
Arska sudah menunggu Fella di halaman depan, ia tak sabar ingin mengekor kemana saja kekasihnya itu pergi, entah ada kegiatan apa tidak Arska tetap harus berada di samping cewek yang di cintai-nya itu. Tak peduli akan ucapan Hendry tentang peraturan untuk orang luar yang di larang bergabung, Arska tetap saja tak peduli dengan ucapan Papa-nya itu.
Hingga kejenuhan kini menghampiri dirinya karena lebih dari 1jam Arska menunggu Fella di dalam mobil, tapi Fella tak juga keluar dari kandangnya. Arska memutuskan untuk menghampirinya, agar tak tertinggal oleh rombongan dan mendapat hukuman, sebenarnya Arska juga bahagia kalau pun Fella tertinggal oleh rombongannya setidaknya ia bisa mengantarnya sampai tempat tujuan dan bisa berlama-lama dengan kekasihnya itu untuk sekedar berduaan.
Saat pintu sudah terbuka sedikit dan Arska masih di ambang pintu masuk, ternyata Fella sudah terlebih dahulu berdiri di sana dengan lesu, tak ada semangat di wajahnya.
"Ya ampun sayang aku udah nungguin kamu dari tadi di luar, nggak taunya kamu malah jadi patung di sini." kata Arska yang masih memegang handel pintu dengan separuh badannya yang sudah berada di dalam rumah.
Tak ada tanggapan dari gadis yang ada di depannya saat ini, ia justru semakin memasang wajah memelas-nya.
"Kamu kenapa? kok nggak semangat gini?" tanya Arska seraya mengelus pucuk kepala Fella pelan.
Arska sudah tak memegangi handel pintu, kerena pintu sudah terbuka cukup lebar.
"Ngebayangin aja udah males yang, apa lagi kalau aku udah di tempat camping." jelasnya dengan bibir mengerucut.
Arska tersenyum simpul, ia tau jika gadis di hadapannya saat ini moodnya sedang tidak baik, tapi Arska berusaha untuk tetap menyemangati kekasihnya itu. "Kan ada aku yang jagain kamu sayang, kenapa males?" tanya Arska dengan tatapan hangatnya.
Fella memandang Arska dengan ekspresi wajah yang masih cemberut. "Bukan itunya sayang, aku mah seneng aja ada kamu di sana. Tapi.... yang buat aku males itu kegiatannya, takut aja kalau ada tantangannya ekstrim yang di berikan oleh panitia, kaya pas aku masih kelas satu dulu."
"Berpikir positif aja sayang. Pikiran kamu jangan terlalu jauh, biar otak kamu bisa fresh. Di bikin happy aja ya."
Hanya anggukan yang Fella berikan, tangan kanannya mencoba meraih-raih ransel yang tak jauh dari tempatnya berdiri dengan posisi mata yang masih mengarah ke depan.
Arska sedikit menyerong-kan kepalanya ke kanan, melihat apa yang sedang di raih oleh kekasihnya itu, karena sejak tadi tangannya terus meraih tapi tak tau apa yang akan di raih, seperti meraih angin yang tak juga tergapai.
Arska di buat geleng-geleng kepala atas tindakan yang di tunjukan Fella, apa saking menyeramkan-nya camping sampai membuat akal dan pikiran kekasihnya itu sedikit melenceng. Tak sabar karena melihat tangan kekasihnya terus meraih angin, Arska segera mengambilnya.
"Kamu senam jari apa gimana sih yang? dari tadi aku liatin kamu, kamu sibuk gerak-gerakin jari." celoteh Arska mencoba mengembalikan akal sehat kekasihnya itu.
"Kamu tuh nggak liat kalau aku ambil ransel?"
__ADS_1
"Yang kamu maksud ransel itu ini?" tanya Arska seraya mengangkat ransel pas di depan Fella.
Fella menggigit bibir bawahnya, ia sungguh malu kerena ulah tunangannya itu sendiri. "Tau... ah... ayang ngeselin." ucapnya seraya mendorong tubuh Arska pelan dan keluar dari pintu masuk rumah, setelah itu tak ada lagi suara yang keluar dari bibir mungilnya. Fella langsung masuk kedalam mobil dan tak mengajak Arska.
"Ada-ada aja kamu tuh ay, kalau di kasih tau langsung ngambek. Langsung pergi nggak ada suaranya." cecer Arska yang langsung mengikuti Fella.
Kebetulan ramah dalam ke adaan sepi karena Merry pasti sudah pergi ke butik sedangkan Angga masih di sibuk keluar kota karena bisnisnya, dan hanya bi Rahmi yang senantiasa menjaga rumah.
Di dalam mobil Fella masih mengerucutkan bibirnya ia tak mau menatap ke arah Arska sama sekali, dan itu membuat Arska geleng-geleng kepala, untung saja ia tak memiliki riwayat penyakit migrain. Kalau punya bisa pusing ngadepin cewek kaya Fella yang hoby-nya ngambek. "Masih ngambek?"
Tak juga ada respon. "Sampai kapan mau diemin aku sayang?" ucap Arska dengan posisi memutar badannya sedikit menyerong ke arah Fella.
Masih tetap dengan pendiriannya, diam dan buang muka itu yang di lalukan Fella saat ini.
"Serius mau diemin aku?" tanya Arska sekali lagi.
"Hem...."
Sukses ucapan Arska membuat Fella menatapnya dengan muka rada sinis. "Berani tebar pesona, liat aja! nggak ada apun pokoknya." nada bicaranya sedikit sewot.
"Hahaha... buru-buru amat nengok nya kalau urusan di godain sama tebar pesona." ledek Arska sedikit menahan tawanya.
"Nggak lucu!" seru Fella dengan wajah yang sama.
"Haha.... tapi kamu tuh lucu, bikin aku gemes kalau kaya gini sayang." kata Arska mencubit pipi Fella pelan.
"Tapi aku tuh males banget buat berangkat camping yang." rengek-nya.
"Belom di jalain aja udah loyo duluan kamu tuh yang, semangat biar aku temenin kamu guling-guling kalau ada tantangannya."
"Emang kata om, ada bagian guling-guling nya ya yang?" tanya Fella sedikit menyelidik.
__ADS_1
"Ada..."
"Serius?"
"Hem...em.." Arska manggut-manggut tak jelas den ucapannya sendiri.
"Tuh kan bikin bete.... belom sampai di tempat camping aja udah denger berita kaya gitu, makin nggak semangat pokoknya." celoteh Fella seraya menggaruk pelan keningnya.
Arska tak kuasa menahannya tawanya lagi, buru-buru ia tertawa jahat melihat kegelisahan gadis yang ada di sampingnya saat ini.
"Kenapa ketawa? ada yang lucu?" tanya Fella dengan muka datarnya.
"Emang nggak boleh ketawa?" tanya Arska balik.
"Nggak boleh! selama ketawa kamu itu ngetawain aku!" ucap Fella ketus.
"Kamu tuh parno-an tau nggak ay, nggak ada bagian guling-guling sama tantangan ekstrim. Aku udah tanya sama Papa, kamu tuh di sana cuma buat seneng-seneng sama foto-foto buat di jadiin kenang-kenang selama sekolah di SMA Gabriel Sanjaya." jelas Arska.
Fella mengernyitkan keningnya menatap kekasihnya dengan ekspresi wajah seriusnya. "Serius nggak ada gitu-gituannya yang?" tanya Fella memastikan.
Arska menggeleng pelan.
"Kenapa nggak bilang dari tadi? tau gitu dari kemarin aku nggak mikir yang aneh-aneh! tau gitu kan aku mikirnya seneng-seneng doang." ucap Fella tanpa bisa di rem.
"Hahaha.... kalau ngasih tau kamu duluan, aku nggak bakalan ngeliat ekspresi wajah kamu kalau panik gini lah ay." goda Arska.
"Ow... kamu suka ya kalau ngeliat aku kepanikan sampai setengah mati? kamu suka banget ya mancing-mancing emosi aku!" seru Fella memperlihatkan ekspresi wajah galaknya.
"Ampun sayang ku, nggak lagi-lagi aku ngulangin kaya yang tadi." kata Arska menyembunyikan perasaan ingin tertawa melihat tampang galak yang di perlihatkan Fella. Baginya Fella semakin terlihat imut jika berekspresi sedemikian rupa.
Arska akhirnya memutuskan untuk menjalankan mobilnya, ia tak mau jika kekasihnya datang terlambat.
__ADS_1