
Brayu menuruni anak tangga dengan wajah bahagianya. Lelaki itu nampak bersiul, sambil membayangkan kejadian yang dialaminya kemarin dengan Bella. Keduanya semakin dekat sampai hatinya berdetak dengan sangat kencang saat Bella berada di sampingnya, walaupun Bella tak pernah mau mengakui tentang perasaannya. Brayu tetap akan berusaha mengejarnya, entah mengapa sosok Bella selalu bisa membuat hidupnya lebih bewarna, meskipun kadang masih harus ada bumbu-bumbu rujak dulu, sebelum mereka mulai bercanda.
Namun saat sampai di tangga terakhir, kening Brayu mengernyit , lamunannya tentang Bella pun menghilang saat mengetahui ada dua orang paruh baya yang sedang berbicara dengan kakaknya, bahkan nada bicaranya terdengar seperti menekan sang kakak.
Lelaki itu tak mau membuang waktunya terlalu lama lagi, ia takut akan sesuatu terjadi kepada Jasmin, jika ia terlambat datang. Saat melangkahkan kakinya Brayu berhenti sejenak. "Buat apa mereka datang kesini?" tanyanya pada dirinya sendiri, dengan suara sengaja di perkecil, jadi tak mungkin terdengar sampai kemana-mana. Lelaki itu kembali melangkahkan kakinya.
"Kalian ngapain kesini? Masih ingat kalau punya anak?" tanya Brayu tanpa basa-basi, dan langsung duduk di sebelah Jasmin dengan tampang datarnya.
Wajah Jasmin nampak begitu kebingungan, hingga ia tak bersuara sama sekali ketika adiknya berbicara sedemikian rupa, memang kesannya tak sopan terhadap orang tua berbicara seperti itu.
"Wah.... kamu berbicara seperti itu kepada orang tua mu sendiri?" tanya Ridwan. "Lihat didikan kamu Ma, mau jadi apa dia kelak kalau kelakuannya seperti ini? Tidak punya sopan santun sama sekali terhadap orang tua! Bahkan kedua orang tuanya berkunjung pun dia terlihat tidak senang." lelaki paruh baya itu melihat ke arah Jeny dengan senyum sinis-nya.
"Bray, jangan berbicara seperti itu, biar gimana pun, dia tetap Papa kamu," ucap Jeny, dengan wajah sedikit tertunduk.
Brayu membuang wajahnya ke sembarang arah, lelaki itu tak mau melihat ke arah Jeny, menurutnya dia adalah orang tua yang telah tega meninggalkan dirinya dan sang kakak. Bertahun-tahun tak pernah sekalipun memberi kabar, dan wanita itu sekarang muncul kembali di hadapannya, seperti tak memiliki kesalahan sama sekali atas perbuatannya itu. "Papa udah nggak ada! Dan saya cuma punya satu Papa, yang udah tenang di surga! Dia cuma Papa tiri saya, jadi, untuk apa saya bersikap sopan dengan dia!" ketus Brayu, yang nampak menahan sedikit kekesalannya sejak tadi.
Ridwan masih tersenyum dengan sini-nya, mengetahui sikap angkuh anak tirinya yang belum juga berubah. "Sikap mu masih terlihat angkuh. Seperti pertama kali kita bertemu. Apa kau memiliki dendam terhadap ku?" Ridwan menaikan satu alisnya.
Brayu menarik sudut bibirnya, matanya langsung mengarah kepada Ridwan. Terlihat sangat jelas jika Brayu memang tak menyukai Pria tua yang sekarang berada di hadapannya itu. "Angkuh dan tidaknya, bukan urusan Anda. Anda siapa saya? Jangan suka mengatur kehidupan saya!"
Ridwan bangkit dari sofanya, lelaki itu tiba-tiba bertepuk tangan beberapa kali. Ekspresi wajahnya terlihat sangat mengejek. "Bagus sekali! Saya pikir, sikap kekanak-kanakan kamu akan berubah dengan lambat laun, tapi ternya masih sama saja! Masih keras kepala! Dan suka membangkang!"
"Bukan urusan Anda!" sentak Brayu, tangan kanannya mengepal kuat.
Jasmin tau, adiknya sangat emosi sekali. Gadis itu memegang erat tangan sebelah kiri milik adiknya, memberi isyarat agar Brayu tak semakin emosi mendengar ucapan Ridwan yang masih akan berlanjut.
"Sombong sekali kau ini nak, bahkan kau ini masih kecil! Masih bau kencur! Apa sanggup kau menentang ku!" seru Ridwan dengan dagu yang terangkat.
Jeny melebarkan matanya, ia tak sanggup jika melihat suaminya terus menyudutkan anak laki-lakinya dengan begitu kerasnya, sedangkan mendiang suaminya tak pernah berbicara begitu keras terhadap anak-anaknya. "Mas, jangan seperti itu. Biar bagaimana pun dia anak kandung ku, aku yang mengandungnya selama sembilang bulan, dan aku yang melahirkannya, jangan terlalu keras menekannya!" ucapnya sambil memegangi tangan Ridwan, ekspresi memohon-nya sangat terlihat jelas di sana.
"Cih.... orang tua mana yang tega menelantarkan anak-anaknya demi lelaki seperti ini! Apa pantas, masih di sebut sebagai orang tua?"
__ADS_1
Kemarahan pun sangat terlihat jelas di mata lelaki muda tersebut, rasa bencinya kian memuncak saat mendengar ucapan Jeny.
"Bray, kakak mohon, kamu bisa kan bersikap sopan terhadap Mama," pinta Jasmin dengan suara pelan. Sebetulnya ia juga sangat kesal, dengan tindakan Jeny. Wanita itu sudah bertahun-tahun meninggalkan dia dan adiknya, bahkan Jasmin harus membiayai kebutuhan Brayu hingga kuliahnya, untung saja, mendiang Papanya meninggalkan cukup banyak uang yang tidak di ketahui oleh Jeny, sehingga ia masih mampu bertahan dengan Brayu hingga saat ini.
"Maafkan Mama Bray, Mama nggak bermaksud..." suara Jeny tiba-tiba tertahan karena Ridwan menekan pundaknya.
"Ck... terlalu banyak alasan! Brayu malas mereka ada di sini! Kak Jasmin jangan terlalu banyak mengobrol dengan mereka, mereka akan membawa pengaruh buruk terhadap kakak," ucapnya, sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Namun baru beberapa langkah lelaki itu melangkah. Suara teriakan Ridwan memecah, hingga memenuhi ruang keluarga tersebut dengan sebuah bentakan dan ancaman.
"Teruslah bersikap angkuh! Karena sebentar lagi kamu akan kehilangan rumah berserta kakak mu! Ingat itu! Jika kamu tidak ingin itu semua terjadi! Menurut-lah!"
Telinga Brayu terasa sangat panas, hati yang sudah terbakar sejak tadi pun semakin menuntunnya untuk melakukan tindakan brutal terhadap lelaki paruh baya tersebut, tanpa nanti-nanti lelaki itu berbalik dan menghampiri Ridwan, tangannya yang sudah mengepal sejak tadi di layangkan ke arah wajah Ridwan. Bahkan Brayu menarik keras kerah baju lelaki tua itu dengan sangat kasar.
Jasmin tertunduk, sedangkan Jeny berusaha melerai sang anak dan suaminya. "Anda tadi bilang apa? Rumah dan kak Jasmin nggak akan pernah jadi milik kalian! Karena apa! Karena kalian nggak berhak atas semua ini!" napas Brayu naik turun, kekesalan yang sejak tadi masih bisa di tahannya, kini harus ia keluarkan.
"Jasmin, apa kamu akan diam saja melihat Papa kamu di pukul oleh adik mu!" seru Jeny masih mencoba melepaskan tangan Brayu dari kerah sang suami. Matanya melihat kerah Jasmin dengan harapan Jasmin akan membantunya.
"Dia bukan Papa Jasmin, Papa Jasmin udah tenang di surga. Lagian apa yang di perbuat Brayu nggak sebanding dengan apa yang udah Mama perbuat ke kita! Bertahun-tahun Mama tinggalin kita, dan sekarang, Mama balik buat bikin kita sengsara." Gadis itu menatap lurus ke arah Jeny dengan tatapan bencinya.
Ridwan yang sudah babak belur karena ulah anak tirinya itu, justru tertawa dengan sangat kerasnya, karena mengetahui jika dirinya akan menang dari Brayu atas rumah yang sudah mereka tinggali selama puluhan tahun itu.
"Anda bilang apa? Rumah ini akan di jual dan kak Jasmin akan menikah dengan memilik perusahaan Alves, yang terkenal memiliki istri lebih dari lima itu! Anda jangan pernah bercanda! Karena saya tidak akan pernah merelakan itu semua!" seru Brayu, lelaki itu semakin kuat menarik kerah Ridwan.
"Rumah ini atas nama Mama kamu! Bahkan saya sudah meminta izin terlebih dahulu kepadanya, untuk menjual rumah ini!"
Brayu melepaskan kerah Ridwan dengan lemas, ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menendang kursi yang ada di sebelahnya, lelaki itu berteriak seperti orang kesurupan. "Beberapa tahun saja, Anda tidak muncul dihadapan saya dan kakak saya! Dan sekarang. Apa yang Anda lakukan dengan mengancam kami! Ingin menjual rumah warisan dari mendiang Papa? Dan memaksa kakak untuk menikah dengan lelaki bejat itu, otak Anda di taruh dimana?" tanya Brayu dengan wajah sayu-nya, lelaki itu menatap lurus kearah Jeny. Tak habis pikir dengan pikiran orang tuanya yang begitu tega dengan anak-anaknya itu, apakah lelaki itu lebih penting dari dirinya dan Jasmin.
Jeny tertunduk, matanya mulai berkaca. "Maafkan Mama, bukan maksud Mama seperti itu, hanya saja perusahan Papa kamu sedang mengalami masa krisis, jadi Mama terpaksa melakukan hal tersebut. Karena Papa kamu memiliki hutang yang banyak kepada perusahaan Alves. Sebagai jaminannya hanya rumah dan kakak kamu."
Baryu tersenyum sinis, lelaki itu menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya secara kasar. "Papa? Laki-laki ini bukan Papa saya! Bahkan dia tidak lebih baik dari mendiang Papa, Kalau saja Anda tidak berselingkuh! Mungkin Papa masih ada di dunia ini."
"Sayang, dengarkan dulu penjelasan Mama, kamu salah paham, Mama tidak seperti apa yang kamu pikirkan," kata Jeny yang tiba-tiba memegang tangan Brayu.
__ADS_1
Namun Brayu menepisnya dengan sangat kasar. Rasanya ia tak mau tersentuh oleh orang seperti Jeny, meskipun memang dia Mama kandungnya, namun rasa sakit di dalam hatinya lebih besar dari apapun. "Orang tua mana? Yang tega menjual rumahnya demi laki-laki lain dan membiarkan anak-anaknya tak memiliki tempat untuk berteduh. Bahkan dia dengan teganya ingin menjual anaknya kepada lelaki hidung belang yang memiliki banyak istri!"
Seketika Jeny melemas mendengar ucapan anaknya tersebut, ia menjatuhkan dirinya di atas sofa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sambil menitihkan air mata yang sudah tak bisa ia bendung lebih lama lagi.
Jasmin memandang punggung adiknya yang sedang di penuhi oleh amarah, ia tak pernah melihat adiknya se-emosi ini, bahkan ia tak pernah melihat adiknya mencaci maki orang tua sebegitu parahnya seperti sekarang ini, mata batin Brayu benar-benar tertutup kali ini.
Melihat hal tersebut, Ridwan semakin tertawa. Mungkin rasa sakit yang di alaminya akan sedikit berkurang, jika ia merendahkan anak tirinya yang sekarang sudah tidak memiliki apa-apa itu. "Kecuali kamu mau menikahi anak dari pemilik perusahaan Alves, rumah dan kakak mu tidak akan menjadi jaminannya."
Brayu berbalik menatap Ridwan. Rasa kesalnya masih belum menghilang, justru semakin menjadi-jadi.
Bug.... bug....bug..
Tanpa ampun Brayu memukul lelaki itu untuk melepas segala kekesalan dan emosinya yang semakin meluap-luap itu, akal sehatnya seakan sudah tak bisa di kendalikan lagi. Karena emosinya sudah sangat tinggi.
Dengan mata yang terbuka lebar, dan tangis yang masih tersisa si kedua pipinya, Jeny langsung menarik anaknya, memisahkan tubuh anaknya agar menjauh dari tubuh sang suami yang memang sudah tergeletak lemas di lantai.
"Cukup Brayu! Cukup! Mama minta maaf dengan segala tindakan yang sudah Mama perbuat, tolong jangan hakimi Papa kamu lagi." suara Jeny terdengar paruh, isak tangisnya mulai terdengar kembali.
Jasmin menarik tangan adiknya, memeluknya dengan sangat erat, lelaki itu seperti kaku karena ucapan Jeny yang begitu menyakitkan hati. Wanita paruh baya itu lebih memilih membela lelaki brengsek itu di bandingkan dengan kedua anaknya. "Jasmin minta sama Mama, bawa Om Ridwan pergi dari sini! Aku nggak akan biarin kalian buat sentuh Brayu sedikit pun!" seru Jasmin dengan menunjuk arah pintu keluar.
Jeny membantu memapah Ridwan, wanita itu sangat mencintai suaminya, hingga akal sehatnya pun, mungkin sudah tak berfungsi lagi dengan baik. Ia lebih memilih Ridwan dibandingkan dengan kedua anaknya.
Sampai di depan Brayu dan Jasmin pun, Ridwan masih bisa menyunggingkan sudut bibirnya dan berkata. "Ingat ucapan saya tadi, kalian bisa pikirkan dengan baik-baik, hanya dua pilihan itu yang bisa kalian ambil!"
"Tutup mulut Anda, sebaiknya Anda pergi sekarang juga! Saya tidak ingin melihat Anda lagi di sini!" seru Jasmin masih dengan posisi yang sama.
Ridwan dan Jeny pergi meninggalkan rumah tersebut dengan langkah kaki yang terseok. Jasmin memandang punggung kedua orang tua tersebut dengan tatap penuh kebencian, namun pandangannya segera beralih saat Brayu menjatuhkan dirinya di atas sofa, membuat Jasmin ikut terbanting karena memang tubuhnya lebih kecil di banding adiknya itu.
"Kamu kenapa Bray?" tanya Jasmin saat Brayu menutup wajahnya dengan sikut.
Isak tangis mulai terdengar dari mulut bibir adiknya itu. Bagaimana tidak, ia harus mengalami cobaan begitu berat, Jeny benar-benar berhasil membuat hatinya sakit, bahkan uluh hatinya pun juga ikut merasakannya. Rasa bencinya pun kian besar terhadap Jeny.
__ADS_1
"Brayu harus bagaimana kak? Brayu nggak mungkin ikhlasin kakak dan rumah peninggalan Papa ini. Kalian begitu berharga buat aku!" suara Brayu mulai terdengar paruh.
Jasmin kembali memeluk erat tubuh adiknya, air mata yang sejak tadi ia tahan mulai keluar dari pelupuk matanya, tangisnya pecah, isak tangis mulai terdengar dari mulut bibir gadis tersebut. "Ini pilihan yang sulit Bray, kakak bingung harus berbuat apa? Mama begitu tega sama kita, bertahun-tahun kita merasakan sakit akibat ulah Mama. Dan sekarang kita harus menanggung kembali beban mereka."