
Arska dan Dilan segera menuju ke ke rumah sakit yang tertera di alamat tersebut. Kepanikan kini menghantui Arska, wajahnya benar-benar kusut, otaknya seperti tak mau berkerja lagi. Ia benar-benar frustasi. Tatapannya kosong, ia banyak melamun di sepanjang perjalanan. "Ka kita uda sampai" ucap Dilan menyadarkan lamunan Arska.
Arska mengedip-ngedipkan matanya, hembusan nafas terasa engap, jantungnya berdetak begitu kencang, ia bingung harus berbuat apa. Dilan yang melihat ekspresi panik di wajah Arska segera menepuk pelan pundaknya. "Lo harus kuat ka, apa pun yang terjadi, seenggaknya lo udah berusaha buat ngejaga Fella".
Arska menelan saliva nya, segera ia membuka pintu mobil. Dengan lemas Arska melangkahkan kakinya, Dilan mencoba menopang lengan Arska. Sampai di ruang IGD Arska terkulai lemas, di sana banyak yang menanti kabar dari Fella, termasuk Merry dan Angga. Ia tak sanggup lagi menahan air matanya. "Kenapa semua ini harus terjadi sama kamu ay, gue nyesel, nggak bisa jagain kamu !!!" teriaknya histeris sampai menjambak rambutnya sendiri.
Merry menghampiri Arska, wajahnya nampak Khawatir, terlihat jelas air mata yang membekas di pipinya. "Yang sabar ka, ini di luar dugaan, Tante juga nggak mau hal ini terjadi sama Aya. Kamu jangan terlalu nyalahin diri kamu sendiri" ucap Merry mencoba menenangkannya.
"Arska gagal buat jagain Aya tan, Arska kecewa sama diri Arska sendiri" ucapnya dengan wajah yang masih tertutup oleh kedua tangannya.
"Percuma lo nyalahin diri sendiri ka, semuanya nggak akan kembali seperti semula" tukas Dilan yang langsung menyandarkan badannya ke tembok.
"Kalian jangan ribut...., yang Aya butuh hin saat ini adalah doa. Kita berdoa saja semoga operasinya berjalan dengan lancar" ucap Angga yang berdiri tak jauh dari tempat duduk Arska.
Kreak------ suara pintu ruangan terbuka. Sontak membuat semua orang menghampiri pria yang berpakaian warna hijau itu, pakaian yang biasanya di gunakan saat melangsungkan proses operasi.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?".
"Bagaimana keadaan tunangan saya, Dok?".
"Apa Fella baik-baik saja, Dok?".
"Adik saya gimana keadaannya, Dok?".
"Semua baik-baik saja kan, Dok?".
Dokter itu berdehem sebelum berkata. "Di bagian kepala mengalami gegar otak cukup parah, tapi kami sudah menanganinya. Mungkin akan berpengaruh pada daya ingatnya, pasian mungkin akan mengalami amnesia sementara, karena benturan yang di alami pasien cukup serius. Sekarang pasien sudah melewati masa kritisnya".
Semua bernafas lega, tak terkecuali untuk Arska. Ia benar-benar tak bisa menerimanya, ia takut jika kekasihnya tak lagi meningkatnya.
__ADS_1
"Apa ada hal lain, Dok?" tanya Merry memastikan.
"Em.....Pasien mengalami koma, kami tidak tau pasti kapan pasien akan bangun. Tapi jika kondisi pasien kian membaik, kemungkinan untuk bangun sangatlah besar" perkataan Dokter itu membuat semua kembali bersedih.
"Apa kami sudah bisa melihatnya, Dok?" tanya Arska berhati-hati, ingin sekali ia melihat kondisi kekasihnya dengan mata kepalannya sendiri, ia belom puas dengan ucapan Dokter barusan.
"Untuk saat ini, pasien belum bisa dijenguk, mungkin besok sudah diperbolehkan" Dokter itu pamit, Merry dan yang lain mengucapkan terimakasih.
Seketika Arska menundukkan kepalanya, ia bener-benar kecewa dengan jawaban Dokter tersebut.
"Udahlah ka, besok pagi kan masih bisa" ucap Dilan menenangkan Arska sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
"Iya ka, yang di bilang Dilan bener, Tante sama Om juga pengennya sekarang jenguk Aya. Lagian sekarang juga udah malem, apa nggak sebaiknya kamu pulang?" ucap Merry pelan.
Arska menggelengkan kepalanya pelan. "Arska pengen nungguin Aya di sini tan" ucapnya dengan kepala yang masih menunduk.
Angga dan Merry saling pandang, ia bisa merasakan betapa sedih dan khawatirnya Arska saat ini. "Nanti kamu sakit kalau nungguin di luar ka?" ucap Merry pelan.
"Ya udah... kalau itu kemauan kamu, om sama tante pamit pulang dulu" ucap Angga menepuk pundak Arska pelan.
"Iya Om..... Om sama Tante hati-hati pulangnya" ucap Arska dengan lemas nya.
Merry dan Angga mengangguk pelan, sebelum meninggalkan Arska sendirian.
"Gue juga pulang dulu ya ka, sekalian mau anterin Bella sama Faya" pamit Dilan.
Arska hanya mengangguk, ia masih lemas setelah mengetahui kondisi kekasihnya terbaring tak berdaya. Di tambah jika Fella benar-benar hilang ingatan, Arska sangat takut jika hal itu terjadi, Arska takut jika memori ingatan tentang dirinya menghilang begitu saja, ia tak dapat membayangkannya.
"Lo jangan terlalu banyak fikiran, kalau lo sakit yang jagain adik gue siapa" celetuk Tristan.
__ADS_1
Arska melirik kesamping nya, ia tak menyadari jika Tristan masih berada di sampingnya. "Gue minta maaf soal kejadian tadi siang, gue nggak tau kalau ternyata lo kakaknya Aya. Gue terlanjur cemburu".
"Gue udah maafin lo, lagian semua juga bukan salah lo. Dan gue mau ngucapin terimakasih karena lo udah jagain Fella selama gue nggak ada di sisinya".
"Itu udah tugas gue sebagai tunangannya. Tapi gue masih kecewa sama diri gue sendiri".
Tristan melihat ke arah Arska, ia menepuk pundak Arska pelan. "Jangan lo nyakitin diri lo sendiri, itu nggak baik" celoteh Tristan. "Lo yakin masih mau disini?" lanjutnya.
"Ya... gue mau disini... jagain Aya" jawab Arska pelan.
"Ya udah... gue balik duluan, kalau ada perkembangan tentang adik gue, tolong lo hubungin Tante sama Om ya" pintanya.
Arska mengangguk, matanya benar-benar sayu.
...•°©inta Untuk Fella°•...
Sudah seminggu Fella hanya berbaring di ranjang ruang rawat VIP. Setiap sore kadang pagi, beberapa orang selalu menjenguknya. Memastikan keadaan Fella baik-baik saja.
Sore ini Arska datang untuk mengunjungi kekasihnya itu. Wajahnya terlihat kusut dan sendu, itu membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan terbawa suasana. Menangisi kekasihnya yang tak kunjung bangun dari koma.
"Ay.... sampai kapan kamu bakal kaya gini?. Nggak bosen ya tidur terus?, apa kamu nggak kangen sama aku?" Arska menggenggam tangan Fella dengan erat setelah menaruh tasnya di sofa. "Aku janji nggak bakal jauhin kamu lagi ay, aku nyesel ngelakuin itu semua. Tadinya aku pengen jagain kamu, tapi justru aku bikin kamu semakin sengsara" lanjutnya dengan air mata yang mulai menetes di pipinya, tapi Arska segera menyekanya.
Berulang kali Arska mencium tangan Fella, menaruh tangannya di pipi Fella, sambil terus mengamati wajah pucat kekasihnya itu. Tapi tak menghilangkan kecantikannya.
Fella sedang di ambang bawah sadar pun bisa mendengar perkataan Arska sedari kemarin. Jika saja ia bisa membuka matanya saat ini, ingin sekali ia mengerjai kekasihnya itu untuk pura-pura tidak mengenalnya, dan itu pasti akan membuat Arska semakin syok.
"Ay...... kamu denger kan omongan aku barusan, ayo bangun sayang, aku udah kangen banget sama senyum kamu. Aku janji akan nurutin semua perkataan kamu. Bangun ya sayang... !" ucapnya sambil mengelus pipi Fella dengan lembut.
Tanpa sadar air mata Arska kembali menetes, ia benar-benar merasakan kekecewaan yang amat dalam, andai saja semua itu tak ia lakukan dan tetap berada di samping Fella, mungkin keadaannya tak sampai separah ini. "Aku minta maaf sayang" berulang kali kata-kata itu keluar dari mulut Arska.
__ADS_1
Fella dapat merasakan betapa tersiksanya kekasihnya itu saat ini, sampai harus menangisi dirinya yang berbaring tak berdaya. "Maaf sayang... belom saatnya, tapi ketika aku bangun aku bakalan hukum kamu dengan cara ku sendiri" batin Fella yang pastinya tidak dapat di dengar oleh Arska.
"Apa nggak capek?, kamu tidur terus sayang?. Buruan bangun ya... aku udah siap kok dapet hukuman dari kamu.. yang penting saat ini kamu bangun. Udah banyak orang yang sedih karena kamu nggak bangun-bangun" ucap Arska dengan air mata yang makin deras membasahi pipinya. Sesekali ia mencium kening Fella, dadanya terasa sesak sesekali, ia mengatur nafasnya agar bisa kembali bernafas dengan normal. Mata Arska masih memandangi wajah cantik kekasihnya itu, ia terus mengelus pucuk rambut Fella dengan lembutnya, hingga ia menyadari jika sebutir air mata jatuh menetes di pipi mulus milik kekasihnya itu. Senyum bahagia muncul di bibirnya. "Aku tau.. kamu dapat merasakan apa yang aku rasain ay. Aku sayang kamu !!. Cepetan bangun ya sayang" ucapnya yang semakin mempererat gengamannya pada tangan Fella, ia kembali mencium tangan kekasihnya itu.