
Menjelang Siang Brayu, Bella dan yang lainnya sepakat untuk kembali ke Villa. Dengan langkah sempoyongan Aldy menaiki anak tangga yang jumlahnya tak seberapa itu dengan tubuh lemas nya. "Ka.... gue lapar ni ada yang bisa gue makan enggak disini" celotehnya sambil terus memegangi perutnya.
"Lah.... kalian tadi nggak makan di luar?" tanya Arska sambil membereskan sisa masakan yang belum sempat ia bersihkan tadi.
"Nggak ada yang bawa duit, mereka cuma bawa tampang doang" tunjuk Aldy menggunakan dagunya.
"Kaya lo nggak aja, tapi mending kita sih modal tampang, lah elo modal dengkul doang" cetus Regina.
"Main nunjuk-nunjuk kearah kita, orang kita semuanya sama cuma modal tampang, modal dengkulnya cuma buat jalan" cecer Bella yang langsung duduk di meja makan.
"Lah... lo ngapain di situ?" tanya Aldy seraya mengikuti Bella yang duduk di meja makan.
"Yah... siapa tau setelah gue duduk ada makanan yang dateng" ucapnya ngasal. "Lagian elo juga ngapain duduk di sini?".
"Hehe.... gue sama kaya elo siapa tau ada makanan yang dateng di mari" jawabnya cekikikan.
"Kaya tuan putri aja lo bel, duduk langsung di sambut dengan makanan yang enak" celoteh Dilan.
"Lah emang dia tuan putri" ceplos Faya.
Mata membunuh Bella beralih menatap ke arah Faya, ia tak mau jika identitasnya di ketahui oleh teman-temannya yang lain. Faya yang melihat tatapan tersebut mendadak menjadi gagu.
"Bella tuan putri?" ucap Dilan yang menoleh ke arah Faya.
"I-iya t-tuan putri buat kedua orang tuanya lah" jawab Faya gugup.
"Ow... kirain tuan putrinya Brayu" timbrung Regina yang langsung ikut duduk di meja makan.
"Belom sekarang gin, terlalu lama jadi batu, jadi susah buat ngeluluhinya" sahut Brayu dengan tatapan melirik ke arah Bella. Tapi Bella tetap tenang dan tak mau membalas celotehan dari kedua orang tersebut.
Dretttt ....Drettt....Drettt.....
Ponsel Bella tiba-tiba berbunyi. Itu membuat Faya sedikit bernafas lega setidaknya itu akan mengalihkan padangan-nya meskipun hanya sedetik. Segera Bella mengambil benda pipih yang ada di sampingnya dan berniat mengangkat telfonnya. "Halo Dady...".
"Iya sayang, jangan sampai telat makan, Dady enggak mau kalau kamu kenapa-napa. Nanti Mommy kamu marahnya sama Dady" jelasnya dari seberang telfon.
"Bella bukan anak kecil yang apa-apa harus di ingetin Dady, Bella paham saran Dady" ucapnya sambil terus melirik ke arah Faya. "Ya udah ya Dady.... Bella mau makan dulu, dah.... Dady.... Assalamualaikum" lanjut Bella seraya mematikan ponselnya.
Sesaat penghuni meja makan melihat ke arah Bella. Regina yang siap meledek segera membuka suaranya. "Sweet banget sih Bokap lo bel, jadi iri gue" celotehnya.
Bella tersenyum sinis. "Ya mumpung Dady lagi nggak terlalu sibuk, kalau sibuk jangankan telfon ngasih kabar pun enggak".
"Seenggaknya elo beruntung punya Bokap yang perhatian sama elo, enggak kaya gue" raut wajah Regina kini berubah masam. Dilan langsung menghampiri kekasihnya dan mencoba menenangkannya, memberi semangat agar Regina tak minder.
"Sorry gin, gue nggak maksud".
"Tenang aja bel, gue nggak baperan kok" ucapnya dengan wajah yang di paksa tersenyum.
Beberapa menit akhirnya Arska dan Fella menghampiri meja makan dan menaruh makanan yang cukup lezat di hadapan teman-temannya. "Makan dulu, ceritanya lanjut nanti" ucap Fella yang mencoba mengalihkan pembicaraan karena dirinya tidak mau ada acara sedih-sedih yang membuat liburannya kacau.
"Siapa yang masak ini? keliatannya enak" seru Bella dan Regina kompak.
"Hehehe... Arska yang masak, gue cuma bantuin aja" jujur Fella.
"Waduh... cowok idaman banget sih elo tuh ka" puji Regina.
"Udah punya pacar... ingat dong, katanya udah move on" balas Dilan dengan penuh kecemburuan.
Regina melirik ke samping meja makannya seraya memajukan bibirnya. "Baru jadian beberapa jam yang lalu udah posesif banget" celetuk Regina.
"Hahaha ... baru anget-angetnya juga, masak udah mau berantem" sindir Brayu.
"Jangan suruh kita buat nonton darma live ya, kita nggak terima" lanjut Aldy.
"Kita lapar..... udah dong berantemnya, cacing gue udah konser minta di kasih makan" timbrung Faya.
"Kalau masih pada berantem mending kita habisin aja makanannya" celoteh Arska yang langsung mengambil piringnya.
Dilan buru-buru meraih piring dan mengisinya dengan nasi, ia tak mau jika harus kelaparan. "Ye... siapa yang mau berantem orang gue mau perang sama makanan" lesnya.
"Hahaha... nggak jadi live streaming dong ini nggak asyik ah" celoteh Aldy dengan tangan yang sudah mengambil beberapa potong ayam dan melahapnya.
Kini tak ada lagi keributan yang ada hanya celotehan yang keluar dari mulut beberapa cowok yang tak mau kalah dengan cewek-cewek yang sedang membahas hal yang tak penting.
"Alhamdulillah kenyang" ucap Faya yang langsung berdiri dari duduknya.
Arska yang mengamati Faya sejak tadi langsung membuka suaranya sebelum Faya meninggalkan meja makan. "Faya yang cuci semua piringnya" perintah Arska.
Faya mencebirkan bibirnya. "Kok cuma gue dong ka yang nyuci piringnya, terus yang lain pada ngapain".
"Ya kan elo kemarin udah ngejelek-jelekin bokap gue".
"Yah.... gue minta maaf lah ka" wajah memelas Faya kini di tunjukan di depan semua teman-temannya.
"Permintaan maaf elo udah telat, dan itu hukuman buat elo" jelas Arska yang langsung menarik pelan tangan Fella agar segera meninggalkan meja makan di ikuti dengan yang lainnya, yang tersisa hanya Aldy dan Regina di meja makan.
"Yah...yah... ini pada nggak mau bantuin gue" Faya terlihat celingak-celinguk.
"Gue nggak suka cuci piring tangan gue gatel" jelas Bella sambil menggaruk-garuk tangannya.
"Nggak setia kawan lo bel. Nggak ada yang mau bantuin gue cuci piring. Arska mah... jahat banget" teriak Faya.
Arska yang mendengar namanya di sebut segera menoleh tanpa nanti-nanti. "Mau gue laporin sama Bokap, apa lo nurut sama omongan gue" teriaknya balik sambil menahan tawa.
"Udah lah fay, nerima aja daripada di laporin kepsek" seru Bella.
Faya mematung sesaat sebelum akhirnya menatap kembali ke atas meja makan. "Nyuci sebanyak ini sendirian? bisa kelar subuh kalau cuma gue yang nyuci sendirian" celotehnya sambil memungut piring-piring kotor.
"Maaf ya fay, gue nggak bisa bantuin lo nyuci piring yang ada nanti gue malah pecah-in semuanya" ucap Regina pelan sambil meninggalkan meja makan.
"Nggak papa gin, gue bisa sendiri" ucap Faya dengan mimik wajah yang memelas.
Aldy yang mengamati Faya membersihan meja makan seorang diri merasa iba dan berniat membantunya. "Siapa bilang kamu sendirian, aku bakalan bantu-in kamu nyuci piring" seru Aldy yang langsung ikut memunguti piring kotor yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Faya merasa senang setidaknya ada yang masih iba melihat ke nelangsa-annya. "Makasih ya kak" balas Faya yang langsung melangkahkan kakinya ke arah dapur.
"Ini Arska modus ya kayaknya" ucap Bella.
"Modus apanya sih bel?" balasnya.
"Lah itu di bantuin sama Aldy" kata Bella yang langsung menunjuk ke arah dapur dengan dagunya.
Arska tersenyum sesaat, ia melihat ke arah Faya dan Aldy yang nampak bermain air di wastafel. "Ada hikmahnya juga sih gue ngasih hukuman ke Faya. Jadi si Aldy bisa punya perasan sedikit".
"Jangan bilang kamu mau nyombaling-gin mereka" ucap Fella mengira-ira.
"Ya apa salahnya di coba dulu, toh meraka udah sedekat itu siapa tau cocok" balas Arska.
"Gue mau protes ka" celetuk Brayu.
"Protes apa bray?".
"Terus elo mau bantuin gue-nya kapan ka".
"Bantuin apa?".
Brayu melirik ke arah Bella sesaat. Seakan mengerti dengan apa yang akan di ucapkan Brayu, Arska segera meringis. "Hahaha.... kalau itu mah kelas kakap bray, gue nggak bisa bantu. Lo banyakin berdoa aja biar bisa deket" seru Arska.
Seakan tak puas dengan jawaban yang di berikan Arska, Brayu menghela nafasnya dengan kasar. "Emang nggak ada niatan buat bantuin gue lo ka".
Bella yang merasa menjadi pusat perhatian oleh teman-temannya berdecak kesal. "Nggak usah pada ngeliatin gue" serunya dengan wajah datarnya.
Dilan yang memulai tawanya terlebih dahulu, sebelum semuanya ikut tertawa. "Kalian itu pasangan paling lucu yang pernah gue liat" kata Regina yang langsung menutup mulutnya.
"Gue bukan pasangan dia, lo harus tau" jelas Bella.
"Aduh... bray, sabar lo harus terima kenyataan kalau lo udah di tolak Bella untuk kesekian kalinya" suara mengejek Dilan nyaring di telinga Brayu karena tempat duduk mereka yang memeng tak jauh.
Lain halnya Faya dan Aldy yang mendengar tawa dari ruang santai. "Pasti mereka lagi ketawa-in kita" ucap Faya dengan bibir manyunnya.
"Jangan suka berprasangka buruk gitu, mungkin aja mereka ada topik pembicaraan yang lucu makanya mereka ketawa" kata Aldy menasehati.
"Tapi aku capek kak, kapan kelarnya, masih segini banyaknya" keluh Faya.
"Makanya biar nggak capek aku bantuin biar cepat kelar, jangan ngeluh terus".
"Iya kak, makasih udah mau bantuin aku". Ekspresi wajah Faya masih terlihat cemberut sampai ia terlalu cepat menggosok spons yang penuh dengan busa ke piring yang ia pegang. "Aw....." rintih-nya menahan sakit saat cipratan sabun masuk kedalam mata sebelah kiri dan tangannya masih sibuk mengucek matanya yang pedih.
Aldy cepat-cepat meletakan piring dan gelas yang sudah selesai di bilas-nya, setelah mendengar rintihan dari mulut Faya. "Jangan di kucek terus, entar makin sakit" cegah Aldy yang langsung menarik tangan Faya.
"Tapi perih kak" keluhnya.
Aldy langsung meniup-pi mata Faya. Faya dapat merasakan hembusan nafas Aldy yang harum "Bau mint" batin Faya, sesekali Aldy menyuruhnya untuk mengedip-ngedipkan matanya agar tak terasa perih lagi.
"Udah mendingan belum?" tanya Aldy sambil menyingkirkan poni yang menutupi wajah Faya.
Faya terperanjat saat melihat Aldy yang begitu dekat dengan wajahnya. "Jangan terlalu deket kak".
Faya menggeser badannya agar tak terlalu dekat dengan pandangan Aldy. "Mundur-an dikit kak Aldy" perintah Faya yang mencoba mendorong dada Aldy.
"Kenapa harus mundur?".
"Ya jangan dekat-dekat".
"Kenapa emangnya? kok nggak boleh deket?".
"Terlalu sesak".
"Sesak" Aldy mengulangi ucapan Faya.
"Terlalu sesak buat aku nafas kalau kak Aldy masih sedekat ini ke aku".
"Maksudnya?".
"Jantung aku deg-deg-an kalau kak Aldy sedekat ini" ucap Faya secara spontan, ia segara menutup bibirnya rapat-rapat.
Aldy yang mendengar kejujuran dari gadis di depannya itu langsung mengacak-acak rambut Faya dengan gemasnya. "Kamu tuh ada-ada aja tau fay, pakai deg-degan segala kaya sama siapa aja, sama Kakaknya sendiri".
"Kakaknya sendiri?" Faya mengernyitkan dahinya.
"Kamu kan udah aku anggap kaya adik aku sendiri" jelasnya.
"O-o....kakak adik y-ya" ulangnya dengan wajah masam. "Dasar kak Aldy telmi, nggak tau apa? kalau aku suka sama dia" batin Faya yang langsung berbalik untuk melanjutkan mencuci piringnya. Ia merasa kesal dengan sikap Aldy yang selalu mengobrak-abrik hatinya.
"Kenapa diem fay?".
"Nggak papa kak, pengen diem aja biar cepat kelar kerjaannya".
Aldy tersenyum sesaat sebelum melayangkan jari-jarinya ke arah pipi Faya. "Kamu tuh...lucu kalau cerewet Faya".
"Emangnya aku badut apa kak" Faya mengigit bibir bawahnya dengan kuat hingga membekas kan luka di sudut bibirnya.
"Hahaha.... ya kali .. ada badut secantik kamu" puji Aldy yang langsung beralih menatap ke arah bibir Faya. "Jangan suka gigit-tin bibir kaya gini, emangnya nggak sakit" seru Aldy yang beralih memegangi sudut bibir Faya.
"Nggak sakit kok kak, udah biasa nggak usah di pegangin juga" jelas Faya yang langsung menepis tangan Aldy.
"Ini luka Faya".
"Biarin aja nanti juga sembuh" nada suara Faya sedikit meninggi.
"Kamu kenapa sih fay?".
"Nggak papa kok kak, pengen cepat-cepat selesai-in ini terus istirahat, biar bisa kumpul sama yang lain".
"Aku salah ngomong ya? kalau iya aku salah ngomong aku minta maaf" ucap Aldy yang langsung membalikan badan Faya agar menghadap ke arahnya.
"Kakak nggak salah ngomong kok, hati aku aja yang salah, terlalu berharap kalau kak Aldy suka sama aku. Dan bodohnya aku suka sama kak Aldy" jelas Faya dengan nafas yang sedikit tersengal. "Aku udah selesai nyuci piringnya" ucap Faya sambil menyingkirkan tangan Aldy yang ada di lengannya.
__ADS_1
Aldy mematung dengan pengakuan Faya. Buru-buru ia membilas tangannya, ingin mengejar Faya agar tak terjadi ke salah pahaman.
Faya yang melangkahkan kakinya lebar-lebar membuat semua mata mengarah menatapnya. Bella yang tak mau membuang tenaganya karena mengejar Faya segera berteriak. "Fay, ponsel lo dimana? Kevin gangguin gue terus.. buruan angkat telfonnya".
Faya menoleh hanya senyum sesaat yang muncul di sudut bibirnya. "Nggak perlu teriak-teriak bel, entar biar gue telfon balik" jawabnya tanpa semangat.
"Duduk sini dulu lah fay, ngobrol-ngobrol dulu, ngapain buru-buru ke kamar" ucap Arska.
"Gue capek... abis lo kerjain, gue mau istirahat dulu" seru Faya.
"Kalau balikan traktir gue MIE AYAM ya fay" ledek Bella sengaja menekankan kata-kata mie ayam.
Faya tersenyum sinis. "Apaan sih bel, jangan di bahas lagi" ucap Faya yang kini mulai menaiki anak tangga.
"Dia bilang mau nyusul ke sini, katanya kangen sama elo".
Faya menghentikan langkahnya ia melihat ke arah Bella tapi Aldy sudah berdiri mematung di sana menatap ke arahnya, Faya tak mau terlalu malu karena pengakuan cintanya yang terlalu payah, segera ia berlari menaiki anak tangga.
"Semangat banget yang mau ketemu sama mantan" ucap Bella lirih.
Aldy yang baru saja ikut bergabung dengan teman-temannya hanya terdiam sambil terus memikirkan ucapan Faya yang terus melintas di kepalanya.
"Kevin anak SMA Angkasa bukan sih bel?" tanya Fella penasaran.
"Iya... mantan terindahnya Faya, yang lumayan cakep itu" jelasnya.
"Dia mau nyusul ke sini?".
"Iya Fella, apa perlu gue garis bawahi kalau dia pengen nyusul kesini".
"Enggak-enggak udah jelas kok bel" Fella melambai-lambaikan tangannya.
Aldy yang mendengar perbincangan antara Fella dan Bella sedikit mengepalkan tangannya, ia belum memberi penjelasan kepada Faya tentang perasaannya.
"Yah... berarti Faya bentar lagi mau melepas masa jomblonya dong" ucap Dilan setelah mendengar perbincangan Fella dan Bella.
"Nggak tau... tergantung Faya sih, tapi gue pernah nanya ke Kevin sejujurnya dia masih sayang sama Faya, dia gagal move on katanya" jelas Bella.
"Makin seru aja ceritanya, berarti tinggal Bella, Brayu dan Aldy yang jomblo" ledek Dilan semakin menjadi.
"Dasar mulut cablak....nggak ada abis-abisnya ngebully orang" ucap Brayu seraya menimpuk nya menggunakan kacang atom yang ada di tangannya.
"Jangan buang-buang makanan sayang kan" seru Aldy yang langsung memunguti kacang yang berserakan di karpet.
"Udah kotor dy jorok banget sih elo" ucap Regina sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Dilan.
"Siapa yang mau makan, gue mau kumpulin biar nggak banyak semut berkeliaran gara-gara sisa makanan yang dibuangin sama Brayu " balas Aldy.
Arska yang menyender kepalanya di bahu Fella seketika membulatkan matanya ketika melihat sosok Faya yang menuruni anak tangga. "Mau kemana fay? udah dandan cantik gitu?" tanya Arska membuyarkan pandangan teman-temannya yang dari tadi fokus menatap Aldy kini beralih menatap ke arah Faya.
"Gue mau keluar bentar ka, Papa sama Mamanya Kevin kangen katanya, udah lama gue nggak main ke rumahnya, lagian Villanya juga deket dari sini" jelasnya sambil merapikan dress warna birunya.
"Harus ya dandan secantik itu buat ketemuan sama mantan, nggak terlalu pendek apa itu dress-nya" balas Aldy dengan muka datarnya.
Faya hanya membalas perkataannya dengan senyum masamnya. "Gue duluan ya teman-teman, nggak enak kalau Kevin nungguin terlalu lama" jelasnya yang langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar, ia tak mau jika harus menatap Aldy terlalu lama.
Aldy yang melihat kegelisahan yang muncul dari tingkah Faya segera mengejarnya hingga ke ruang tamu. "Harus banget ya buru-buru kaya gini?" ucap Aldy menghalangi langkah Faya.
"Kak aku mau pergi, bisa nggak lepasin tangan kakak" pinta Faya.
"Buat soal yang tadi aku mau lurus-in biar nggak ada ke salah pahaman" seru Aldy yang mulai memelankan ucapannya.
"Kakak nggak perlu ngasih penjelasan, y-ya anggap aja kalau aku lagi mabuk atau apa lah jadi asal ngomongnya".
"Tapi fay..".
"Udah.... kakak nggak perlu ngasih penjelasan, lupain yang aku omongin tadi... aku malu kak. Kalau kakak nggak suka sama aku nggak kaya gini juga caranya" ucap Faya yang berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Aldy. Aldy terus saja mengamati baju yang di kenakan oleh Faya. "Terlalu terbuka baju kamu, pakai jaket aku biar kamu ngerasa hangat" ucap Aldy yang langsung melepaskan jaketnya dan hendak memakaikannya ke pundak Faya.
Tapi Kevin terlebih dahulu menolak jaket pemberian Aldy, Kevin mendengarkan ucapan Faya dan Aldy barusan membuatnya buru-buru masuk setelah mendengar ucapan Aldy. "Dia tanggung jawab gue, karena gue yang ngajak dia keluar, jadi harusnya di pakai jaket gue bukan pakai jaket cowok lain" seru Kevin yang langsung menarik tangan Faya pelan agar menjauh dari sisi Aldy. Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut Faya, ia terus mengikuti langkah Kevin hingga ke motornya.
Aldy menahan emosinya, ia tersenyum kecu mengetahui Faya yang pergi dengan cowok lain di depan mata kepalanya sendiri, sesekali ia berdecak kesal karena sikapnya yang tak konsekuen.
Pukul 21.45 Faya memasuki pintu Villa dengan sangat hati-hati, ia tak mau jika harus membangunkan penghuni rumah yang sudah terlelap.
Ceklek.... Ceklek....suara dorongan pintu terdengar, Aldy yang sengaja menunggu kepulangan Faya hanya terdiam di sofa tanpa sedikit pun mengalihkan pandanganya dari pintu masuk. Faya yang sedikit terkejut dan terperangah dengan sosok yang duduk di sofa, tatapanya terus menatap ke arahnya. "K-kak Aldy belum tidur" ucapnya gugup seraya melangkahkan kakinya cepat-cepat, tapi Aldy terlebih dahulu menarik lengan Faya agar tak beranjak pergi dari hadapannya.
"K-kakak mau ngapain?" suara Faya terdengar serak.
"Kalau keluar jangan pakai baju kaya gini terlalu terbuka, suara kamu jadi serak kaya gini. Cuacanya juga nggak terlalu bagus buat kesehatan" ucap Aldy menasehati.
"Iya kak, aku emang lagi nggak enak badan jadi maklum kalau suara aku serak karena mau pilek".
"Terlalu terbuka nggak bagus buat kesehatan kamu".
"Kenapa dia jadi suka ngatur sih, cowok aneh" batin Faya yang tak suka dengan sikap berlebihannya Aldy. "Bisa lepasin lengan aku nggak kak, aku mau istirahat, sebaiknya kakak juga istirahat udah malem juga kan" seru Faya yang mencoba melepaskan tangan Aldy yang terlalu kuat mencengkram lengannya.
Aldy menggeleng, ia tak mau terlalu cepat melepaskan lengan Faya. "Kenapa pulangnya malem banget" selidiknya.
"Kakak nggak perlu tau urusan aku, jadi sekarang tolong lepasin tangan kakak dari lengan aku, aku capek mau tidur kak" perintah Faya sedikit membentak. "Jangan buat aku malu untuk kedua kalinya kak, cukup tadi siang aja aku mempermalukan diri di depan kakak" lanjutnya.
Aldy menundukkan kepalanya sesaat, ia tak berani menatap ke arah Faya lagi, entah cemburu atau apa Aldy memasang wajah seriusnya di depan Faya. Aldy semakin memperkuat cengkeramnya di lengan Faya dan itu membuat Faya meringis kesakitan.
"K-kak Aldy kenapa? langan aku sakit, kak Aldy tolong lepasin".
Aldy memaksakan wajahnya agar bisa menatap wajah Faya lebih dekat. Faya yang merasa ketakutan segera memejamkan matanya, memalingkan sejauh mungkin dari pandangan Aldy. "Tatap mata aku Faya" perintahnya sedikit membentak.
"Kakak Aldy please tolong lepasin tangan kakak dari lengan aku" suara Faya terdengar paruh ia sama sekali tak mau melihat ke arah Aldy. "Kakak jangan suka ngasih perhatian lebih ke aku, aku bisa saja menyalah artikan maksud kakak" lanjutnya dengan mata yang engan melihat ke arah Aldy.
Aldy yang sudah sangat emosi segera mencium bibir Faya secara paksa. Faya terbelalak melihat hal yang di lakukan oleh Aldy, ia menitihkan air matanya sambil terus memukul dada bidang Aldy dengan cukup keras berharap Aldy akan melepaskannya tapi dugaannya salah, Aldy justru semakin mempererat cengkeramannya. Sekuat tenaga Faya berusaha hingga ia berhasil melepaskan ciuman Aldy dengan sekali gigitan di bibir Aldy.
"Kak Aldy jahat banget sih, kalau kak Aldy nggak suka sama aku, nggak kaya gini caranya" ucap Faya dengan air mata yang terus menetes di pipinya. "Aku pikir kak Aldy orang baik, ternyata kak Aldy nggak lebih baik dari Brayu. Kakak jahat udah ngambil paksa ciuman pertama aku, aku benci sama kak Aldy" seru Faya yang langsung menampar pipi Aldy karena emosi. "Kakak sendiri kan yang bilang kalau cuma anggap aku sebagai adik kakak, adik kakak nggak seharusnya ciuman" suara Faya benar-benar telah habis, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Aldy, ia mengusap air matanya yang terus menetes.
Aldy hanya dapat mematung tanpa berani menghalangi langkah Faya lagi, ia benar-benar kalut dengan sikapnya yang berubah-ubah. Aldy memandangi kepergian Faya yang kian menjauh dari pengelihatannya Aldy memegangi sudut bibirnya yang luka akibat gigitan Faya tadi.
__ADS_1