
Aldy mengajak Zea untuk bertemu, kali ini lelaki itu memantapkan dirinya untuk menegaskan kepada Zea. Bahwa, dia tidak ingin berurusan lagi dengan masalah yang di alami oleh gadis tesebut. Mereka sepakat untuk bertemu di tempat biasa.
"Tumben, lo ngajakin ketemuan? Dalam rangka apa ni?" tanya Zea di iringi senyuman.
Aldy menghela napasnya perlahan. "Gue, langsung to the point aja ya, Ze."
Gadis itu mengangkat kedua tangannya untuk menopang kepalanya. Dia berharap jika Aldy akan mengatakan hal yang spesial untuknya.
"Buruan, Dy. Gue nggak sabar pengen denger." nampak dari raut wajah Zea, dia sudah tidak sabaran mendengarnya.
"Sebenernya gue...."
"Gue tau lo mau bilang apa?" potong Zea seraya meraih tangan Aldy.
"Gue.."
"Lo suka kan sama gue." tebak Zea.
Aldy mencoba menguatkan nyalinya untuk mengakhiri dramanya saat ini. "Sorry, jika ucapan gue ini nggak sesuai dengan apa yang ada di pikiran kamu Ze." Aldy menghela napasnya sesaat. "Jangan potong ucapan gue lagi."
Zea mengernyitkan keningnya, gadis itu merasa jika ada sesuatu yang mengganjal namun ia tetap berusaha memberi cela agar Aldy menjelaskannya secara rinci.
"G-gue nggak mau jadi cowok pecundang, Ze." lelaki itu menundukkan kepalanya.
"Maksud elo?" tanyanya dengan penuh penasaran.
"Lo, harus berusaha selesain masalah lo sendiri. Mulai hari ini, gue nggak bisa bantu elo lagi."
"Maksud lo! Elo udah nggak mau bantuin gue lagi!" seru Zea dengan mengepalkan tangan kanannya.
"Udah cukup gue bantuin elo, Ze. Gue juga butuh membenahi hubungan gue sama Faya yang semakin kacau ini!"
Zea menundukkan wajahnya. Matanya mulai memanas, rasanya ia mulai tak sanggup mendengarkan ucapan Aldy, yang justru akan semakin membuat hatinya semakin sakit.
Gadis itu memegangi dadanya yang mulai sesak. "Bukanya kalian udah putus cukup lama? Kenapa lo masih mikirin dia. Gue pikir selama ini elo udah move on dari Faya!"
Menepuk bahu pelan. "Lo salah, Ze. Dari lubuk hati gue yang paling dalam. Faya tetap cewek yang paling gue sayang. Gue nggak bisa liat dia terus-terusan sama cowok lain." jelasnya.
"Lalu, elo anggap apa gue selama ini? Gue pikir, lo udah mulai ada rasa sama gue, setelah putus dari Faya." Zea mengebrak meja cukup keras, membuat pengunjung lain menatap ke arah mereka dengan tatapan sinis.
Aldy terdiam sesaat, lelaki itu tak ingin memberi harapan lebih terhadap Zea. "Sorry, gue nggak ada maksud buat kasih harapan lebih ke elo. Cuma, gue nggak mau dia makin mikir yang enggak-enggak tentang gue, masalah gue putus sama Faya itu, karena gue terlalu banyak bantuin elo, dan gue nggak bisa jaga perasaan dia."
"Lo, sayang sama dia?" tanyanya dengan mata sayu.
"Gue, sayang banget sama dia." jelas Aldy.
"Apa yang ada di diri Faya yang nggak ada di diri gue! Gue bisa rubah, kalau lo mau coba buka hati lo buat gue!" desaknya.
"Kalian memiliki kepribadian yang jauh berbeda. Masalah mandiri dan yang lainnya. Elo menang banyak."
"Lalu kenapa elo nggak pilih gue!" gadis itu mulai menghentak-hentakkan kakinya. Zea masih tak terima jika Faya lebih unggul darinya.
"Sorry Ze, masalah hati gue nggak bisa tentuin. Gue pengen kejar Faya lagi. Cuma dia cewek yang bisa bikin gue nyaman. Elo pantes dapetin yang lebih dari gue!" jelas Aldy yang langsung beranjak dari kursinya.
"Mulai sekarang, kita jangan lagi ketemu Ze, sorry kalau keputusan gue ini bikin elo kecewa." Aldy melangkahkan kakinya, hatinya merasa lega setelah mencurahkan isi hatinya yang terpendam selama ini.
__ADS_1
Zea masih termenung di tempat duduknya, rasa sakit di dalam hatinya terasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Mendadak tubuhnya menjadi lemas dan tak berdaya, setelah mengetahui kenyataan pahit yang telah ia terima saat ini.
Ternyata benar kata Alina. 'Jangan pernah memberi harapan yang lebih kepada seseorang, jika kamu tak sanggup. Mengakhiri lebih cepat itu lebih baik daripada terlambat!'
Aldy menggenggam kalung yang belum sempat ia berikan kepada Faya, lelaki itu berlari ke parkiran untuk segera menemui Faya.
...~Cinta Untuk Fella~...
Di halaman rumah Faya. Aldy menghentikan laju motornya. Lelaki itu harus menerima karmanya, saat melihat ada sebuah motor yang sudah terparkir di sana.
"Kevin! Lo kalah lagi, gue yang menang!" teriak Faya dari dalam rumah, suara gadis itu terdengar sangat bahagia.
"Yah, lo pasti curang Fay, masak lima kali main gue kalah terus." balasnya.
"Itu tandanya lo nggak hoki!" katanya diiringi tawa mengejek.
"Kalau gue menang, lo harus cium gue!" paksa lelaki tersebut.
"Kagak mau, elo mah modus banget! Pemaksaan." kesal Faya.
Suara mereka terdengar sampai ke telinga Aldy, bahkan lelaki itu . "Keliatannya mereka bahagia banget, kayaknya gue datang di saat yang nggak tepat," katanya pada diri sendiri. Aldy mengurungkan niatannya untuk bertamu malam ini, lelaki itu memutuskan untuk pulang dan menenangkan hatinya.
Pikirannya begitu kacau sampai dia tak mampu lagi untuk berpikir. Tawa Faya dan Kevin tadi membuatnya semakin gelisah, masihkah ada ruang di dalam hati Faya untuknya? Entahlah, Aldy tak mengetahui hal itu, yang pastinya dia sangat kecewa dengan dirinya sendiri. Seakan menggerutuki dirinya sendiri, lelaki itu memukul helmnya beberapa kali.
"Elo emang bego,Dy. Coba dari awal lo jelasin semuanya, pasti sekarang Faya masih ada di sisi elo!" ucapnya. Lelaki itu menambah kecepatan motornya, rasanya ia ingin memaki dan mencaci dirinya saat sampai di rumah nanti.
...~Cinta Untuk Fella~...
Di suatu kamar.
"Angkat nggak ya," gumamnya dengan mata menatap ke arah layar ponsel.
"Aku harus ngomong apa? Kalau ini beneran Leon, ya kali ngomong layaknya orang pacaran. Hah! Baru kenal tempo hari, langsung jadian. Apa kata orang nanti."
Gadis itu terus bergumam, sampai ia menggulingkan-gulingkan tubuhnya di atas kasur. "Huft, tenang Sal. Kamu pasti bisa!" ucapnya mulai percaya diri.
Saat ponsel kembali berdering, dengan tangan yang mulai mengeluarkan keringat karena grogi, Salsa mengangkatnya dengan bibir terkatum dan sedikit bergetar.
"H-halo, M-maaf ini siapa?" tanyanya sedikit gagap.
"Berapa kali gue telpon elo? Kenapa baru di angkat?" tanya seseorang di balik telpon yang tak lain adalah Leon
Deg!
'Astaga, beneran Leon kan. Mampus, deh.'
Salsa masih terdiam dan belum juga membuka suaranya, gadis itu mencari ide agar tak terlihat konyol. "Maaf, ini siapa ya? Apa mungkin salah sambung?" Salsa masih pura-pura tak mengenal.
"Elo lupa, sama cowok lo yang ganteng ini. Kita baru jadian beberapa jam yang lalu, dan lo udah main ngelupain gue gitu aja? Nggak adil dong itu namanya, S A Y A N G! Pokoknya gue harus kasih hukuman buat elo besok!" suara Leon terdengar tegas dan tak main-main.
Jangut Salsa terlihat naik turun, entah berapa kali gadis itu menelan saliva-nya.
"S A Y A N G! Lo nggak mungkin nggak denger kata-kata gue barusan kan?"
Seakan merinding mendengar kata-kata Leon yang terus berkata sayang terhadapnya, gadis itu mencoba memberanikan diri untuk berbicara.
__ADS_1
"Iya maaf, aku baru nggak fokus."
"Sama pacar sendiri kamu nggak fokus, awas aja besok. Gue bakalan kasih hukuman ke elo karena udah cuekin gue!"
"Hah! Lagi? Kenapa harus kasih hukuman lagi, sih! Dasar Om-om ngeselin!" seru Salsa dengan nada meninggi.
Di seberang telpon sana, Leon menyunggingkan bibirnya. Ia tak merasa marah atau kesal terhadap gadis kecil itu, justru menggodanya adalah hal yang paling menyenangkan saat ini.
"Lo lupa? Sama syarat kedua yang gue ajuin ke elo? Apa perlu gue ngajuin satu persyaratan lagi?" tanyanya sengaja mengingatkan.
Salsa langsung memutar otaknya dengan cepat, 'Bisa gawat kalau Leon meminta yang tidak-tidak.'
"Halo, apa elo masih di sana?" tanya Leon mencoba memastikan kembali.
Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. 'Astaga, kenapa otak aku nggak bisa mikir, sih!' gumamnya dalam hati.
"Halo, SAYANG?"
"...." No respon.
"Gue bakalan cium elo besok kalau nggak ada jawaban!" ancam Leon di seberang sana.
Seakan di perintah, otak gadis itu langsung berjalan dan enggan menolaknya. "Astaga, Om-om mesum!" seru Salsa sedikit kesal.
"Apa Om? Siapa yang Om?" Leon tak terima jika dia yang masih muda sudah di panggil 'Om' apalagi yang memanggil itu adalah kekasih barunya.
"Iya maaf, habis kamu ngeselin. Dari tadi siang otak aku muter terus, udah gitu kamu teror aku muluk. Makin lemot kan loading-nya." elak Salsa dengan suara yang di buat-buat, gadis itu sudah sangat kesal sebenarnya.
"Ya udah, gue minta maaf. Lain kali gue nggak bakalan teror elo lagi!"
"Aku, mau tidur dulu ya. Udah malam koneksi jaringan di otak aku makin lemot kalau aku nggak langsung tidur."
Leon terkekeh mendengar ucapan dari Salsa yang menurutnya lucu itu. "Oke, good night and sweet dreams, honey." ucap Leon mencoba romantis.
Salsa menelan saliva-nya. 'Dia nyoba sok so sweet ternyata.'
"Iya, kamu juga mimpi indah ya. Semoga bertemu di alam baka." balas Salsa tanpa sadar.
Leon membelalakkan matanya. 'Alam baka? Dia sumpahin gue mati?'
"Lo, tadi bilang apa? Alam baka? Lo nyumpahin gue mati?" Leon mengeluarkan segala pertanyaan yang melintas di dalam otak kecilnya.
Salsa menutup mulutnya. "Astagfirullah, keceplosan!" gumamnya yang langsung memukul kecil mulutnya tersebut.
"Maaf ya kak Leon, otak aku mulai nggak jelas kalau udah ngantuk kaya gini."
"Hem... permintaan maaf masih di terima. Tapi, lo nggak boleh panggil gue Leon dan sebagainya. Lo harus panggil gue sayang!" tegasnya.
Mulut Salsa terbuka cukup lebar. 'Ya ampun, dia itu tukang maksa banget, sih!'
Dengan sedikit memaksakan tersenyum Salsa menuruti permintaan Leon. "I-iya, S-sayang. Selamat malam dan mimpi indah, aku bobok duluan ya." katanya dengan sesekali menguap agar terkesan tak berbohong.
"Oke, sayang. Semoga mimpi indah." balas Leon.
Tanpa nanti-nanti Salsa segera memutus sambungan telponnya. "Dasar tukang maksa! Ngeselin!" ucapnya yang langsung melempar ponselnya ke atas nakas.
__ADS_1
Gadis itu mengacak rambutnya, entah mengapa pikirannya menjadi kalut. Ia belum juga menemukan cara untuk memutuskan Dimas dengan sangat bijak, tanpa menyakiti perasaan lelaki tersebut. Di sisi lain, Salsa juga tak bisa memungkiri jika Leon bener-benar tipe cowok yang selama ini ia dambakan, hanya saja sikap narsis dan suka maksa-nya membuatnya tak nyaman dan justru semakin kesal. Lagi-lagi Salsa menghela napasnya, ia menarik selimut dan memutuskan untuk tidur, berharap esok pagi otaknya kembali berfungsi.