
Sampai di kamar hotel. Bella kembali bergumam seperti lebah, perempuan itu terus mengeluh, bahkan tampangnya sudah sangat masam.
"Aduh, pinggang gue serasa di belakang," celoteh Bella seraya memegangi pinggangnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk.
Brayu mengernyitkan keningnya mendengar penuturan istrinya yang di rasa tidak pas di telinganya. "Mana ada, pinggang di depan? Dari dulu kan tempatnya emang di belakang. Elo tuh ngaco banget sih, Bel."
Bella mendongak melirik ke arah suaminya yang masih terkulai lemas di atas sofa. "Diem lo! Ini juga gara-gara elo. Coba aja lo nggak tebar pesona sama ibu-ibu dan cewek-cewek genit tadi. Pasti hasilnya nggak akan kaya gini," balas Bella dengan melempar bantal ke arah Brayu.
"Astaga, sia-sia juga kalau gue ngomong. Buang tenaga. Pasti ujung-ujungnya gue lagi yang disalahin." lelaki itu mengusap wajahnya secara perlahan.
Bella menghela napasnya kembali. "Bandan lo segede kingkong kaya gitu, lah gue kecil mungil kaya gini. Wajar aja kan kalau gue ngeluh! Dan elo, tega banget ngomong sama istri kaya gitu, buang tenaga, hah. Apa coba maksudnya." Bella mengerucutkan bibirnya dan langsung menjatuhkan kembali tubuhnya.
"Dasar 'atos-atos' . Baru ngomong gitu aja udah ngambek," ledek Brayu.
"Tau, lain kali gue nggak mau nyariin elo lagi!"
Brayu tersenyum, dan langsung beranjak dari atas sofa. Lelaki itu mendekati istrinya, seraya menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, bersebelahan dengan Bella. "Yakin, nggak mau nyariin suami elo yang ganteng ini lagi?" tanyanya dengan menggoda. Kedua alisnya naik turun.
"Tau! Orang 'atos-atos' ngapain di cariin!" cetus Bella.
Lelaki itu langsung memeluk pinggang istrinya dari samping, "Hehehe..... seenggaknya, gue udah liat ekspresi wajah elo yang panik waktu ngeliat gue di keroyok kaya tadi."
"Agrah.... Brayu! Lo itu ngeselin banget! Suka banget bikin istri lo ini kebakaran jenggot!" teriak Bella memenuhi ruang kamar.
Brayu semakin mengembangkan senyumnya, lelaki itu menenggelamkan wajahnya di sebelah lengan Bella. Lelaki itu enggan bersuara, dia lebih memilih mendengarkan celotehan Bella di banding membalasnya. Setidaknya, tunggu Bella menghentikan colotehan-nya itu, baru dia akan kembali bersuara.
"Makasih, ya. Elo udah se-khawatir ini sama gue." Lelaki itu bersuara tapi matanya masih terpejam.
Bella hanya meliriknya, tangannya mulai terangkat.
__ADS_1
Plak! Plak!...
Pukulan Bella tak begitu keras, namun berhasil membuat Brayu membuka matanya dengan sangat lebar. Lelaki itu mengangkat kepalanya dan langsung memposisikan tubuhnya agar bisa terduduk.
"Ya ampun, sayang. Salah gue apa? Sampai elo mukul kepala gue kaya gini." ucap Brayu sambil memegangi kepalanya.
Bella yang juga memposisikan tubuhnya agar bisa terduduk pun, langsung membalas perkataan Brayu. "Salah lo itu, nggak ada otak! Ya, kali istri lo yang galak ini nggak khawatir, gue nggak mau jadi janda terlalu cepat!" jelasnya penuh kesal.
Brayu terkekeh, lelaki itu menguar tawanya. "Astaga, sampai ke sana elo mikirnya, Bel." Brayu memegangi perutnya yang mulai mengeras, akibat tawanya tak bisa terkontrol.
Bella kembali mengerucutkan bibirnya. "Biar gimana pun, elo itu juga suami gue. Walau pun lo sering bikin gue kesel, tapi gue sayang sama elo." tutur Bella dengan raut wajah sedih.
Penuturan itu membuat Brayu tersanjung membuat tawanya langsung terhenti dengan seketika, lelaki itu menarik kepala istrinya secara perlahan, menenggelamkannya kedalam dadanya yang bidang. "Makasih ya, ucapan lo barusan itu buat gue bahagia banget. Bersyukur gue bisa nikah sama elo!" katanya yang langsung mengecup pucuk kepala Bella beberapa kali.
Rasanya begitu nyaman berada di pelukan Brayu, bahkan perempuan itu dapat merasakan detak jantung Brayu yang tak beraturan, membuat senyumnya semakin mengembang.
Brayu tersenyum sinis, lelaki itu semakin menenggelamkan wajah istrinya ke dalam dada bidangnya, rasa geli berpadu dengan debaran jantung yang tak karuan membuatnya kembali berinisiatif untuk menggoda istrinya kembali.
"Kalau mau minta jatah, nanti malam ya. Jangan sekarang, ini masih siang, tenaga gue juga belum pulih seutuhnya." goda lelaki tersebut.
Bella langsung mendorong tubuh kekar milik suaminya itu. "Astaga, pikiran kamu itu jorok banget sih, yang!" seru Bella yang kini menatap tajam ke arah Brayu. Rasanya ia ingin menelan Brayu hidup-hidup.
"Gimana nggak mikir jorok, kalau istri gue yang cantik ini main tunjuk-tunjuk dada gue. Emangnya nggak geli."
Bella langsung menggigit bibir bawahnya, 'Ya ampun, gue lupa,' batinnya. Wajah gadis itu berubah menjadi merah, kedua tangannya mulai terangkat untuk menutupi wajahnya yang sudah merah padam itu.
"Brayu! Kenapa elo ngeselin, sih!" teriak Bella.
"Biar pun ngeselin, seenggaknya istri gue ini bilang sayang sama gue." lelaki itu kembali menggoda Bella.
__ADS_1
"Kalau bilang kaya gitu lagi, gue pukul!" ancamnya.
Lelaki itu menyunggingkan senyumnya, ia mulai mendekati istrinya. "Pukul aja, seenggaknya gue udah denger perkataan elo yang bilang sayang ke gue!"
Bella menarik bantal yang ada di sebelah kakinya, perempuan itu menutupi seluruh wajah dan telinganya agar tak mendengar celotehan atau pun godaan dari mulut bibir Brayu.
...~Cinta Untuk Fella~...
Di dalam kamar, Fella masih sibuk merapikan pakaiannya, perempuan itu baru sampai di jogja pagi ini. Karena kondisinya yang kurang baik beberapa hari ini, acara liburannya harus tertunda beberapa hari. "Hubby, kita serasa kaya sasange ya?" celoteh Fella saat sudah selesai merapikan pakaiannya dari dalam koper.
Lelaki itu mendekati tempat tidur, dimana Fella sedang duduk di atasnya saat ini. "Kok, kaya sasange?"
Fella mengangguk kecil, "Pengantin baru kan juga baru liburan kesini Hubby." jelasnya.
Arska mengernyitkan keningnya, lelaki itu mulai merangkul istrinya dari samping. "Maksud kamu, Bella sama Brayu? Mereka juga ada di jogja?" tanya Arska seraya mengelus lengan Fella.
"Iya, Hubby. Dan tepatnya kamar kita sebelahan deh sama mereka," tutur Fella, seraya memperlihatkan ponselnya, status di IG Bella mengatakan seperti itu.
"Wah, bagus dong yang, kita bisa main rame-rame. Biar makin seru."
Fella berdecak kesal, perempuan itu kembali mengerucutkan bibirnya . Kedua tangannya sudah terlipat rapi di depan dada. "Masalah itu, aku takut di kira mau buntutin mereka."
Arska terkekeh, pikiran istrinya itu kenapa bisa sampai ke sana, sedangkan dia tak ada niatan untuk berpikir sampai ke sana. "Kamu tenang aja, mereka nggak akan berpikiran seperti itu," ucapnya seraya mengacak rambut Fella.
Fella menunjuk ke arah Arska, "Beneran ya Hubby, aku nggak mau dikatain sasange."
Arska mengangguk kecil, lelaki itu mengelus pucuk kepala istrinya lagi. "Kita, istirahat dulu ya sayang, nanti sore kita baru samperin mereka. Aku pengen denger mereka ngomong apa, kalau tau kita juga ada di sini."
Fella mengangguk, perempuan itu menuruti perkataan suaminya. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, rasa pegal di seluruh tubuhnya masih sangat terasa, apalagi mereka baru sampai di hotel sekitar setengah jam yang lalu.
__ADS_1