Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Jiwa Akutansi


__ADS_3

Fella mengikuti langkah Arska yang entah akan membawanya pergi kemana? Cowok itu terus menggenggam tangannya dengan sangat erat. Ia tau jika acara yang akan di selenggarakan berada di kampusnya, tetapi ia tak terlalu tau di mana letak diadakannya acara tersebut. Setengah semester sudah ia lalui, tetapi gadis itu tak banyak menghafal area kampus yang memang sangat luas, dalam sehari pun Fella tak mungkin mampu menelusurinya.


"Kamu tunggu disini! Dan jangan kemana-mana." Perintah Arska, lelaki itu langsung pergi entah kemana, yang ia tahu menuruti perkataannya saat ini jauh lebih baik dari pada membantahnya.


Gadis itu hanya berdiri, dan bingung harus melakukan apa? Yang ia tau hanyalah lautan manusia yang ada di hadapannya saat ini.


"Coba tadi gue minta Faya sama Bella biar tetap tinggal lebih lama disini, pasti gue nggak ngerasa kesepian kalau di tinggal Arska kaya gini," gumamnya pelan, matanya hanya melirik ke kanan dan ke kiri melihat mahasiswa-mahasiswi lain berlalu lalang dan tersenyum saat melihat dirinya berdiri seorang diri di sana.


Acara penggalangan dana telah berlangsung, dan tentu saja Arska ikut andil dalam acara tersebut. Fella hanya mengamati setiap gerakan yang di lakukan oleh kekasihnya tanpa ada niatan untuk mendekat, baginya mengawasinya itu lebih penting di banding harus mengekor terus seperti anak kucing. Mencari tempat duduk yang tek terlalu banyak orang melintas, matanya saja tetap terfokus kepada Arska.


Ada banyak lelaki tampan di dunia ini. Tapi, tak semua lelaki tampan memiliki pesona dan kharisma yang kuat. Karena faktanya, tak jarang lelaki tampan yang bisa menarik lawan jenisnya. Apa penyebabnya? Entahlah, ada banyak alasan yang akan perempuan kemukakan jika menyangkut hal tersebut.


Kecerdasan seseorang juga akan mempengaruhi pesona orang tersebut. Jika orang bijak bilang, inner beauty juga tak kalah penting dari penampilan luarnya.


Lalu, bagaimana kriteria cowok tampan dan mempesona menurut Fella? Dia pasti akan menjawab, Arska Aregan, cowok yang selalu mengisi hari-harinya dengan segudang kejutan yang ia miliki, membuat hatinya selalu berbunga jika sedang berada di sampingnya.


Dan bukan hanya karena lelaki itu memiliki wajah yang rupawan saja, tetapi otaknya pun tak bisa diremehkan, saling peduli sesama pun baginya memang sangat penting.


Seperti sekarang ini, pesona Arska menguar tak tanggung-tanggung ketika ia berada di balik drum dan dua buah stick drum berada di genggamannya.


Selama kuliah, ini kali keduanya cowok berambut cepak itu, mempertontonkan bakatnya kepada semua orang di kampus. Pertama kali, ketika Fella masih ospek, dia bersama band dadakannya ikut memeriahkan acara tersebut.


Fella pun tercengang, saat melihat kekasihnya melakukan hal yang benar-benar membuat para gadis yang melihat penampilannya saat ini, berteriak-teriak secara histeris memanggil namanya. Dan saat seorang teman Arska yang jarang sekali ia lihat membuka acara tersebut, Fella buru-buru menerobos kerumunan orang yang ada di depannya untuk melihat aksi dari kekasihnya itu lagi.


"Terimakasih kepada teman-teman yang sudah berkenan hadir, di acara pengalangan dana untuk anak-anak penyandang kangker, yang sudah berjuang untuk tetap bisa melanjutkan hidup mereka sampai sekarang," suara sang vokalis menyapa seluruh penonton. Di bawah panggung sudah penuh dengan para mahasiswa dan mahasisiwi yang antusias menyaksikan penampilan Arska dan teman-temannya.


"Perkenalkan, nama saya Rendy. Vokalis di 'Semrawut Band' ini."


Saat sang vokalis menyebutkan nama tersebut, seluruh penonton tak bisa untuk tidak tertawa, termasuk Fella yang saat ini berada di bawah panggung yang jaraknya memang sangat dekat dari sana. Gadis itu dengan sangat jelas mendengar ucapan sang vokalis, matanya tetap tertuju ke arah Arska, sungguh tunangan yang sangat posesif ya. Walaupun begitu tak memungkiri jika Arska juga melakukan hal yang sama.


"Eh....eh... jangan di ketawain ya, nama band kami ini," ucap Rendy ketika penonton terkikik mendengar nama aneh bandnya. "Baiklah....biar kalian nggak ngetawain nama band kami lagi, saya akan sedikit bercerita tentang asal mula nama band tersebut."


Padahal, aksi mereka sudah banyak di tunggu oleh para penonton di sana. Tapi sepertinya, Rendy memang tak ingin menunjukkan itu sesegera mungkin. Ingin membuat para penonton semakin penasaran mungkin ya?


"Jadi, band kami ini sebenarnya nggak pernah terbentuk sebelumnya. Karena sang gitaris yang ono, no..." tunjuk Rendy kepada lelaki yang sedang memeluk gitarnya. Sedangkan yang di tunjuk hanya senyum-senyum sendiri. "Dia tadi nyeret saya, supaya saya mengeluarkan bakat terpendam saya di hadapan orang banyak. Karena apa? Karena saya hanya di kenal oleh penghuni kamar mandi sebelumnya, seperti pasta gigi, sikat gigi, sabun gigi, handuk dan teman-temannya."


Sorakan mulai terdengar saat mendengar lelucon dari lelaki tersebut. Mungkin dia lebih cocok untuk menjadi seorang pelawak di bandingkan menjadi seorang vokalis.


"Jadi karena kita nggak tau mau kasih nama apa? Karena untuk memperkenalkan diri kepada kalian. Celetukan Arska membuat saya terinspirasi. Jadi gini katanya, 'nama aja lo pusingin, nggak akan jadi trending topik juga kan. Semrawut banget otak lo' Gitu katanya."


Teriakan kembali terdengar ketika nama Arska di sebut. Mereka tak menghiraukan keberadaan Fella lagi, yang terpenting saat ini adalah penampilan dari lelaki yang selalu mempesona dan populer di kampus.


Mata Rendy melotot, pura-pura sok marah dan tak terima. "Kenapa nama Arska di sebut reaksi kalian begitu banget! Astaga. Membuat saya menjadi sedikit iri kepada cowok populer itu," Rendy sedikit melirik ke belakang. Entah kapan ucapan Rendy yang basa-basi ini akan segera berakhir.


Mereka sungguh tak sabar ingin segera melihat aksi Arska saat menggebuk drum.


"Oke....oke, baiklah. Biar cepat, saya akan to the point. Gitarisnya bernama Bisma, pemetik bass itu namanya Neo, dan yang duduk dengan santai sambil ngupil pakai stick drum itu bernama Arska, kalian pasti sudah sangat mengenalnya." Rendy sengaja menjelek-jelekkan Arska di depan penonton agar reaksi mereka semakin menghebohkan.

__ADS_1


"Udah tahu.... nggak usah ngejelek-jekin cowok paling ganteng di kampus ini, kalau dirinya sendiri emang nggak populer." Teriakan penonton yang membuat Rendy geleng-geleng kepala. Bisma dan Neo tersenyum saat namanya di sebut oleh Rendy. Berbeda sekali dengan Arska yang hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai pengganti kata lain dari sapaan.


Kemudian peraduan stick drum yang di bawakan oleh Arska mulai terdengar sebagai aksi mereka yang akan segera di mulai. Suara Rendy mengalun indah nan merdu, tak terlihat sama sekali jika ia hanya seorang artis kamar mandi.


Semua orang menikmatinya. Bahkan banyak dari penonton yang merekam aksi mereka dari kamera ponsel yang mereka bawa. Fella hanya menatap Arska dalam diam.


Arska begitu menikmati dengan apa yang sedang ia mainkan saat ini. Kepalanya sesekali mengangguk-angguk karena perpaduan irama yang tercipta dari gitaris, bass dan juga drumnya begitu memanjakan di telinganya.


Mata Arska tertutup ketika satu lagu sudah selesai dimainkannya. Fella tak tau apa yang sedang di lakukan oleh kekasihnya itu, bahkan teriakan dari mahasiswi lain tak membuatnya pecah konsentrasi.


Tapi setelah mata Arska terbuka, tatapannya langsung mengarah ke satu titik. 'Mata Fella'. Sontak saja, suasana riuh yang tadinya terdengar nyaring di telinga gadis itu tiba-tiba menghilang dari pendengarannya. Jantungnya bergemuruh, seperti dia akan segera di eksekusi karena kedapatan membawa narkotika.


Bagaiman tidak, jika mata Arska terlihat begitu berbinar saat melihat ke arahnya. Fella bisa merasakan jika lelaki itu sepeti akan menenggelamkannya dalam kubangan kebahagian yang di sebut 'Cinta'. Di mata lelaki itu, seolah memberitahukan jika si pemilik begitu memujanya.


"Ada yang akan di sampaikan oleh drummer kita." Suara Rendy menyadarkan aksi antara Arska dan Fella yang saling tatap sejak tadi. Meletakkan stick drumnya di atas kursi, Arska mulai berdiri.


"Ayo bro, fans mu sudah tak sabar ingin mendengar suara dan melihat mu." Rendy menaik turunkan kedua alisnya bermaksud menggoda Arska. Sedangkan Arska hanya lempeng-lempeng saja, ia tetap pada gaya cool-nya.


Keringat yang keluar dari tubuh Arska membasahi kaos hitam yang di pakainya. Terutama di bagian punggung. Bahkan punggungnya tercetak jelas karena kaos basahnya. Arska berjalan dengan santai dan mengambil microphone yang di sodorkan oleh Rendy.


Suara riuh tiba-tiba hening karena Arska mulai berbicara. "Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada seseorang yang bernama Fella Anastasia Cantika."


Fella masih berdiri ditempatnya tanpa bergeser sedikit pun. Matanya fokus menatap ke arah Arska yang sekarang sudah berdiri di depannya, dengan mata yang berbalik menatapnya.


"Fella." Arska mulai menghela napasnya sesaat sebelum akhirnya ia melanjutkan kembali ucapnya. "Kamu pasti udah belajar tentang prinsip-prinsip akutansi kan?"


"Dalam prinsip-prinsip akutansi di buku pengantar akutansi karya Warren Reeve Fess, ada dua konsep di dalamnya. Salah satunya adalah konsep biaya, dan di konsep biaya itu, ada dua konsep yang terlibat. Salah satunya, konsep objektifitas. Konsep tersebut mensyaratkan bahwa catatan dan laporan akuntansi harus di dasarkan pada bukti obyektif."


Fella tak tau harus berbicara apa pada dirinya sendiri sekarang. Karena jiwa menggerutu-nya entah menghilang begitu saja. Ia tak tahu apa yang akan Arska sampaikan kepadanya di tengah para mahasiswa dan mahasiswi yang menatapnya layaknya seorang pujangga cinta. Padahal bukan kata rayuan yang di keluarkan oleh Arska, melainkan sebuah materi mata kuliah.


"Konsep tersebut mengatakan, dalam pertukaran antara penjual dan pembeli. Keduanya mencoba mendapatkan harga yang terbaik. Hanya harga terakhir yang akan di sepakati merupakan bukti objektif untuk tujuan akuntansi. Dan kamu tau, jika aku menggunakan konsep tersebut di dalam hubungan kita?"


Jelas Fella tidak tahu. Ia menjalani hubungan dengan Arska tanpa menggunakan konsep-konsep semacam itu, yang ia tau hanya hatinya yang menjalani dan orang tuanya-lah yang menjodohkan mereka.


Hening masih menyelimuti tempat tersebut. Tak ada satu pun yang bersuara, karena yang mereka lakukan adalah fokus mendengarkan Arska.


"Jika di ibaratkan, penjual tersebut adalah kamu, dan aku adalah pembelinya, maka harga terbaiknya adalah hubungan kita. Dan itulah bukti objektif kenapa ada cinta di antara aku dan kamu."


Teriakan langsung menggema ketika Arska mengatakan hal tersebut. Para penonton bahkan harus berjingkrak-jingkrak sendiri karena gemas dengan kelakuan Arska yang seperti ini.


"Sayang."


Sepertinya Arska belum akan mengakhiri penyataan cintanya kepada sang kekasih.


"I LOVE YOU, FELLA ANANTASIA CANTIKA."


Setelah mengatakan itu, Arska segera memberikan micropohne itu kepada Rendy. Ia kembali ketempat duduknya dengan ekspresi tenangnya.

__ADS_1


Membiarkan jeritan dari mahasiswi yang memenuhi tempat tersebut. Fella menelan saliva-nya berkali-kali dan membekap mulutnya karena ingin sekali berteriak. Sungguh, kalimat cinta yang Arska ucapakan untuk dirinya seperti bom bunuh diri. Fella bisa meledak karena kebahagian di dalam hatinya. Ia tak pernah menyangka jika Arska akan mengatakan hal tersebut di depan muka umum, padahal lelaki itu terlihat cuek terhadapnya beberapa hari terakhir ini.


"Oke guys, itu dia pernyataan cinta dari Arska untuk tunangannya. Orang pintar mah gitu ya, mau bilang cinta aja pakai konsep. Coba kalau saya, udah pasti nggak bisa," ucap Rendy dengan kepala menggeleng sambil tersenyum.


"Oh ya, kita juga ada stand loh di sana, yang kita namai 'Bocah Akutansi'. Kalian beli ya ada banyak barang yang kita jual di sana. Dan uang dari hasil penjualan ini akan kita sumbangkan semuanya kepada penyandang kangker.Terimakasih untuk partisipasi kalian, and have a nice day," ucap Rendy, sebelum dirinya dan anggota semrawut band turun dari atas panggung.


Arska langsung menghampiri Fella dan menggandengnya untuk keluar dari kerumunan banyak orang. Gadis itu hanya mengekor di belakang Arska tanpa mengatakan satu patah kata pun.


Jantung Fella masih belum normal. Dan ia berharap, Arska tak kembali berulah dan membuatnya pingsan mendadak.


"Sayang." Fella memanggil Arska dengan suara pelan.


"Hemm."


"Itu tadi seriusan kamu kan?" Pertanyaan Fella benar-benar terdengar konyol saat masuk ke telinga Arska.


"Bukan."


"Terus?"


"Anaknya Pak Hendry Aji Ageran," Jawab Arska tak kalah menjengkelkan.


Fella pun mendengus, dan kembali bertanya. "Bisa dapet kata-kata kaya gitu darimana?" Gadis itu benar-benar penasaran dengan kata-kata yang di dapatkan oleh Arska, sedangkan dirinya pun tak mungkin mampu merangkai kata-kata tersebut agar terdengar sempurna jika di ucapkan.


"Kaya gitu apa?" Kini kening Arska berkeriput, tatapannya pun beralih ke arah Fella.


"Konsep objektifitas di dalam hubungan kita?"


Arska menggeleng. "Nggak tau, tiba-tiba aja ingat."


Senyum Fella terbit. Melepaskan genggaman tangan Arska, dan memeluk lengan lelaki itu dengan erat. Kejadian seperti tadi tidak akan pernah terjadi untuk kedua kalinya, itu yang di yakini Fella saat ini. Sebab lelaki yang ada di sampingnya itu bisa melakukan apa saja saat ia ingin. Tapi, seandainya Arska memberi konsep, dia akan siap mendengarkan dengan seksama jika hasil akhirnya adalah cinta atau mengenai hubungan mereka.


Astaga, Arska ini benar-benar bisa bikin anak orang kelabakan karena ucapnya yang membuat Fella begitu bahagia.


"Sayang," ucap Fella sekali lagi.


"Hem...."


"I LOVE YOU TOO."


Arska berhenti berjalan dan menatap Fella dengan tatapan dalam. Senyum tulus terlukis di wajah tampannya, lelaki itu mengacak rambut Fella pelan, kemudian merapikannya kembali.


"Mulai nanti malam, tepat pukul tiga pagi, kamu bangun ya. Bersujud kepada Tuhan, agar kita bisa berjodoh sampai nyawa kita terlepas dari raga kita. Meskipun kita udah tunangan, tak menuntut kemungkinan untuk orang lain berusaha memisahkan kita."


Fella pun menganggu. 'Ya Allah...' jerit Fella dalam hati.


Arska benar-benar akan membunuhnya secara perlahan, jika kata-katanya selalu membuat hatinya berdebar seperti saat ini. Tadi saja jantungnya belum seutuhnya damai dan sekarang sudah di tambah lagi tembakan mematikan, dan coba kasih tau Fella, konsep apa yang harus digunakannya untuk meredakan jantungnya agar tak melompat dari tempatnya mengingat sejak tadi ribut sekali di dalam.

__ADS_1


Andai saja Faya dan Bella ada di sini saat ini, ingin sekali rasanya Fella memeluk kedua sahabatnya itu, karena kebahagiannya melebihi apa pun.


__ADS_2