
Brayu menghentikan motornya di sebuah rumah mewah yang memilik gerbang cukup tinggi, di sana sudah banyak sekali pengawal yang menjaga kediaman Moregan. Saat Bella sudah turun dari motor Brayu, cowok itu tiba-tiba menarik kembali pergelangan tangan Bella, rasanya ia enggan berpisah begitu saja dengan pujaan hatinya.
"Udah malam mending lo pulang gih.." ucap Bella saat Brayu tak beranjak dari hadapannya dan justru sibuk memegang tangannya.
"Lo nggak ngizinin gue masuk dulu? Bosa basi sama orang tua lo dulu. Mungkin," kata Brayu yang masih setia duduk di atas motor sportnya.
"Emangnya lo nggak di cariin sama orang tua lo? Kalau pulang kemalaman, misalnya."
"Hahaha.... emangnya gue anak kecil apa yang harus minta izin sama orang tua." cowok itu masih saja tersenyum dan tak ada niatan untuk melepas tangan Bella.
"Udah malam Bray, gue capek mau istirahat dulu, badan gue pegel semua rasanya." Bella memegangi pinggangnya yang memang terasa ngilu.
Brayu tersenyum sesaat, ia mengangguk kecil seraya melepaskan tangan Bella. "Semoga cepat sembuh, dan selamat beristirahat," ucap Brayu dengan tangan mengacak rambut Bella pelan, cowok itu kemudian menyalakan mesin motornya dan melajukan motornya dengan pelan.
Tak berselang lama saat gerbang sudah terbuka dan Bella akan memasuki halaman rumahnya, tiba-tiba terdengar suara kendaraan motor yang terjatuh. Bella pun menoleh, mengamati dengan teliti, ia takut jika suara motor itu adalah milik Brayu, pasalnya cowok itu sejak tadi sore terus bersamanya dan takutnya Marko akan muncul kembali dan mencelakai Brayu.
Tanpa menunggu aba-aba lebih lagi. Bella segera berlari menghampiri sumber suara tersebut, takut jika itu benar-benar Brayu, ia akan semakin merasa persalah. "SIAL!!" umpatnya saat mengetahui kalau itu benar-benar motor milik Brayu.
"Kemana gue harus nyari lo Bray?" tanyanya pada diri sendiri, Bella menggigit giginya sendiri karena rahangnya terasa mengeras, tangannya sibuk mengacak rambutnya karena frustasi.
Mata Bella mulai berkeliling melihat kesana-kemari, siapa tau Brayu masih ada di sekitar sana. Hingga sebuah teriakan dari beberapa orang mulai terdengar di telinganya, Bella mulai was-was, sambil matanya melirik ke sebuah gang yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Di lihatnya seorang laki-laki yang tengah di hajar oleh beberapa pria. Di pukul, di tendang, berulang kali. Laki-laki itu sempat melawan tapi tenaganya terlalu lemah karena jumlah mereka yang terlalu banyak, tak mungkin ia sanggup untuk menghadapinya sendirian.
Para pria yang mengasari laki-laki itu bertubuh besar, otot tangannya terlihat kuat, kalau di lihat-lihat dari tampangnya, para pria itu orang yang sudah sangat terlatih. Beberapa di antaranya menodongkan senjata tajam kepada laki-laki itu.
Saat di amati lebih dekat, mata Bella tiba-tiba membulat dengan sempurna ketika melihat sosok laki-laki itu adalah Brayu, yang benar saja Marko tak akan melepaskannya begitu saja, kenapa ia tak memikirkannya sejak awal.
"Sial! Kenapa otak gue nggak mikir sampai sejauh itu! Kalau Marko bakalan ngelakuin hal buruk terhadap Brayu." Bella benar-benar tersulut emosi saat melihat kejadian tersebut. Ia segera berlari karena takut akan hal yang lebih parah menimpa cowok itu.
Dengan gesit, Bella menendang beberapa pria itu tepat di bagian leher. Karena memang posisi mereka membelakangi Bella. Bella semakin kesal karena melihat Brayu yang sudah tak sadarkan diri lagi, gadis itu kembali berdecak kesal. Bella menghajar mereka tanpa rasa takut, yang ada di hatinya saat ini hanyalah rasa marah terhadap dirinya sendiri.
Bugh! Bugh! Bugh!
Berulang kali tinjuan di layangkan Bella dengan sangat keras, hingga hanya dua orang yang masih bertahan di sana. Salah satu di antaranya terduduk kesakitan karena pergelangan tangannya teriris oleh pisau. Sementara salah satu pria yang hanya terluka kecil itu tiba-tiba menyodorkan pistol tepat ke arah Bella.
Bella yang tidak membawa senjata itu hanya terdiam, tangannya mengepal kuat, bersiap akan meninju pria yang ada di depannya itu.
"MENYERAHLAH NONA MOREGAN, MAKA SEMUANYA AKAN BAIK-BAIK SAJA. JIKA TIDAK KAU DAN SI LEMAH INI AKAN MATI!" Teriak pria itu sambil melirik ke arah Brayu yang sudah tak sadarkan diri lagi.
Tapi yang namanya Bella tak akan pernah menyerah begitu saja, apalagi menyerahkan diri pada bawahan Marko. Ia masih mencoba berpikir sejernih mungkin untuk melumpuhkan pria yang ada di hadapannya saat ini.
Bugh!
Bella melayangkan tinjuan di pipi pria itu.
Dor!
Pria itu langsung membebaskan peluru pada pistolnya. Dengan cepat Bella langsung menendang tangan pria itu hingga bandan pria itu berbalik dan peluru itu mengarah ke salah satu temannya yang kesakitan tadi. Pria itu mati, karena peluru itu tepat mengenai jantungnya.
Bella langsung menendang leher pria yang masih bisa melawan itu dengan sisa tenaga yang ada. Hingga beberapa pengawalnya pun datang, untuk membantu.
"Nona, nggak papa? Maafkan saya yang datang terlambat," ucap salah seorang pengawal kepercayaan keluarga Moregan, sebut saja Jerry.
"Gue nggak papa Jer, lo tolong bantu urus semua orang-orang ini, masukin penjara sampai mati. Bila perlu!" Mata Bella penuh kemarahan.
__ADS_1
Ia menggenggam erat tangan milik Brayu yang sudah lemas tak berdaya, ia sungguh tak tega melihat kondisi cowok itu saat ini.
Meminta tolong kepada salah satu pengawalnya agar membawa Brayu ke rumahnya untuk segera di obati.
...°•°©inta Untuk Fella°••...
Bella masih setia menunggu Brayu yang belum juga siuman, ia tak bisa memejamkan matanya meskipun hanya sedetik, merasa bersalah mungkin itu yang sekarang ada di dalam pikiran Bella saat ini.
Dokter pribadi keluarga Moregan pun sudah selesai mengobati luka yang ada pada diri Brayu, cowok itu lukanya lebih parah di banding tadi sore.
Ranita membuka pintu kamar tamu, ia melihat kecemasan pada wajah anaknya. Dengan langkah pelan Ranita mendekati di mana Bella duduk saat ini. "Kamu nggak istirahat dulu sayang?" Tanya Ranita saat sudah berada di samping Bella.
"Nanti mi, Bella belum ngantuk."
"Dia pacar kamu?" kata-kata itu tiba-tiba terlontar dari mulut bibir Mommy-nya.
Menggelengkan kepala pelan. "Bukan mi, dia senior di kampus sekaligus teman Bella."
"Di ganteng banget ya bel." Ranita mengamati tampang pemuda itu.
"Apa hubungannya sama Bella mi?"
"Kamu nggak suka gitu sama dia?" Tanya Ranita mencoba memastikan.
"Mommy apa-apa sih, mana ada Bella suka sama dia. Dia kaya gini juga gara-gara Bella, mana ada muka Bella sempat suka sama dia."
"Beneran nggak ada rasa meskipun hanya secuil?"
"Mommy ngerti perasaan kamu, tapi jangan terlalu nyalahin diri sendiri, karena itu nggak baik sayang, coba buka hati kamu meskipun hanya sedikit." Ranita memeluk anaknya dari samping.
"Bella belum bisa mi, Bella masih trauma sama yang dulu dan sebaiknya Mommy sekarang istirahat. Udah malam juga kan. Bella mulai ngantuk." Bella sengaja mengatakan hal itu agar Mommy-nya tak membahas akan hal itu lagi. Bella hanya akan merasa sakit jika di ingatkan terus menerus.
"Bilang aja kamu mau berduaan, mau ngeliatin cowok ini tapi takut di gangguin sama Mommy kan." Jari telunjuk Ranita mengarah ke anaknya, ia tersenyum dengan lebar, berniat untuk menghibur sang anak, pikirnya.
"Apaan sih mi, dia masih pingsan gitu, lagian mana ada niatan Bella buat berduaan sama dia, Bella cuma ngerasa bersalah aja mi," ucapnya dengan kepala menyandar di bagain kepala kursi.
"Oke.... Mommy keluar, tapi ingat. Jangan tidur sampai larut malam karena itu nggak baik buat kesehatan kamu." Ranita mencoba menasehati anaknya itu.
Anggukan kecil menjadi salah satu kunci bagi Bella untuk mengakhiri percakapannya dengan Mommy-nya. Ranita kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar kamar, tak ingin berdebat dengan anak sematawayangnya lagi karena waktu memang sudah larut malam.
Hingga Bella mengingat akan satu hal yang tidak boleh di beritahukan oleh Daddy-nya. Kepala Bella mendongak agar bisa menatap ke arah punggung Ranita yang sudah berada di depan pintu. "Mi.... jangan bilang ke Daddy tentang kejadian hari ini ya." pinta Bella dengan wajah melasnya.
Ranita menoleh, memiringkan kepalanya sedikit. Kerutan di keningnya terlihat sangat jelas di sana, entah apa yang di pikirkan oleh wanita paruh baya itu tentang anaknya.
"Please mi...." ucapan memohon dari Bella dangan kedua tangan menyatu dan di angkatnya cukup tinggi.
"Oke.... tapi Mommy nggak bisa jamin kamu bisa leluasa pergi sesuka hati seperti biasanya." Ranita memandang Bella dengan tatapan tegasnya. "Itu udah peraturan yang di buat oleh Daddy kamu, kalau ada yang berniat jahat sama kamu atau pun keluarga kita, itu konskonsinya." Ranita mencoba mengingatkan anaknya untuk ke sekian kalinya.
"Iya mi," ucap Bella dengan wajah murungnya.
Ranita tak lagi menatap ke arah anaknya, ia segera keluar dan menutup pintunya dengan rapat.
"Cepetan bangun dong Bray, nggak capek apa merem muluk, gue aja yang cuma nungguin lo capek banget," keluh Bella dengan kepala menyandar di pinggiran ranjang.
__ADS_1
"Gue ngantuk jagain loh.... Bray." keluh Bella pelan, tak berselang lama gadis itu memejamkan matanya, karena kantuk yang kini menyelimutinya.
Dengan perlahan Brayu membuka matanya, mengamati dengan seksama wajah Bella yang kini terpejam, gadis itu memegang tangan Brayu dengan posisi tidur.
"Jadi itu alasan lo nggak mau nerima gue, lo takut kehilangan kaya apa yang pernah lo alami sebelumny," ucap Brayu pada dirinya sendiri. Cowok itu sebenarnya sudah siuman sejak tadi, hanya saja ia ingin memastikan bagaimana cemasnya Bella saat ia tak kunjung sadar.
"Andai lo bisa kalem gini Bel, gue semangat banget buat ngeliat lo tiap hari tanpa perlu dengerin celotehan lo terlebih dahulu," katanya dengan tangan yang kini mengelus pelan rambut Bella agar tak membangunkan gadis itu dari tidurnya.
Dengan mengembangkan senyumnya pemuda itu terus menerus mengelus rambut Bella yang sedang tertidur. Tapi saat elusan terakhir tiba-tiba tangan Bella meraih tangan Brayu dan menghentikan tangan pemuda tersebut. Mata Bella melebar meskipun tatapnya sayu, tapi gadis itu masih dapat melihat ke arah Brayu dengan sangat jelas karena memang jarak di antara ke duanya sangat jelas.
"Lo pura-pura masih pingsan tadi?" Tanya Bella dengan tatapan sinis-nya.
Brayu terdiam sesaat, ia melihat Bella dengan mata yang tak berkedip sama sekali.
"Jawab Bray!"
"Eem.... iya Bel, maaf."
"Kenapa harus pura-pura? Lo bikin gue merasa lebih bersalah, dengan tindakan lo yang kaya gini," kata Bella dengan menahan emosinya, merasa cowok itu seperti tak menghargai kecemasannya. Bella berdiri hendak beranjak dari duduknya.
"Mau kemana bel?" tanya Brayu dengan posisi sedikit mengangkat tangannya.
"Mau tidur, gue capek di bohongin terus." Bella kini melangkahkan kakinya, hendak meninggalkan Brayu, namun tangan Brayu terlebih dahulu menarik tangan Bella hingga gadis itu terjatuh di atas kasur dan menimpa Brayu. Cowok itu justru memeluk tubuh Bella dengan sangat erat.
Bella pun terbelalak. "Gila lo, ya! Lepas, Nggak!" Pinta Bella dengan sedikit membentak. Saat ini posisi mereka berhadapan.
"Gue nggak mau lepasin lo sebelum lo janji nggak bakalan ninggalin gue malam ini."
"Apa hak lo!"
"Gue pengen tidur di temenin elo Bel."
"Gue nggak mau, lagian kita bukan muhrim nggak boleh tidur dalam satu kamar yang sama. Karena yang ketiga itu setan." jelas Bella dengan nafas tersengal, ia susah bernafas dengan posisi ini.
"Kalau gitu kita langsung nikah aja, biar jadi muhrim," kata Brayu dengan mata berbinar.
"Mana ada nikah tanpa cinta!"
"Seiring berjalannya dengan waktu, gue yakin kalau lo bakalan cinta sama gue bel."
"Ck... gue nggak setuju, dan tolong lepasin tangan lo dari pinggang gue!" seru Bella dengan nada tinggi, hingga memenuhi ruang kamar.
Brayu justru tak menghiraukan teriakan Bella, cowok itu justru semakin senang menggodanya.
"Lo tuh sakit jiwa ya! Sampai ketawa kaya nggak ada dosa kaya gitu," ucapnya. Kemudian ia membenturkan keningnya ke kening milik Brayu, hingga Brayu pun terkejut dan langsung melepaskan pelukannya.
"Sakit Bel," ucap Brayu dengan tangan memegangi keningnya.
Bella tak mempedulikan lagi tentang luka yang ada di tubuh Brayu, siapa suruh dia memulai duluan dengan memeluk tubuhnya.
"Itu salah lo sendiri, siapa suruh nyari perkara udah untung gue perhatian sama lo." cetus Bella yang langsung berdiri di samping ranjang, gadis itu tak memerlukan waktu lama untuk melangkahkan kakinya keluar kamar.
Brayu hanya bisa memandangi punggung Bella yang menghilang dari balik pintu, meskipun ia merasakan sakit setidaknya Bella masih peduli terhadap dirinya.
__ADS_1