Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Elo Lagi!


__ADS_3

Kevin memegangi pinggangnya seraya melirik ke arah Faya, tatapannya begitu sinis. Sejak kejadian kemarin Kevin menggerutu tak jelas.


"Lo kenapa sih, ngeliatin gue sampai segitunya. Ada dendam apa lo sama gue?" tanya Faya tak kalah masamnya.


"Cewek yang kemarin!"


"Apa hubungannya sama gue?"


"Dia bikin badan gue sakit, bahkan bibir gue berasa kebas karena ngadenin dia debat!" curhatnya.


Mendengus pelan dengan bibir terangkat sedikit. "Gue kan udah kasih tau ke elo, Alina itu bisa seharian kalau di ajak debat. Elo-nya aja yang nggak dengerin omongan gue." cicit Faya merasa tak terima jika di salahkan.


Menopang dagunya, "Gue berharap, gue nggak bakalan ketemu sama itu orang lagi!" Kevin segera meminum softdrink-nya.


Mengangkat sebelah alisnya, "Kayaknya keberuntungan nggak lagi memihak ke elo deh Vin."


Menyipitkan matanya dan menatap lurus ke arah Faya. "Maksud lo?"


"Elo tengok aja kebelakang." perintah Faya yang mengangkat sedikit dagunya.


Kevin menuruti perintah Faya, lelaki itu memutar lehernya dan melebarkan matanya saat mengetahui Alina mulai berjalan ke arah meja mereka.


"SIAL!" umpatnya.


"Yang sabar ya," ucap Faya pelan seraya menepuk pundak Kevin pelan.


Alina sudah menarik kursi terlebih dahulu, gadis itu mengembangkan senyumnya. "Em... kak Faya, kemarin ninggalin aku sama cowok ngeselin ini." bibir mengerucut menghiasi muka Alina.


"Sial banget ketemu elo lagi! Berasa dunia sempit banget kalau adanya lo lagi, lo lagi." kesal Kevin.


"Yang ada aku kali yang malas ngeliat kamu! Udah mulutnya setebal kapal, pedes lagi." balas Faya tak kalah ngegas.


Brak!


"Kalian mau ribut lagi kaya kemarin! Kalau kalian mau ribut lagi, mending gue pergi lagi aja." ancam Faya saat mengetahui aura hitam dari keduanya.


Seperti seekor anak kucing yang menuruti perintah induknya, keduanya langsung menutup mulut mereka rapat-rapat.


"Jangan dong kak, Alina kan kangen sama kak Faya, udah lama nggak ketemu," rengek-nya. Gadis itu sudah menggelayut-kan tangannya di lengan Faya.


Mendengus kesal, bahkan dari raut wajah Kevin terlihat mulai masam. Cari muka aja terus, dasar muka kardus. gumam Kevin dalam hati.


"Pengganggu! Dasar jin tomang, dimana ada gue dan Faya di situ pasti ada dia!" cicit Kevin sembari memalingkan wajahnya.


"Ish..." desis Alina mengangkat sebelah alisnya dengan mata melotot.


"Udah-udah! Kalian itu kaya anak kecil tau!" seru Faya melerai.


Alina kembali merapatkan mulutnya, kini ia terfokus kepada Faya. Niat gadis itu kan bukan untuk berdebat dengan Kevin, melainkan untuk mendekatkan kembali Aldy dan Faya. Sejauh ini Alina masih anteng dan mendengarkan setiap perkataan Faya, ia tak menghiraukan Kevin yang ada di hadapannya itu.


Mereka bertiga asyik mengobrol, tak sedikit dari kedua remaja itu membuat kepala Faya pusing, karena di sela obrolan mereka saling memojokkan. Faya memijat pelipis kepalanya pelan.


Aduh! Kenapa ini mulut susah banget buat nggak ikut nyolot waktu dia ngomong sih! keluh Alina dalam hati.


Bisa gawat kalau Faya ninggalin gue gara-gara cewek ini. Aduh, jangan kepancing lagi deh please mulut, jangan gerak semau elo sendiri! batin Kevin menepuk-nepuk mulutnya pelan.


Melihat gelagat dari keduanya, Faya paham jika keduanya saling menahan agar tak terpancing satu sama lain.


"Gue ke toilet dulu ya," ucap Faya memecah aksi saling lirik dari keduanya.


"Ah. Iya kak, tapi jangan kabur lagi ya," pinta Alina sedikit mendongak.


"Iya, lo jangan lama-lama di toiletnya, takut ulet bulu nyerang gue dadakan." sindir Kevin seraya melirik ke arah Alina.


Alina mengigit bibir bawahnya namun ekor matanya masih menatap lurus Kevin. Faya menghela napas dan beranjak dari tempat duduknya. Melihat Faya sudah tak terlihat lagi, kedua remaja itu saling tatap dengan bibir siap mencibir satu sama lain.


"Ck. Mulut cablak!"


"Mulut pedes!" balas Alina yang tak mau kalah.


"Kenapa elo selalu ngikutin gue dan Faya sih! Penguntit!"


Mata Alina membola, gadis itu enggan bersuara namun tangannya bergerak mengambil sendok yang tepat ada di depannya.


"Mau ngapain lo!" seru Kevin nampak was-was.


Alina melayangkan tangannya, mengarahkan sendok itu ke kepala Kevin.


"Enteng banget tangan lo! Jangan-jangan lo suka mukulin orang! Jangan pacar lo remuk tiap hari lo perlakuin kaya gini." serunya mengusap kepala pelan.

__ADS_1


Meletakan sendok, dan melipat kedua tangannya di dada. Alina tersenyum sinis, bahkan ia tak mengeluarkan sepatah kata pun, melihat ekspresi Kevin seperti itu membuatnya ingin tertawa.


"Sial banget ketemu elo lagi, tau gini gue cari tempat sembunyi." sesalnya.


"Ya udah sembunyi aja. Lagian aku pengennya cuma sama kak Faya. Kamu aja yang suka ngekorin kak Faya." cibirnya.


"Eh, elo tuh masih kecil. Nggak usah sok ngatur orang dewasa deh!"


"Dewasa kok nyibir muluk, udah kaya mulut cewek." ejek Alina.


Keduanya kembali mengeluarkan kata-kata perdebatan yang tak berfaedah. Kurung dari lima menit Faya keluar dari toilet, sepasang mata Alina langsung terfokus di sana. Menendang pelan kaki Kevin.


"Diem! Kak Faya balik lagi kesini!" perintah Alina sedikit membentak.


Anjir gue di bentak sama bocah bau kencur! batin Kevin menggondok.


Kedua remaja itu langsung merapatkan mulut mereka, banyak godaan yang sebenarnya ingin mereka lontarkan namun di urungkan, karena tatapan Faya begitu tajam dan siap memangsa. Duel antara Alina dan Kevin pun telah di mulai detik ini, entah Faya sadar atau tidak atas tindakan kedua orang itu, yang pasti mereka ingin mencari posisi agar lebih dekat dan mampu mengambil hati Faya.


...~Cinta Untuk Fella~...


Sepasang kekasih telah duduk di layar bioskop dengan pop-cron serta minuman yang mereka beli. Keduanya asyik menikmati film yang baru saja di putar di layar besar itu. Sejak kejadian beberapa minggu yang lalu, membuat Leon sedikit menjaga mulutnya agar tak mengucapkan hal yang dapat menyinggung perasaan Salsa.


"Habis ini mau kemana?" tanya Leon sembari memegang tangan Salsa.


Mengangkat sebelah alisnya dengan netra mata lurus menatap tajam kearah Leon.


"Terserah kamu aja." balasnya singkat. Gadis itu kembali fokus kepada film drama yang saat ini di putar.


Belum puas dengan jawaban Salsa, Leon menyunggingkan sudut bibirnya. Lelaki itu mengapit kepala Salsa cukup keras, membuat si pemiliknya terjangkit dan melotot ke arah Leon, tanpa sadar ia berteriak cukup keras.


"Aaarrrgghh! Leon!" suara Salsa terdengar hingga ke telinga pengunjung lain. Salsa dan Leon yang memang duduk di meja agak belakang menjadi sorotan bagi penonton lainnya.


"Jangan berisik dong Mas-Mbak, kita lagi seru nontonnya." titah salah seorang gadis yang jarak kursinya tepat di depan Salsa dan Leon.


"Tau ni, kalau mau berisik mending sana keluar!" seru salah seorang pengunjung lainnya.


Mereka berdua hanya cengar-cengir dan menahan rasa malu. "Awas ya kamu yang, habis ini...." bisik Leon yang tak melanjutkan ucapannya karena tangan mungil Salsa sudah terlebih dahulu membungkamnya.


"Jangan coba kamu ngancem aku, kalau nggak mau aku gigit kamu sekarang juga!" Salsa melebarkan matanya selebar-lebarnya.


Lelaki itu hanya terkekeh, tanpa ada ketakutan sedikit pun dari matanya.


Di luar bioskop, Salsa menekuk wajahnya. Ekor matanya tak lepas dari wajah tampan Leon. "Itu filmnya baru seru yang, kenapa main tarik keluar sih!" regeknya.


"Nggak asyik orang-orang. Bikin mules denger ucapan mereka yang ngeselin itu."


Ada gitu orang ngomong bikin mules, dasar Leon. gumam Salsa dalam hati.


"Kenapa masih cemberut? Masih belum ikhlas ninggalin filmnya? Kapan-kapan kita nonton lagi deh." ucap Leon yang kini mengalungkan tangan kananya di leher Salsa.


Mengangguk cepat, "Janji ya, besok bakalan nonton lagi, awas aja kalau bohong."


"Iya janji," balas Leon.


Salsa nyengir hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Dasar, kalau ada maunya aja langsung nyengir, coba aja kalau nggak kesampaian. Itu bibir udah maju seharian penuh tanpa nonstop." sindir Leon yang melirik Salsa dari samping.


Mulut Salsa nampak terbuka sedikit, baru saja ia di buat bahagia karena ucapan Leon, dan seketika pula lelaki itu menghempaskan-nya jatuh ke dasar laut. Tanpa menunggu nanti, Salsa langsung mencubit Leon tanpa ampun.


"Aw! Sakit yang, kamu tega banget sih bikin perut aku memar."


"Kamu yang bikin aku marah duluan."


"Astaga, becanda yang. Jangan di masukin ke empa ati kenapa?" protes Leon.


"Nggak afdol kalau nggak di masukin ke dalam ampela ati, kurang asyik!" balasnya ikut mengacau.


"Biar afdol, kita makan aja yuk. Lapar ni, gara-gara kamu ngomongin ampela ati." ucap Leon yang kini mengusap-usap perutnya, sepeti anak kecil meminta jatah makanannya.


Salsa mengangguk pelan, gadis itu juga merasakan hal yang sama. Menarik lengan Leon dan membawanya ke sembarang arah untuk mencari makanan yang menurutnya enak. Sampai di sebuah restoran Salsa melihat adanya Faya di sana, ekspresi wajahnya nampak berbeda.


Dimana ada kak Faya, pasti ada kak Bella. batinnya. Gadis itu sedikit mengendurkan tangannya yang menggelayut di lengan Leon.


"Kenapa yang?" tanya Leon seraya melihat wajah Salsa yang tiba-tiba muram.


Menggeleng pelan dan menarik kursi, Salsa mendudukkan dirinya di sana, di bangku paling dekat pintu. Leon semakin kebingungan melihat tingkah laku kekasihnya itu.


"Kamu kenapa sih yang? Tadi kayaknya kamu paling semangat waktu aku ajakin makan." ujar Leon yang langsung duduk di sebelah Salsa.

__ADS_1


"Nggak papa."


"Biasanya kalau cewek bilang nggak papa itu tandanya ada apa-apa." tebaknya menampilkan seulas senyum.


"Kamu sok tau deh, tingkat sok taunya meningkat satu level lagi." cicit Salsa dengan alis terangkat sebelah.


Leon merasa gemas dengan ekspresi Salsa kali ini, ia mencubit pelan pipi cubi kekasihnya itu. Hingga sebuah sapaan membuat keduanya menoleh ke sumber suara.


"Hey, Sal. Kencan lu?" suara seorang gadis yang di yakini-nya adalah Faya.


"Ah-em." seakan bingung menjawab pertanyaan Faya, Salsa menjadi loading.


"Wih, senior juga di sini." katanya mencoba menyapa Leon.


"Iya Fay," balasnya mengembangkan senyum. "Elo udah selesai makannya?" lanjutnya sedikit bosa-basi.


Melirik ke belakang sesaat. "Udah. Pusing kepala gue, kalau kelamaan ngeliat orang yang ada di belakang gue ini berantem mulu."


"Ya udah sana gih pulang." celetuk Leon.


"Ngusir nih ceritanya." Faya mengerucutkan bibirnya. Namun ekor matanya melirik Salsa yang nampak gelisah.


"Iya, lo entar cuma ganggu moments romantis gue sama pa..." Leon tak melanjutkan ucapannya, lantaran Salsa sudah terlebih dahulu membungkam mulutnya.


"Teman." finalnya.


Faya mengernyitkan keningnya. Sedangkan Leon mendelik, lelaki itu kebingungan dengan ucapan kekasihnya itu.


"Yah udah romantis gini, sayangnya cuma temen." Faya nampak kecewa.


Menarik tangan mungil yang menutupi mulutnya itu. "Siapa bilang cuma temen kita ini pacaran." jelasnya.


Salsa salah pemikiran, gadis itu berpikir, jika Leon akan mengatakan hal yang sama seperti saat bertemu dengan Bella, namun ternyata Leon mengatakan secara terang-terangan jika mereka berdua berpacaran.


"Wah... bikin iri deh," timpal Alina yang langsung menggelayut di lengan Faya.


"Balik yuk Fay, masak lo mau ganggu acara makan malam orang pacaran. Jangan jadi kaya ni cacing belut, yang dimana ada gue dan elo dia selalu ada." cicit Kevin, ia merasa kesal melihat kelakuan dan mulut cerewet gadis itu.


"Ye, ya kali aku bikin ulah. Yang ada kamu tuh yang nempel terus sama kak Faya. Dasar ulet keket!"


Keduanya justru makin mencela satu sama lain, Faya semakin pusing mendengar keduanya yang tak kunjung diam.


"Gue balik duluan ya, malas dengerin mereka kaya gini." pamitnya seraya berlalu lalang dan meninggalkan keduanya yang masih saling mengejek satu sama lain itu.


Menarik tangan Salsa pelan, "Pindah dari sini yuk, mereka terlalu ganggu." ajak Leon dan hanya di balas anggukan oleh Salsa.


Saat pasangan kekasih itu sudah berjarak dangan Alina dan Kevin. Namun tatapan mata Salsa masih tertuju kepada kedua remaja itu Leon segera berucap.


"Kenapa?"


"Nggak ada niatan gitu, buat pisahin mereka?" Salsa menunjuk kedua remaja itu menggunakan dagunya.


"Biarin aja, udah gede. Lagian Faya aja milih ninggalin mereka daripada misahin." balasnya.


Sejenak Salsa melupakan ucapannya tadi, gadis itu terus menatap lurus ke Alina dan Kevin, ya meskipun ia tak terlalu kenal dengan mereka setidaknya ia sedikit iba melihat keduanya seperti itu, Salsa merasakan jika keduanya memang mirip dengan dirinya dan Leon saat sedang tak akur.


Namun berbeda dengan Leon yang nampak ingin mengintrograsi kekasihnya itu, dengan pergerakan lamban, jari-jari Leon sudah mendarat di salah satu pipi mulus milik kekasihnya itu, sontak saja si pemilik terjangkit.


"Sakit yang!" keluhnya mengusap-usap pipinya dengan bibir mengerucut.


Leon tak menggubris ucapan Salsa, lelaki itu justru mendekatkan wajahnya dan menaruh tangannya tepat di bahu kekasihnya.


"Leon?" ucapnya pelan, Salsa terlihat ketar-ketir karena tak ada respon dari kekasihnya itu.


"Aku pengen kasih hukuman buat pacar yang nggak mau mengakui aku, dan justru cuma anggap aku sebagai temannya," bisik Leon disertai senyum sinis yang menghiasi bibirnya.


Salsa memutar lehernya, gadis itu menelan saliva-nya beberapa kali. Ketegangan napak jelas di wajahnya, kala Leon menatapnya dengan tatapan aneh dan senyum sinis yang jelas di perlihatkan di depannya.


"Waktu itu kamu kan...." tak sempat melanjutkan ucapannya jari telunjuk Leon sudah menempel di bibirnya.


"Kamu mau balas tindakan konyol aku waktu itu? Jangan harap, karena itu nggak akan mungkin terjadi."


Salsa menggigit bibir bawahnya, jarak yang terlalu dekat membuatnya susah untuk bernapas.


Ini di tempat umum jangan sampai Leon bertindak yang enggak-enggak. pikirnya dengan mata terpejam.


Seakan hanyut oleh pikirannya sendiri, Salsa tak kunjung membuka matanya, bahkan ia semakin merapatkannya.


"Siapa yang mau cium kamu? Aku nggak akan ngelakuin tindakan konyol seperti itu di depan umum. Lagian belum saatnya." Leon kembali berbisik, netra matanya masih melirik Salsa yang masih memejamkan matanya.

__ADS_1


Rona merah nampak jelas dari kedua pipi dan telinga Salsa, gadis itu menjadi salah tingkah. Leon segera mengambil daftar mene yang ada di depan Salsa dengan senyum menyungging, Salsa membuang napasnya secara perlahan. Napasnya terlihat naik turun seiring Leon menjauhkan tubuhnya dari hadapannya. Setelah merasa cukup lega, Salsa langsung merebut daftar menu yang telah di pengan oleh Leon sejak tadi. Dapat di lihat dengan jelas jika gadis itu nampak kesal. Sedangkan si pelaku hanya sibuk tertawa tanpa dosa.


__ADS_2