku kan kamu sayang," ucap Aldy dengan nada mesranya. Aldy tak mau banyak berpikir tentang nasehat yang di berikan oleh ketiga sahabatnya, yang terpenting sekarang percaya diri saja dengan dirinya sendiri urusan gagal tinggal coba lagi prinsip yang di miliki Aldy saat ini.


Faya terdiam sesaat, ia menghembuskan nafasnya secara perlahan. "Siapa juga yang mau jadi pacar kakak."


"Tapi kamu kan suka sama aku."


"Ya bukan berarti suka bisa jadi pacar kan. Kakak adik mana bisa pacaran," ucap Faya dengan hati yang berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


Aldy tak mau membahas soal ini untuk lebih lama. "Peluk aku," perintahnya yang langsung melajukan motornya cukup cepat.


"Nggak mau... buat apa peluk kakak."


Senyum sinis terpancar dari sudut bibir Aldy, ia segera menambah kecepatan di atas rata-rata. Usahanya tak sia-sia kini Faya memeluk erat pinggang Aldy dan seakan tak mau melepaskannya.


Sampai di kompleks perumahan Aldy baru memelankan laju motornya. Wajah Faya yang siap mengamuk terlihat jelas, Aldy hanya bisa pasrah. "Udah sampai," ucap Aldy yang langsung mematikan mesin motornya.


"Makasih..." wajah Faya terlihat datar dan tak bersahabat.


"Jangan jutek-jutek...jelek tau," ledek Aldy.


"Aku hampir jantungan gara-gara kakak, dan sekarang ngatain aku seenaknya," ucap Faya dengan mata melotot.


"Mata kamu kecil ah... jangan melotot gitu."


"Hem... ngeselin..." ucap Faya yang langsung berbalik meninggalkan Aldy.


"Nggak di izinin mampir dulu ni," ucap Aldy mengeraskan suaranya.


Faya berbalik dengan bibir yang siap mencibir. "Kakak nggak usah mampir, yang mau ngajakin kakak ngobrol siapa?, aku lagi nggak mood."


"Ya... kok gitu fay."


"Biarin....aku lagi males sama kakak," jelasnya.


"Ya... udah... aku pulang ini, jangan kangen ya."


"Hem...." ekspresi wajah masam Faya di perlihatkan dengan jelas di depan Aldy.


"Besok aku yang jemput kamu," seru Aldy seraya menyalakan mesin motornya.


"Nggak perlu."

__ADS_1


"Aku tiap hari bakalan antar jemput kamu," ucap Aldy yang langsung melajukan motornya tanpa mempedulikan celotehan Faya yang tak setuju.


"Dasar cowok ngeselin, dan anehnya gue suka sama tuh cowok," gerutu Faya seraya melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


__ADS_2