
Sepulang sekolah, Salsa buru-buru pergi ke belakang sekolah. Entah, lelaki itu ada di sana atau tidak, setidaknya dia ingin mengeceknya. Sesampainya di sana, Salsa melihat keberadaan Leon yang sedang duduk bersandar di antara drum-drum. Gadis itu berjalan pelan mendekati Leon, berharap jika lelaki itu tak menyadari kedatanganya. Namun, saat Salsa melangkah, Leon menoleh kearahnya dan tersenyum. Lelaki itu peka sekali.
"Bagaimana kamu tau aku sudah datang, padahal sebisa mungkin aku tidak mengeluarkan suara." protes Salsa dengan wajah tertekuk.
"Gue bisa ngerasin kehadiran elo, dari jarak beberapa meter."
Salsa mengernyitkan keningnya. "Dih, gombal!"
Leon bangkit dari tempat duduknya, pemuda itu langsung melangkahkan kakinya mendekati Salsa. "Siapa yang gombal, bau pesing lo masih tercium di hidung gue. Jadi gue udah hapal." ledeknya.
Salsa mengerucutkan bibirnya, gadis itu langsung menginjak kaki Leon dengan sangat keras. 'Kenapa dia ngingetin masalah tempo hari, sih! Bikin kesal.' keluhnya.
Leon meringis kesakitan, lelaki itu langsung membungkukkan tubuhnya dengan tangan memegangi kaki. "Aw! Sakit! Lo gila ya?"
Tanpa berekspresi. "Aku nggak gila, kok. Aku waras, cuma kayaknya kamu yang nggak begitu waras, alias agak sinting." cecer Salsa seraya melipat kedua tangannya dan menaruhnya di depan dada.
Leon melebarkan matanya, pemuda itu langsung meluruskan tubuhnya, rasa sakit yang tadi menjalar di kakinya tiba-tiba menghilang ketika mendengar ucapan gadis yang sekarang ada di hadapannya itu.
"Lo, tadi bilang apa?" tanya Leon dengan muka datarnya.
Seakan di perintah untuk mengulangi perkataannya, Salsa mengulangi ucapannya lagi. "Nggak, waras alias sinting!" jelasnya.
Senyum sinis terbit di sudut bibir Leon, ia semakin menajamkan tatapannya kearah mata Salsa. Salsa menelan saliva-nya dan langsung menutup mulut bibirnya dengan rapat. 'Astaga, aku tadi ngomong apaan, sih. Kenapa bodoh banget!' batinnya dengan tangan memukul pelan mulutnya sendiri.
"Kemarin, lo nggak dateng. Sekarang lo dateng langsung maki-maki gue! Lo udah bosen hidup!" seru Leon dengan tangan menarik lengan Salsa dan memojokkan gadis tersebut ke arah tembok. Tak ada ruang untuk gadis itu bergerak.
"A-aku, m-minta maaf, tadi refleks. Lagian kamu juga aneh, suruh ngulangin perkataan ku. Ya udah, aku ulangi aja sesuai permintaan kamu." jawabnya polos.
Leon semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Salsa. "Lo, udah maki-maki gue barusan! Tanggung sendiri akibatnya!"
"Dari lubuk hati aku yang paling dalam. Aku minta maaf," ucapnya dengan mata terpejam. Entah berapa kali Salsa menelan saliva-nya.
Melihat ekspresi ketakutan yang di tunjukan oleh Salsa. Leon kembali menarik sudut bibirnya. "Gue bakalan maafin elo, tapi dengan tiga syarat!" bisik-nya.
Ucapan Leon sukses membuat Salsa melebarkan matanya. "T-tiga syarat. Kenapa jadi banyak banget!" keluhnya.
"Ya itu, karena elo kemarin nggak dateng dan sekarang elo maki-maki gue. Jadi biar adil kan harus kaya gitu."
"Dari segi mana adilnya? Kamu nindas aku terus kalau kaya gitu caranya." protes Salsa.
"Ya udah, kalau nggak mau nurutin ketiga persyaratan yang gue ajuin. Jangan harap lo besok ada muka buat masuk sekolah!" ancam Leon, seraya melonggarkan cengkeramnya. Lelaki itu hendak meninggalkan Salsa.
Mau tidak mau Salsa harus mencegahnya, setidaknya ia harus ada muka ketika berada di sekolahannya. "Eh, tunggu. Jangan main pergi aja, dong." cegahnya dengan menarik tangan Leon.
"Lo kan nggak mau penuhin syarat dari gue!"
"Dengan terpaksa dan karena aku masih pengen punya muka di sekolahan, aku setuju." jawabnya penuh dengan keterpaksaan.
Gadis itu tak sabar ingin mendengarkan syarat yang akan di berikan oleh Leon. "Buruan, syarat apa yang harus aku penuhi!"
Leon mengembangkan senyumnya, 'Permainan baru telah di mulai,' pikirnya.
"Pertama, selama tiga bulan penuh. Elo harus temenin gue kasih makan mereka," ucapnya dengan menunjuk kearah kucing-kucing yang sedang menikmati makanan yang di berikan oleh Leon.
"Hah, sejak kapan di sini banyak kucing?"
__ADS_1
Pemuda itu langsung melayangkan tangannya dan menjitak kepala Salsa pelan. "Elo yang nggak pernah peka sama kehadiran mereka. Jadi lo nggak pernah tau!"
Dengan mengerucutkan bibirnya Salsa mengusap kepalanya pelan. "Aku, kan bukan orang sini, mana aku tau!"
"Makanya, mulai sekarang lo harus tau!"
"Syarat yang ke dua, elo nggak boleh cemberut kalau di samping gue! Sebisa mungkin lo harus senyum."
'Idih, maksa banget, dianya!' batin Salsa semakin kesal.
"Dan syarat yang terakhir...." Leon tak melanjutkan ucapannya, ia sengaja melakukannya agar Salsa semakin penasaran dengan syarat yang akan dia ajukan.
"Syarat yang terakhir apa?" tanyanya dengan penuh penasaran.
'Masuk perangkap kan elo!' batinnya.
"Apa?" gadis itu mengernyitkan keningnya, perasaanya mulai tak enak.
"Elo, harus jadi cewek gue selama tiga bulan ini!" serunya dengan ekspresi serius.
Yang terakhir benar-benar membuat Salsa melebarkan mulutnya, bahkan matanya hampir mau copot karena tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Kan kamu tau, kalau aku udah punya pacar!"
"Tapi, elo mau putusin dia!"
"Idih, siapa yang mau putus!" elaknya dengan memalingkan wajahnya.
Leon segera memungut dagu Salsa dan mengangkatnya. "Tempo hari lo bilang sendiri mau putus dari cowok lo itu. Apa lo lupa, saat adegan ngompol lo itu ketahuan sama gue!"
Salsa langsung membekap mulut cabelak Leon, bisa bahaya kalau ada yang mendengarnya, bahkan lelaki itu bersuara cukup keras, membuatnya mendengus kesal akibat ucapan lelaki tersebut, bisa-bisanya dia jatuh di kandang buaya. Tau begitu, ia tidak akan menemui lelaki tersebut.
"Jangan ngomong kaya gitu lagi. Aku kan udah sepakat penuhin syarat dari kamu!"
Leon melepaskan tangan Salsa yang membekap mulutnya itu. "Lo, mau bikin mati gue! Kenceng bangat tangan lo bekap mulut gue!"
Tanpa ekspresi dan berwajah jutek. "Kamu duluan kan yang mulai. Lagian, nggak akan mati, tangan aku kecil mungil kaya gini. Ya kali bisa bunuh orang segede gaban kaya kamu!"
Kesabaran Leon hampir terkikis karena menghadapi gadis bertubuh mungil yang sekarang ada di depannya itu, dengan sigap lelaki itu membalas perlakuan Salsa. Leon membekap mulut Salsa yang bernada dingin itu. "Hah, gimana rasanya? Nggak enak kan!" seru Leon sedikit mengejek.
Salsa gelagapan, gadis itu ingin berteriak namun suaranya tak sampai. Wajah Leon yang semakin mendekat membuat suhu badannya semakin panas dingin.
Merasa kasihan dan tak mau berduel lagi, Leon melepaskan bekapannya. "Gimana, rasanya?"
Napas Salsa tersengal-sengal. "Sengaja banget, sih. Untung badan aku kecil mungil, jadi napas aku bisa irit."
Leon terkekeh mendengar perkataan Salsa. 'Kecil mungil, emangnya dia gantungan kunci,' batinnya. "Jadi, gimana dengan syarat yang gue ajuin?" tanyanya dengan memasang ekspresi seriusnya.
Menghela napas beberapa kali. "Dengan terpaksa, aku terima. Tapi, gimana caranya aku putus sama pacar aku, dong?" tanya Salsa sedikit kebingungan.
"Nggak tau, pikir aja sendiri!" sahut Leon seperti tak punya dosa.
Salsa menggigit giginya sendiri, saat mendengar jawaban yang di berikan Leon yang tak sesuai dengan pemikirannya.
"Dasar Om-om. Nggak laku, jadinya maksa!" celoteh Salsa tanpa sadar.
__ADS_1
Leon memutar bola matanya. Entah mengapa, mulut cabe Salsa selalu ampuh saat dirinya sedang tidak ingin berdebat.
"Lo tadi bilang gue apa?"
"Om!"
"Gue masih muda, umur gue baru 24 tahun!"
"Sama aja! Orang yang di tindas umurnya baru 17 tahun, kan tetep aja tua Om!"
Kepala Leon seakan mendidih secara tiba-tiba lelaki itu langsung memiting kepala Salsa untuk memberinya pelajaran.
"Aw. Sakit! Nanti aku jadi bodoh kalau di kaya giniin terus!" keluhnya sambil memberontak.
"Biarin! Siapa suruh, kamu panggil aku 'Om'! Lagian, bukanya kamu emang udah bodoh, pelajaran fisika aja lo dapet nilai jelek." ejeknya.
"Jangan di ingetin lagi, dong! Aku malu!"
Perlahan Leon melepaskan pitingan-nya. "Oke, berhubung lo udah sepakat sama syarat yang gue ajuin, lo gue maafin!"
Hidung Salsa menjadi kembang kempis akibat ulah lelaki tersebut, dengan wajah yang masih tertekuk. Ia merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulah Leon.
"Mulai sekarang, lo resmi jadi cewek gue!"
"Cuma tiga bulan kan?"
"Mana ada! Gue ralat ucapan gue yang tadi, yang bener jadi. S E L A M A N Y A!" tegas Leon.
Salsa membuka mulutnya cukup lebar. Gadis itu diantara harus bersyukur karena memiliki cowok yang tampan dan dewasa darinya, atau harus mengeluh karena paksaan yang di berikan oleh Leon.
"Selamanya? Harus nikah juga dong, berati!"
"Bisa jadi."
"Ck, tukang maksa!" seru Salsa yang kini memilih untuk meninggalkan Leon.
Leon yang sadar dan belum mengetahui nama gadis tersebut langsung berteriak. "Woy! Nama lo siapa?"
Salsa menoleh dengan lirikan mata kesalnya. "SALSA! Dasar payah, nama pacar sendiri nggak tau!"
Lelaki itu tertawa kecil, seraya menghampiri Salsa. Ia mengelus pucuk kepala rambut gadis tersebut beberapa kali. "Ponsel lo, mana?" tanya Leon dengan tangan terbuka.
"Buat apa?"
"Buruan mana!" paksa Leon.
Salsa mengambil ponsel yang ada di tasnya, ia langsung memberikannya kepada Leon.
"Masak iya, punya pacar nggak punya nomor ponselnya," katanya dengan menyeringai.
Menghela napas dengan pelan. "Masa, iya ngajaikin pacaran nggak tau namanya." sindir Salsa dengan wajah mengesalkan-nya.
Leon yang masih fokus melihat kearah layar ponselnya langsung mengalihkan pandangannya kearah Salsa. Gadis itu langsung menutup mulutnya rapat, ia memundurkan kakinya beberapa langkah agar bisa kabur dari cowok tukang maksa tersebut.
"Dasar Om mesum, suka maksa!" teriak Salsa dengan berlari.
__ADS_1
Leon hanya menyunggingkan sudut bibirnya. "Hati-hati di jalan. SAYANG!" teriaknya.
Lelaki itu kemudian berbalik dan menggelengkan kepalanya pelan, entah mengapa kelakuannya begitu terlihat sangat konyol, niatnya untuk mengerjai jadi berakhir memaksa seorang gadis.